Chapter 18

4305 Kata
Sesampainya di kelas Dee mengecek ponselnya. Ada pesan masuk dari Freddy dan notifikasi update IG Freddy. Freddy : "Dee, makasih bubur sama supnya, Alhamdulillah enak dan habis tandas" Dee : "Sama-sama, Fred. Buruan sembuh, masuk sekolah, kita belajar bareng buat persiapan ujian." Freddy : "Iya Dee, kangen juga aku sama kamu!" Dee : "Idih... hehehehehe.. . Ya udah, istirahat lagi, aku mau ngulang baca materi, ada ulangan pagi ini." Freddy : "Iya deh, sambung nanti lagi, belajar yang rajin!" Dee : "Iyaaaaaa....." Dee lalu membuka aplikasi i********:, dan melihat postingan Freddy yang berupa videonya sedang makan bubur sayur dan sup ayam. Captionnya bertulis 'Terima kasih bidadariku, sudah kirim sarapan pagi-pagi' Dee menghela nafas panjang, pasti Hendrick bakal ribut lagi. Dee mengetik komentar 'Get well soon bestie, buruan balik dari RS Fred, keburu ujian ntar kau nggak naik jadi adik kelasku lho, hehehehehe.... Cepat sembuuuuh' seraya tersenyum, Dee meletakkan ponselnya di meja. "Ngapain cengengesan?" tanya Tony yang baru saja masuk kelas. "Nggak ngapa-ngapain, habis komen IG Freddy aja." jawab Dee sambil mengeluarkan buku Matematika dari dalam tasnya. "Kirim bubur itu, dia tau nggak?" tanya Tony. "Kalau tau, nggak akan dibolehin." jawab Dee "Ribut nanti." Tony menarik kursinya ke dekat meja Dee. "Biarlah, dia janji mau percaya sama aku, kita lihat aja nanti!" Dee fokus ke bukunya dan mulai corat coret di notes kecil miliknya. "Aku heran, dia tu kenapa nggak bisa ngendaliin perasaannya sih? Semalam di RS pengen banget tuh aku nonjok dia, kalau nggak ingat dia pacarmu. Berapa lama sih kita sahabatan, bukannya perlakuan kamu ke Freddy dan dia tu sama?" gerutu Tony. "Itu sih yang kadang bikin aku kesal. Curigaan terus juga. Makanya sekali ini aku coba, gimana nanti reaksinya." sahut Dee. Tak lama nampak Hendrick masuk ke dalam kelas dengan ponsel di tangan kanannya, wajah tampannya terlihat diselimuti badai. "Kelihatannya sudah lihat postingan Freddy tuh dia." gumam Tony. "Biar aja!" jawab Dee, lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Hendrick. "Hend, ada rumus yang mau aku tanya, ajarin dong!" seru Dee dengan nada manja. Tony melotot ke arah Dee, seketika bulu kuduknya meremang.... sejak kapan ni bocah hobi kemayu kaya gini? batinnya. Hendrick menatap Dee, lalu menghela nafas panjang. "Hmmmm, rumus apa?" tanya Hendrick sambil meletakkan tasnya di meja lalu menarik kursinya ke sebelah kursi Dee. Wajah Hendrick melunak, tak setegang tadi. "Ini, logaritma... Kamu tau kan, aku paling lemah di soal logaritma!" Dee menyodorkan bukunya ke arah Hendrick. "Sayang, besok lagi kalau mau kirim makanan ke Freddy bilang aja, aku nggak apa-apa, jangan sembunyi-sembunyi gitu!" bisik Hendrick di dekat telinga Dee lalu dengan lembut dia mengecup pipi Dee. Dee yang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu hanya menunduk malu, wajahnya memerah sampai telinga dan leher. "Yaaaa.... Kalian ini, tau tempat bisa nggak sih, ini di kelas, bukan hotel!" seru Tony kesal. "Kenapa ribut, Dee kan pacarku!" balas Hendrick acuh tak acuh. "Tau tempat! Kalau masih ingin restu dari om dan bulik! Sini Dee, jauh-jauh dari dia!" bentak Tony kesal, ditariknya kursi Dee menjauh dari Hendrick. "Mas, apaan sih?" tanya Dee kaget saat kursinya ditarik. "Belum muhrim! Aku yakin om dan bulik udah wanti-wanti dia buat jaga kamu kan?" Tony uring-uringan, selama ini dia mati-matian jaga Dee agar ga disentuh laki-laki tak senonoh, tapi malah sekarang sahabatnya sendiri mengambil kesempatan pakai statusnya sebagai pacar Dee. Hendrick terdiam, jujur dia merasa bersalah, begitupun dengan Dee, model pacaran mereka memang sudah kebablasan. "Kenapa diam?" tanya Tony. "Sorry Dee... " gumam Hendrick. "Hmmm... iya." jawab Dee canggung. "Ngajari jarak segini, nggak usah dekat-dekat!" seru Tony sambil merangkul bahu Dee. "Kamu ngapain rangkul-rangkul Dee?" Hendrick melotot ke arah Tony. "Kenapa memangnya? Mau protes???" tantang Tony. "Ssssttt... udahlah Hend, ajari aja, nggak usah pikirin mas Tony!" Dee berusaha melerai mereka. "Guardians kamu bener-bener ngeselin semua! Awas aja nanti!!!" gerutu Hendrick. "Heh, belum ketemu Kak Dika dia, sekalinya ketemu, nafas aja ga bakalan berani." ejek Tony. "Berisik amat sih mas, ade mau belajar ni lho, ulangan ini nanti, kalau nilai jelek, tamat wes diamuk bapak!" omel Dee. "Iya... iya, aku diam!" Tony menutup mulutnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dee. Hendrick merasa terbakar melihatnya, tapi berusaha sabar, dia ga akan menang lawan adu mulut dengan Tony. Dengan telaten Hendrick mengajari Dee cara memecahkan soal logaritma. "Sudah paham kan sayang?" tanya Hendrick setelah selesai menjelaskan. "Lumayan ngerti sih, biar kucoba soal yang bawahnya!" jaeab Dee sambil mulai mengerjakan soal selanjutnya. "Aku ke toilet sebentar ya!" Hendrick beranjak dari kursinya lalu melangkah keluar setelah menerima anggukan kepala dari Dee sebagai jawabannya. "Hmmmm.... Dee, Hendrick bilang katanya lulus nanti mau lamar kamu ya?" tanya Tony sembari mengangkat kepalanya dari bahu Dee. "Bukan setelah lulus, tapi setelah ujian kenaikan kelas." jawab Dee santai sambil tangannya terus mencorat coret notesnya "WHAT THE F***!!!!!" pekik Tony, yang di sambut cercaan dari teman-teman sekelasnya. "Whoy Ton, bahasamu sopan dikit iso ra?" bentak Budi si ketua kelas. "Tau tuh, rombeng bener mulut Tony!" tambah Nancy sambil melempar kapur ke arah Tony. "Keceplosan, sorry... habis minum oli, mulutnya licin, heheheheh...." sahut Tony cengengesan. Dee melirik sekilas ke arah Tony, lalu kembali fokus ke soal yang dia kerjakan. "Kalian serius? Habis ujian dia mau lamar, trus? Nikah?" tanya Tony setengah berbisik. "Iya." jawab Dee sambil menunduk malu. "Segitu kebeletnya kalian ini?" sindir Tony, terus terang dia tak suka Dee menikah muda. "Dari pada kebablasan mas, bapak sama ibu juga setuju." jawab Dee. "Kalian egois, beneran deh. Nggak mikir perasaan Freddy? Mungkin masih ok kalau dia hanya tau kalian jadian, tapi kalau dia tau kalian segera nikah sebulan lagi.... Aku sudah bisa nebak gimana jadinya hubungan persahabatan kita nanti, terutama antara kalian bertiga." ungkap Tony kecewa. Walau dia mendukung sepenuhnya pilihan hati Dee, tapi dia pikir Dee dan Hendrick akan menjalaninya secara perlahan, membiarkan para sahabat beradaptasi, terutama Freddy, karena menurut Yetnu, perasaan Freddy kepada Dee jauh lebih dalam dibanding perasaan Hendrick terhadap Dee. Setidaknya Tony ingin Freddy bisa memulihkan luka patah hatinya dulu sebelum Dee dan Hendrick menikah. "Tapi mas, ini semua demi kebaikan." jawab Dee. "Kebaikan siapa? Kalian berdua? Seharusnya kalian pikir perasaan orang lain juga. Aku tau kalian menikah cepat-cepat karena Hendrick nggak bisa nahan nafsunya kan? Kau juga sedikit banyak sudah terkena imbasnya. Dee, kau sudah seperti adikku sendiri, sedari kecil kita tumbuh sama-sama, jangan dikira aku nggak tau perubahanmu sejak kalian jadian, walau baru 2 hari, aku yakin kalian sudah melampaui batas!" ungkap Tony panjang lebar, membuat mata Dee berkaca-kaca, hatinya teriris mendapat teguran dari sahabat masa kecilnya. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa, bahkan ke bulik atau om, aku akan diam, tapi kalau sampai kalian benar-benar melakukan s*x di luar nikah.... Aku akan habisi Hendrick dengan tanganku sendiri!!!" ancam Tony. "Selamanya kau adalah adikku, dan aku kecewa karena adikku dirusak oleh sahabatku sendiri!" gumam Tony, yang beranjak dari duduknya dan meninggalkan kelas setelah membelai kepala Dee. Dee merasa dadanya sesak, Dee menelungkupkan kepalanya di meja, dan mulai terisak lirih. Hendrick yang baru kembali dari toilet melihat Dee yang membenamkan kepalanya di meja mengernyit heran. "Sayang, kenapa?" tanya Hendrick seraya membelai kepalanya. Dee menggeleng lemah, hanya terdengar isakan lirih dari bibirnya. "Sayang.... Kamu kenapa?" desak Hendrick lagi. "Aku nggak apa-apa. Hanya sedih, diingatkan Mas Tony tentang hubungan kita yang sudah melanggar norma agama!" bisik Dee lirih. Hendrick menghela nafas panjang, dia tau, dialah yang membuat mereka melampaui batas, walau Dee juga ada andil, tapi kalau dia bisa menahan nafsunya, tak akan lah hal itu terjadi. "Aku minta maaf sayang, aku sudah membuatmu berbuat dosa!" bisik Hendrick sambil membelai kepala Dee. "Aku juga salah, karena aku merasa penasaran dan aku nggak ingin kamu tersiksa." gumam Dee lirih. "Aku minta maaf ya, kalau takut terjadi lagi, hari ini nggak usah ke kost nggak apa-apa kok." hibur Hendrick. "Sudah pamit bapak ibu, kita ke kost nggak apa-apa." Dee memiringkan kepalanya ke arah Hendrick. Hati Hendrick terasa teriris melihat Dee yang masih menangis. "Maaf sayang..." dihapusnya air mata dari pipi Dee menggunakan ibu jarinya. "Ehem... Kalian berdua jadian?" tanya Nancy yang tiba-tiba berdiri di depan mereka. "Seriusan?" timpal Lusi yang tiba-tiba muncul dari belakang Nancy. "Enggak! Emangnya kalian nggak biasa lihat kami begini?" jawab Hendrick datar untuk menutupi sesuai keinginan Dee, lalu balik bertanya. "Kalau sama Tony sih sering, kalau sama kamu..... Nggak pernah tuh!" sahut Nancy curiga. "Ya mulai sekarang dibiasain!' seru Hendrick ketus. "Hisssh.... Manusia satu ini!" Nancy mengacungkan tinjunya seraya mendesis kesal ke arah Hendrick. "Diane, kamu kenapa kok nangis? Sakit?" tanya Nancy sambil menepuk-nepuk punggung Dee. "Halaaaaah.... drama.... Palingan dia mendramarisir kejadian di kantin kemaren, menang banyak tuh dia jadi pelampiasan nafsu Ghani, udah digosok-gosok kan sama dia? Hahahahah...." seru Intan tiba-tiba. Wajah Dee memucat seketika saat kejadian kemarin diungkit, tubuhnya gemetaran. "Heh Lampir, ngomong jangan asal ngejeblak ya, mentang-mentang punya ortu tajir, mulutnya kalau ngomong sembarangan. Hidup kaya puteri tapi kelakuan kaya b******n!" bentak Nancy emosi. "Apa kamu bilang?!" Intan menggebrak meja dan melangkah menghampiri Nancy. "Budeg ya kamu? Aku ngomong sekeras ini nggak dengar?" ejek Nancy semakin memancing emosi Intan. "Kau...." Intan mengangkat tangannya hendak memukul Nancy. "Stop kalian berdua!" seru Budi. "Jaga kelakuanmu Tan, Diane baru aja mengalami pelecehan kemarin, tapi kamu sudah ngatain dia aneh-aneh. Diane itu teman sekelas kita, berempatilah sedikit. Aku nggak tau alasanmu benci Diane itu apa, karena setauku Diane bukan anak yang neko-neko, nggak kaya kamu! Kalau kamu nggak suka Diane, diam saja, nggak usah mancing keributan!" kata Budi panjang lebar. "Ngapain kamu udik, mentang-mentang ketua kelas, sok bijak!!" bentak Intan. "Memang aku udik, tapi setidaknya masih punya hati. Asal kau tau Tan, di kelas ini, nggak ada satupun siswa yang suka kelakuanmu, kita diam bukan berarti suka denganmu, kita cuma menjaga perasaanmu, tapi ternyata kamu memang rusak dari hati. Entah gimana ortumu ndidik kamu, yang jelas mereka gagal mendidik anak!" sahut Budi tenang, lalu berbalik menuju bangkunya. "Wow.... Itu tadi Budi? Emejing...." diam-diam Nancy mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Budi, diikuti Lusi dan teman lain yang ada di kelas. Sementara itu tubuh Dee masih gemetaran, Hendrick yang menyadari itu, segera memberikan air dan menenangkan Dee. "Sudah, tarik nafas.... tenang Dee, orang itu sudah dihukum sama pihak sekolah!" Hendrick mengusap punggung Dee dengan lembut. "Tenang Diane, kita semua tau kejadian kemarin itu karena kakak kelas yang b***t, jadi kita nggak mikir apa-apa tentang pribadimu, kami bersyukur karena guardians mu langsung pada turun tangan,dan nggak terjadi apa-apa ke kamu." Nancy menepuk bahu bahu Dee. "Iya, Diane... Kita tau kalau kamu itu korban, tenangkan hatimu, nggak ada yang mandang rendah kok, paling si Lampir itu doang!" timpal Lusi. "Ada apa ini?" tanya Tony yang baru masuk kelas dan melihat wajah Dee seputih kapas. Tony buru-buru menghampiri Dee memeriksa wajahnya. "Dee... ada apa?" tanya Tony lembut. Tiba-tiba Dee menghambur ke pelukan Tony, dia tidak menangis, hanya tubuhnya masih gemetaran. "Hend?" Tony melotot ke arah Hendrick, dia mengira Hendrick berbuat sesuatu pada Dee. "Apa?" tanya Hendrick bingung bercampur kesal melihat Dee lebih memilih memeluk Tony ketimbang dirinya, dan bingung karena mendapat pelototan tajam dari Tony. "Explain!!!" perintah Tony. "Lu nape Ton? PMS?" tanya Nancy gemes melihat kelakuan Tony yang over possessive. "Aku tanya ke dia diapain Dee sampai kaya gini?" tanya Tony geram. "Salah orang, d***o! Tuh orangnya yang bikin Diane kaya gini!" sahut Lusi sambil menunjuk ke arah Intan dengan dagunya "Ngapain dia?" tanya Tony sambil menatap Lusi bingung. "Soal kejadian kemarin!" jawab Lusi lirih. BRAK!!! Tony menggebrak meja dengan keras, Dee terlonjak kaget dalam pelukannya. "Maaf kan mas, kamu kaget ya? Sama Hendrick dulu sebentar!" Tony menepuk pelan punggung Dee, lalu meminta Hendrick memeluk Dee menggantikan dirinya. Lalu dia berjalan menghampiri Intan yang terlihat gusar setelah melihat Tony menggebrak meja tadi. Saat Tony sudah ada di sebelah meja Intan, dengan gerakan secepat kilat, tangannya meraih dan mencengkeram dagu Intan dengan sekuat tenaga. "To-Tony..." pekik Intan, wajah full make upnya pucat pasi. "Sudah berapa kali kuperingatkan, jangan usik Dee terus, aku nggak peduli sekaya apa bapakmu, kalau kau bertingkah menyakiti Dee lagi, jangan harap kau masih bisa memakai kaki dan tanganmu lagi! Camkan itu baik-baik, aku nggak pernah main-main sama kata-kataku sendiri!!!" ancam Tony, lalu dihempaskannya Intan ke kursinya. "Ck.... kau mengotori tanganku dengan lumpur yang kau tempel di wajah burukmu itu!" Tony berdecih sambil melangkah keluar menuju toilet guna membasuh tangannya yang terkena lunturan make up Intan, sementara Intan hanya terduduk sambil gemetar ketakutan. "Heh, tau rasa dia!" ejek Nancy. "Rick, baiknya aku ajak Diane ke toilet buat cuci muka, bentar lagi bel masuk ini!" ucap Nancy. "Aku aja yang antar, makasih kalian berdua." tolak Hendrick seraya membantu Dee berdiri dan memapahnya keluar kelas. Teman-teman sekelas mereka yang menyaksikan kejadian tadi merasa iba pada Dee. Dee memang disukai oleh teman-teman sekelasnya, karena walau dia anak seorang guru, dia tak pernah merasa dirinya istimewa, nilai mata pelajaran Bahasa Indonesianya pun hanya rata-rata karena dia memang lemah di mata pelajaran itu, walau gurunya adalah ibunya sendiri. Dee juga bukan tipe siswa yang suka neko-neko, siswa sederhana yang ramah dan cenderung pendiam, dia banyak digandrungi siswa lelaki, tapi dia hanya bergaul dengan siswa lelaki dari kelasnya saja dan bersahabat dekat dengan Tony, Hendrick, Yetnu dan Freddy ( sebelum Lucky pindah ).Bukan karena sombong, tapi karena Dee termasuk golongan gadis pendiam, kalau bukan dengan sahabatnya dia tak banyak bicara.Dan yang paling penting dia suka menolong teman-temannya jika mereka butuh bantuan. Maka dari itu, saat adanya kejadian kemarin teman-teman sekelasnya mendatangi kantor kepala sekolah untuk meminta pembatalan kelulusan Ghani dan juga dikeluarkan dari sekolah, sehingga Ghani harus mengulang kelas 3 di sekolah lain. Dan hari ini mereka tidak membahas apapun tentamg kejadian pelecehan itu agar Dee tidak merasa malu atau trauma. Tetapi malah Intan mencari gara-gara, dan mereka mrmbiarkan saja saat Tony mengamuk, untuk memberikan pelajaran pada Intan. Bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, Dee masuk ke dalam kelas, bersama dengan Tony dan Hendrick. Kedua pria tampan itu benar-benar menjaga Dee seperti pengawalnya, banyak yang merasa iri, tapi tak banyak suara, karena mereka memang sahabat karib. Tony membantu Dee duduk, sedangkan Hendric merapikan buku yang berserak di meja. "Sudah tenang kan Dee, nggak usah takut, ada mas sama Hendrick di sini!" Tony mengusap kepala Dee dengan lembut. Dee hanya mengangguk perlahan, lalu Tony melangkah ke mejanya dan segera duduk. Hendrick mengembalikan kursinya ke belakang, lalu kembali ke samping Dee sambil menyerahkan botol air mineral. "Minum dulu, sayang... Nggak usah dipikirin omongan Intan!" Hendrick membantu Dee minum. "Makasih, Hend...!" Dee mengangkat kepalanya menatap Hendrick seraya tersenyum. "Nah gitu, kamu cantik kalau tersenyum gitu!" ucap Hendrick seraya membelai pipi dan bibir Dee. "Ehem.... di kelas ini.... di kelas!!!" seru Tony jengkel. "Iya.... Iya, Ton!" sahut Hendrick yang melangkah kembali ke bangkunya. "Dee, kamu jangan mau digrepe-grepe terus sama dia. Kalau jengkel, kulaporin Om Edi, alamat langsung disuruh putus kalian berdua!" ancam Tony. Dee menatap horor ke arah Tony. "Apaan sih mas, bukannya mas Tony juga gitu ke ade?" dengus Dee kesal. "Heh... Aku mah nggak nafsu sama adik sendiri, dia lain... Dia pegang tanganmu aja langsung ngaceng kan?" tanya Tony vulgar, Dee hanya bisa menunduk malu, membenarkan perkataan Tony, sedangkan Hendrick langsung melempar pulpennya ke arah Tony. "Heh... malu ya ketahuan? Makanya ga usah grepe-grepe ke ade, kelihatan tau ga sih kalau lu lagi nafsu!" ejek Tony lagi. "Awas aja kalau Dee jebol sebelum nikah, putus tuh kepala!" lanjut Tony mengancam Hendrick dengan tatapan sadis. Hendrick hanya bisa bersusah payah menelan ludah. "Tau Ton... Tau, nggak usah ngancam gitu napa?" sahut Hendrick seraya berjalan kembali ke bangkunya. Tak lama Bu Afi, guru matematika sekaligus ibu dari Tony masuk kelas. "Selamat pagi anak-anak, sesuai jadwal ya, hari ini ulangan matematika, simpan buku kalian, yang ada di atas meja cuma peralatan menulis. Budi, bagi soalnya!" seru Bu Afi. Beberapa anak menggerutu dengan alasan belum siap, tapi tetap pasrah menyimpan buku-buku mereka. Ulangan matematika berlangsung selama 90 menit, Dee mengerjakan soal dengan tenang, begitu juga Tony dan Hendrick. Beberapa dari teman sekelas mereka juga mengerjakan soal dengan tenang, walaupun ada yang panik garuk-garuk kepala, tapi tak ada yang mencontek. Setelah 90 menit berlalu, bu Afi meminta Budi, si ketua kelas untuk mengumpulkan jawaban teman-temannya dan membawanya ke ruang guru bersama Bu Afi. Bel istirahat pertama berbunyi. Tony bangkit dari duduknya. "Kantin nggak? Habis ngerjain soal ulangan laper, pengen ngemil, mau ikut?" ajak Tony. "Ikut mas, pengen makan siomaynya bu kantin." Dee bangkit dari duduknya lalu meraih lengan Tony. "Diane, nitip roti sisir sama UHT ya!" pinta Nancy. "Aku juga Di, roti semir sama Teh Kotak ya!" tambah Lusi. "Iya, tapi aku agak lama, soalnya mau makan, nggak apa-apa?" tanya Dee. "Nggak apa-apa, makan roti kan cepet aja." jawab Nancy yang diiringi anggukan Lusi. "Ok!" sahut Dee. "Thanks Di!" seru Lusi dan Nancy bersamaan, setelahnya Dee melangkah keluar bersama Tony. Hendrick mendengus kesal karena dicuekin. Lalu dia berdiri dan bergegas meninggalkan kelas menyusul Dee dan Tony. Hendrick mengambil langkah lebar agar bisa menyusul Dee dan Tony. Hendrick melihat mereka berdua ada di persimpangan antara kelas 2.3 dan kelas 2.2, setengah berlari dia menyusul Dee dan Tony. "Kalian ngapain berdua-duaan ninggalin aku?" gerutu Hendrick yang langsung merangkul bahu Dee. "Heh.... Kaya nggak biasa aja kalau aku berdua ke kantin sama Dee, harus banget sama kamu gitu?" sahut Tony. "Ya kan ngajak aku juga bisa, lagian ngapain sih pake acara gandengan tangan gitu?" Hendrick mendorong Tony agar menjauh dari Dee. "Apaan sih Hend, biasanya kan juga gini, kenapa sih?" omel Dee kesal. "Iya, tapi kan sayang.... Sekarang ada aku?" Hendrick menatap Dee dengan pandangan memelas. "Ya ampun Rick, apaan sih, cemburu sama aku? Yang bener aja!" Tony mendengus, lalu dengan kesal dia melepaskan tangan Dee dan berlalu pergi. "Mas Tony!" panggil Dee yang kagrt melihat Tony dengan kasar melepas tangannya. "Urus dia dulu, aku malas dicemburuin cuma karena dekat sama ade!" seru Tony tanpa menoleh. Dee menatap kesal ke arah Hendrick. "Nggak bisa ya sehari aja nggak cemburuan? Mas Tony tuh sudah kaya kakakku sendiri, lagian dia punya pacar. Aku tau aku pacarmu, aku tau batasan Hend, bukannya main nempel ke sembarang cowok juga, dia kan Mas Tony, kalian juga kenal sudah 5 tahun lebih, percaya sedikiiiiit aja ke aku dan orang-orang di sekitarku bisa nggak sih?" omel Dee kesal, matanya berkaca-kaca karena terlampau emosi. Dee berlalu meninggalkan Hendrick yang frustasi. "Sayang.... Sayang.... Maaf...!!!" Hendrick buru-buru mengejar Dee, lalu dengan lembut menggandeng tangannya. "Maaf sayang, aku gampang cemburu gini karena takut kamu ninggalin aku!" gumam Hendrick. "Berhenti merasa insecure, I'm yours ok, hati, perasaan, jiwa, raga semua untukmu. Apa perlu nanti aku buktikan?" tantang Dee kesal. "Nggak.... Nggak.... Nggak usah dibuktikan aku sudah tau Dee, aku minta maaf sayang!" Hendrick tergagap menerima pernyataan Dee. Dee menghela nafas panjang, punya pacar possessive ternyata capek banget. "Cepat jalannya, aku lapar!" seru Dee setengah menarik tangan Hendrick. "Iya sayang, tapi hati-hati nanti kesandung!" Hendrick menahan tangan Dee agar memperlambat langkahnya. "Nanti malam ingin makan apa?" tanya Dee lirih. "Ya?" Hendrick balik bertanya. "Nanti malam, ingin dimasakin apa?" tanya Dee lagi. "Apa aja asal kamu yang masak pasti kumakan karena enak." jawab Hendrick seraya meremas lembut tangan Dee. "Nanti pulang sekolah, taruh tas dan ganti baju dulu baru belanja ya?! Kita ke pasar aja kan dekat sama kost." ucap Dee lirih. "Ganti di rumah?" tanya Hendrick. "Di kost, aku bawa baju ganti kok." jawab Dee malu-malu. "Ehem... I-iya sayang!" sahut Hendrick. "Atau kamu nanti di rumah aja, biar aku yang belanja, kasih catatan aja. Aku nggak mau kamu capek!" sambung Hendrick. "Gitu? Nggak malu?" tanya Dee. "Enggak lah, besok kalau kita nikah kan bagi tugas, aku nggak mau kamu kecapaian sekolah, ngurus rumah sama kecapaian di ranjang!" jawab Hendrick sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Dee. "Ra-ranjang?" Dee terbengong. "Iya lah, memenuhi kebutuhan biologis suami di ranjang kan perlu, cape lho." goda Hendrick seraya menyeringai nakal. "Me-m***m!" gerutu Dee, wajahnya memerah karena malu. "Hehehehe... Bercanda sayang, aku cuma nggak mau kamu kecapaian aja, kan masih sekolah gini, masih belanja, harus masak pula." Hendrick meremas lembut tangan Dee. "Udah biasa kali Hend, aku bukannya cewek yang menye-menye juga kan." sahut Dee, mereka sudah sampai di kantin, Tony sudah mengantre dan saat melihat mereka berdua, Tony segera memanggil mereka mendekat. "Ton, sorry ya!" ucap Hendrick. "Ya... Kurangi dikitlah sifat nyebelinmu itu! Sampai mati juga aku nggak akan naksir Dee, nggak ada namanya kakak naksir adik sendiri!" gerutu Tony. "Sorry, itu karena kalian nggak ada ikatan darah, Ton. Aku khawatir." sahut Hendrick. "Astaghfirullah, Rick... Iya emang ku akui Dee itu cantik, lebih cantik dari Vina, tapi aku nggak pernah melihat dia sebagai wanita, aku lihat dia hanya sebagai adik. Kalau memang aku anggap dia wanita, udah lama aku jadian sama Dee!" omel Tony seraya mendengus kesal. "Aku juga anggap mas Tony sebagai kakak aja kok, walaupun possessive nya ngalahin 2 sepupu aku yang konyol itu, hehehehe...." kekeh Dee yang disambut jitakan keras yang datang tak diundang. "Aaaaah.... dasar gila!!!" pekik Dee. "Siapa yang kau bilang konyol?"omel Lucky seraya berkacak pinggang, di sampingnya berdiri Yetnu dengan wajah ditekuk. "Kalian lah!" seru Dee. "Sembarangan kalau ngomong!" omel Yetnu seraya menarik hidung Dee. "Yaaa.... Nunuuuuuu.... Sakit tau!" pekik Dee, matanya berkaca-kaca memahan sakit. "Whoi, Nu.... jangan kebangetan, hidung Dee tu tulang rawannya tinggi, sakit kalau kau tarik gitu!" ucap Tony seraya menahan tangan Yetnu agar tak menarik hidung Dee lagi. "Anak nggak aturan dibelain Ton!" dengus Yetnu sambil melepas hidung Dee yang sudah memerah. Air matanya pun sudah mulai menitik. Melihat Dee menangis, Yetnu panik. "Eh, Dee.... Ade, maaf maaf... Jangan nangis...!" seru Yetnu yang lantas berlari ke arah freezer ice cream, setelah mencari, dia mengambil 1 buah ice cream Magnum, dan cepat-cepat memberikannya kepada Dee. "Jangan nangis ya, maaf... Ini aku kasih Magnum dulu, besok pagi aku tambah Hershey's sama Forrero Rocher... Ok?" bujuk Yetnu sambil mengusap hidung Dee lalu mengecupnya. Perlakuannya spontan disoraki histeris oleh siswa yang ada di kantin. Walau mereka tau hubungan Dee dan Yetnu adalah sepupu, tapi mereka kadang berfantasi ada hubungan di antara kedua sepupu itu, karena mereka berdua cantik dan tampan, sangat cocok disandingkan, apalagi wajah keduanya ada kemiripan. Hendrick berang bukan kepalang. "Bisa nggak sih nggak asal cium?" omel Hendrick emosi. "Masalah? Sepupu sendiri gini!" jawab Yetnu sengit. "Maaf ya Dee, besok aku bawain tambahnya!" bujuk Yetnu lagi. "Tambah lagi!" seru Dee. "Iya, tambah apa aja, bilang... bilang!" Yetnu mengangguk cepat. "Häagen Dazs Belgian Chocolate!" jawab Dee. "Ya ampun, malak nih Dee?" pekik Lucky. Dee langsung mengeluarkan jurus berkaca-kacanya lagi. "Eeeh.... Iya, tambah Häagen Dazs.... Ok... Ok... Nanti malam aku kirim pakai kurir, Ok?" bujuk Yetnu panik. Mendengar jawaban Yetnu, seulas senyum terukir di bibir Dee, lalu dia dengan gembira memeluk pinggang Yetnu. "Aaaah.... Sayang banget sama Nunu, the best setelah Kak Dika!" serunya gembira, Tony dan Yetnu hanya geleng-geleng kepala, sedangkan Hendrick bermuka masam. "Trus aku nggak best gitu?" ptotes Lucky. Dee melirik kesal ke arah Lucky. "You are the worst of the worst!" gumam Dee jengkel. "Apa kau bilang Dee???" pekik Lucky sambil bersiap mencubit pipi Dee. "Kalian mau pesan makanan apa mau ribut?" tanya penjaga kantin dengan wajah kesal. "Siomay bu 1 porsi tanpa pare, saus kacangnya dibanyakin, sama jus alpukat!" Dee cepat menjawab. "Bayarnya tambah roti sisir satu, roti semir satu, UHT coklat satu sama teh kotak satu ya bu!" tambah Dee. "Saya lontong opor bu ya, ekstra sambel krecek, minumnya teh tawar." Tony menambahkan. "Saya gado-gado tanpa lontong ya bu, sama air mineral satu botol!" pesan Hendrick. "Kami bakso dua mangkok bu, minumnya teh tawar dan jeruk tawar!" seru Yetnu. "Mau bayar sekalian atau sendiri-sendiri?" tanya penjaga kantin. "Sekalian aja bu." jawab Tony. "Siomay komplit 12.000, jus alpukat 8.000, roti sisir 4.000, roti semir 3.000, UHT 7.000, Teh kotak 5.000, lontong opor 14.000, gado-gado 12.000, bakso dua porsi 24.000, minum tawar 9.000, air mineral 3.500, semuanya 102.500." jawab bu kantin. "Ini bu, uangnya!" Tony mengulurkan uang 150.000 dan menyerahkannya kepada bu kantin. Setelah menerima kembalian, mereka menuju ke arah counter pengambilan makanan. Dee sibuk dengan es krimnya, sementara yang lain membawa nampan berisi makanan dan minuman. Mereka duduk di sudut kantin di dekat jendela yang terbuka. Setelah mereka semua duduk, mereka mulai makan tanpa sepatah kata. Setelah menghabiskan setengah porsi siomay, Dee menjeda makannya. "Kak Kiki, Nunu... Ade mau bilang sesuatu ke kalian!" ucap Dee memecah keheningan. "Hmmm? Apa?" tanya Lucky sambil menyeruput teh tawarnya. "Anu... Ade sama Hendrick jadian!" jawab Dee. Hening... Dee berdebar tak karuan. Yetnu menatap ke arah Dee. "Freddy sudah tau?" tanya Yetnu. "Belum, habis ujian nanti baru mau kasih tau!" jawab Dee. "Kita juga sudah dapat restu dari bapak dan ibu untuk bisa menikah selesai ujian kenaikan kelas ini." sambung Hendrick. BRAAAK!!! "WHAT THE F***!!!! Are you mad?" bentak Lucky seraya mencengkeram kerah baju Hendrick. "Dee masih punya banyak cita-cita yang mau dia raih, dia nggak akan mau menikah mudah kalau kau tak melakukan sesuatu padanya! Jangan katakan kau sudah melakukan hubungan badan sama Dee!!!" desak Lucky, emosinya memuncak. "Mana mungkin, kami masih ada di batas wajar!" seru Hendrick geram. "Jangan katakan kau menikahinya karena kau tak bisa tahan nafsumu, bukan karena kau cinta dia!!" gertak Lucky, matanya merah menyala menahan amarah yang membuncah. "Non sense!" sahut Hendrick. "Kak, sudahlah, ini keputusan kami berdua." gumam Dee sambil kembali melanjutkan makan ya. "Really?" Lucky melepaskan cengkeramannya dari baju Hendrick lalu kembali duduk. "Dee... Have you ever think about Freddy's feeling? Once you tell him that you're together with Hendrick, his heart absolutely broken, but then you tell him that you will marry Hendrick next month, he will be destroyed by you two!" ungkap Yetnu dengan nada getir. "Aku tau, makanya besok aku akan bilang setelah selesai ujian." jawab Dee seraya menundukkan kepalanya. "Hah... Aku sudah bisa membayangkan gimana akhir dari hubungan persahabatan kita!" desah Yetnu sambil mengusap kasar wajahnya. "Sorry, aku terlalu egois, aku nggak mau melepas Dee, makanya aku ingin kami segera menikah." sahut Hendrick. "Terserah kalian lah, cuma ingat ini Rick.... Dee itu our precious, kau harus jaga dia baik-baik, jangan pernah kau sakiti dan selama kalian belum resmi menikah, ingat batasanmu, kalau tidak... Kami bertiga plus Kak Dika nggak akan tinggal diam!!!" ancam Lucky. "Akan kuingat dan kulakukan, Dee juga sangat berharga buatku." jawab Hendrick.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN