Chapter 9

4957 Kata
Selesai sholat, Hendrick melihat Dee yang masih di dapur menuangkan air soda ke dalam gelas berisi serutan jeli dan biji selasih. "Aku sudah bilang duduk aja, ngapain riweh di dapur?" omel Hendrick di depan pintu dapur. "Pengen yang seger-seger" jawab Dee santai. "Kan tinggal order aja, kenapa ngeyel sih" "Boros, lagian ada bahannya, ngapain dikit-dikit beli?" balas Dee sambil mebuang kaleng soda kosong lalu diambilnya gelas berisi minuman yang dia buat dan membawanya ke ruang tamu. Tepat pada saat itu, driver yang mengantar makanan sudah sampai di depan pintu. "Ini pesanannya mas" ucap sang driver sambil menyerahkan plastik berisi nasi campur ke Hendrick. "Terima kasih pak, ini ambil satu bungkus pak, buat makan siang" ucap Hendrick sambil memberikan satu bungkus nasi ke driver tersebut. Dee yang melihat itu tersenyum bahagia, Hendrick ga berubah, selalu ingat untuk bersedekah. "Ya Allah, matur nuwun mas, kebetulan bapak belum makan dari tadi pagi, Alhamdulillah dikasih rejeki" ucap bapak driver itu sambil berulangkali mengucap terima kasih ke Hendrick. "Sama-sama pak, kebetulan ada sedikit rejeki, dimakan ya pak" ucap Hendrick. Driver itu menerima makanan dari tangan Hendrick lalu, "Barrakallah, semoga selalu dilancarkan rejekinya dan semoga segera dapat momongan ya mas" doa sang driver yang membuat Dee melotot kaget. "Kami cuma teman pak, kami juga masih SMU" balas Hendrick salah tingkah. "Ya Allah, maaf mas, saya kira pengantin baru, pantesan kok masih muda banget, maaf ya mas, mba..." ucap driver itu. Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi driver itu pamit pergi. "Ada-ada aja, masa kita dibilang pengantin baru." gumam Dee. "Ya mungkin karena bapaknya lihat kita cocok kali Dee" jawab Hendrick dambil tersenyum. "Ehem... terserah deh" sahut Dee salah tingkah, diambilnya piring untuk alas makan, sementara Hendrick bergegas mencuci tangannya. Mereka berdua makan di meja makan dengan diselingi gurauan dan obrolan ringan, tiba-tiba ponsel Dee berbunyi. Ada pesan w******p masuk, dari Lucky. Lucky : "Suka ga Dee?" Lucky mengirimkan foto high waist pants warna cream, crop top coklat tua dan cardigan warna cream senada dengan celana. Dee melotot melihat crop top itu. Dee : "Aku ga mau pakai baju yang kelihatan udelnya gitu!"  Lucky : "Kalau cardigannya dipakai udelnya ga kelihatan Dee, lagian celananya di atas udel kok" Dee : "Ogah, kak Dika sama ibu juga ga bakal kasih ijin kalau aku pakai aneh-aneh" Lucky : "Udah dapat ijin tuh dari tante dan kak Dika dan sudah dibeli juga" Balas Lucky, lalu dikirimnya foto struk belanja dan juga satu set skincare dan perlengkapan make up sederhana. Dee : "Tau ah, lagian aku ga pernah pakai yang begituan" Balas Dee lalu melempar ponselnya ke meja dengan kesal. "Kenapa?" tanya Hendrick heran. "Biasa kak Kiki" jawab Dee sambil melanjutkan makan. Selesai makan, Hendrick pamit pulang. "Dee, aku pulang dulu ya, kamu di rumah sendiri ga apa-apa?" "Ngga apa-apa, sudah biasa kok. Lagian nanti sebelum maghrib kak Kiki sama Yetnu ke sini" "Awal banget? Kita janjian habis maghrib kan?" tanya Hendrick. "Ada perintah dari boss besar. mereka" jawab Dee sambil cemberut. "Boss besar?" tanya Hendrick heran. "Iya, kak Dika kan boss besar mereka tuh" jawab Dee. "Lho, bukannya Yetnu itu sepupu dadi pihak ibu?" "Ya gitu, kita kan dah dari orok dibiasakan dekat sama saudara dari pihak bapak dan ibu jadi biar ga canggung gitu." jawab Dee "Oooo.... gitu" balas Hendrick, "Ya udah, aku pamit dulu ya" sambung Hendrick "Iya, hati-hati ya, terima kasih sudah diantar balik dan ditraktir makan" sahut Dee. "Traktiranku ga seberapa dibandingkan usahamu masak Dee." balas Hendrick sambil merapikan anak rambut Dee yang menempel di keningnya. " Sudah biasa kali aku masak Hend, hehehe..." ujar Dee sambil tersenyum. "Buatku itu luar biasa" ucap Hendrick, "Besok mau jogging lagi?" tanya Hendrick. "Iya, aku gendutan ini, banyak baju mulai ga muat" gerutu Dee. "Gendut dari mana coba? Besok aku jemput lagi ya, tapi ga usah masak, aku ga mau kamu cape-cape. Kita jogging sekalian berenang di GOR ya, mau?" ajak Hendrick. "Mau!!!" mata Dee berbinar mendengar kata berenang, sudah lama dia tidak berenang. "Habis subuh aku jemput, kalau gitu aku pulang dulu, assalamu'alaikum." Hendrick menaiki motornya dan menyalakannya. "Wa'alaikumsalam, hati-hati Hend" balas Dee sambil melambaikan tangan, perlahan Hendrick menjalankan motornya meninggalkan rumah Dee. Dee melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 1:15, Dee membuka aplikasi ojek online dan menekan menu mart. Dengan lincah Dee memilih barang yang akan dibelinya, roti tawar, keju, sosis, daging asap, saus wijen, pisang dan strawberry, tak lupa dia menambahkan beberapa item untuk sang driver. Sudah jadi kebiasaan Dee dan keluarganya kalau belanja melalui aplikasi ojek online mereka selalu menambahkan pesanan yang nanti diberikan pada driver. Setelah itu Dee menekan tombol ok. Selama menunggu pesanannya datang, Dee mencari baju renangnya yang sudah lama tidak dia pakai. Lalu dimasukkannya baju renang berwarna coklat muda itu ke dalam sport bag bersama dengan handuk, pakaian dalam, shampoo, sabun dan baju ganti. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah. "Permisi, pesanan atas nama mba Diane" Dee buru-buru keluar dan membukakan pintu "Mba, ini belanjaannya" kata sang driver sambil menyerahkan pesanan Dee. "Oh, makasih mas." sahut Dee sambil menerima pesanannya. Lalu Dee mengambil barang yang diperlukan dan memberikan yang lain kepada mas driver. "Mas, ini ada sedikit buat mas nya" ucap Dee sambil menyerahkan plastik berisi gula, mie, telur dan teh kepada mas driver. "Lho mba, banyak banget ini" "Ndak mas, sedikit ini, makasih banyak sudah bantuin saya belanja, hehehee... semoga bermanfaat ya mas" "Alhamdulillah, terima kasih banyak mba, semoga mba Diane sekeluarga dilancarkan rejekinya" ucap mas driver "Aamiin.... semoga bermanfaat ya mas" "Sangat mba, terima kasih, saya pamit dulu... pareng mba, assalamu'alaikum" driver pun segera pamit dan bergi meninggalkan rumah Dee dengan sumringah. "Wa'alaikumsalam" balas Dee yang kemudian menutup pagar dan pintu rumahnya. Dilihatnya jam dinding di ruang tamu yang masih menunjukkan pukul 2:00, Dee memutuskan untuk tidur siang sebentar, bapak baru saja mengirim pesan kalau langsung ke rumah Akung sepulang kerja. Setelah mencuci tangan dan kaki, Dee bergegas masuk kamar dan tidur. Pukul 3:30 Dee terbangun karena dikejutkan oleh dering alarm dari ponselnya. Dee menggeliat meregangkan tubuhnya. masih malas bergerak dia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi. Ibu : "Nduk, ibu malam ini tidur di rumah Akung ya, kamu kalau ga berani sendirian nanti ikut Yetnu kesini aja" Dee : "Dee di rumah aja bu, ga papa, berani kok" Ibu : "Beneran? Apa minta Lucky tidur di rumah?" Dee : "Beneran bu, Dee ndak papa sendirian, sudah gede gini" Ibu : "Ya udah, kalau ada apa-apa ngabari ibu apa bapak ya" Dee : "Iya bu" Dee meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu dia beranjak dari tempat tidurnya dan merapikannya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan. "Assalamu'alaikum, Dee.... buka pintu dong" suara Lucky menggelegar dari luar. "Wa'alaikumsalam, sebentar" balas Dee, segera dia berlari dan membukakan pintu. "Kok jam segini sudah datang?" tanya Dee. Lucky dan Yetnu menyerbu masuk sambil membawa kantong belanja yang ga sedikit jumlahnya. "Kalian borong toko?" tanya Dee keheranan melihat banyaknya jumlah belanjaan kedua sepupunya itu. " Nggak lah, banyak barang bagus aja makanya sekalian beli" sahut Yetnu sambil merebahkan diri di sofa. "Kalian kaya emak-emak yang kalap barang discount aja." ucap Dee seraya mengintip satu per satu belanjaan kedua sepupunya. "Kok barang-barang dan baju cewek semua?" tanya Dee bingung. "La iya lah, wong ya beliin kamu!" sahut Lucky dari dapur, sibuk mengambil air minum dan gelas. "Ngapain beli sebanyak ini? Boros amat!!" seru Dee tak suka. "Kak Dika yang suruh, tadi sebelum berangkat keluar kota kakak ngasih ini!" sahut Lucky seraya memamerkan kartu debit pemberian Dika. "Trus kalap gitu belanjanya? Siapa mau pakai?" tanya Dee geram. "Ya kamu lah, masa iya aku sama Yetnu yang pakai?" balas Lucky santai. "Nu, kok kamu ga ngelarang kak Kiki sih?" omel Dee. "Ya biar aja lah Dee, kak Dika gini yang suruh, lagian sudah waktunya kamu rubah penampilan kamu, jangan kelewat cuek dan tomboy, tante Tuti sampai pusing lho lihat penampilanmu yang ga ada cewek-ceweknya" sahut Yetnu sambil menegak air yang diberikan Lucky sampai tandas. "Ck.... Kalian ini ga masuk akal!" omel Dee kesal. "Udah deh, nurut aja, lagian duit kak Dika gini" Lucky merebahkan badannya di atas sofa. Yetnu meraih satu shopping bag berwarna hitam, lalu diserahkannya ke Dee. "Nanti pakai ini, sudah kita dry clean tadi." lalu diambilnya sebuah paper bag mungil dan diletakkannya di pangkuan Dee, "Pakai ini juga buat wajahmu, jangan bilang kamu ga tau caranya" tambah Yetnu. "Ngeselin banget sih kalian ini!" omel Dee. "Kita kan cuma pengen lihat sepupu kita tambah cantik, ga ngecumut lagi" sahut Lucky santai. "Sembarangan, kalau aku ngecumut kenapa banyak yang naksir aku?" ucap Dee pongah. "Siapa bilang?" tanya Lucky, bangkit dari rebahannya. "Hendrick... Dia bilang sampai awal semester ini banyak yang kirimi aku surat, tapi belum sempat aku terima sudah dibasmi habis sama mereka berempat." jawab Dee sambil melirik Yetnu yang nyengir kuda. "Kok kamu ga cerita Nu?" tanya Lucky "Bisa diberesin kok, aku ga ngira kalau Hendrick bakal cerita ke kamu Dee." sahut Yetnu. "Baru hari ini dia cerita, termasuk juga cerita mas Tony yang babak belur berkelahi sama anak kelas 3," ucap Dee sambil membongkar paper bag berisi skincare. "La ngapain Tony berantem sama anak kelas 3?" tanya Lucky penasaran. "Ya karena isi suratnya itu ga pantes banget lah bahasanya.Yang xxx gitu, makanya kami emosi, tapi Tony yang kalap banget. Pas misahin tante Tuti dan tante Afi sampai nangis gara-gara lihat Tony babak belur. Pas itu Dee lagi demam, jadi kita minta ke tante buat ga cerita ke Dee." jelas Yetnu. "Kurang ajar, siapa orangnya?" tanya Lucky geram. "Sudah lulus dianya, waktu itu kita masih kelas 1. Lumayan ganteng sih orangnya, tapi sayang otak sama mulutnya kotor" jawab Yetnu, Dee menunduk, dia bersyukur dikelilingi oleh saudara dan sahabat yang benar-benar menyayangi dia. "Untung ngga ketemu aku" gerutu Lucky. "Emang kenapa gitu kalau ketemu kak Kiki?" tanya Dee. "Habis lah dia!" jawab Lucky geram. "Tanpa kamu aja dia sudah babak belur, tau sendiri kau macam mana kalau Tony mengamuk" sahut Yetnu sambil bergidik mengingat kejadian di saat Tony kalap menghajar kakak kelas yang beda dua tingkat itu. "Gigi kakak kelas sampai copot 3 biji lho" sambung Yetnu. "Serius Nu?" tanya Dee kaget. "Serius lah Dee, kamu sih belum pernah lihat Tony ngamuk, kamu taunya Tony itu kalem dan slengekan" jawab Yetnu serius. "Tony itu aslinya psycho Dee, sama kamu aja, sifat psychonya ga dia tunjukin saking sayangnya dia ke kamu, aku kadang iri sama Tony, all out protecting kamu, seolah kamu itu adik kandungnya. Kalau urusan protecting aku sama Yetnu kalah jauh di banding Tony" sambung Lucky. "Hmmm... memang mas Tony itu the best" gumam Dee. "Trus kita ga the best gitu?" gerutu Lucky. "Second best" sahut Dee sambil menunjuk Yetnu, "Third best" tambahnya sambil menunjuk Lucky. "Kok aku yang the third best?" protes Lucky. "Soalnya kak Kiki seneng banget iseng" jawab Dee sambil menjulurkan lidahnya. "Berarti kak Dika the fourth dong?" tanya Lucky. "Ya ga lah, kak Dika mah super best, intinya kak Kiki itu yang the last, hahahahahaha...." gelak Dee. "Dasar sepupu ga ada akhlak!" seru Lucky seraya melempar bantal duduk ke muka Dee, tapi Dee berhasil menghindar dan semakin terbahak. "Sudah... sudah.... ribut terus, aku mau mandi sudah jam segini, kamu juga buruan siap-siap!" seru Yetnu sambil beranjak menuju kamar tamu untuk mengambil bajunya, Yetnu memang meninggalkan beberapa baju di rumah Dee untuk jaga-jaga kalau suatu saat dia harus menginap di sini. "Kakak bawa baju ganti?" tanya Dee. "Bawa, kamu coba gih ni baju-baju, kalau ga muat nanti kita tukar" sahut Lucky. "Iya deh" Dee meraih semua shopping bag di sofa dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dee membuka dan mencoba satu per satu baju yang dibeli oleh kedua sepupunya. Dee mendengus kesal karena model baju yang mereka beli terlihat sangat girly dan Dee merasa tidak cocok memakai baju-baju itu, tapi beruntungnya, warna-warna baju itu ga ada yang norak, semua berwarna pastel atau warna tanah. Dee menatap dirinya di depan cermin, dia memakai baju yang dipilihkan kedua sepupunya yang harus dia pakai malam ini. High waist pants panjang warna cream, sleeveless crop top coklat tua dan cardigan warna senada dengan celananya. Dee merasa kikuk memakai baju seperti ini, karena biasanya Dee hanya memakai celana jeans belel dan t-shirt atau polo shirt kebesaran. Tok tok tok... suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dee. "Masuk aja" seru Dee dari dalam kamar. "Whuih... Cantiknya sepupuku" puji Yetnu sembari berjalan memutari Dee. "Ga usah lebay deh, Nu!" gerutu Dee. "Beneran Dee, cocok kamu pakai baju kaya gini. Ga salah pilih aku" sahut Yetnu sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. "Bukannya aneh, Nu.... Kelihatan perutnya gini?" tanya Dee sambil menarik crop topnya supaya menutupi perutnya. "Ya memang gitu modelnya Dee" jawab Yetnu tersenyum geli, sepupunya ini kelewat polos dan ga tau fashion. "Asal tanganmu ga diangkat tinggi-tinggi perutmu aman kok, lagian kan ada cardigannya." tambah Yetnu. "Gitu ya?" Dee berhenti menarik crop topnya dan berdiri tegak di depan cermin. Lalu dipandanginya sepasang pump shoes warna coklat s**u yang tergeletak di atas tempat tidurnya. "Harus pakai itu juga, Nu?" tanya Dee sembari menunjuk ke arah pump shoes barunya. "Iya lah, aku sengaja pilihin ini buat kamu pakai, kamu bakal kelihatan lebih semampai, bakal serasi kalau ada di samping Hendrick atau Freddy." jawab Yetnu. "Kok Freddy?" tanya Dee lagi. "Ya iya lah, kamu kan ga mungkin jodoh sama aku, Lucky atau Tony, cuma tinggal Freddy dan Hendrick to yang berpeluang jadi pasanganmu, sepupuan ga bisa lah jodoh, kalau Tony jangan tanya, dia kan sudah punya Vina" sahut Yetnu sambil mengacak rambut Dee. "Freddy juga cowok baik, dia juga sama kaya yang lain, dia juga perhatian sama kamu, sayang juga ke kamu, ga kalah sama Hendrick juga masalah penampilan." tambah Yetnu. " Aku tau kok kalau mereka berdua sama kaya kalian" sahut Dee. "Pertimbangkan Freddy juga, jangan hanya terpaku pada Hendrick" pinta Yetnu, walau dia tahu kalau Dee menyukai Hendrick tapi sebagai kawan terdekat Freddy, Yetnu merasa Freddy perlu diberi kesempatan juga. "Aku sama Freddy baik-baik saja kok Nu" sahut Dee yang dibalas dengusan oleh Yetnu. "Payah punya sepupu ga peka!" rungutnya, "Buruan mandi sana, aku mau ke masjid dulu." dengus Yetnu sembari melangkahkan kaki keluar kamar Dee. Setelah Yetnu keluar, Dee melepas baju yang dicobanya, menggantinya dengan baju yang tadi dipakainya, lalu meraih handuk dan bergegas keluar kamarnya menuju kamar mandi, karena di rumah Dee hanya ada 1 kamar mandi yang dipakai bergantian. Ketika keluar kamar, Dee melihat Freddy sudah ada di rumahnya dan sedang duduk di meja makan, mengobrol bersama Yetnu, sedangkan Lucky sedang berganti pakaian di kamar tamu. "Fred, sudah sampai?" tanya Dee. "Iya, kan jauh rumahku ke sini, kalau habis maghrib dari rumah bisa telat sampainya, jadi aku sholat maghrib di sini saja, boleh kan?" sahut Freddy. "Ya boleh lah, masa ga boleh to Fred? Aku mandi dulu ya" Dee bergegas melangkah masuk kamar mandi. "Kalau ke masjid tolong pintunya ditutup ya Nu!" teriak Dee dari dalam kamar mandi. "Iya iya... Aku sudah WA Tony dan Hendrick kalau datang dan kami belum balik aku suruh langsung masuk." sahut Yetnu ikut-ikutan teriak. "Teriak-teriak kaya orang ga jelas!" seru Lucky yang keluar dari kamar tamu. "Yang mulai tuh sepupumu!"omel Yetnu. "Sepupumu juga kali" balas Lucky. Freddy yang melihat Lucky dan Yetnu adu mulut hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kalian berdua sama-sama ga jelasnya ya?" gumam Freddy lirih. "Buruan ke masjid, sudah hampir adzan" ajak Freddy sambil bangkit dari duduknya. "Yuk!" Lucky dan Yetnu pun segera mengikuti Freddy. Sementara itu, setelah menghabiskan 10 menit untuk mandi, Dee bergegas keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di badannya. Tiba-tiba.... BRUG!!! Terdengar suara benda tertabrak sesuatu. Dee yang kaget segera menoleh ke arah suara berasal, dan.... DEG!! Kenapa Hendrick sudah ada di sini??? Dee diam terpaku karena kaget, sedangkan Hendrick bersusah payah menelan ludahnya dan nerusaha keras mengalihkan pandangannya dari tubuh Dee, namun tak berhasil. "Dee, assalamu'alaikum" suara Tony mengejutkan Dee yang buru-buru berbalik membelakangi Hendrick, sedangkan Hendrick masih diam terpaku, darahnya terasa mengalir ke ubun-ubun. Tony melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dia heran melihat Hendrick berdiri kaku memandang ke satu titik, Tony lantas mengikuti arah pandangan Hendrick, betapa kagetnya dia melihat Dee yang berdiri hanya berbalut handuk. Tony buru-buru melepas jaketnya dan menutupkannya di badan Dee, "Rick... you better keep your eyes closed and forget everything you've seen just now, or else...." ancam Tony. Hendrick tersadar dan buru-buru membalikkan badannya. Tony menuntun Dee masuk kamar, "Pakai baju, sebentar aku ambil minum" ucap Tony lembut walau matanya memancarkan kemarahan. Dee menutup pintu kamarnya, lalu dengan kaki gemetar dia melangkahkan kaki menuju tempat tidurnya dan terduduk disana. Tony cepat-cepat mengambil gelas dan diisinya dengan air dan bergegas masuk ke kamar Dee. Sementara Hendrick mati-matian mengatur nafasnya, dia berusaha melupakan apa yang dia lihat tadi, kalau tidak, Tony pasti akan menghabisinya. Tony keluar dari kamar Dee setelah Dee tenang, lalu dihampirinya Hendrick dan duduk di hadapannya. "Jangan diingat-ingat, lupakan... Anggap tadi kamu nggak lihat apa-apa!" ucap Tony dingin. "Aku ngga sengaja Ton, aku ngga tau kalau Dee mandi tadi, Yetnu bilang kalau sampai sini langsung masuk rumah, jadi aku masuk rumah, tapi pas aku masuk, tiba-tiba Dee..." BRAK Hendrick yang berusaha menjelaskan langsung terdiam. "Aku bilang barusan, LUPAKAN!!!" seru Tony, "Aku ga akan semarah ini kalau seandainya kau langsung mengalihkan pandanganmu dari Dee. Kau tahu Rick, yang membuatku marah itu tatapanmu ke arah Dee... Lustful..." gumam Tony. "Sorry, Ton..." ucap Hendrick seraya menunduk. "You better apologize to her, not me! I'll ask her to come out before Lucky and the others are coming." Tony beranjak dari duduknya dan melangkah ke kamar Dee. Mengetuk pintunya, dan tak berapa lama Dee keluar dengan sudah memakai celana pendek dan kaos. Tony mengajak Dee ke ruang tamu dan segera duduk di hadapan Hendrick. Kepala Dee menunduk karena malu, sedangkan Hendrick juga menunduk, tak mampu menatap Dee. "Apologise!" seru Tony mengagetkan Hendrick. "Dee... A-aku minta maaf, aku sudah kurang ajar tadi, tapi aku sungguh-sungguh ngga sengaja" Hendrick meminta maaf dengan suara bergetar. "Hmmm... ngga apa-apa, aku cuma kaget dan malu aja kok Hend" sahut Dee jujur. "Makasih Dee, sekali lagi maafin aku ya" ucap Hendrick sambil mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dee. "Iya ga apa-apa" balas Dee yang juga mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah Hendrick. "Ya udah, buruan ganti baju Dee, bentar lagi paling pada pulang dari masjid" ucap Tony sambil membelai kepala Dee. "Iya mas" sahut Dee seraya bangkit dan berjalan menuju kamarnya. "Remember what I've told you!" ancam Tony pada Hendrick. "Iya, Ton... aku tau" jawab Hendrick ngeri melihat mata Tony. Hendrick tahu kalau Tony itu psycho dan dia benar-benar akan merealisasikan ancamannya jika terjadi sesuatu pada Dee. Tak lama kemudian Lucky, Yetnu dan Freddy sudah pulang dari masjid. Tony dan Hendrick tampak biasa, seperti tidak terjadi sesuatu. "Dee sudah siap belum?" tanya Yetnu. "Lagi ganti baju, kau beliin apa sih, kok kasur penuh shopping bag?" sahut Tony. "Apa aja yang bagus dan bisa dibeli, perintah bos besar" jawab Lucky sambil merebahkan diri di sofa, seharian belanja bikin dia capek, herannya kenapa cewek-cewek hobby banget shopping. "Kak Dika?" tanya Tony. "Ya lah siapa lagi? Emang Lucky, yang punya duit aja kagak?" jawab Yetnu yang tak lupa diselipi ejekan pada Lucky. "Sialan lu Nu, kaya yang kamu punya duit aja!" sahut Lucky seraya menimpuk Yetnu pakai bantal sofa tapi berhasil ditangkis Yetnu, serentak mereka tertawa terbahak-bahak. "Yuk berangkat sekarang?" tiba-tiba suara Dee menghentikan tawa mereka. Selain Yetnu dan Lucky, semua menatap Dee dengan takjub. Penampilan Dee malam ini jauh berbeda dengan penampilannya selama ini. Memakai baju yang sepupunya belikan dan dipadukan pump shoes warna senada ditambah rambut panjang Dee yang ditata dengan gaya loose bride, dan polesan tipis skincare, bedak dan lip tint, membuat Dee tampak lebih cantik dan imut 10 kali lipat. "Ya ampun kesayanganku cantik bangeeet!!!" seru Freddy tiba-tiba dan langsung menghambur hendak memeluk Dee tapi Tony dan Lucky secepat kilat menahannya. "Jangan aneh-aneh Fred, ntar kamu peluk Dee yang bening gini malah bisa kucel tau" omel Tony. Lalu Tony mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Dee, "Adik kesayangan sudah besar, tambah cantik" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Dee hanya tersipu malu. Hendrick menatap Dee dengan takjub, ternyata Dee bisa secantik ini kalau dandan. Sayangnya, Dee bukan miliknya seorang, kalau miliknya seorang, ga akan dia biarkan Dee keluar dengan dandanan secantik ini. "Kenapa bengong, Rick?" tanya Tony membuyarkan lamunan Hendrick. "Terlalu cantik, jadi kehilangan kata-kata" jawab Hendrick dengan suara serak. Mulut Tony, Yetnu dan Freddy berkedut, ingin rasanya mereka tertawa, Hendrick yang terkenal dingin ga pernah gombal-gombal mendadak ngegombal dan gombalannya receh banget. "Lu ngegombalin sepupuku pakai gombalan receh gitu??" terocos Lucky sambil menatap Hendrick dengan tatapan yang sulit diartikan. Hendrick jadi salah tingkah. Tony, Yetnu dan Freddy sudah tidak bisa lagi menahan tawa, setelah mendengar sindiran Lucky, maka pecahlah tawa mereka. "Dia memang gitu bro, jangan ngarep lebih dari Hendrick deh, wkwkwkwkwkwk..." gelak Tony. Hendrick terdiam, mukanya merah menahan malu, sambil sesekali dia melirik Dee yang terlihat jengkel. "Ini mau terus ketawa apa jalan sekarang?" tanya Dee sambil berkacak pinggang. "Jalan deh jalan, yuk... tuan putri sudah ngambek" ajak Lucky seraya merangkul bahu Dee dan mereka berjalan keluar rumah. Setelah mengunci rumah mereka bergegas menaiki mobil Dika yang terparkir di halaman rumah Dee. "Dee, duduk depan aja" Freddy membukakan pintu depan dan meminta Dee masuk. "Makasih Fred" Dee masuk ke dalam mobil sambil melemparkan senyum manis ke arah Freddy yang membuat Freddy langsung tersenyum ear to ear. Hendrick yang melihat kejadian itu mendengus kesal, segera dia masuk dan duduk di kursi belakang bersama Tony. "Ngapain kamu cemberut gitu?" tanya Tony, "kalah selangkah?" tambahnya. "Huh!" dengus Hendrick, Tony hanya memutar bola matanya melihat kecemburuan Hendrick yang sering tidak masuk akal. Perlahan Lucky menjalankan Nissan X-Trail milik kakaknya setelah semua orang naik dan mengenakan seatbelt. Dee menyambungkan ponselnya ke port USB dan memutar musik dari playlist ponselnya. Lalu melantunlah lagu lawas dari S Club 7 dengan judul Never Had A Dream Comes True. "Masih bond aja sama lagu ini Dee?" tanya Yetnu, "Padahal lagu jadul awal tahun 2000". "Biarin, lagian liriknya bagus, ga kaya lagu sekarang yang banyak ga jelas liriknya" jawab Dee. "Pantesan kamu kudet ya" goda Yetnu lagi. "Biarin!" sahut Dee kesal, sambil mematikan pemutar musik dan mencabut ponselnya dari sambungan USB, lalu mengambil earphone dan memasangnya di telinganya. Dee memutar musik dan mendengarkannya melalui earphone, lalu segera memalingkan wajah , menatap ke luar jendela mobil. Serentak semua orang memandang Yetnu dengan tatapan menusuk. Lucky menatap Yetnu melalui rare view mirror. "Cari mati kau Nu?" geram Lucky. Yetnu hanya bisa menghela nafas panjang. Dia heran, Dee moody banget hari ini. Freddy mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Dee. Freddy : "Dee... senyum doooong, kalau ngambek cantiknya berkurang lho" Dee : "Memang ngga cantik kok, jadi berkurang juga ngga ngaruh" Freddy : "Eh, siapa bilang, buat ku Dee itu bidadari tercantik yang pernah aku temui" Membaca pesan Freddy, Dee terkekeh lirih. Lucky melirik ke arah Dee, lagi chat sama siapa kok senyum-srnyum gitu, batin Lucky. Dee lalu membalas Freddy. Dee : "Memangnya kamu pernah ketemu bidadari gitu?" Freddy : "Pernah lah!" Dee : "Kapan? Di mana?" Freddy : "Pertama kali ketemu itu pas aku masuk SMP 3, waktu itu aku duduk di sebelahnya, walau bidadarinya tomboy, tapi manis kalau senyum, imut kalau ngambek" Balasan Freddy sukses membuat Dee tersenyum lebar dan tersipu malu. Freddy : "Trus setelah itu aku sering ketemu dia, karena sekelas, main sama dia, sampai sekarang lho. Ini juga aku satu mobil sama bidadari itu, tapi sayangnya dia ngambek, aku takut kalau dia ngambek cantiknya jadi berkurang" Freddy : "Eh, salah... salah.... aku takut kalau dia ngambek malah banyak cowok yang suka, soalnya kalau dia ngambek wajahnya jadi imuuuuut banget, tambah manis pula" Rayu Freddy lewat chatnya. "Ahahahahahahaha....." tiba-tiba Dee terawa lepas dan mengagetkan semua yang ada di dalam mobil. Freddy tersenyum, lalu segera mengirimkan pesan lagi. Freddy : "Aaah... sekarang bidadarinya ngga ngambek lagi, sudah bisa ketawa lepas, jadi makin cantik.... Saya suka.... Saya suka...." Diselipkannya emoji bermata hati dan smooch di akhir pesannya. Dee semakin tertawa membacanya. Dengan cepat Dee membalasnya Dee : "Thanks Fred, you're always  cheer me up" Freddy : "My pleasure... You are indeed my angel." Dee : " Gombal" Freddy : "Hehehehehe...." Freddy dan Dee mengakhiri chat nya sambil tersenyum-senyum. Lucky yang melihat mood Dee membaik, menarik nafas lega, begitupun Yetnu dan Tony. Sementara itu mendung menggantung di atas kepala Hendrick, kalau misal film kartun nih ya pasti ada tuh awan hitam muter-muter di atas kepala Hendrick sambil ada kilat-kilat petir dan rintik hujan. Hendrick menatap Dee yang tersenyum cerah menatap ponselnya, lalu matanya beralih menatap Freddy yang bersenandung lirih sambil tersenyum dan menatap pantulan wajah Dee di cermin dengan pandangan lembut. Hendrick geram bukan main, cemburu setengah mati. Tony yang melihat itu merasa lelah. "Bro, please calm down... Lihat kamu kaya gitu bikin sesak nafas tau!' bisik Tony. Hendrik mendengus kesal dan segera memalingkan wajahnya. "You know what, if you keep those kind of behaviour, surely you will dying out of your jealousy." gumam Tony. Hendrick menghela nafas panjang, benar apa yang dikatakan Tony, dia harus lebih bisa mengendalikan hatinya, karena orang-orang di sekeliling Dee sangat menyayangi Dee, kalau dia sedikit-sedikit cemburu, dia bisa mati muda. Setidaknya dia harus mencontoh Freddy yang lebih santai dalam segala hal, walau dia tau kalau Freddy juga gampang cemburu tapi Freddy selalu bisa mengendalikan rasa cemburu itu dan menyimpannya dengan baik. Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di salah satu mall besar di Jogja, Lucky memarkirkan mobilnya du basement mall. Lalu mereka keluar dan berjalan ke arah lift untuk menuju lantai teratas tempat bioskop berada. Dee berjalan di samping Freddy, mereka ngobrol dan tertawa-tawa berdua, sementara Lucky, Yetnu, Tony dan Hendrick berjalan di belakang mereka. Yetnu tersenyum melihat keakraban Dee dan Freddy. Yah... mereka memang seperti itu sejak dulu. Freddy itu tipe cowok pemalu, tapi entah kenapa kalau ada di samping Dee dia bisa bertingkah konyol dan ngga tau malu. Dee dan Freddy masih terus bercanda sampai tiba-tiba Freddy merangkul bahu Dee dan Dee membalas memeluk pinggang Freddy sambil tertawa lepas. Hendrick yang melihat itu langsung geram dan hendak memisahkan mereka, tapi ditahan oleh ketiga temannya... "Eits... mau apa?" tanya Lucky datar. "Kalian ga lihat itu?" tanya Hendrick kesal. "Ck.... so what? Let them be, ok?!" sahut Yetnu. Hendrick melotot ke arah Yetnu. "Ga usah melotot gitu kita udah serem aja lihat muka cemburumu!" tambah Yetnu menanggapi pelototan Hendrick. "Kamu mau mood Dee drop lagi?" tanya Tony dingin dan berhasil membuat Hendrick terdiam dan menarik nafas kasar. Dengan cepat dia berjalan meninggalkan teman-temannya menuju counter makanan dan memesan popcorn dan minuman. Dilihatnya di counter ini dijual beraneka macam sandwich, lalu dia memutuskan membeli satu buah sandwich untuk Dee, karena dia tau kalau Dee pasti belum makan malam. Setelah membayar, Hendrick mengangkat pesanannya dengan kedua tangannya. Lalu dia berjalan ke ruang tunggu di mana teman-temannya sedang menunggu pintu theater dibuka. Hendrick membagikan cup coffee latte kepada Tony, Yetnu, Lucky dan Freddy, lalu menyerahkan greentea latte pada Dee, karena dia tau Dee suka greentea latte. Diletakkannya 3 bag popcorn di bangku, lalu dia membuka bungkusan sandwich dan memberikannya pada Dee. "Makan!" ucap Hendrick. "Hah?" seru Dee kaget. "Hendrick bilang kamu disuruh makan, belum makan malam kan?" sahut Freddy lembut. "Oh, makasih Hend" ucap Dee sambil tersenyum. "Hmmm" sahut Hendrick pendek. Keempat temannya mendengus mendengar respon pendek Hendrick, mereka tau kalau Hendrick peduli pada Dee, tapi juga cemburu melihat Dee dekat dengan Freddy, walau itu sebetulnya sudah biasa bagi mereka. Dee menggigit sandwichnya, Freddy dan Hendrick menatap Dee dengan pandangan hangat, merasa diperhatikan Dee berhenti makan dan menawarkan pada mereka berdua, "Kalian mau?" "Engga, makan aja" jawab Hendrick sambil terus menatap Dee. "Fred?" tanya Dee. "Engga, aku cuma suka lihat kamu makan, pipi sama bibirmu pas ngunyah makanan kelihatan imut banget" jawab Freddy sambil tersenyum. "Uhuk.... apaan sih Fred" Dee tertunduk malu sambil menggigit lagi sandwichnya. Hendrick melemparkan tatapan tajam ke arah Freddy, dan Freddy membalas tatapan Hendrick dengan santai sambil memberi tanda ke Hendrick, "I'm win". Hendrick mendengus kesal. Sementara itu Lucky, Tony dan Yetnu yang memperhatikan mereka bertiga hanya bisa geleng-geleng kepala. "Oi.... Hendrick itu menang serem doang ya, tapi kalau cemburu malah lucu" Lucky terkekeh geli. "Ya gitu deh Ky, dia kalau cemburu kelakuannya malah kaya anak kecil." sahut Tony. "Hah... Ga kerasa ya adik kita sudah sebesar ini, cantik pula. Sebentar lagi kita harus rela lepasin dia, sayang banget aku sepupunya." gumam Yetnu yang bikin Lucky dan Tony langsung menatapnya dengan tatapan mengerikan. "Heh, lu jangan pernah mikir aneh-aneh ya Nu!" ancam Lucky. "Mana ada, maksudku kalau bisa aku terus gitu yang jagain dia, karena dia sepupuku kan mau ga mau ada saatnya besok kita harus relain orang lain yang jaga dia, kalian kira aku psycho?" omel Yetnu. "Ya kali lu kepikiran kaya gitu-gitu" gumam Tony. "Kaya gitu apaan?" tanya Yetnu. "Incest" jawab Tony pendek yang langsung dihadiahi jitakan oleh Yetnu. "Muluuuuut!!!" seru Yetnu disambut tawa Lucky dan Tony. Tak berapa lama, theater door nomor 2 dibuka, setelah membuangkan bungkus sandwich Dee, Freddy mengulurkan tangannya ke arah Dee dengan gaya bangsawan. "Bidadariku, maukah kau masuk ke dalam sekarang?" tanya Freddy yang disambut tawa renyah Dee. "Dengan senang hati" jawab Dee sambil meletakkan tangannya di atas telapak tangan Freddy. "Dee..." panggil Hendrick lemas. "Ayo masuk Hend" ajak Dee sambil mengulurkan sebelah tangannya ke Hendrick. Freddy melirik ke arah Hendrick. Dia sudah mengira kalau Dee juga bakal mengulurkan tangannya ke Hendrick, dia hanya bisa menghela nafas pendek. Hendrick menggengam erat tangan Dee. "Yuk masuk!" Dee melepaskan tangan mereka berdua dan memeluk pinggang Freddy dan Hendrick dari belakang. Freddy dan Hendrick yang kaget karena perlakuan Dee hanya tersenyum dan balas merangkul Dee. "You both are my princes" ucap Dee sambil tersenyum riang. "You are indeed our angel, Dee" sahut Freddy dan Hendrick bersamaan. Lalu tiba-tiba mereka berdua mengecup kepala Dee dengan lembut, Dee yang kaget hanya membelalakkan matanya dan tertunduk malu. Sedangkan Lucky, Yetnu dan Tony melotot marah lalu bergegas menyusul mereka masuk ke dalam theater 2. Chapter 9 ~end~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN