Pukul 02:00 Hendrick terbangun, kebiasaannya sejak dulu, selalu bangun pukul 02:00 untuk sholat tahajud. Setelah membuka matanya beberapa saat, Hendrick berniat untuk bangkit dari ranjang, tetapi betapa terkejutnya dia karena dia tak bisa bergerak. Lalu dia beringsut sedikit dan melihat kalau Dee sedang tidur dan memeluknya erat.
Hendrick menghela nafas panjang, perlahan diangkatnya tangan Dee dari tubuhnya, lalu meletakkannya di samping, sekarang tinggal memindahkan kaki Dee yang menyilang di atas pahanya. Hendrick bangkit dan duduk di atas ranjang, saat tangannya akan bergerak memindah kaki Dee, tubuh Dee bergerak bergeser mendekati Hendrick, tangan Dee melayang dan mendarat cantik tepat di tonjolan di antara paha Hendrick dan membuat Hendrick mengerang tertahan.
"Aaah, apa lagi ini," erangnya.
Mau tak mau Hendrick harus membangunkan Dee.
"Honey, bangun sayang, pindah geser dikit, aku mau tahajud dulu," bisik Hendrick sambil mengguncang tubuh Dee perlahan.
"Nggg.... Jam berapa mas?" tanya Dee dengan suara serak khas orang bangun tidur, dia merapatkan tubuhnya ke sebalik pinggang Hendrick karena posisi duduk Hendrick. Tanpa sadar tangannya mengusap benjolan di antara paha Hendrick mengeras.
"Ugh... Honey, hentikan, please..." erang Hendrick.
"Oh, maaf nggak sengaja mas," sahut Dee yang segera menyingkirkan tangannya dari junior Hendrick.
"Aku mandi dulu, terus mau tahajud, mau sekalian?" tanya Hendrick yang segera bangkit berdiri dan hendak melangkah keluar kamar menuju kamar mandi.
"Iya mas, aku ikut sekalian," sahut Dee yang ikut beranjak dari ranjang. Mengambilkan handuk untuk dipakai Hendrick.
Mereka keluar kamar bersama, Hendrick segera mandi, sedangkan Dee melangkah ke dapur untuk menyiapkan bahan yang akan digunakannya untuk membuat sarapan. Karena tak ada nasi sisa semalam, Dee langsung mengambil beras, mencucinya lalu memasaknya menggunakan rice cooker dengan ditambah irisan bawang putih, bawang merah, serai, lengkuas, salam, daun jeruk, santan dan garam. Kemudian Dee mencuci dan merendam cumi asin dengan air garam, merendam mentimun dan daun selada memakai air es dan juga menyiapkan bahan sambal.
Hendrick yang baru selesai mandi segera mencari Dee di dapur.
"Sayang, jadi mau mandi?" tanya Hendrick yang sudah siap dengan sarung dan pecinya.
"Iya mas, tunggu sebentar ya, aku cepat saja kok mandinya," jawab Dee yang buru-buru melepas celemeknya dan bergegas mandi.
Hendrick tersenyum bahagia, memiliki Dee, calon istri idaman, lihat saja bangun tidur langsung sibuk menyiapkan sarapan saat menunggunya mandi, menyenangkan sekali nantinya kehidupan pernikahan mereka nanti.
"Mas, ayo.... Ngapain malah mesam mesem nggak jelas gitu?" tanya Dee saat selesai mandi dan melihat Hendrick duduk di kursi makan sambil senyam senyum nggak jelas.
"Hehe, ada deh... Yuk!" kekeh Hendrick yang segera melangkah menuju mushola kecil di rumah Dee.
Selesai sholat tahajud dan mengaji 1 juz, Dee segera melaksanakan tugas hariannya setiap pagi kalau sedang ditinggal di rumah sendirian, yaitu mencuci, bersih-bersih rumah dan membuat sarapan.
Melihat Dee mengambil sapu, Hendrick segera memintanya.
"Aku saja yang bersih-bersih, kamu masak saja, honey," ucap Hendrick.
"Nggak apa-apa, mas?" tanya Dee ragu.
