Yang membuat Zafran semakin lemah adalah ketika melihat bahwa Nayra mengenakan jaket besar yang dulu dia pakaikan pada gadis muda itu demi menutupinya dari kejaran orang-orang yang kemungkinan besar adalah musuh Surya. ‘Tapi mengapa dia masih menyimpan baju itu? Bahkan sekarang memakainya? Ada apa dengan gadis ini?’ bathin Zafran dilema.
“Dan Nayra, ini namanya Om Zafran. Mulai besok dia akan tinggal dengan kita, bersama pegawai yang lain dan akan menjadi pengawal kamu, kemanapun kamu pergi.” Surya memperkenalkan Nayra pada Zafran.
Jantung Zafran bagai diremas ketika sorot mata bening yang setiap malam menghantui mimpinya itu menatapnya penuh selidik. Kejernihan mata itu terlalu dalam hingga membuat Zafran merasa gentar dengan pikirannya sendiri. Dia takut tenggelam dan tak bisa menyelamatkan dirinya dari rasa asing yang kini melingkupi dirinya.
Zafran hanya berharap gadis itu menyapa dengan melambaikan tangan saja. Zafran yakin dia tak kan sanggup mengendalikan getaran jantungnya jika gadis itu datang dan menyalaminya. Tetapi yang Zafran harapkan ternyata tak terkabul karena gadis belia yang cantik dan ceria itu ternyata mendekati Zafran kemudian mengulurkan tangannya.
“Halo, Om. Nama saya Nayra.”
‘Astaga!’ Zafran mengeluh dalam hati. ‘Lihatlah, mengapa dia malah mengulurkan tangannya? Akankah aku sanggup menerima uluran tangan kebaikan sementara aku menyimpan rencana jahat padanya?’
Mau tak mau Zafran tersenyum dan menyambut uluran tangan lembut Nayra. Sungguh, efeknya di luar dugaan. Tubuh tegap dan gagah Zafran seperti leleh hanya dengan sentuhan lembut dari jabat tangan Nayra.
“Nama saya Zafran, Nona.” Hanya itu yang sanggup Zafran ucapkan di antara dilema langkahnya kali ini.
Nayra tersenyum dan kembali lagi ke sini ayahnya. Gadis itu duduk di sisi kursi yang diduduki Surya. Tangan kecilnya mengalung di bahu Surya, menandakan bahwa keduanya memiliki kedekatan yang hangat dan menyenangkan. Sesuatu yang tak pernah Zafran dapatkan dari manapun karena lelaki di depannya itu sudah menghancurkan mimpi Zafran akan sebuah keluarga.
Hati Zafran kembali mengeras mengingat kematian ayahnya yang tak seharusnya terjadi. Jiwa raganya yang semula meleleh karena keberadaan Nayra, kini kembali membatu dengan tekad bahwa semua dendam harus terbalaskan agar impas. Diam-diam Zafran mengetatkan gerahamnya, menguatkan hatinya untuk tidak lemah oleh pesona Nayra yang polos dan cantik.
“Perlu kuberikan penjelasan sedikit, Zaf. Nayra ini putriku, satu-satunya kerabat yang kumiliki setelah ibunya meninggal.” Surya berkata pada Zafran, sementara Nayra mengusap bahu ayahnya untuk memberinya penghiburan dan kekuatan.
Hati Zafran kembali tergores. Keraguannya kembali muncul namun Zafran sudah bertekad kuat sehingga ditenggelamkannya rasa itu.
“Semenjak kecil dia diasuh oleh pengasuhnya. Namanya Mbak Neta.” Surya kembali melanjutkan.
Zafran kembali mendongakkan kepalanya menatap Surya, seolah diberi hadiah kejutan lain yang tak kalah besar. ‘Neta? Bukankah perempuan yang waktu itu ditemuinya juga bernama Neta? Jadi gadis anak asuh Neta adalah Nayra? Apakah ini sebuah jalan untuk kebebasannya? Bukankah tak ada yang kebetulan di dunia ini?’ Zafran bertanya dalam hati.
“Lalu … apakah Mbak Neta masih bekerja?” tanya Zafran sekedar ingin tahu, mengukur kebenaran cerita mereka dengan cerita Neta.
“Tentu saja Mbak Neta masih bekerja. Ya kan, Yah? Dia masih bekerja dan sekarang sedang menjalankan tugas khusus dari Ayah, kan?” suara manja Nayra menyela, memenuhi gendang telinga Zafran dengan kenyaringan yang melembutkan dan membuai.
Zafran terpesona tanpa bisa menghindar. ‘Tuhan, haruskah aku mundur dan membiarkan kebebasanku terpenjara demi gadis ini tetap selamat?’
Surya yang tergagap dengan kalimat Nayra segera tersenyum dan mengangguk. Sampai di sini, Zafran mencurigai ada sesuatu dengan pertanyaan Nayra mengenai Neta.
“Tentu. Tentu saja Mbak Neta masih bekerja. Oh, ya, Ayah rasa hari sudah mau sore, sebaiknya kamu pulang dengan Ronald. Ayah tak mau kamu kedinginan karena cuaca di luar mendung.” Surya membujuk agar Nayra mau oulang ke rumah. Libur kelulusan kali ini memang Nayra cukup bosan harus berdiam diri ketika siang sementara paginya harus ikut dengan ayahnya ke kantor.
“Ayah tak perlu khawatir, selama ada jaket ini bersama Nayra, bisa dipastikan bahwa Nayra akan baik-baik saja.” Nayra dengan penuh keyakinan mencium aroma jaket tebal yang diberikan Zafran ketika itu.
“Ya … ya … ya …. Kamu selalu benar jika sudah bercerita tentang pemilik jaket itu.” Surya mengalah dengan membiarkan Nayra menang dengan asumsinya. Surya tak menyadari bahwa pemilik jaket itu adalah Zafran, lelaki yang ada di depannya.
“Baiklah, Yah. Nayra akan pulang. Bye, Ayah …” Nayra lantas mencium pipi Surya dan dengan gerakan lincah turun dari sisi kursi Surya dan berlari kecil menuju pintu.
Surya tersenyum kecil melihat polah Nayra yang sejak mereka kompromi mengenai kuliah itu menemui titik temu kesepakatan, terlihat mulai ceria dan sangat bersahabat dengan ayahnya itu.
“Nayra itu gadis yang manja dan ceria sebenarnya. Hanya saja pola asuh Neta yang sangat memanjakannya membuatnya kadang payah kalau sudah ngambek. Jadi, Zafran, aku harap kamu benar-benar menjadi penjaga yang baik dan kompeten buat Nayra. Karena aku tak akan segan-segan membunuhmu kalau kamu melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada keselamatan Nayra.” Kalimat lembut Surya berubah dingin dan tegas membuat Zafran mengerti bagaimana besarnya rasa sayangnya pada Nayra.
‘Lalu haruskah aku menjadi seperti Surya yang juga memisahkan aku dari ayahku?’
“Saya akan menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya dengan baik, Tuan.” Zafran mengangguk patuh.
“Bagus. Karena memang itu yang seharusnya kamu lakukan. Jadi aku memberimu waktu dua hari untuk berkemas dan pindah ke rumah kami. Karena minggu depan Nayra sudah harus mengurus semua urusan kuliahnya.”
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi.” Lagi-lagi Zafran mengangguk untuk pamit.
“Hm.”
Dengan sopan Zafran kemudian keluar dari ruangan Zafran yang rasanya bagai ruang eksekusi. Selama ini tak pernah Zafran merasa bimbang dan ragu dalam menjalankan tugas apapun yang diberikan Ruiz. Tetapi kali ini semua keberaniannya seolah dipertanyakan.
Zafran bimbang. Bahkan dia tak menyadari ada yang memperhatikan langkahnya yang murung dan gontai saat keluar dari ruangan itu.
***
“Om Ronald sudah mengenal om Zafran kah?” tanya Nayra ketika dia berada di dalam mobil menuju pulang.
“Sepertinya tidak. Mengapa, Non?”
Nayra menggeleng. Sejujurnya Nayra merasa ada sedikit ganjalan ketika matanya bersirobok pandang dengan mata Zafran. Mata Zafran yang cekung dan tajam itu mengingatkan Nayra pada seseorang namun dia tak tahu siapa.
“Ada apa, Non?”
“Ah, tidak, Om. Saya kira teman atau kenalan Om Ronald.”
“Bukan, Non. Dia lolos setelah melalui banyak seleksi. Menurut saya dia sangat kompeten.”
Nayra hanya diam, tetapi kecurigaannya masih juga belum surut.
‘Tapi dia tadi menatap jaket yang kupakai ini dengan tatapan intens. Apakah … apakah dia pemilik jaket ini?’ hati Nayra bertanya-tanya.
Namun, sisi hatinya yang lain juga menyanggah. “Tidak. Dia tidak mungkin pria yang menolongnya itu. Kalau benar dia yang menolongku, bagaimana mungkin dia tidak mengenaliku?” gumam Nayra sendirian.
Buntu. Sampai di sini penelusuran Nayra terhenti.
“Tapi mengapa aku merasa tak asing dengan sorot mata itu?”
***