BAGAI TERKUTUK

1276 Kata
Ini pretest paling tidak masuk akal yang pernah Zafran jalani selama dewasa dan bekerja sebagai tenaga keamanan. Meskipun dia masuk dalam biro pekerja keamanan, tetapi Zafran tak pernah bekerja di tempat lain selain menjadi pengawal di rumah Ruiz. Tetapi sepanjang yang Zafran tahu, tidak ada kantor atau perusahaan manapun yang menerapkan pretest seperti yang dilakukan Surya dalam mencari pengawal putrinya. Dan ini sudah minggu kedua seleksi yang dilakukan oleh tim Surya. Dari lima belas pelamar di tahap awal minggu lalu, menyisakan lima orang saja kini. Beberapa tes fisik sudah dilakukan. Untuk yang gugur di beberapa step sebelumnya, sebagaimana yang dijanjikan, mereka mendapatkan kompensasi atas waktu yang mereka habiskan selama mengikuti test. Dan hingga hari ini, Zafran sudah berhasil lolos melewati banyaknya rangkaian pretest. Namun yang membuat heran, hingga saat ini mereka —para pelamar— belum tahu untuk siapa mereka akan dipekerjakan karena memang orang Surya tidak mengatakannya. Tetapi Zafran tahu siapa yang akan menjadi majikan mereka nantinya. Namun, hingga saat ini pihak Surya tak pernah memberi tahu siapa dan seperti apa putri kesayangan Surya itu. Dan hari ini adalah hari terakhir pretest, menyisakan dua orang saja. Zafran dan Arya. Sampai di titik kemarin, Zafran masih yakin akan lolos. Tetapi ketika saingan terakhirnya adalah Arya yang konon berwajah tampan dan cukup tegap, muncul rasa tidak percaya diri Zafran. Padahal, kalau saja Zafran mengelupas topeng kamuflasenya, sudah pasti Arya akan merasa tak percaya diri. “Tinggal menyisakan kita berdua, Bung Zafran.” Arya dengan senyum manis setengah mengejek, mengajak Zafran berbincang di sela waktu istirahat. Zafran hanya mengangguk dengan senyum kecil. “Ya.” Hanya sesingkat itu jawaban Zafran. Tapi jawaban singkat itu tak membuat Arya berpuas diri. “Sepertinya kali ini persaingan kita hanya tinggal di fisik. Dan Anda harus menyiapkan mental jika akhirnya harus pulang tanpa hasil.” Arya kembali berkomentar dengan sinis. Melirik Zafran yang memiliki cacat berupa tompel di pipi kirinya. “Apapun hasilnya, saya tak bisa memaksakan kehendak. Berarti bukan rejeki saya untuk bekerja di sini.” Zafran menoleh sejenak ke arah Arya, tanpa emosi karena Zafran sudah terbiasa direndahkan seperti ini. Yang lebih rendah dari ini pun pernah Zafran rasakan. Arya menatap kesal pada Zafran. Lewat tengah hari, Ronald memanggil keduanya untuk memberikan hasil seleksi siapa yang akan menjadi pengawal putri Surya. Keduanya diajak masuk ke sebuah ruangan. “Sebelumnya terima kasih kepada Anda Bung Zafran dan Bung Arya, atas semangat dan partisipasi Anda berdua. Tetapi sebagaimana yang Bapak amanahkan bahwa beliau hanya memerlukan seorang pengawal saja. Untuk yang tidak terpilih, siapapun nanti, Bapak juga sudah berjanji untuk memberikan kompensasi selama masa seleksi.” Ronald membuka kalimatnya dengan santun. Zafran hanya mengangguk, sementara Arya tersenyum penuh optimisme. “Kepada Bung Arya, beribu maaf kami ucapkan karena kualifikasi Anda hanya kalah beberapa poin dari Bung Zafran.” Kalimat Ronald sukses membuat Arya terkejut dan spontan menoleh pada Zafran yang malah tidak menatapnya sama sekali. Terlihat jelas ekspresi Arya yang kesal dengan keputusan ini. “Bagaimana bisa Zafran, Bung Ronald?” protes Arya. “Bapak memiliki kualifikasinya sendiri, Bung Arya. Dan saya juga tidak memiliki hak untuk mengubah apapun keputusan beliau.” Tentu saja Surya selalu memantau semua langkah seleksi melalui video yang diberikan Ronald. Rekam medis masing-masing pelamar juga diperhatikan dengan baik oleh Surya. Dia tak mau anaknya tertular penyakit atau apapun yang berasal dari orang yang akan mengawalnya nanti. Kemudian tanpa banyak kata lagi, Arya berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Ronald hanya tersenyum melihat sikap kekanakan Arya. “Mari, Bung Zafran. Saya akan membawa Anda menemui Bapak.” Ronald mengajak Zafran menemui Pak Surya yang Ronald sebut dengan Bapak, seolah Ronald sangat menghargai Surya. Zafran mengangguk dan mengikuti langkah Ronald tanpa banyak bertanya. Ronald mengajak Zafran melewati koridor bangunan rumah yang ternyata besar itu. Tata letaknya yang lebih mirip dengan tata letak rumah-rumah China tempo lama dengan hamparan taman di tengah area membuat Zafran bagai dituntun ke nuansa unik yang menentramkan. Di sekeliling area terdapat ruang-ruang dengan berbagai fungsi. Tanpa sengaja, ingatan Zafran singgah pada sosok Surya yang dulu cukup akrab dengannya ketika kecil. Yang Zafran tahu, Surya adalah sosok yang bijak dan hangat. Zafran tak pernah tahu dan tak pernah menyangka akan ada konflik di antara keluarganya dan keluarga Surya, hingga pertikaian yang berakhir dengan penembakan itu terjadi. Sosok Surya lenyap dari pikirannya, tergerus oleh kisah kamuflase yang ditiupkan Ruiz ke telinganya. Hingga yang kemudian tersisa di dalam pikiran Zafran hanyalah sebongkah kebencian yang dibalut dengan dendam untuk membayar kematian ayahnya. Di sepanjang perjalanan menuju ke ruangan yang Ronald dan Zafran tuju, jantungnya berdetak kencang. Ada sebuah rasa penasaran dengan sosok Surya yang selama ini selalu dijadikan tokoh antagonis dan kejam oleh Ruiz dan juga rasa tak sabar untuk membebaskan dirinya dari hutang budinya kepada Ruiz. Memasuki sebuah ruangan yang ada di pertengahan bangunan, Ronald tak lupa mengetuk pintu. Setelah terdengar suara Surya yang menyuruh masuk. “Selamat siang, Pak. Saya mengajak Bung Zafran. Satu-satunya kandidat yang sesuai dengan kriteria Anda,” ujar Ronald memperkenalkan Zafran yang berdiri di sebelahnya agak ke belakang. Surya yang sejak tadi berdiri mematung menghadap ke luar, ke arah taman kecil yang ada di sisi luar ruangan itu, kini membalikkan tubuhnya untuk menerima keduanya. Zafran mengangguk santun sebagai tanda penghormatan dan perkenalan pada Surya, meskipun Zafran sudah mengenal Surya dulu. Ketika Zafran mengangkat wajahnya untuk menatap Surya, dia terkejut mendapati Surya yang ternyata masih sama dengan Surya yang dulu dikenalnya dengan baik. Namun, diantara terkejutnya itu Zafran bersyukur memiliki topeng kamuflase itu karena dengan begitu Surya tak akan mengenalinya. Surya yang ada di depan Zafran kini masih sama dengan Surya yang dulu. Gurat ketampanan masih terlihat jelas di wajah Surya. Tubuhnya juga masih terlihat tegar dan kokoh. “Selamat siang, Tuan,” sapa Zafran. “Selamat siang Zafran. Silahkan duduk.” Zafran mengangguk kemudian duduk sementara Sura memberikan kode pada Ronald agar laki-laki itu kembali ke posisinya di depan. “Sebelum Anda resmi bertugas sebagai pengawal putri saya, ada baiknya saya memberikan sedikit pesan penting kepada Anda, Zafran.” Pak Surya memulai pembicaraan kali ini. Zafran mengangguk. “Namanya Nayra. Satu-satunya kerabat yang saya miliki setelah istri saya meninggal. Saya mencari pengawal yang tangguh dan kokoh untuk menjaganya nyaris dua puluh empat jam. Saya tak ingin ada kejahatan sedikit pun yang akan menyentuh anak saya, karena saya akan menembak Anda jika Anda melakukan kelalaian ini.” Deg! Zafran merasa bahwa Surya tak tanggung-tanggung dalam melindungi anaknya. “Tugas Anda adalah menjaganya tetap dalam keadaan aman dan baik-baik saja. Tak boleh ada kesalahan sekecil apapun di masa mendatang. Tugas Anda mengantar jemput jika nanti dia kuliah.” Zafran kembali mengangguk, “Siap, Tuan.” Surya hendak meneruskan kembali tugas-tugas yang harus Zafran lakukan jika nanti mulai bekerja ketika pintu ruangan itu terbuka dengan tiba-tiba. “Ayah! Aku diterima di kampus Putra Bangsa!” Terdengar teriakan seorang anak perempuan yang dibarengi dengan langkah kaki setengah berlari menuju ke arah Surya dan memeluknya dengan senang. Zafran hanya melihat dengan senyum kecil atas apa yang dilakukan si gadis yang Zafran pastikan bahwa itu adalah gadis kesayangan Pak Surya. Anak kecil yang ketika dulu pernah menjadi adik kesayangannya karena orang tua mereka memiliki kekerabatan. Namun sejak pertikaian itu, Nayra menjadi objek yang akan dijemputnya dan diberikannya pada Ruiz jika kesempatan baik itu datang. Sebagai bahan barter untuk kebebasannya. Namun, semua senyum kecil Zafran dan juga angan-angannya untuk melarikan gadis itu dan memberikannya pada Ruiz mendadak lenyap ketika Surya melerai pelukannya dan memperkenalkan putrinya pada pengawal barunya. “Dan ini adalah putri kesayanganku, Zafran. Yang keselamatannya menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya.” Surya memperkenalkan Nayra pada Zafran. Dalam sekejap, Zafran bagai anak terkutuk yang hanya bisa menatap Nayra dengan tatapan bengong dan pikiran yang kosong. “Bukankah dia ….” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN