Dalam perjalanan keluar dari rumah Lita, Zafran kemudian melaju menuju tempat yang dikatakan oleh nomor yang tadi dihubungi. Jantung Zafran berdebar oleh rasa yang tak bisa dia urai dengan baik. Rasa senang karena sebentar lagi dia akan bisa menjalankan rencana yang sudah disusun Ruiz untuk dia jalankan, menculik anak gadis Surya dan menyerahkannya pada Ruiz kemudian menukarnya dengan kebebasannya.
Tiba di tempat sesuai dengan peta yang dibagikan tadi, Zafran menghentikan mobilnya. Ternyata sebuah rumah yang ada di pinggiran kita dengan tembok tinggi dan penjagaan yang cukup ketat. Surya meminggirkan mobilnya di pinggir jalan. Untuk sejenak dia berhenti meragu dengan step kali ini. Sesaat, Zafran bimbang. Pekerjaan ini memang bukan pekerjaan mudah meski tidak hanya sekali ini Zafran melakukan pengambilan orang sesuai perintah Ruiz. Tapi ketika target kali ini adalah perempuan, Zafran bimbang apakah dia akan bisa melakukannya. Zafran kembali terdiam, ingat dengan hari itu. Hari dimana Ruiz memberikan amanat pengambilan anak gadis Surya.
“Mengapa kamu diam, Zaf?” tanya Ruiz ketika itu, saat dia memberikan amanah pengambilan ini pada Zafran.
Zafran menggeleng. “Tidak, Pak. Maaf. Tugas ini cukup berat karena targetnya adalah perempuan.”
Ruiz tertawa tanpa beban. “Kalau ini tugas ringan, aku tak akan memberikan tugas ini padamu, Zafran. Memangnya mengapa kalau perempuan? Kamu tidak tega? Ingat, Zafran! Yang melenyapkan nyawa ayahmu adalah Surya. Kalau kita mengambil nyawa anaknya, bukankah itu seimbang dengan apa yang dilakukan Surya?”
Zafran terdiam, tak menjawab. Sejak Ruiz mengambil Zafran ketika itu, hal yang selalu Ruiz katakan adalah bahwa yang membunuh ayahnya Zafran adalah Surya. Semua itu Ruiz lakukan untuk menumbuhkan rasa dendam dan kebencian terhadap Surya dan keluarganya.
Dan aku berjanji atas nama anakku, Zafran. Jika kamu berhasil menyerahkan anak gadis Surya itu padaku, maka hutang jasamu padaku akan kuanggap lunas. Setelah misi ini selesai, kamu bebas lepas dariku. Kamu bisa menjalani kehidupanmu tanpa harus merasa berhutang budi padaku.”
Sungguh tawaran yang sangat menggiurkan untuk orang seperti Zafran yang kebebasannya terbelenggu oleh Ruiz,
“Bagaimana? Kamu masih menolak untuk menerima tugas ini? Apa kamu tidak ingat kematian ayahmu yang tertembak di depan matamu?” Terdengar lagi pertanyaan Ruiz yang tidak hanya menanyakan kesanggupan Zafran namun juga mencekoki Zafran dengan dendam yang dikemas sedemikian rupa sehingga darah Zafran selalu saja mendidih.
Yang kemudian hadir di ingatan Zafran sudah tentu peristiwa tewasnya ayah Zafran, tepat ketika Zafran kecil datang untuk mengejar ayahnya. Tubuh Zafran membeku seketika saat itu. Matanya yang melihat ayahnya terkapar bersimbah darah dan juga Surya yang berdiri di seberang dengan mengacungkan pistol jelas sebuah susunan peristiwa penembakan yang valid.
“Tidak! Saya menerima tugas ini.” Zafran mengangguk yakin ketika itu.
Ruiz tertawa lebar penuh kepuasan karena berhasil menggiring Zafran pada sisi jurang penuh dendam dan kebencian terhadap Surya dan keluarganya.
Dan kini, ketika kesempatan untuk bebas dari belenggu Ruiz sudah terbuka lebar, mengapa Zafran harus merasa ragu. Tugas Zafran kali ini adalah menjemput anak gadis Surya kemudian menyerahkannya pada Ruiz. Soal eksekusinya, Ruiz dan Zafran sudah sepakat bahwa Zafran tak mau ikut campur. Dan Ruiz setuju.
“Lalu mengapa kamu masih di sini, Zaf?” Zafran bergumam sendiri. Senyum sinisnya kembali terlihat. Zafran sudah memutuskan untuk menjalankan misi ini dengan baik dan secepatnya. Dia lantas mengambil ponsel untuk berkaca. Hampir saja Zafran lupa bahwa dia belum memakai topeng tipis dengan tanda lahir untuk mengubah penampilannya.
Ya, tanda lahir yang ada di pipi kiri Zafran bukan tanda lahir asli, melainkan seperti masker yang bisa dipasang dan dilepas. Namun, masker ini bisa melekat dengan sempurna di wajah Zafran sehingga orang lain tak akan paham bahwa itu adalah topeng kulit. Ini sengaja Zafran pasang untuk membuat orang mengenalnya sebagai laki-laki dengan tompel. Zafran rela memesan topeng ini dari seorang dokter di luar negeri dengan harga yang cukup fantastis.
Dan Zafran berhasil dengan penyamarannya itu.
Dengan yakin dia kemudian keluar dari mobilnya dan melangkah menuju ke pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang satpam.
“Gila! Seperti apa anak gadis Surya sampai-sampai dijaga sedemikian ketat?” Zafran membathin dalam hati.
Lalu seorang salah seorang satpam menyambut kedatangan Zafran dengan wajah datar, tak ada keramahan sama sekali.
“Maaf, bisa menunjukkan tanda pengenal?”
Zafran mengangguk kemudian mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah tanda pengenal. Satpam itu meneliti dan mencocokkan dengan data yang diberikan oleh ketua keamanan rumah ini. Kedua satpam itu saling pandang kemudian mengangguk satu sama lain tanda bahwa Zafran memang ada dalam daftar orang yang akan datang hari ini.
Dengan langkah yang pelan dan sedikit ragu, Zafran kemudian masuk sesuai dengan perintah satpam. Matanya melirik dan meneliti ke semua penjuru. Tiba di ruangan yang ditunjukkan, Zafran terkejut mendapati beberapa laki-laki yang lebih mirip disebut centeng daripada pengawal. Mereka berdiri bersedekap dengan tubuhnya yang tegap berotot. Selain mereka, Zafran juga melihat ada beberapa orang lagi yang dari penampilannya saja dia bisa menduga bahwa mereka seperti halnya dirinya, hendak mendaftar menjadi pengawal putri Surya.
Zafran mengambil tempat duduk tanpa repot-repot untuk beramah tamah dengan mereka. Di beberapa kesempatan memang Zafran terlihat sombong. Baru sepuluh menit Zafran duduk, datang lagi beberapa laki-laki yang semuanya hendak mendaftar pada lowongan menjadi pengawal pribadi anak Surya.
Tak lama berselang, seorang laki-laki dengan penampilan yang rapi dengan tubuh yang tegap muncul di ruangan itu. Semua mata terpusat pada orang itu.
“Selamat pagi, Rekan-rekan semua. Maaf sudah membuat Anda menunggu. Di sini saya mewakili Pak Surya untuk memberitahu Anda bahwa beliau akan menjaring Anda melalui beberapa proses. Beliau hanya akan mengambil dua orang. Jika dalam prosesnya nanti ada di antara Anda yang gugur, bukan berarti Anda tidak kompeten, tetapi jelas bahwa Pak Surya ingin yang terbaik untuk putrinya. Untuk yang gugur, Anda tidak perlu merasa rugi waktu dan tenaga karena Pak Surya akan mengganti kerugian yang akan diberikan sebagai kompensasinya.” Ronald, laki-laki asisten pribadi Surya itu memberikan sedikit penjelasan.
Semua yang hadir terlihat mengerti dan manggut-manggut.
“Untuk biodata Anda semua, kami sudah mengambil data pribadi Anda dari biro begitu Anda mengirimkan tanda pengenal Anda kepada kami. Jadi tolong kerjasamanya untuk tidak menyebarluaskan apapun yang sedang kami lakukan dalam seleksi kali ini. Mengerti?” tanya Ronald dengan tegas.
“Mengerti!” Beberapa diantaranya menjawab, tetapi Zafran hanya mengangguk dengan kewaspadaan yang terjaga
“Baiklah, untuk tahap awal kita akan menjalani tes pertama. Silahkan Anda ikut dengan saya.” Ronald kemudian keluar dari ruangan itu menuju ke tempat lain untuk proses test yang pertama.
Semua pendaftar mengikuti Ronald sambil bicara satu sama lain. Tetapi tidak demikian dengan Zafran. Dia memilih diam mengikuti langkah Ronald dalam sikap waspada dan penuh selidik.
Namun, ketika Zafran hendak memasuki ruangan pertama yang dikatakan Ronald, sudut matanya menangkap seseorang yang di koridor seberang. Ronald tanpa sengaja menatap seseorang itu dan jantungnya nyaris berhenti berdetak saat dia melihat seorang perempuan yang masih muda, mengenakan celana jeans sebatas atas lutut dengan rambut yang tergerai hingga ke pinggang.
Perempuan muda itu mirip dengan …
***