Kisah mencari pengawal yang akan mengawal dan menjaga Nayra ini berawal ketika Surya kehabisan akal untuk membujuk Neta yang terus menerus bertanya mengenai kabar Neta. Ya, meskipun semua pegawai di rumah Surya memberikan jawaban yang sama bahwa Neta sedang menjalankan tugas dari Pak Surya, tetapi Nayra bukan gadis bodoh yang menerima begitu saja informasi yang didengarkannya.
“Belum ada kabar Mbak Neta, Yah?” Ini adalah pertanyaan rutin yang selalu Nayra tanyakan. Surya nyaris hapal dengan pertanyaan yang setiap pagi Nayra tanyakan padanya ketika mereka sarapan pagi, menjelang Surya dan Nayra ke kantor.
Ya, semenjak Neta meninggalkan rumah itu, Surya selalu membawa Nayra ke kantor dengan alasan Surya tak nyaman meninggalkan Nayra sendiri tanpa pengawasan langsung dari Surya. Kalau biasanya Surya tak risau karena ada Neta yang akan menjaga dan memenuhi semua kebutuhan Nayra tanpa terkecuali. Tapi kini, setelah Neta pergi, pekerjaan Surya semakin bertambah. Menjaga Nayra diantaranya. Dan ternyata itu bukan pekerjaan mudah.
“Mbak Neta belum memberi kabar. Tapi nanti Ayah akan tanyakan pada orang yang memiliki akses ke sana.” Surya kembali berbohong.
Gadis itu cemberut menatap Surya.
“Nayra boleh minta nomor ponsel orang kepercayaan Ayah yang berada satu lokasi dengan Mbak Neta itu? Neta kangen ingin telepon, Yah. Boleh, ya?” tanya Nayra tak mau kalah.
Surya tergagap mencari jawaban. “Nay, tempat itu bukan tempat yang bisa kita akses dengan mudah, terlebih soal komunikasi. Tentu akan mencurigakan pihak mereka.”
“Sebenarnya tugas apa, sih, yang Ayah bebankan sama Mbak Neta?” Nayra jelas mulai curiga dengan tugas tak jelas yang dikatakan ayahnya itu.
Surya sesaat terdiam mencari jawaban yang paling tepat, yang bisa diterima Nayra tanpa banyak bertanya lagi. Dalam hati Surya kesal dengan sikapnya yang bodoh dengan menuduh Neta ingin mencelakakan Nayra, padahal dia tahu sekian tahun Neta menghabiskan waktunya untuk mengasuh Nayra.
Lelaki berusia empat puluh tujuh tahun yang masih terlihat gagah dan tampan itu juga mengutuk kepergian Neta yang tanpa berpikir panjang. ‘Apakah sebegitu menyakitkan kata yang kuucapkan kemarin?’ tanya Surya dalam hati. Dalam geramnya, kemarin Surya sudah menyuruh Ronald agar melakukan pencarian terhadap Neta. Karena tak mendapati Neta di rumahnya ternyata membuat sisi hati Surya terasa kosong. Ada rasa nyeri yang tak bernama yang bercokol gagah di hatinya, yang membuat Surya resah tanpa tahu sebabnya.
“Yah?” Nayra menatap ayahnya yang terdiam, memikirkan kepergian Neta yang ternyata menimbulkan masalah.
“Eh, ya? Kamu tanya apa tadi?” Tentu saja Surya gelagapan mendengar panggilan anak gadisnya yang mulai dewasa dan cantik itu.
Kecantikan yang Nayra warisi dari ibunya yang membuat Surya semakin khawatir. Bukan hanya khawatir mengenai keselamatannya saat ini, tetapi juga khawatir akan masa depan Nayra. Soal materi mungkin Surya bisa mencukupinya dengan melimpah ruah, tetapi bagaimana dengan yang lain? Surya selalu merasa takut, akankah Nayra mendapatkan jodoh yang baik dan mencintai Nayra sebagaimana dia mencintai dan menyayangi anaknya itu.
Nayra berdecak dengan wajah yang cemberut kesal. “Kenapa Ayah jadi banyak bengong, sih, sekarang?”
Surya tak menjawab pertanyaan yang konyol itu. Bagaimana mungkin Surya akan menjawab bahwa yang belakangan selalu mengganggu pikirannya adalah kepergian Neta, selain tentang Nayra tentu saja.
“Sudah selesai makannya?” tanya Surya sambil berdiri.
Nayra segera mengusap bibirnya dan berdiri mengikuti ayahnya keluar. Tentu saja satu tas bekal makanan sudah disiapkan oleh Bu Rahman. Meskipun Nayra awalnya menolak membawa bekal dengan alasan kalau makan siang bisa pesan di restoran, tetapi Bu Rahman mengatakan bahwa makanan dari rumah lebih bergizi dan steril.
Lagi-lagi Nayra tak bisa menolak kebaikan pembantu yang sudah dikenalnya sejak kecil itu.
“Kalau ada Mbak Neta, Ayah nggak harus repot membawa Nayra kemana-mana, kan, Yah?” Nayra menatap Surya yang duduk di sebelahnya dengan tenang itu. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju ke kantor Surya.
Surya menoleh, menatap Nayra yang sepertinya mulai bosan jika berada di kantor setiap hari. Orang-orang yang ditemuinya di kantor semuanya berwajah serius, tak ada yang santai apalagi jenaka.
“Siapa bilang Ayah repot? Ayah baik-baik saja dan malah tenang karena bisa memantau Nayra setiap saat.” Tentu saja Surya harus berbohong karena pada satu titik Surya pernah merasa sangat lelah dengan semuanya.
“Atau Ayah bisa meninggalkan aku di rumah kalau Ayah repot.” Nayra memberikan pilihan pada ayahnya.
“Tidak!” Tentu saja Surya menolak tegas. Tak mungkin dia meninggalkan Nayra tanpa pengawasan orang yang dipercaya.
Ronald hanya senyum-senyum sendiri melihat interaksi antara Surya dan Nayra yang belakangan terlihat semakin dekat semenjak Neta pergi.
“Jadi bagaimana nanti Nayra kalau kuliah, Yah?”
Wajah Nayra terlihat kesal. Surya menoleh pada Nayra dan menghela napas berat.
“Mengertilah dengan kekhawatiran Ayah, Nay.”
“Tapi Nayra sudah besar, Yah. Nayra butuh tahu dunia luar. Butuh bersosialisasi dengan orang lain. Nayra butuh teman bicara dan bercerita tanpa harus memilah mana yang pantas atau tidak pantas.” Nayra kembali mengungkapkan keinginannya untuk kuliah di kampus seperti teman yang lain.
“Tapi posisi kamu beda dengan posisi gadis lain, Sayang.” Surya membujuk Nayra yang kalau ngambek biasanya lebih susah daripada menaklukkan harimau.
“Mengapa Nayra tak kuliah di kota lain saja, yang aman nggak ada yang kenal sama Nayra?” Nayra memberikan opsi lain.
“Tidak! Ayah akan semakin tidak tenang kalau kamu jauh. Apalagi Mbak Neta tidak ada. Siapa yang akan menjaga dan mengurus keperluanmu?”
“Pokoknya kalau Nayra nggak boleh kuliah di kampus luar, Nayra tidak mau kuliah. Ayah mau Nayra mogok makan lagi?” ancam Nayra.
“Eh? Tidak! Tidak boleh mogok makan lagi. Cukup sekali Nayra aksi mogok makan, oke?” Surya kelabakan dengan ancaman Nayra.
Bagaimana tidak kelabakan kalau akibat mogok makan itu dia harus kehilangan Neta, Nayra sakit sampai harus opname di rumah sakit, dan berakhir kerepotan semuanya. Semenjak itu, Surya tak mau main-main lagi dengan ulah Nayra. Dia akan mengawasi Nayra dengan detail, memastikan bahwa gadis itu makan tepat waktu, istirahat tepat waktu dan tetap dalam mood yang baik.
“Bagaimana kalau usulan Neta Anda pertimbangkan, Pak?” tanya Ronald ketika suatu malam dia mendapati Pak Surya minum sendirian di mini bar rumah Surya.
“Apa maksudmu, Ronald?” tanya Surya yang mulai mabuk itu.
“Anda memberi kesempatan pada on Nayra untuk kuliah seperti yang lain, tetapi mencarikan pengawal yang akan menjaga keamanan dan keselamatan Non Nayra.” Dengan sedikit rasa gentar Ronald mengutarakan usulan yang sempat dibicarakannya dengan Neta sebelum perempuan itu hengkang.
“Pengawal? Apa kamu pikir Nayra akan setuju ke kampus dengan pengawal?” Surya menatap Ronald.
“Mengapa tidak ditawarkan dulu solusi ini, Pak? Toh mekanismenya seperti apa bisa dibicarakan bersama, kan?”
Surya terdiam, mencoba untuk menganalisa usulan Ronald.
“Besok kamu cari pengawal yang paling bagus untuk Nayra ke kampus!” Surya langsung memberi perintah pada Ronald untuk dijalankan.
Dan hari ini akhirnya tiba, ketika akhirnya Surya mendapatkan seorang pengawal yang paling kompeten di antara pengawal yang lain. Zafran adalah pendaftar yang terpilih setelah melalui beberapa tahap pretest.
Namun, bukan sebuah kesenangan yang Zafran dapatkan, melainkan sambaran petir begitu dia melihat anak gadis Surya yang akan menjadi majikannya sekaligus menjadi target penjemputannya untuk dijadikan alat tukar kebebasannya.
Zafran shock.
Bagaimana tidak? Anak gadis kesayangan Surya yang diperkenalkan itu adalah gadis belia yang ditolongnya di mall ketika itu. Gadis yang diam-diam menyelinap dan berdiam di hatinya, menghantui malam-malam Zafran dengan sorot matanya yang berbinar namun menyimpan sebuah kesakitan yang luar biasa. Gadis yang ingin Zafran ketahui siapa dan dimana keberadaannya melalui Neta meski belum berhasil.
Dan ternyata dia adalah … Nayra.
***