Chapter 8

4983 Kata
Alarm Dee berbunyi, Dee menggeliat bangun, tangannya meraih ponsel dan mematikan alarmnya. Dee beranjak dari tempat tidurnya, keluar kamar lalu menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah mengeringkan wajahnya, Dee bergegas menuju dapur, diambilnya beras lalu dicuci bersih. Setelah ditiriskan, Dee memasukkan beras ke slow cooker bersama dengan beberapa potong jahe, bawang putih, garam, minyak goreng dan menuangkan kaldu ayam cair. Setelah itu ditekannya tombol cook. Kemudian Dee membuat adonan tepung, ragi, telur, air dan minyak untuk membuat cakwe. Setelah adonan kalis, Dee menyisihkannya, lalu dia membuat tumisan ayam dan kecap asin untuk kuah buburnya. Bu Tuti yang baru bangun dan berniat sholat tahajud melihat Dee sudah sibuk di dapur menjadi heran, "Bikin apa nduk? Tumben Sabtu gini sudah bangun jam segini?" tanyanya. "Ndak apa-apa bu, pengen makan bubur ayam, sama sekalian nanti mau jogging sama Hendrick" jawab Dee. "Kamu ada apa-apa sama Hendrick?" tanya bu Tuti penuh selidik. "Ndak ada kok bu, cuma pengen jogging aja, Dee tambah gemuk e ini" jawab Dee santai, "lagian yang biasa bangun pagi kan Hendrick, ngarepin mas Tony mah sampai kiamat ga kira bisa bangun pagi" sambung Dee "Hmmmm... ya juga ya, kalau Yetnu sama Freddy rumah e jauh, ya wes lanjut aja, ibu tak sholat sek, dah jam setengah 4" sahut bu Tuti Dee melanjutkan kegiatan masak memasaknya, tepat pukul 5:15 semua masakannya sudah matang, Dee buru-buru memasukkan bubur dan pelengkapnya ke dalam 2 buah rantang tahan panas, memasukkan cakwe ke dalam kotak makan lalu menyusun rapi semuanya ke dalam shopping bag warna biru muda, tak lupa dia juga memasukkan milk tea panas ke dalam termos air. Setelah itu Dee bergegas mandi. pukul 5:50, Hendrick sudah menjemputnya. Mereka lalu berpamitan kepada ibu dan bapak Dee. "Langsung ke lapangan?" tanya Hendrick sambil menatap Dee yang memakai stelan training warna salem lengkap dengan topi berwarna senada.... Cantik... "Iya, langsung saja...." jawab Dee balas menatap Hendrick yang hanya memakai celana pendek warna coklat tua dan kaos putih polos. "Kok lihat akunya kaya gitu Hend?" tanya Dee salah tingkah. "Ga apa-apa... Cantik" gumam Hendrick, diambilnya shopping bag dari tangan Dee, menaruhnya di motor dan mengulurkan helm ke tangan Dee. "Apaan sih!" gumam Dee tersipu malu sambil meraih helm yang Hendrick berikan. "Ini apa?" tanya Hendrick sambil menunjuk shopping bag di motornya. "Sarapan.... Yuk, keburu siang!" ajak Dee yang langsung naik ke atas motor Hendrick. "Pegangan ya!" pinta Hendrick, lalu perlahan dijalankannya motor matic besar warna hitam miliknya menuju lapangan di dekat rumah kostnya. Sesampainya di lapangan, setelah memarkir motor, mereka segera melakukan pemanasan sebelum mulai berlari pagi. "Kamu masih itu?" tanya Hendrick. "HAH? Oh... masih, tapi sudah ga terlalu banyak kok" jawab Dee sambil menunduk malu. "Lima putaran saja ya, takutnya kecapaian malah banyak lagi" bujuk Hendrick. "Idih, ga apa-apa kok Hend, aku bukannya cewek menye-menye kok" sahut Dee. "Lima putaran cukup, besok pagi kita bisa jogging lagi, ok?" bujuk Hendrick lagi. "Iya deh iya" jawab Dee setengah hati. Mereka pun segera berlari kecil mengitari lapangan yang sudah mulai banyak pengunjungnya, entah itu sekedar jalan-jalan ataupun olahraga pagi. "Ramai ya sekarang lapangan ini" gumam Dee. "Kalau weekend memang ramai Dee" sahut Hendrick sambil menatap lurus ke depan, dilihatnya ada beberapa lelaki seusia mereka sedang duduk bergerombol di pinggir lapangan, kemudian dia melirik Dee. "Damn... training set Dee kok ketat gini sih, alamat jadi makanan mata mereka nih"  umpat Hendrick dalam hati. "Dee, pindah sebelah sini!" Hendrick berlari menyamping dan berpindah di sisu sebelah kiri Dee. "Eh, kenapa?" tanya Dee heran. "Depan banyak cowok, aku ga mau mereka melototin badan kamu" gerutu Hendrick. "Ih, ngeres, apa yang dipelototin coba?" tanya Dee sambil memukul pelan bahu Hendrick. "Semua.... Sudah, nurut aja!" omel Hendrick. Dan benar saja, saat mereka melintasi sekelompok cowok itu, saat itu juga terdengar siulan menggoda dan kata-kata yang sangat ga enak di dengar. "Suit.... Suiiiit.... Cewek cantik, sini dong, temani kita berempat, gersang banget nih kalau kumpul laki doang" seru salah satu dari mereka. Hendrick berlari sambil menatap tajam ke arah mereka. "Ga usah galak-galak bro, bagi-bagi rejeki kan beramal namanya!" sambung salah satu dari mereka yang seketika membuat Hendrick meradang dan ingin menghajar mereka semua, tapi Dee buru-buru mencegahnya, diraihnya tangan Hendrick dan menariknya menjauh dari gerombolan itu. "Dee...." panggil Hendrick. "Ga usah diladeni, buang tenaga, orang kaya mereka ga akan bisa diam" sahut Dee masih tetap memegang tangan Hendrick. "Harusnya aku ga pakai baju ini tadi, tapi dari semua baju olahraga hanya ini yang muat, yang lain sudah sempit, aku kegendutan" gumam Dee sedih bercampur malu. "Cocok kok pakai baju ini, cantik.... benar-benar kelihatan perempuannya" sahut Hendrick seraya tersenyum dan meremas lembut tangan Dee yang masih menggenggam tangannya. "Apaan sih, Hend... Geli tau, tumben nih akhir-akhir ini kamu gombal terus?" ucap Dee tersipu-sipu. "Ya sekali-sekali gombalin kamu kan ga apa-apa Dee" balas Hendrick sambil nyengir kuda. "Ga boleh!" seru Dee. "Eh, kenapa?" tanya Hendrick heran. "Takut baper, hehehehe...." gurau Dee, walaupun itu nyata ungkapan hatinya. "Baper juga ga apa-apa, malah senang tuh akunya" balas Hendrick serius. "Idih, apaan sih.... ganti rute aja yuk, jangan lewat sana lagi" sahut Dee mengalihkan pembicaraan. "Muter komplek mau?" tanya Hendrick. "Boleh, 2-3 kali putaran sudah lumayan kalau muterin komplek" jawab Dee. "Satu kali aja, kamu masih haid, kalau sudah selesai haid mau 10 kali juga ga apa-apa Dee" balas Hendrick. "Ih, bawelnya 11-12 sama kak Lucky dan mas Tony deh, bikin kesal aja" omel Dee sambil mengerucutkan bibirnya. "Demi kamu juga to ya, nurut ya" bujuk Hendrick. "Iya deh iya" sahut Dee, dilepasnya tangan Hendrick dan mulai lari mendahului Hendrick. "Tunggu, Dee... lari kecil aja sih!" kejar Hendrick menyusul Dee. Mereka berdua pun berlari mengitari komplek sebanyak satu kali putaran. Setelah selesai berlari mereka melakukan pendinginan dan beristirahat di bangku di bawah pohon beringin di tepi lapangan. Hendrick beranjak menghampiri penjual air mineral dan membeli dua botol air mineral. Setelah membayar dan kembali ke bangku, dia membuka satu botol dan diserahkan pada Dee untuk diminum. Lalu dia membuka botol lain dan meminumnya. "Terima kasih" ucap Dee sambil buru-buru menegak air yang diberikan Hendrick, sehingga ada beberapa tetes air yang meleleh di tepi bibirnya. "Sama-sama" sahut Hendrick dan tak sengaja dia melihat lelehan air di tepi bibir Dee. GLEK!!! Hendrick susah payah menelan air dalam mulutnya. "Dee, minum pelan-pelan" ucap Hendrick seraya mengusap lelehan air di bibir Dee menggunakan ibu jarinya. DEG!!! Sontak Dee berhenti minum, dipandanginya Hendrick yang masih membersihkan tetesan air di tepi bibir dan dagu Dee. Jantungnya berhenti berdetak dan dia merasa kesulitan bernafas karena sentuhan ibu jari Hendrick yang dengan lembut mengusap dagu dan bibirnya. Hendrick merasa kalau sedang ditatap oleh Dee, membalas menatap Dee, ibu jarinya berhenti bergerak. Keduanya saling tatap dalam waktu yang cukup lama, tanpa sadar Hendrick menarik dagu Dee dan mendekatkannya ke arahnya, Hendrick menundukkan kepalanya, namun sesaat sebelum terjadi sesuatu, tiba-tiba mereka disadarkan oleh suara, "Mas, ini tadi kembaliannya belum saya kasih" ternyata suara mas-mas penjual air mineral yang tadi dibeli Hendrick. Spontan mereka berdua tersadar, Hendrick buru-buru melepaskan tangannya dari dagu Dee dan Dee pun segera memalingkan wajahnya, malu setengah mati. "Oh, makasih mas" Hendrick mengambil uang kembalian dari tangan mas penjual minuman dengan salah tingkah. Masnya tersenyum sambil bilang, "Jangan di tempat umum gini mas, banyak yang lihat, kasihan mbaknya, kan jadi malu" goda si mas penjual minuman. "Ehem... Iya mas, makasih" sahut Hendrick semakin salah tingkah. Dilihatnya Dee, nampak sekali kalau Dee sangat malu, wajah, telinga sampai lehernya yang putih terlihat memerah. "Sama-sama mas" balas mas penjual minuman. "Dee..." panggil Hendrick "Hm?" sahut Dee pendek. "Maaf ya?!" ucap Hendrick, jantungnya masih berdebar tak menentu. "Ngga papa, kita juga ngga ngapa-ngapain kok" sahut Dee. "Iya, tapi maaf sudah kurang ajar tadi" tambah Hendrick. "Ngga apa-apa, kan memang ga kenapa-kenapa" sahut Dee sambil tersenyum, wajahnya masih merah karena malu, "Sarapan yuk!" sambung Dee, dia beranjak menuju motor Hendrick untuk mengambil makanan yang dibawanya. Hendrick berjalan menyusul Dee. "Makan di sini?" tanya Hendrick. "Enaknya di mana?" Dee balik tanya. "Di kostku mau? Ga masuk kamar, di teras aja" ajak Hendrick. "Boleh deh, kebetulan pengen ke toilet juga ini" sahut Dee. "Ya udah, naik gih... Kita ke kost" pinta Hendrick. Dee bergegas naik ke atas motor Hendrick, dan perlahan Hendrick menjalankannya menuju rumah kostnya. Tak sampai lima menit mereka sudah tiba di halaman kost Hendrick yang berupa sebuah pavilion kecil dengan satu kamar, ruang tamu, kamar mandi dan dapur mungil, dilengkapi dengan teras kecil di depan. Ada 4 pavilion khusus lelaki di sini dan semuanya sudah terisi. Hendrick mebukakan pintu kostnya dan mempersilakan Dee masuk. Pavilion Hendrick terlihat sangat bersih dan rapi dengan nuansa abu-abu dan putih terlihat minimalis dan nyaman. "Kamar mandinya di sana Dee, mau cuci muka? Aku ambilkan handuk dulu ya" ucap Hendrick lalu masuk ke kamarnya untuk mengambilkan handuk buat Dee. "Ini handuknya" ucap Hendrick seraya memberikan handuk kecil kepada Dee. "Makasih" Dee melepas topinya dan membuat rambutnya langsung jatuh tergerai, lalu Dee mengambil handuk itu dan segera masuk ke kamar mandi. Hendrick menunggunya di teras, karena dia tahu kalau dia menunggu di dalam akan muncul fitnah karena mereka berdua adalah lawan jenis Tak sampai 10 menit Dee menggunakan kamar mandi, setelah selesai Dee memanggil Hendrick. "Hend, pinjam sendok dong buat makan, aku tadi lupa bawa sendok" "Oh, ok... nanti aku ambilkan, tunggu ya, duduk di teras dulu Dee" sahut Hendrick. "Ok!" jawab Dee singkat. Lalu dia berjalan keluar menuju teras dan menata rantang dan termos di meja teras. "Hend, bawa gelas juga ya, hehehehehe...." pinta Dee seraya melongokkan kepalanya ke dalam pavilion. "Okay Dee, sebentar ya" seru Hendrick dari dalam. Tak berapa lama Hendrick keluar sambil membawa 2 buah sendok dan 2 buah mug lucu berwarna coklat tua dan coklat s**u. Dee memandangi mug yang dibawa Hendrick, "Idih, imutnya.... beli dimana Hend?" diambilnya mug berwarna coklat s**u dan membolak-baliknya, 2 mug itu sama-sama berbentuk kepala beruang lucu. "Gemoy banget siiiih" ucap Dee gemas. "Suka?" tanya Hendrick. "Iya, hehehehe... Antar aku beli ya kapan-kapan." pinta Dee. "Kalau suka bawa saja, buat kamu" sahut Hendrick lembut. "Ngga mau, ini buat di sini, kalau aku main ke sini sama yang lain, mug ini khusus buat aku ya?" pinta Dee sambil menatap Hendrick dengan puppy's eyes nya. "Ya itu aku beli memang buat kamu Dee, kalau kamu ke sini buat kamu minum, aku ingat kamu suka banget sama beruang" jawab Hendrick sambil menekan hidung Dee dengan gemas. "Sungguh? Tapi kok ini ada 2?" tanya Dee. "Ini dijual satu set gitu, ada banyak warna sih, tapi setahuku kamu suka warna natural tanah jadi ya aku beli yang warna ini" jawab Hendrick jujur. "Aaaaw.... mamacih Hendrick" ucap Dee sambil tersenyum lebar. "Sama-sama Dee" sahut Hendrick sambil mengusap kepala Dee. "Ngomong-ngomong kamu masak apa Dee?" tanya Hendrick. "Bubur ayam, cobain enak ngga" jawab Dee sambil menuang milk tea dari termos ke dalam 2 mug beruang. "Wah.... Bikin milk tea juga?" tanya Hendrick takjub. "Iya, sebetulnya pengen bikin teh tarik, tapi aku belum bisa" jawab Dee lesu. "Kenapa sedih? Teh tarik itu memang butuh keahlian khusus, jadi kalau ga bisa jangan sedih. Lagian kamu bisa masak semua jenis masakan, sampai martabak telur pun kamu bisa bikin" hibur Hendrick. "Hmmmm.... buruan dimakan, keburu dingin." ucap Dee sambil membuka rantang tahan panas berwarna coklat tua dan memberikannya ke Hendrick. Wangi aroma bubur dan tumisan ayam segera menyeruak ke indra penciuman Hendrick. "Ya Allah, wanginyaaa...." seru Hendrick. "Ini kecap asinnya dan cakwenya, Hend" Dee