Setelah selesai makan, mereka berlima bergegas kembali ke kelas masing-masing karena waktu istirahat tinggal 10 menit lagi.
Sesampainya di kelas Dee segera menyerahkan pesanan Nancy dan Lusi, lalu memberikan uang mereka kepada Tony.
"Selesai ujian, kita ada latihan buat persiapan pertandingan basket antar sekolah, kalian masuk tim inti." ucap Tony, dia adalah kapten tim basket pria di sekolah.
"Oke Capt!" sahut Hendrick sambil menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya.
"Kamu sama Nancy masuk Dee." sambung Tony.
"Oh, iya kah? Kirain aku ga masuk." sahut Dee.
"Kan anak kelas 3 sudah nggak main!" jelas Tony.
"Oh iya ya.... Trus tempatnya di mana?" tanya Dee.
"Bergilir nanti. Nunggu jadwal sama undian urutan pertandingan keluar." jawab Tony.
"Ujian ini ada rencana belajar bareng nggak?" tanya Dee.
"Tunggu Freddy sembuh, seperti biasa kita ke PerpuDa aja." jawab Tony yang diangguki oleh Hendrick.
Tak lama bel pelajaran selanjutnya berbunyi. Mereka mengikuti pelajaran seperti biasa dan melakukan rutinitas siswa sekolah sampai bel tanda sekolah usai berbunyi.
"Dee, aku pulang duluan ya, ibu minta antar ke rumah pakde, anaknya melahirkan." pamit Tony buru-buru.
"Iya mas, aku bareng Hendrick kok, hati-hati ya!" sahut Dee.
"Ok, kamu juga hati-hati dibonceng dia, jangan nempel-nempel nanti hamil!" seru Tony sambil melesat keluar kelas.
"Sialan tuh manusia! Dia kira aku segitu nafsuannya sampai nempel aja bisa hamil!" gerutu Hendrick kesal.
"Emang!!" jawab Dee santai.
"Dee, tega amat sih, aku gitu juga kan cuma ke kamu!" seru Hendrick.
"Aku mana tau sih, aku kan nggak pernah perhatiin reaksimu ke cewek lain, lagian itu kan ketutup celana, mana bisa dilihat?" goda Dee.
"Nakal kamu ya, mau kutunjukin sekarang? Mumpung masih ada beberapa cewek yang belum pulang!" bisik Hendrick balas menggoda Dee.
"Coba aja kalau berani!"ancam Dee sambil melotot ke arah Hendrick.
"Hahahahaha.... mana mungkinlah, cewek-cewek lain nggak ada yang pantas dibandingin sama kamu." rayu Hendrick.
"Dih, gombal. Pulang aja yuk, nanti keburu rame pasarnya!" ajak Dee sambil menarik lengan Hendrick.
Hendrick hanya tersenyum dan mengekor di belakang Dee.
"Nanti aku aja yang belanja, kamu di kost aja, istirahat sebentar." Hendrick melepas tangan Dee lalu dengan mesra merangkul pinggangnya, hal ini membuat Dee tersipu malu karena banyak siswa yang menatap mereka.
"Hmmm... Aku sudah catat beli apa aja, nanti masak yang simple aja." sahut Dee.
"Iya sayang, kamu pokoknya jangan capek-capek. Kita ada waktu sampai jam 21:00 kan ya?" Hendrick mengeratkan pelukannya di pinggang Dee.
"Iya, tapi nggak pakai acara m***m ya?!" pinta Dee malu-malu.
"Jangan goda aku pokoknya, kalau sampai menggodaku, aku nggak janji." jawab Hendrick lirih.
"Kapan aku goda kamu?" tanya Dee bingung.
"Setiap detik! Sekarang aja kamu lagi goda aku dengan tatapanmu." Hendrick menghela nafas kasar.
"Oke, aku nggak akan menatapmu lagi!" Dee mendengus kesal lalu membuang muka.
"Sayang, bukan begitu maksudku!" rengek Hendrick yang kaget melihat reaksi Dee.
"You mean it, so I won't look at you." gumam Dee kesal.
Mereka sudah sampai di parkiran motor, Hendrick mengeluarkan motor dari barisan motor para siswa yang tersusun rapi, setelah itu dia memakaikan helm di kepala Dee.
"Udah ngambeknya, kita balik yuk!" bujuk Hendrick.
Dee hanya diam saja, dan tanpa memandang Hendrik, Dee naik ke atas motor.
"Pegangan ya sayang." Hendrick dengan sabar meraih tangan Dee agar memeluk pinggangnya.
Setelah itu, dia perlahan menjalankan motornya.
Sesampai di kost, setelah Hendrick membuka pintu dan meminta Dee masuk, buru-buru dia menitup kembali pintu depan lalu memeluk Dee dengan erat.
"Sayang, jangan marah." bujuk Hendrick.
"Siapa yang marah? Aku kesal aja sama kamu, jadi ya udah pura-pura ngambek aja." sahut Dee sambil tersenyum nakal.
"Dasar... Bikin panik aja!" gerutu Hendrick lalu perlahan dan lembut dia mencium bibir Dee.
"Belanja, nggak usah aneh-aneh, janjinya tadi apa?" ucap Dee seraya mendorong tubuh Hendrick menjauh.
"Iya, iya... Mana catatannya?" Hendrick melepas pelukannya setelah sekilas mengecup bibir Dee.
"Ini, beli tahu, ayam, cabai, bawang merah, bawang putih, terasi, terong lalap, timun, tomat, bayam, taoge pendek. Kita makan ayam penyet ya?" Dee memberikan daftar belanja kepada Hendrick. "Ini uangnya!" tambahnya seraya menyerahka tiga lembar uang 50.000 kepada Hendrick.
"Simpan balik, aku bilang aku ada penghasilan itu nggak bohong. Kalau kamu di sini atau kita lagi jalan, semua kebutuhanmu jadi tanggung jawabku." Hendrick memasukkan uang Dee kembali kedalan dompet Dee.
"Aku belanja dulu, istirahatlah dulu, aku akan cepat balik! Baik-baik di rumah sayang!" pamit Hendrick, tak lupa dia mendaratkan sebuat kecupan ringan di pipi Dee sebelum keluar dan menutup kembali pintu kosnya.
Dee tersipu, rasanya seperti pengantin baru.
Dee beranjak mengambil baju ganti dari tasnya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk berganti pakaian dan membasuh tangan dan kakinya. Dia tertegun saat masuk ke dalam kamar mandi, semua kebutuhan personalnya tertata rapi di atas rak, mulai dari shower gel, shampoo, conditioner, hair mask, face wash, toner, lotion, sikat gigi, bahkan pembalut. Dee merasa tersentuh, pipinya merona karena bahagia dan berbunga-bunga. Hendrick tau semua brand kebutuhan personal yang dia pakai sehari-hari.
Setelah berganti pakaian, Dee berniat menggantung seragamnya di jemuran yang terletak di belakang pavilion, saat itu Dee tercengang, melihat celana dalam brokat yang di pakai semalam tergantung rapi di jemuran. Wajah Dee terasa terbakar, Hendrick benar-benar mencucinya.
"Pervert!" gumam Dee sambil tersenyum dan masuk ke dalam setelah menggantung seragamnya.
Dee melangkah menuju dapur, diambilnya panci rice cooker, lalu matanya berkeliling mencari tempat penyimpanan beras. Dee melihat tempat menyimpan beras ada di sudut dapur, dia mengambil 2 cangkir beras, mecucinya lalu memasaknya dengan rice cooker.
Setelah itu, Dee membuka kulkas, walau terisi penuh, tapi hanya minuman dan makanan instant.
Dee mengambil satu botol minuman yogurt buah kesukaannya lalu duduk di sofa ruang tamu.
Lama menunggu, Dee memutuskan berbaring sejenak di atas sofa dengan berbantalkan tas sekolahnya.
Tak berapa lama setelah Dee tertidur, Hendrick datang dan segera masuk ke dalam.
"Sayang, aku...." kata-kata Hendrick berhenti di tenggorokannya saat melihat Dee tertidur di sofa.
GLEK!!
Perlahan Hendrick menutup pintu, lalu meletakkan belanjaannya di dapur, kemudian dia membuka kamarnya, menyalakan AC kemudia melangkah ke arah sofa.
Dipandanginya Dee yang tengah tertidur, susah payah dia menelan ludahnya sendiri.
Dee hanya memakai hot pants dan t-shirt oversize, kakinya yang jenjang dan kuning langsat terbuka dari paha sampai ke ujung kaki. Hendrick menarik nafas dalam-dalam menahan diri dari godaan, lalu perlahan dia mengangkat Dee, menggendongnya untuk dipindah ke dalam kamar.
DEG!!
's**t, she's not even wearing a bra!'
umpat Hendrick dalam hati.
Perlahan Hendrick membaringkan Dee di ranjang, setelah mengecup kening Dee, Hendrick buru-buru mengambil baju ganti dan bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi, Hendrick segera mencuci bahan makanan yang dia beli tadi sambil menunggu Dee terbangun.
Sudah satu jam Dee tertidur, waktu menunjuk pukul 15:10 dan Dee belum sholat Ashar. Setelah mencuci tangan, Hendrick masuk ke dalam kamar hendak membangunkan Dee.
"Astaga!!!" pekik Hendrick tertahan melihat Dee tidur dengan kaki terbuka lebar, sehingga nampak celana dalam brokatnya mengintip dari sebalik hot pantsnya dan t-shirt oversize nya yang menyingkap sampai ke bawah dadanya, membuat perut rata dan halusnya terekspos. Hendrick menjerit frustasi di dalam hati.
Perlahan dia menurunkan t-shirt Dee, tapi ternyata tangan Dee masih memegang ujung dari t-shirtnya sendiri. Mau tak mau, Hendrick terpaksa langsung membangunkannya.
"Sayang, bangun... waktunya sholat Ashar!" Hendrick menepuk lembut pipi Dee.
"Hmmmmm...." gumam Dee sambil mengubah posisi tidurnya miring ke kanan menghadap Hendrick. Matanya perlahan terbuka, menatap Hendrick dengan pandangan sayu.
"Mas sudah sholat?" tanya Dee manja.
"Apa sayang? Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Hendrick dengan mata berbinar.
"Mas... Nggak suka ya?" jawab Dee malu-malu.
"Suka banget, sayang!" Hendrick mengecup kening Dee.
"Mas sudah sholat?" tanya Dee lagi.
"Sudah tadi. Sholat dulu, aku beli camilan buat isi perut, nanti masak aku bantuin, bahannya sudah aku cuci semua, bawang merah sama bawang pitih juga sudah aku kupas." lapor Hendrick.
"Makasih mas.... Memang calon suami idaman!" sahut Dee yang bangkit lalu mengecup sekilas bibir Hendrick sebelum kabur mengambil air wudlu.
"Haaaaah.... nakalnya calon istriku!" Hendrick terkekeh pelan.
"Mas, sholatnya di mana?" tanya Dee sembari mengeluarkan mukena dari dalam tasnya.
"Di sini, sayang.... Di kamar!" jawab Hendrick seraya menyiapkan sajadah untuk Dee sholat. Dee masuk ke dalam kamar, Hendrick menatapnya dengan tatapan lembut.
"Sayang, besok lagi kalau kesini baju gantinya bawa yang agak panjang ya, aku takut khilaf." pinta Hendrick.
"Nggak enak kalau di rumah pakai celana panjang, gerah. Aku ngga ada celana selutut, adanya beginian sama daster. Tapi masa iya aku pakai daster di sini? Nanti malah makin nggak tahan khilaf, semalam aja kan langsung begitu?" goda Dee.
"Aaaaah.... iya deh iya.... Sholat dulu, aku tunggu di luar ya!" seru Hendrick frustasi, lali bergegas beranjak keluar kamar, memberi waktu untuk Dee segera sholat ashar.
Sementara Dee sholat, Hendrick duduk di sofa menunggu, beberapa kali ponsel Dee berbunyi menandakan ada notifikasi pesan w******p yang masuk, sekilas Hendrick melirik ada nama Freddy di antara beberapa pesan yang masuk.
Hendrick hanya bisa menghela nafas panjang. Pacarnya memang banyak penggemar, pasrah saja lah, yang penting hati, pikiran, jiwa dan raga Dee hanya untuk dirinya seorang, mengingat mereka akan segera menikah.
Hendrick tersenyum sendiri membayangkan dirinya kelak akan segera menjadi suami dari gadis pujaan hatinya, membayangkan aktivitas ranjang yang akan mereka lakukan kelak membuat Hendrick geregetan dan membangunkan adik kecilnya yang tertidur.
"Haaaah.... Ngeres bener sih pikiranku!" gerutu Hendrick kesal sembari mengusap juniornya dari luar.
"Kamu ngapain, mas?" tanya Dee heran melihat Hendrick mengusap-usap juniornya dari luar celananya.
"Ah... Nggak apa-apa. Sudah selesai sayang?" gugup Hendrick buru-buru menutupi benjolan di celananya dengan kaos.
"Sudah." Dee duduk disebelah Hendrick, "Keras ya? Aku bantu keluarin?" tanya Dee serius.
"Enggak sayang, masih bisa tahan kok." jawa Hendrick gusar.
"Beneran?" tanya Dee cemas.
"Iya sayang, beneran. Nih, aku beliin kue ku tadi di pasar, kesukaanmu kan?" Hendrick membuka plastik bungkus kue ku lalu menyuapkannya ke mulut Dee.
"Kok tau?" tanya Dee lalu menggigit kue ku yang disodorkan Hendrick.
"Tau lah, sampai merk underwear sexy mu saja aku tau, apa lagi cuma makanan kesukaanmu, sayang!" goda Hendrick.
"Ngeres!!! Pantesan dikit-dikit keras, yang dipikirin yang ngeres terus!" gerutu Dee sambil mengunyah kue ku yang ada di mulutnya.
"Kan yang aku pikirin punyamu, sayang... jadi nggak apa-apa dong." sahut Hendrick nakal.
"Idih.... Trus barusan bayangin apa coba sampai bisa keras gitu?" tanya Dee sembari melirik ke arah tonjolan di celana Hendrick.
"Nggak ada.... Cuma bayanging life after marriage, bedroom activities with my dear wife." jawab Hendrick sambil tersenyum m***m.
"Sudah ah, kendalikan pikiranmu, mas! Tuh lihat makin menonjol aja benjolan!" seru Dee seraya melirik celana Hendrick.
"Hmmmmm.... Iya iya....!" Hendrick bergerak tak nyaman.
Dee melirik sekilas ke arah Hendrick yang semakin gusar, sebentar menyandarkan punggung di sofa, sebentar membuka kakinya, sebentar menegakkan tubuhnya, dan lainnya. Sungguh terlihat tidak nyaman dan serba salah.
Dee mengambil mug kepala beruang warna cream yang berisi air mineral, setelah menegak habis air di dalam mug itu, Dee meletakkan kembali mugnya di atas meja.
"Mas...." panggil Dee manja.
"Ya sayang?" sahut Hendrick seraya menoleh ke arah Dee.
Tanpa aba-aba, Dee mencium bibir Hendrick, mengulum dan menjilatinya seperti anak kecil mengulum permen.
Hendrick mendesah panjang. Dengan gemas dia membalas ciuman Dee dengan lembut, menyeruakkan lidahnya ke dalam mulut Dee dan mengajak lidah Dee berdansa dengan lidahnya. Tangan Dee mengusap d**a bidang Hendrick dan sedikit bermain dengan p****g s**u Hendrick yang mengeras. Hendrick melenguh saat jari jemari Dee memelintir putingnya. Perlahan tangan Dee turun ke perut datar berotot milik Hendrick, trrus turun sampai menyentuh batang kemaluan Hendrick yang menegang keras.
"Hhhhhnģgghhhh.... sayaaaaang...." desah Hendrick sedikit melepas ciumannya.
Kemudian saat Dee menyusupkan tangannya ke dalam celana Hendrick dan membebaskan kemaluan Hendrick keluar, tubuh Hendrick menegang menahan sensasi yang luar biasa.
"AAAAAAAH.... Honey...!" pekik Hendrick tertahan.
"Hmmmm?" Dee mulai mengecup dan menjilat leher Hendrck sehingga membuat Hendrick semakin kelojotan menerima dua serangan sekaligus, jilatan di leher dan pijatan lembut di k*********a.
"Honey.... sayaaang... aaaah.... honey....!" desah Hendrick tak karuan.
Tangan kanan Dee masih mengurut dan mengocok kemaluan Hendrick yang semakin menegang dan keras, sementara tangan kirinya menyingkap tee Hendrick ke atas, lalu Dee mengarahkan bibirnya ke p****g s**u Hendrick, menciumi dan menjilatinya perlahan dengan lidahnya yang basah. Hal ini otomatis membuat Hendrick menggelijang hebat, ditambah gerakan mengocok Dee yang semakin cepat, Hendrick sudah tak mampu menahannya lagi.
Tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram pinggiran sofa dengan kuat.
"Aaaaaaaah.... Honey... honey.... honey.... aaàah.... aaaaah... aaaaaaaaaaaaaaaàh.... Honey..... Aaaaaaaaaaaaaaaaaaah" erangan panjang Hendrick memenuhi ruang tamu mungil miliknya seiring dengan semburan cairan putih kental yang keluar dari lubang penisnya, cairan itu menyembur dan jatuh mengotori lantai.
Tubuh Hendrick langsung melemas, Dee mengambil tissue dan membersihkan batang kemaluan Hendrick dan tangannya. Saat Dee hendak beranjak membersihkan ceceran benih Hendrick di lantai, tangannya ditahan oleh Hendrick.
"Darling, thank you... It's you turn!" bisik Hendrick.
"No... Sebaiknya enggak, karena nggak akan ada habisnya, karena kamu pasti akan mengeras lagi! Simpan giliranku sampai setelah kita menikah nanti, mas. Bisa kan?" tolak Dee yang kemudian mengecup bibir Hendrick lembut.
"I'm sorry honey, I'll try to control my desire. I love you Dee, I love you so much!" Hendrick memagut mesra bibir Dee.
"Sudah sana, mandi.... aku mau masak!" ucap Dee seraya mendorong d**a Hendrick, sejujurnya Dee juga merasa tak nyaman, seluruh bulu kuduknya meremang karena sentuhan Hendrick, p******a dan putingnya merindukan remalas dan kuluman Hendrick, sedangkan vaginanya berkedut-kedut tanpa henti.
"Aku mandi dulu sayang!" Hendrick bangkit dari duduknya, memasukkan kembali k*********a ke dalam celana lalu mengambil beberapa lembar tissue dan dibersihkannya ceceran s****a di lantai.
"Thank you darling!" sekali lagi Hendrick mendaratkan kecupannya di bibir Dee sebelum bergegas mandi.
Dee menghela nafas panjang. Tangannya bergerak menyentuh putingnya sendiri yang sudah mencuat sejak dia mencium Hendrick. Namun tanpa Dee kira efeknya membuat dia mengerang tertahan.
"Haaaaaaaaaaaah..... aaaah...." erangnya lirih, Dee mencoba memelintir putingnya perlahan, dan kembali Dee merasakan sensasi yang aneh dan geleyar kenikmatan di seluruh tubuhnya. Saat dia akan menyentuh kembali p****g satunya mendadak dia disadarkan oleh sesuatu, dia tak boleh melanjutkannya, kalau tidak ingin lantai dan sofa Hendrick banjir oleh cairan kenikmatannya.
Dee buru-buru bangkit, meraih mug beruang miliknya lalu beranjak mengambil air di dapur. Setelah mengisi penuh mugnya, Dee buru-buru menegak habis isinya. Setelah meletakkan mugnya di atas kulkas, Dee mulai menyibukkan diri memasak di dapur.
Walau agak kesusahan menemukan peralatan yang dibutuhkan, Dee tetap berusaha mencarinya sendiri untuk meredakan gejolak birahinya yang menggebu-gebu.
Dee memasukkan potongan ayam yang sudah dicuci Hendrick ke dalam wok berukuran 28cm, lalu segera membuat bumbu halus untuk memarinasi ayam sebelum diungkep.
Dengan menggunakan cobek dan ulegan kecil, Dee dengan telaten menghaluskan ketumbar, bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe dan daun jeruk, setelah tertumbuk kasar, Dee menambahkan sedikit garam dam mulai menguleg halus bumbu-bumbu tadi. Setelah semuanya halus, Dee menuangkannya ke dalam wajan berisi ayam, kemudian dicampur dan diremas-remasnya daging ayam dan bumbu halus agar tercampur dan meresap, setelah itu Dee mencuci tangannya dengan sabun, lalu Dee menutup wajan itu dan mulai memotong tempe dan tahu sebelum dimasukkan ke dalam wajan berisi ayam bumbu.
Kemudian dengan cekatan, Dee menyiapkan bahan sambal terasi dan mulai memasaknya di dalam panci kecil.
Dee berjalan keluar dapur untuk menutup kamar Hendrick agar tidak bau masakan dan juga membuka pintu depan agar uap panas dapur tidak memenuhi pavilion Hendrick.
Tapi alangkah terkejutnya Dee, saat akan menutup kamar kekasihnya, Hendrick baru keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk di pinggangnya, menampakkan tubuh atletis dan perut kotak-kotak yang menggoda, Dee menatap Hendrick tak berkedip, ditambah saat Dee melihat V line Hendrick, Dee langsung membayangkan apa yang ada di bawahnya, yang tadi dia sentuh dan dia mainkan dan bisa mengeluarkan cairan kental berwarna putih yang lengket.
Seluruh tubuh Dee meremang, k*********a berkedut kembali membuat Dee tak nyaman.
"Sayang, ada apa?" tanya Hendrick membuyarkan lamunan Dee.
"Ehem... Mau nutup kamar sama buka pintu depan, soalnya mau nyambel!" jawab Dee cepat sambil meraih handle pintu kamar Hendrick dan menutupnya.
"Sayang, aku mau masuk pakai baju, kok ditutup?" tanya Hendrick sambil tersenyum menyadari kegugupan Dee.
"Kan tinggal dibuka lagi!" jawab Dee gusar, buru-buru membalikkan badan.
"Kamu kenapa balik badan?" goda Hendrick
"Ma-mau buka jendela sama pintu depan!" jawab Dee , buru-buru hendak melangkahkan kakinya menuju pintu depan, tapi Hendrick menahan tangannya, lalu menarik Dee ke dalam pelukannya.
"Nanti dong sayang, aku belum pakai baju kamu buka pintu kan semua orang bisa lihat aku kaya gini." bisik Hendrick di telinga Dee yang membuat bulu di seluruh tubuh Dee meremang.
"Lepas mas, aku lagi masak!" ucap Dee, suaranya bergetar menahan gairah.
"Kamu ingin kan? Matikan dulu kompornya, mas bantu keluarkan!" Hendrick meraup bibir Dee yang setengah terbuka karena Dee kesulitan bernafas, gairah membuatnya sesak.
"Mas... Ngggghhhh.... Mas.... Berhenti.... aaaaaah, tadi janji kan nggak aneh-aneh!" desah Dee di sela-sela ciuman mereka.
"Hmmmm.... Tadi kamu juga kan sudah aneh-aneh sama aku kan sayang?" bisik Hendrick seraya mengecupi leher jenjang Dee.
"Maaaash.... Please jangan... Aku mohon!" desah Dee sambil mendorong Hendrick.
"Sayang... Maaf... Maaf... aku cuma ingin gantian tolong kamu, sayang!" ucap Hendrick sambil merengkuh Dee dalam pelukannya.
"Mas yakin, cuma mau tolong aku? Mas sudah lihat bagian bawahku, aku yakin mas ingin menyentuhnya kan? Lalu setelah itu apa? Memasukinya?" tanya Dee.
"Ah... Maaf... Maaf sayang...." bisik Hendrick.
"Sebaiknya mas cepat pakai baju ya!" seru Dee membebaskan diri dari pelukan Hendrick karena dia merasakan kejantanan Hendrick mulai menyembul tegang dan menyodok selangkangannya.
"Ah... Iya... maaf sayang!" Hendrick mengecup ringan bibir Dee, lalu bergegas masuk ke kamarnya untuk memakai baju.
Sementara itu Dee melangkah ke dapur mematikan kompor yang dia gunakan untuk merebus bahan sambal, lalu buru-buru masuk kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Dee berusaha mencuci muka untuk menenangkan diri tapi tak berhasil, jadi Dee terpaksa mandi. Celakanya saat Dee membalurkan sabun ke tubuhnya, gairah yang berusaha ditahannya tambah bergejolak ketika Dee mengusapkan sabun di p******a dan k*********a. Dan tanpa sadar, Dee mulai memainkan sendiri p****g dan k*********a sampai dia mencapai orgasmenya. Kakinya lemas dan bergetar setelah semburan cairan orgasmenya keluar. Dee hanya bisa terduduk di lantai kamar mandi dan menunggu kakinya berhenti gemetar sebelum mandi.
TOK TOK TOK
"Sayang.... Honey... Kamu ok kah? Honey.... Jangan marah ya sayang!" suara Hendrick terdengar khawatir, karena sudah lebih dari 20 menit Dee tidak keluar dari kamar mandi.
"Honey.... Are you ok?" tanya Hendrick bertambah cemas karena tak ada jawaban dari Dee.
"Mas...." panggil Dee dari dalam kamar mandi.
"Pinjam handuk dan baju ya.... sama minta tolong ambilin celana dalamku yang mas cuci semalam." pinta Dee dengan suara serak.
"Handuk ya sayang? Sebentar, mas ambilkan!" Hendrick mengambil handuk yang Dee pakai semalam dan juga celana dalam yang dia jemur di jemuran belakang, lalu buru-buru Hendrick kembali berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Sayang... Ini handuknya, nanti baju pilih sendiri di lemari ya!" seru Hendrick.
"Sebentar ya mas, tunggu di situ dulu ya, kakiku masih lemas!" rintih Dee dari dalam.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Hendrick panik, diketuknya pintu kamar mandi beberapa kali.
"Aku nggak apa-apa, tunggu dulu di situ! " jawab Dee, dia sekuat tenaga berusaha berdiri drngan bertumpukan bak mandi, lalu berusaha duduk di atas closet duduk. Perlahan Dee mengguyurkan air ke kepalanya dan melakukan ritual mandi seperti biasa.
Setelah 15 menit, pintu kamar mandi terbuka, tangan Dee menjulur keluar.
"Mas, handuk!" pinta Dee, Hendrick buru-buru memberikan handuk ke tangan Dee, lalu Dee menutup kembali pintu kamar mandi. Tak berapa lama Dee keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalutkan handuk putih yang tak begitu lebar, sehingga hanya menutup sampai setengah dari pahanya, rambut panjangnya tergerai basah, wajahnya memerah seperti wanita yang habis bercinta.
Hendrick buru-buru memalingkan wajahnya.
"Sa-sayang, ini celana dalamnya.... Ba-baju ambil sendiri di lemari ya, aku keluar dulu, mau beli bensin dulu." gugup Hendrick buru-buru melesat keluar ruangan sebelum Dee sempat menjawabnya.
Hendrick terduduk di teras, menatap juniornya dengan tatapan melas.
"Hah.... Bangun lagi.... Iiiish....!" gerutu Hendrick frustasi.
Sementara Dee masuk kamar Hendrick untuk mencari baju dan memakainya. Dee memilih kemeja katun berwarna biru muda. Karena tubuh Hendrick yang tingginya 192cm, ukuran kemejanya terbilang besar. Ditambah tinggi badan Dee yang 169cm, kemeja itu telihat seperti daster midi di tubuh Dee.
Setelah memakai celana dalam dan kemeja Hendrick, Dee buru-buru menutup kamar Hendrick dan membuka pintu depan.
"Lho, ga jadi beli bensin?" tanya Dee yang heran melihat Hendrick duduk di teras.
Hendrick menoleh ke arah Dee. Spontan matanya terbelalak, Hendrick bangkit berdiri lalu menghambur ke arah Dee dan memeluknya, dengan sedikit mengangkat tubuh Dee, Hendrik membawa masuk Dee ke dalam lalu menutup pintu.
"Apaan sih mas!" protes Dee sambil melepaskan diri dari pelukan Hendrick.
"Kamu yang apaan, Dee!" ucap Hendrick dengan nada tinggi. Dee yang terkejut, langsung diam menunduk takut.
"Ah, sayang.... maaf... Bukan maksud mas bentak kamu."Hendrick merengkuh Dee dalam pelukannya.
"Sayang.... Baju yang kamu pakai itu terlalu menggoda, jangan dipakai keluar-keluar, tambah kamu ngga pakai bra sama celana pendek. Aku nggak mau badanmu jadi santapan mata cowok lain!" bisik Hendrick.
"Aku lupa nggak bawa bra ganti, trus celanamu kebesaran semua, ga ada yang bisa kupakai." gumam Dee lirih.
"Nggak apa-apa, selama di dalam rumah aja, jangan keluar-keluar, ok?!" bujuk Hendrick sambil membelai rambut Dee yang masih agak lembab.
"Iya, maaf... aku lanjut masak aja, sudah hampir jam 5." Dee melepas pelukan Hendrick.
"Honey.... Kiss dulu dong, sayang!" rengek Hendrick sambil memajukan bibirnya.
"Apaan sih?!" gerutu Dee kesal, tapi tetap mendaratkan kecupan ringan di bibir Hendrick.
"Thanks, honey!" Hendrick membalas kecupan Dee dengan kecupan singkat di bibir Dee.
Dee melangkah menuju dapur kecil milik Hendrick, lalu mulai menyalakan kompor untuk merebus bahan sambal dan mengungkep ayam, tahu dan tempe. Hendrick menyusul ke dapur, berniat membantu.
"Aku bantu apa sayang?" tanya Hendrick sambil memeluk pinggang ramping Dee dari belakang.
"Duduk aja deh, jangan ganggu kaya gini, bikin ga bisa gerak!" gerutu Dee kesal.
"Honey.... Wangi...." gumam Hendrick sambil menghirup aroma tubuh Dee dalam-dalam.
"Ga usah lebay deh mas, kalau cuma mau ciumin wangi sabunku, tuh kan ada di kamar mandi!" omel Dee semakin kesal.
"Lain sayang, kalau wanginya udah nempel di tubuhmu, jadi sensual!" goda Hendrick sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Dee.
"Ngeres!!! Udah deh, keburu maghrib blm kelar masakannya!" Dee meronta, mencoba melepaskan diri.
"Ck.... Pelit!" gerutu Hendrick sambil mengurai pelukannya, lalu melangkah gontai keluar dari dapur.
"Haish.... Dasar aneh, sejak jadian sifatnya jadi bertolak belakang sama yang dulu. Manja dan mesum...." gumam Dee sambil tersenyum geli.