"Nggak apa-apa, bagi tugas," jawab Hendrick, lalu membawa sapu dan kemoceng ke dalam kamar utama.
Dee tersenyum, kemudian dia kembali ke dapur setelah memasukkan cucian ke dalam mesin cuci.
Tak berapa lama terciumlah harum masakan yang menggelitik indra penciuman dan membuat siapapun yang menciumnya akan menelan ludah. Hendrick baru saja selesai mengepel lantai, setelah membersihkan alat pel dan menyimpannya kembali di garasi, Hendri segera mencuci tangan dan menghampiri Dee di dapur.
"Masak apa sih, sayang? Baunya bikin ngiler," tanya Hendrick sambil memeluk pinggang Dee dari belakang.
"Mas, ih.... Ngapain sih?" gerutu Dee yang paling kesal kalau acara masaknya diganggu.
"Kangen pengen meluk kamu," sahut Hendrick mulai usil membenamkan wajahnya di celah leher Dee.
"Mas, ah... jangan ganggu, hampir masuk subuh ini lho," omel Dee kesal.
"Sebentar aja, recharge energi," bujuk Hendrick yang mengeratkan pelukannya.
"Terserah lah," akhirnya Dee pasrah membiarkan Hendrick memeluknya, sementara tangannya sibuk menumis sambal cumi yang sedang dimasaknya.
"Mas mau telur dadar apa ceplok?" tanya Dee menawari Hendrick.
"Kamu masak apa sih, sayang?" tanya Hendrick sambil tetap memeluk pinggang Dee.
"Nasi uduk, sambal cumi sama lalapan, mau aku tambah telur gitu rencananya," jawab Dee sambil memasukkan garam ke dalam sambal cuminya.
"Udah, nggak usah pakai telur, sambal cumi sama lalap aja. Kalau ada sisa bawa buat bekal ya sayang?" sahut Hendrick.
"Aku masaknya dikit, kalau cuma bawa bekal buat berdua nggak enak sama yang lain, mas" balas Dee.
"Iya juga ya, bawa sambalnya aja kalau gitu, beli nasi di kantin, makan rame-rame," usul Hendrick.
"Ok, hubby..." jawab Dee lirih tapi Hendrick mendengarnya dengan jelas, membuatnya gemas.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu sebelum kita resmi menikah, kalau nggak ingin aku macam-macam," gumam Hendrick sambil membenamkan wajahnya di lekukan leher kekasihnya.
Wajah Dee memerah dan terasa panas, pasalnya Dee merasakan sesuatu yang keras menekan pantatnya.
"Pagi-pagi sudah m***m," gerutu Dee kesal.
"Normal sayang, bersyukur masih bisa berdiri kan, kalau nggak bisa berdiri gimana mau punya anak, lagian dia berdiri karena kamu, jadi nggak salah dong," goda Hendrick yang dengan sengaja menggesekkan benjolan di antara pahanya di p****t Dee.
"Mas..... Aaaah.... Kalau mau dikeluari ya yang bener sana ah," omel Dee, benar-benar kesal karena tiap mereka berdekatan selalu saja seperti ini.
"Enggak kok, masih bisa tahan, cuma pengen godain calon istriku aja, hehehehe..." kekeh Hendrick sambil menciumi leher Dee.
Dee menahan nafas agar tidak mendesah, jengkel dengan kelakuan Hendrick, dia segera mematikan kompor.
'Harus dikasih pelajaran!' batin Dee gemas.
Dengan gerakan perlahan, tangannya menyusup ke dalam celana Hendrick, membuat Hendrick yang tengah asyik menciumi leher Dee terlonjak kaget. Tapi sebelum dia sempat menarik keluar tangan Dee, tangan itu sudah duluan menangkap zakar Hendrick dan meremasnya lembut, membuat Hendrick melenguh kuat dan kakinya gemetar.
"Honey.... Stop....Aaaaah... God.... " erang Hendrick tak karuan, sementara Dee masih meremas-remas zakar Hendrick dengan lembut tak peduli dengan erangan memohon yang Hendrick ucapkan.
"Katanya masih bisa tahan, mas?" goda Dee, yang menggerakkan tangannya ke atas, dan mulai mengurut kemaluan Hendrick dengan tekanan dan gerakan yang membuat Hendrick semakin mendesah dan mengerang tak karuan, dipeluknya bahu Dee untuk menahan tubuhnya, karena kakinya melemas, Hendrick membenamkan wajahnya di lekukan leher Dee.
Gerakan tangan Dee semakin cepat, mengirimkan getaran kenikmatan yang tak bisa Hendrick tahan lagi.
Dengan mengerangkan nama Dee, Hendrick menyemburkan cairan kental keluar dari k*********a, mengotori celana dan tangan Dee.
"Honey... You are so mean!" protes Hendrick, suaranya bergetar, sementara kakinya benar-benar lemas, mau tak mau Dee menopang tubuh Hendrick dengan tubuhnya, posisi mereka masih sama, Hendrick memeluk bahu Dee dari belakang dan wajahnya masih terbenam di lekukan leher Dee.
"Makanya jangan suka gangguin aku kalau lagi masak, ngeselin tau nggak sih mas?" omel Dee, Hendrick hanya diam saja, kalau gangguin bisa enak gini, mau lah gangguin terus, batin Hendrick.
"Kalau hasil gangguinnya bisa kaya gini enaknya mending gangguin terus dong, honey," goda Hendrick.
UGH!!! Dee kesal bukan kepalang, diremasnya lagi zakar Hendrick, tapi kali ini dengan sedikit kasar, namun Hendrick malah mengerang keras dan tubuhnya langsung mengejang beberapa saat bersamaan dengan keluarnya cairan kental dari k*********a lagi.
"Gosh, Honey.... Aaaaaaagh....Aaaaaaaaaah...." erang Hendrick keras.
Dee kaget bukan kepalang, karena Hendrick baru saja ejakulasi, kenapa bisa ejakulasi lagi, belum ada lima menit gini, dan hanya gara-gara diremas zakarnya.
Khawatir, Dee berbalik dan menangkupkan satu tangannya yang bersih ke wajah Hendrick.
"Mas.... Mas.... Maaf, sakit ya?" tanya Dee cemas
Hendrick tak menjawab, wajahnya terlihat memerah, nafasnya memburu, matanya penuh gairah menatap Dee.
"Not at all, that was really good, your hand really is amazing, honey," desah Hendrick, lalu dengan rakus melahap bibir Dee, memagutnya, mengulum, lalu menjelajahi seluruh rongga mulut Dee dengan lidahnya.
Setelah beberapa saat, Hendrick melepaskan bibir Dee.
"Aku harus mandi lagi, calon istriku memang nakal," bisik Hendrick di telinga Dee, lalu setelah mendaratkan kecupan ringan di bibir Dee, Hendrick segera masuk kamar mandi, dan sekali lagi dia mandi keramas.
Dee masih terpaku di dapur, memandangi tangan kirinya yang masih dipenuhi s****a Hendrick.
'Gawat, kalau sebanyak ini bisa-bisa aku langsung hamil setelah ijab qabul' batin Dee, tiba-tiba dia bergedik ngeri. Dengan nafsu sebesar itu, bisa-bisa sehari penuh Hendrick minta terus-terusan.
Dee berlari ke wastafel di depan kamar mandi, lalu segera dibasuhnya tangannya dengan sabun.
Setelah itu Dee melangkah ke arah tempat cuci untuk mengeluarkan cucian dari mesin cuci dan menjemurnya.
Tepat saat Hendrick selesai mandi, Dee juga selesai menjemur baju.
"Honey, cepat mandi, sudah masuk subuh," seru Hendrick sambil menyerahkan Handuk warna cream pada Dee.
"Mas mau sholat duluan apa nunggu?" tanya Dee.
"Nunggu, kita jamaah," jawab Hendrick.
"Ok, tunggu sambil ngopi dan makan risoles mas, udah aku siapin di meja," seru Dee sambil bergegas masuk kamar mandi.
Hendrick tertegun, Dee memang mengagumkan.
Hendrick duduk di ruang makan, diseruputnya kopi buatan Dee.