memberikan botol kecil berisi kecap asin buatannya dan juga kotak makan berisi cakwe. "Bikin cakwe juga? Kamu bangun jam berapa bisa masak sebanyak ini?" tanya Hendrick terheran-heran. "Jam 3, hehehehehe..." jawab Dee sambil tertawa. "Besok kalau mau jogging, ga usah repot masak di rumah, beli aja atau aku masakin di sini, kalau cuma nasi sama telur dadar aku bisa kok" ucap Hendrick. "Ngga papa, ga tiap hari gini. Buruan dimakan ah..." seru Dee, dituangkannya sedikit kecap asin di atas buburnya dan bubur Hendrick. Kemudian Dee mengambil bubur dengan sendoknya dan menyuapkannya ke mulut Hendrick. Hendrick yang kaget karena tiba-tiba disodori bubur hanya bisa membuka mulutnya dan mengunyah bubur yang sudah masuk ke mulutnya. "Gimana? Enak?" tanya Dee. "Uuuuummmm.... Ya ampun Dee, enak banget, buburnya lembut, legit ada rasa gurih dan pedes jahe, ayamnya juicy manis gurih ditambah kecap asin yang ada aroma wijennya, enak bangeeeet" puji Hendrick, dia benar-benar merasa beruntung bisa makan masakan Dee beberapa hari ini. "Lebay ih" gumam Dee tersipu seraya menyuapkan bubur ke mulutnya. Hendrick dengan lahap menyantap buburnya, sesekali dia menggigit cakwe dan menambahkan sambal ke dalam suapannya. "Makan pelan-pelan lah Hend" ucap Dee. "Pelan ini, sumpah Dee... enak banget." puji Hendrick sambil terus mengunyah. Dee hanya tersenyum, bahagia... Lelaki yang dia sukai ternyata sangat menyukai masakannya. Walau perasaannya tak terungkapkan dan tak terbalas, Dee sudah cukup bahagia melihat Hendrick menyukai apa yang dia buat. Hendrick menatap Dee yang masih makan, sementara buburnya sudah tandas, habis tak bersisa. "Dee, siapapun yang jadi suamimu besok pasti sangat beruntung, punya istri cantik, perhatian dan pintar masak." gumam Hendrick. "Suami apaan? Kita masih SMU, aku belum kepikiran tuh buat nikah. Aku masih ingin kuliah dan kerja." omel Dee, "Nih mending makan lagi, kelihatannya kamu masih lapar deh, soalnya ngomongnya ngawur" sambung Dee seraya menyuapkan buburnya ke mulut Hendrick. "Umph.... Deeee...." gumam Hendrick kaget. "Kunyah!" seru Dee. "Hmmm.... Hmmm..." sahut Hendrick, mulutnya mau ga mau terus mengunyah. Dee terus menyuapkan bubur jatahnya ke mulut Hendrick sambil sesekali menyuapkan ke mulutnya sendiri. Sebetulnya Hendrick sudah kenyang tapi dia begitu menikmati momen di mana Dee menyuapinya makan. Hendrick pun mengimbangi dengan menyuapi Dee potongan cakwe. Tak berapa lama makanan di hadapan mereka sudah habis tak bersisa. Matahari sudah semakin tinggi, sekarang sudah pukul 08:00, mereka masih duduk di teras sambil menikmati milk tea yang sudah tidak panas lagi. "Nanti malam bonceng siapa Dee?" tanya Hendrick. "Ya kalau ga kak Lucky ya mas Tony lah, siapa lagi?" jawab Dee. "Bonceng aku gimana?" tanya Hendrick penuh harap. "Aku sih oke aja, kamu bilang deh ke dua orang itu, hehehehe" jawab Dee. "Kau tahu Dee? Your guardians are so annoying" gerutu Hendrick. "Siapa? Kak Kiki, Yetnu dan mas Tony?" tanya Dee. "Iya lah, dulu cuma Tony dan Yetnu, sekarang malah ketambahan Lucky." omel Hendrick. "Hahahaha... Kamu belum ketemu kak Dika, Hend.... Kak Dika mah lebih nyeremin timbang tiga orang itu" gelak Dee. "Yang kakaknya Lucky?" "Iya lah" "Haaaaah..... ada lagi" batin Hendrick. "Tapi nanti kelihatannya kak Kiki bawa mobil deh" ujar Dee sambil menatap ponselnya, baru saja Lucky mengirim pesan w******p kalau nanti malam pakai mobil Dika nontonnya. "Bisa nyetir dia?" tanya Hendrick. "Bisa lah" jawab Dee santai. "Punya SIM?" tanya Hendrick lagi. "Ya punya to, kalau ga punya ga akan mungkin dibolehin kak Dika pakai mobilnya, bisa dikuliti hidup-hidup tuh kak Kiki kalau bawa mobil tanpa punya SIM" jawab Dee. Hendrick bergidik ngeri, kelihatannya kak Dika ini psycho. "Hend, pinjam watafel ya, mau cuci ini semua" ucap Dee meminta ijin. "Aku saja yang cuci." sahut Hendrick. "Kamu ga ingin mandi?" tanya Dee. "Habis cuci piring kan bisa." jawab Hendrick. "Kamu kalau mau mandi boleh kok Dee, aku ambilin handuk besar" sambung Hendrick. "Ogah.... Masa mandi di sini?" sahut Dee seraya menutupi dadanya. "Hahahahaha.... ga akan aku intip lah ya, mandi aja ga papa." "Ngga, mandi di rumah aja." seru Dee. Buru-buru dia membereskan meja teras dan membawa bekas makan mereka ke dapur kecil milik Hendrick dan mulai mencucinya. "Kamu mandi sana, selesai ini aku harus pulang" ucap Dee. "Ya deh, aku mandi, nanti kuantar pulang." sahut Hendrick. "Aku naik ojek online aja, Hend" balas Dee sambil sibuk mencuci rantang dan lainnya. "No compromise!" seru Hendrick dari dalam kamar mandi. "Dasar pushover!" gerutu Dee. Setelah selesai, Dee memasukkan rantang, termos dan kotak makan ke dalam shopping bag birunya. Lalu dia kembali ke teras dan duduk di sana dan menunggu Hendrick selesai mandi. Sebetulnya Dee sudah tidak tahan ingin segera mandi, tapi dia tahu kalau tidak etis seorang perempuan mandi di rumah lelaki yang bukan siapa-siapanya terlebih mereka hanya berdua saja di sini. Sambil menunggu, Dee membuka ponselnya, dilihatnya ada dua pesan w******p dari Lucky Lucky : "Dee, siang nanti ikut jalan ya sama aku dan Yetnu?" Dee : "Enggak deh kak, aku cape, pengen tidur, nanti malam kan bakal pulang malam" Lucky : "Ya udah, tapi nanti apa yang kakak dan Yetnu beli harus dipakai ya!" Dee : "Iya, asal yang dibeli ndak aneh-aneh" Lucky : " Iya .... Iya.... Kalau sampai beli aneh-aneh namanya cari mati Dee, kakak masih ingin hidup, pacaran, nikah, dan punya anak tau Dee!" Dee terkekeh geli melihat balasan Lucky. Dika memang tidak suka kalau Dee dikerjain sama Lucky atau siapapun itu, pasti ngamuk kalau tahu Dee dikerjai orang, dan Lucky sangat sering terakena amukan Dika. Dee mengunci ponselny dan meletakkannya di meja, lalu meregangkan badannya dan bersandar rileks di kursi teras. Semilir angin membuat Dee terkantuk-kantuk dan akhirnya memejamkan mata dan tertidur. Hendrick keluar dari kamar mandi, rambutnya acak-acakan dan setengah basah. setelah menjemur handuknya di jemuran belakang, dia pun bergegas keluar menuju teras. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Dee tertidur pulas dalam posisi terduduk dan kepala menunduk ke bawah,terlihat sangat tidak nyaman. Hendrick melongok ke ruang tamu, kemudian dia berjalan menuju kamarnya dan mengambil bantal, lalu diletakkannya di atas kursi panjang di ruang tamu. Kemudian Hendrick bergegas menuju teras dan dengan perlahan diangkatnya Dee ke dalam gendongannya. "Ngggggh..." Dee mendesah pelan, tapi dia tidak terbangun. Perlahan Hendrick masuk ke dalam rumah dan meletakkan Dee di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu dan menidurkan Dee di sana, dia membiarkan pintu tetap terbuka, agar tidak mengundang kecurigaan tetangga kostnya walaupun mereka belum ada yang bangun. Dee bergerak perlahan, memiringkan badannya lalu meringkuk seperti bayi. "Ya Allah.... Imut banget kamu Dee" bisik Hendrick lirih seraya merapikan rambut yang menutupi pipi Dee. Diusapnya pelan pipi itu, terasa halus dan lembut, padahal Hendrick tahu kalau Dee tidak pernah pakai apapun yang namanya skincare, tapi kulitnya begitu bersih, halus dan lembut. Perlahan usapannya beralih ke bibir Dee dan berhenti di sana. Terbayang kejadian di lapangan tadi, kalau bukan karena mas penjual minuman tadi, mungkin mereka tadi sudah benar-benar.... HAH!! Hendrick bersyukur karena diingatkan. Hendrick beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke teras, diambilnya ponsel Dee, lalu melangkah memasuki kamar untuk mengambil selimut. Diletakkannya ponsel milik Dee di atas nakas, lalu dia perlahan menyelimuti Dee dengan sehelai selimut tipis. Sekali lagi dipandanginya wajah Dee yang terlihat damai dalam tidurnya. Perlahan Hendrick menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah Dee, dan dengan lembut Hendrick mendaratkan kecupan ringan di kening Dee lalu berbisik di telinga Dee, "I love you, Dee" bisiknya lirih, dan di alam bawah sadarnya Dee meresponse ungkapan hati Hendrick dengan gumaman ringan dan seulas senyum di bibirnya. Hendrick yang melihat reaksi Dee kaget, dia mengira Dee terbangun. Tetapi setelah melihat Dee masih lelap tertidur, Hendrick bernafas lega. "Syukurlah Dee ga terbangun, dia pasti capai banget, bangun pagi-pagi buat nyiapin itu semua. Seandainya kau bisa menjadi milikku seutuhnya, betapa beruntungnya aku" batin Hendrick, sekali lagi dibelainya rambut Dee, lalu dia pun duduk di lantai, di samping kursi tempat Dee tidur. Hendri mengambil ponselnya, membuka kamera dan diam-diam diambilnya gambar Dee yang sedang tertidur, lalu menyimpannya di folder tersembunyi di ponselnya. Setelah itu Hendrick membuka aplikasi baca berita di ponselnya dan mulai scrolling membaca berita hari ini, sambil sesekali dipandanginya wajah Dee yang tampak tenang saat tertidur. Sudah hampir 1 jam Dee tertidur, akhirnya dia bergerak perlahan. "Ngggh...." gumam Dee. Hendrick yang menyadari pergerakan Dee, membalikkan badan dan menatap Dee. Perlahan Dee membuka matanya. "Ngggg.... Hend, kok kamu di sini?" tanya Dee masih setengah sadar. "Kalau ngga di sini trus aku suruh di mana?" goda Hendrick. "Ya di kostmu lah, ngapain pagi-pagi ke rumahku?" gumam Dee masih belum sepenuhnya bangun. "Dee... Ini kan kostku" ucap Hendrick sambil merapikan beberapa helai rambut Dee yang menutupi wajah Dee. "Oh.... ini kostmu ya, kirain rumahku" gumam Dee yang kembali memejamkan matanya. Hendrick menatapnya geli lalu dia menghitung dalam hati, satu.... dua... tiga... "WHAT???" pekik Dee tiba-tiba dan terperanjat bangun. Astaghfirullah Hend, kenapa ga bangunin aku? Berapa lama aku tidur? Lho, bukannya aku tadi di teras? Lho, ini selimut siapa?" Dee memborbardir Hendrick dengan pertanyaan, wajah bantalnya terlihat panik tapi imut. Hendrick gemas melihatnya, lalu ditangkupkan kedua tangannya di pipi Dee, "Stop! Jangan diterusin paniknya, sebelum aku hilang kendali" pinta Hendrick, nafasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Dee, hal itu membuat Dee langsung terdiam. "Hend..." panggil Dee lirih. "Hmmm?" gumam Hendrik seraya menarik perlahan wajah Dee, dia pun mencondongman wajahnya mendekati wajah Dee. "Le-lepas Hend, mau ngapain?" tanya Dee panik, jantungnya berdetak tak menentu, wajahnya begitu dekat dengan wajah tampan Hendrick. Hembusan nafas Hendrick menyapu hangat wajahnya membuat wajahnya terasa panas. "Kau tahu kah Dee, kamu cantik..." bisik Hendrick, sesaat ingin rasanya dia mengecup bibir Dee yang berwarna pink, tetapi Hendrick segera tersadar, jika dia melakukan kesalahan itu, roda tidak akan bisa diputar balik, Dee pasti akan membencinya. Perlahan dilepaskannya pipi Dee yang sudah semerah tomat, lalu perlahan dia bangkit dari duduknya, "Aku ke kamar mandi dulu, kumpulin dulu nyawamu sebelum cuci muka ya" Hendrick beranjak menuju kamar mandi, "Oh iya, lap juga ilermu itu, cantik-cantik kalau tidur ternyata ileran juga" goda Hendrick yang langsung berlari masuk kamar mandi menghindari lemparan bantal dari Dee. Dee mengusap pipinya yang kering, yang memang ga ada ilernya. Lalu menyentuh kedua pipinya yang masih terasa panas akibat sentuhan Hendrick, tadi Hendrick mau ngapain ya, batin Dee. Cukup lama Hendrick di kamar mandi, setelah hampir 20 menit barulah Hendrick keluar dari kamar mandi. "Kamu mandi lagi?" tanya Dee heran melihat Hendrick keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. "Hmmmm" jawab Hendrick pendek, dia terpaksa mandi untuk meredam sesuatu yang bangkit dari tidur panjangnya, hahahaha... "Kenapa?" tanya Dee penasaran. "Ga apa-apa, urusan lelaki!" jawab Hendrick menutupi malunya, "Buruan cuci muka, aku antar pulang" sambung Hendrick. "Iya deh" sahut Dee seraya melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Setelah Dee mencuci muka, Hendrick segera mengantar Dee pulang. Sesampainya di rumah Dee ternyata kosong, Dee mengambil ponselnya, ternyata ibunya mengirim pesan kalau hari ini ibu mengajak adik-adiknya pergi ke rumah Uti dan Akungnya ( tempat Yetnu tinggal ). Dee lantas menuju pojok teras dan mencari kunci yang tersimpan di bawah batu dalam pot tanaman hias milik bapaknya. "Pada pergi Dee?" tanya Hendrick. "Iya, ibu ngajak adik-adik ke rumah Uti Akung, bapak kan kerja" jawab Dee sembari membuka pintu rumah. "Masuk Hend" ajak Dee. "Tapi di rumah kosong, ga baik kalau aku di dalam, aku di teras aja" tolak Hendrick. "La memangnya kenapa kalau kosong? Bukan kita mau ngapa-ngapain juga, lagian kita kenal sudah sejak SMP, mau ngapain coba?" ucap Dee santai, sambil menarik tangan Hendrick masuk ke ruang tamu. Dee sengaja membuka pintu lebar-lebar, jadi keadaan dalam rumah bisa terlihat dari luar. "Duduk dulu ya, aku mandi sebentar, oh iya, mau minum apa?" tanya Dee yang segera bergegas ke dapur. "Air putih aja Dee" jawab Hendrick "Ok" sahut Dee, diambilnya gelas dan mengisinya dengan air mineral dari dispenser, lalu dibawanya ke ruang tamu dan diletakkannya di meja. "Aku mandi dulu ya" pamit Dee yang dijawab gumaman oleh Hendrick. Hendrick menghembuskan nafasnya, semakin lama berduaan sama Dee bisa bahaya, sudah dua kali di hari yang sama dia nyaris lepas kendali. Di antara mereka tidak ada hubunga apapun. Hendrick juga takut mengungkapkan perasaannya pada Dee. Tiba-tiba dia teringat kejadian saat dia mengecup kening Dee waktu Dee tertidur, segaris senyum bahagia nampak tergores di bibirnya. Hendrick mengambil ponselnya lalu membuka folder tersembunyi. Terlihat di dalam folder itu banyak foto Dee yang diambilnya secara diam-diam untuk sekedar dia pandangi. Entah sejak kapan matanya hanya tertuju pada Dee, walau banyak perempuan yang berusaha mendekatinya, mata, pikiran dan hatinya hanya tertuju pada Dee. Hendrick menyadari perasaannya saat mereka memasuki bangku SMU. Tapi dia hanya bisa diam tanpa berani menyatakan perasaannya pada Dee. Karena baginya dan Dee, persahabatan jauh lebih berharga daripada pernyataan cinta. Ditambah lagi Freddy juga menyukai Dee. Tapi Tony dan Yetnu tidak melarang Hendrick dan Freddy mengungkapkan perasaan mereka kepada Dee, mereka hanya minta agar keduanya bersaing secara sehat, dan biarkan saja semua mengalir seperti aliran air. Di saat Dee menetapkan pilihan mereka harus ikhlas menerimanya. "Hend... Hend...." panggil Dee membuyarkan lamunan Hendrick. "Eh, ya... sudah selesai mandi?" tanya Hendrick gugup, dilihatnya Dee sudah selesai mandi dan berganti baju, dia memakai celana selutut dan kaos tanpa lengan, rambutnya yang masih setengah basah tergerai jatuh sampai punggungnya. "Sudah... Nih cobain" Dee menyodorkan toples berisi keripik. "Apa ini?" tanta Hendrick sambil mengambil 1 buah keripik lalu menggigitnya. "Eh... Enak, gurih Dee, apa ini? Rasanya kaya kentang" ucap Hendrick, lalu mengambil lagi keripik dari dalam toples. "Itu ubi, ibu yang ngajarin bikin. Beneran enak?" Dee menatap Hendrick penuh harap. "Iya enak bener, gurih, renyah... Enak pokoknya." puji Hendrick sambil terus mengambil dan mengunyah keripik itu. "Rencananya mau produksi itu buat dijual, tapi belum tau kapan, secara kita masih sibuk sama penjurusan" jelas Dee. "Lepas lulus aja Dee, kan kalau kuliah ga terlalu padat jadwalnya" sahut Hendrick. "Iya juga ya" gumam Dee. "Lulus nanti langsung balik ke Aceh, Hend?" tanya Dee. "Kelihatannya engga Dee" jawab Hendrick. "Kenapa?" "Aku ga mau ninggalin kamu" Hendrick menatap tajam ke arah Dee. "Ke-kenapa?" gugup Dee. "Takut kalau kangen ga bisa ketemu" gombal Hendrick. "A-apaan sih Hend? Aku serius tanya" omel Dee. "Ya aku juga serius jawab" ujar Hendrick santai. Deg.... Deg... Deg.... Debaran jantung Dee seperti terdengar memenuhi penjuru rumah. "Ahahahaha... Kalau ngomong jangan sembarangan lho Hend, bisa bikin orang salah paham" Dee tertawa sumbang menutupi kegugupannya. Hendrick tidak menjawab, dia hanya menatap Dee dengan tatapan lembut. "Hend, kamu kenapa sih?" tanya Dee gugup. "Ga kenapa-kenapa tuh, lagi lihatin kamu aja" jawab Hendrick. "Iya, tapi nakutin, kaya mau nelan aku hidup-hidup" sahut Dee sambil meringkukkan badannya di sofa. DEG! Hendrick tersadar, dia harus menjaga pandangannya. Dia tidak mau Dee takut padanya. "Mana ada, aku bukan kanibal Dee" jawab Hendrick. "Aku cuma kagum, kamu makin hari makin cantik, makin manis... ga kaya dulu waktu masih SMP, rambut pendek, tomboy banget, walau saat itu kamu manis juga sih, tapi kelewat galak, ahahahahaa" gelak Hendrick. Dee cemberut, dilemparnya bantal sofa ke arah Hendrick dan tepat kena muka. "Rasain" ucap Dee sambil menjulurkan lidahnya. "Hehehehe.... " kekeh Hendrick. "Kamu tahu ga Dee, aku, Tony, Yetnu dan juga Freddy kewalahan tau, menghalau lalat-lalat yang berusaha dekatin kamu." ucap Hendrick seraya mengambil toples keripik dan meletakkannya di pangkuannya dan mulai memakannya. "Lalat apaan?" tanya Dee bingung, karena dia merasa ndak pernah dilalerin. "Ya cowok-cowok gatel di sekolah kita. Sejak pertengahan semester 1 kelas 1 dulu kan banyak banget tuh yang berusaha dekatin kamu." jelas Hendrick sambil mulutnya sibuk mengunyah keripik. "Halu kamu Hend, mana ada cowok dekatin aku? Setauku cuma Dani aja, itu aja selalu kena timpuk mas Tony, tapi dia ga pernah kapok" sahut Dee sembari beranjak dan pindah duduk di samping Hendrick "Ya cuma tinggal Dani doang sih yang terang-terangan, yang sembunyi-sembunyi banyak tau. Sampai awal semester ini aku kan gantian berangkat pagi sama Yetnu dan Freddy cuma buat bersihin laci mejamu dari surat-surat ga jelas." jawab Hendrick. "Surat? Surat apaan?" tanya Dee kaget, karena selama ini dia tidak pernah terima surat. "Surat cinta lah" jawab Hendrick geram, dia sempat membaca beberapa surat itu, dan isinya membuat dia ingin menghajar habis-habisan si penulis surat "Aku ga pernah terima tuh" sahut Dee santai. "Ya iya lah, langsung kita bakar setelah kita ambil dari laci meja mu, bikin geram saja isinya. Masih SMU yang ditulis masalah bikin anak!" marah Hendrick. "HAH?! Bikin anak?" wajah Dee memerah, antara malu dan marah. "Makasih ya sudah bantu aku" ucap Dee. "Sama-sama, kita semua ga mau kamu didekati sama cowok-cowok ga jelas macam mereka" sahut Hendrick. "Tony bahkan pernah ngamuk di kelas 3 IPS 2 waktu itu, gara-gara ada anak kelas itu nulis surat buat kamu tapi isinya c***l" ungkap Hendrick. "Hah? Kapan?" tanya Dee kaget, setahunya Tony ga pernah berkelahi. "Waktu akhir semester 1, pas kamu sakit dan ga masuk 3 hari karena demam, ingat? Setelah kamu sembuh kan Tony ga masuk sekolah itu, mukanya babak belur, tapi si anak kelas 3 itu lebih babak belur lagi. Bu Tuti sama bu Afi misahin mereka sampai nangis lho" jelas Hendrick. Wajah Dee menegang, kenapa dia ga tahu. "Kok ibu ga cerita ya?" gumam Dee. "Kita yang minta waktu itu, kamu kan sakit, kita ga mau kamu kepikiran. Lagian urusan kaya gini kan urusan kami, kamu tenang saja." Hendrick membelai lembut rambut Dee yang sudah mulai kering. "Makasih ya Hend" gumam Dee. "Sama-sama, you are our treasure, Dee.... We supposed to be to protect you, no matter what" balas Hendrick. "You both are the best" ucap Dee, tanpa sadar Dee mencondongkan kepalanya ke arah Hendrick dan "SMOOCH" kecupan ringan mendarat di pipi Hendrick. Seketika Hendrick mematung dan Dee pun membatu, matanya melotot tidak percaya dengan apa yang sudah dia perbuat. Hendrick menatap Dee, matanya berkabut, dadanya bergemuruh, badannya bergetar, dia tidak percaya Dee mencium pipinya. "Aaaaa... Ja-jadi gini Hend, a-aku ga sengaja.... I-itu ungkapan terima kasih aja, jadi... jadi jangan salah paham ya... Ma-maaf ya Hend, anggap aja ga kejadian" panik Dee. Hendrick belum bisa bereaksi, dia hanya terpaku memandang Dee. "Hend... A-aku..."Dee semakin panik karena Hendrick diam saja, namun tiba-tiba, Hendrick menutup mulut Dee menggunakan telunjuknya. "Stop, no more explanations, aku tau kok" ucap Hendrick menenangkan Dee. "Tapi jangan gitu ke cowok lain ya" tambah Hendrick. Dee mengangguk perlahan. Tak terasa sudah puku 11:30, "Makan di sini ya Hend, bentar aku masakin" Dee beranjak dari duduknya, tapi Hendruck menahan tangannya. "Duduk, ga usah masak, kita pesan makanan saja" ucap Hendrick. "Boros ih, masak aja, sebentar doang kok" Dee berniat melangkahkan kakinya tapi Hendrick tetap menahannya. "Duduk kataku, kamu cape Dee, istirahat lah, kita pesan makanan aja ok? Mau makan apa?" bujuk Hendrick sambil mendudukkan Dee di sofa. "Apa aja lah, kamu tau kan aku ga pilih-pilih" sahut Dee menurut. "Nasi?" tanya Hendrick lagi. "Boleh." jawab Dee. Hendrick membuka aplikasi ojek online dan masuk ke menu food dan mulai memilih makanan. Akhirnya dia memilih nasi campur Bali lengkap. Karena dia tahu kalau Dee pecinta makanan pedas. Selama menunggu makanan, Hendrick minta ijin sholat Dhuhur, sedangkan Dee berkutat di dapur untuk membuat minuman dingin. Chapter 8 ~end~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN