Untuk beberapa saat Zafran terdiam, tak tahu bagaimana menghindari pernyataan Lita kali ini. Ini bukan tentang menolak atau menerima, tetapi Lita adalah sebuah amanah yang diberikan Ruiz padanya untuk selalu dijaga sebagaimana seharusnya seorang kakak menjaga adiknya.
Dia menatap Lita dengan intens. Secantik apapun Lita, Zafran tidak akan mungkin menjadi pengkhianat bagi Ruiz. Resikonya terlalu besar. Bisa saja Ruiz membunuhnya di tempat. Jikapun itu tak cukup, bisa saja Ruiz menyiksa Zafran seperti dia melakukan hal yang sama pada pekerja-pekerja yang sudah berani mengkhianati Ruiz.
“Mengapa Abang diam? Abang tak suka sama Lita? Atau mungkin Abang sudah punya perempuan di hati Abang?” tanya Lita dengan nada bergetar menahan gelisah sekaligus penasaran atas sikap diam Zafran.
“Lita ... Abang tak tahu bagaimana memulainya. Tetapi kamu tahu, kamu adalah adik Abang. Satu-satunya orang yang harus Abang jaga dengan sepenuh hati sebagaimana amanah papamu. Mengerti maksud Abang, kan?” tanya Zafran dengan nada lembut.
Meskipun Zafran bukan laki-laki yang romantis, tetapi dia yang paling tahu bagaimana karakter Lita. Dia tahu bagaimana menangani Lita jika sudah ngambek atau marah pada keadaan apapun.
“Tapi Lita nggak mau dianggap adik. Lita maunya Abang melihat Lita sebagai perempuan.” Tentu saja Lita bukan gadis kolokan dan labil yang akan menyerah dengan penolakan halus yang dilakukan Zafran. Bagaimanapun, Lita adalah perempuan kokoh dan pantang menyerah. Tak terkecuali urusan hati.
“Lita, bagaimana mungkin Abang akan membalas perasaan Lita sementara Lita adalah adik Abang?”
Lita menggeleng. “Tidak! Lita bukan adik Abang!” Mata Lita yang biasanya menyala penuh binar terang kini mulai merebak hendak menangis.
Sedewasa dan semandiri apapun Lita, nyatanya sifat manjanya masih saja sering terlihat. Sungguh Zafran tak tega melihat Lita bersedih seperti ini. Tetapi bukan berarti Zafran akan menuruti apapun keinginan Lita karena ini menyangkut amanah dan kesetiaan Zafran pada Ruiz. Yang lebih tak mungkin lagi adalah bahwa ini menyangkut perasaan Zafran pada Lita yang hanya sebatar rasa sayang seorang kakak pada adiknya.
“Tidurlah, Lita. Kamu masih belum sepenuhnya sadar. Tidurlah.” Lelaki itu dengan sabar mendorong Lita agar terbaring untuk tidur. Tetapi Lita menolak.
“Tidak! Lita hanya akan tidur kalau Abang menjawab pertanyaan Lita. Lita cinta sama Lita apa nggak? Atau Abang sudah punya perempuan yang Abang cintai?” tanya Lita sekali lagi.
Dan Zafran mengumpat kesal dalam hati ketika Lita menanyakan ini sementara yang muncul di kepalanya adalah gadis remaja belia yang siapa orangnya pun Zafran tak tahu. Siapa namanya juga Zafran tak tahu, terlebih lagi dimana rumahnya. Kejadian waktu itu terlalu cepat sampai-sampai rasanya seperti mimpi. Antara kenyataan atau hanya angan-angan saja.
“Maaf, Lita. Abang sudah punya kekasih.” Zafran terpaksa berbohong pada Lita meskipun dia akan kebingungan jika nanti Lita menanyakan siapa peremouan yang sudah mengalahkan dirinya itu. Padahal Zafran hanya ingin menghindar.
Tangis yang awalnya hendak ditahan, kini runtuh sudah.
“Baik. Terima kasih Abang sudah jujur sama Lita. Sekarang Abang silahkan tidur di luar.” Lita menunduk, tak mau menatap Zafran.
Zafran sesaat terdiam, bimbang. Tapi kemudian dia mengangguk dan dengan perlahan-lahan beranjak dari ranjang Lita kemudian berjalan keluar kamar, membiarkan Lita sendiri. Sampai di depan pintu, Zafran berhenti dan menoleh ke arah Lita.
“Tidurlah! Mungkin besok pagi kamu akan bangun dengan pikiran yang lebih jernih.”
Lita tak menjawab, hatinya masih terluka dengan penolakan Zafran. Setelah terdengar pintu yang tertutup, Lita membanting dirinya di atas ranjang. Memaksa dirinya untuk tertidur apalagi ketika kepalanya terasa bagai dihantam palu.
***
Pagi ini, matahari sudah tinggi, tetapi ketika Zafran sudah mandi pun, kamar tidur Lita belum juga terbuka atau menunjukkan aktifitas bangun. Sejak keluar dari kamar Lita dini hari tadi, Zafran sama sekali tak bisa tidur. Pikirannya entah kemana. Bayangan Lita yang mungkin saja marah membuatnya berpikir keras bagaimana membujuk perempuan itu jika ngambeknya terus berlangsung.
Tapi yang membuat Zafran lebih tak bisa tidur adalah bayangan gadis belia yang tak dia tahu siapa dan dimana rimbanya itu.
Usai mandi, Zafran ke pantri untuk membuat secangkir kopi sambil menunggu Lita mana tahu gadis itu bangun. Tetapi hingga kopinya tandas, Lita tak juga terbangun. Ponsel yang sejak tadi dia siagakan itu tiba-tiba berdering. Nama Rudi muncul.
“Hei, Rud?” sapa Zafran.
“Hei, Zaf. Aku ada info yang bersifat rahasia.” Rudi, sesama tenaga keamanan. Mereka berada dalam satu naungan biro yang sama, meskipun masuk biro hanyalah sebuah kamuflase yang dilakukan Zafran dalam rangka menemukan keberadaan anak gadis Surya.
“Info?” Zafran mengerutkan keningnya.
“Ya. Aku dengar dari orang yang terpercaya bahwa keluarga Surya Aditama sedang mencari seorang pengawal untuk anak gadisnya.”
Deg!
Mendengar informasi ini membuat jantung bagai berhenti berdetak. Pengawal untuk putri Surya? Berarti memang anak Surya masih ada di kota ini? Senyum Zafran tersungging penuh harapan. Mungkin ini saatnya dia akan menebus hutang budinya pada Ruiz dan dia akan bisa hidup dengan bebas tanpa dikendalikan oleh siapapun, termasuk Ruiz.
“Mulai kapan lowongan itu dibuka?” tanya Zafran menyembunyikan rasa antusiasnya.
“Aku mendengarnya baru tadi malam. Kalau kamu minat, aku bisa memberikan nomor kontak yang bisa dihubungi.”
“Oke, berikan padaku kontaknya. Aku akan menghubunginya segera.”
Rudi menyanggupi permintaan Zafran. Lelaki itu tak sabar sehingga saat Rudi mengirim nomor yanh bisa dihubungi itu dia segera menelpon. Pembicaraan berlangsung cepat. Namunm ternyata Zafran adalah pelamar yang ke lima yang sudah mendaftar sepagi ini. Meski begitu, Zafran tak putus harapan.
“Anda bisa datang ke tempat yang lokasinya akan kami kabari.” Seseorang yang Zafran hubungi itu memberikan jawaban yang menggantung.
“Baik, saya akan datang segera,”
Zafran buru-buru menutup sambungan panggilannya dan bergegas hendak menuju ke tempat yang diberikan oleh si pihak terhubung tadi. Melewati kamar Lita, Zafran berhenti sejenak dan mengetuk pintu kamar Lita.
“Ta, sudah siang. Abang ada urusan yang belum selesai.”
Tak ada jawaban. Ketukan kedua juga masih sama, sehingga membuat Zafran menjadi overthinking. Maka dengan pelan dia membuka pintu kamar. Dengan langkah pelan agar tak terdengar oleh Lita, Zafran masuk. Hatinya lega mendapati Lita masih tertidur pulas. Zafran mendekat dan duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Lita yang masih pulas dengan damai.
“Bukan maksud Abang menolakmu, Lita. Tapi kita bukan jenis manusia dengan porsi yang sama. Kamu ibarat majikan dan aku pembantu di rumah kalian. Aku bukan orang yang tak tahu balas budi dengan Papamu. Maafkan aku, Lita.” Zafran berkata lirih kemudian bangkit dan keluar meninggalkan Lita.
Tak berapa lama terdengar deru suara mobil yang keluar dan menjauh. Lita membuka matanya, tangisnya kembali meledak.
***