'Wow.... Pas banget rasanya, nggak kaya kalau bikin sendiri,' puji Hendrick dalam hati.
Lalu diambilnya risoles sayur yang masih panas menggunakan tissue, lalu memakannya.
'She's indeed my amazing wife-to be, she's capable at anything, love her so much,' puji Hendrick dalam hati, dengan lahap Hendrick memakan 2 buah risolea sayur, sampai Dee selesai mandi, merekapun sholat subuh berjamaah.
Pukul 05:00 mereka berdua duduk di sofa sambil membaca buku pelajaran hari ini. Tiba-tiba Dee menguap lebar.
"Ngantuk?" tanya Hendrick sambil merengkuh kepala Dee dan merebahkannya di atas pangkuannya.
"Iya mas, aku merem sebentar ya, banguni jam 05:30, ya!" ucpa Dee.
"Hmm..." gumam Hendrick sambil mengecup kening Dee.
Hendrick membelai kepala Dee dan membiarkannya tertidur.
Hendrick tidak membangunkan Dee pukul 05:30, tapi dia membangunkan Dee pukul 05:50, sengaja membiarkan Dee tidur sedikit lebih lama, karena semalam mereka tidur larut malam.
Setelah Dee bangun, Hendrick bersiap memakai seragamnya, sedangkan Dee mandi kilat sebelum memakai seragam putih abu-abunya.
Dee keluar dari kamar dengan perasaan tak nyaman, ada yang salah dengan dadanya, bra yang dipakai seperti kekecilan, padahal dia sudah mencoba 5 bra tapi tetap sama, sesak rasanya, belum lagi kemeja seragamnya, bagian d**a sepertinya mengetat.
"Kenapa, honey?" tanya Hendrick saat melihat Dee nggak nyaman.
"Ah, ini.... Kelihatannya aku beneran gendutan deh, bra sama seragamku jadi ketat banget di bagian d**a," keluh Dee.
"Nggak gendut kok, mungkin karena beberapa hari ini sering kusentuh," sahut Hendrick santai.
Dee menatap Hendrick dengan pandangan kesal.
"Apa hubungannya?" tanya Dee sambil menyiapkan sarapan di meja makan, sekaligus memasukkan sambal cumi ke dalam kotak bekalnya.
"Ya karena rangsangan, mempengaruhi kerja hormon, udah nggak apa-apa, nanti aku antar beli dalaman," jawab Hendrick.
"m***m kamu, mas," omel Dee kesal.
"Mana ada m***m, wong cuma antar calon istri beli dalaman, aneh kamu itu sayang," goda Hendrick
"Aku beli sendiri aja, malu," sahut Dee.
"Hmmm...." gumam Hendrick seolah tak peduli, pokoknya dia niat antar ya harus antar.
"Sarapan dulu mas," Dee meletakkan piring berisi nasi, sambal cumi dan lalapan mentimun dan daun selada.
"Aku cuci tangan dulu, ya," sahut Hendrick sambil beranjak menuju wastafel dan mencuci tangannya, lalu kembali duduk di kursi makan, bersebelahan dengan Dee yang masih setia menunggunya untuk bisa makan bersama.
"Kenapa belum mulai makan?" tanya Hendrick saat mendudukkan pantatnya di kursi.
"Nunggu mas lah, sarapan sama-sama," jawab Dee, didekatkannya piring Hendrick ke hadapan Hendrick, lalu mereka berduapun mulai makan.
"MasyaaAllah sayang, kamu apa sih yang nggak bisa, enak banget ini," puji Hendrick saat mengunyah suapan pertamanya.
"Alhamdulillah kalau mas suka masakanku. InsyaaAllah semua masakan Indonesia bisa mas, kecuali gudeg, karena aku sendiri nggak suka makan gudeg, tapi aku pasti belajar, karena kamu suka makan gudeg manggar" sahut Dee.
"Nggak usah maksain bisa, kalau gudeg kan banyak yang jual, beli aja gampang," balas Hendrick.
"Hmmm..." gumam Dee mengiyakan.
"Nanti langsung pulang ke kost apa ke rumah dulu?" tanya Hendrick.
"Sembarang, mas. Aku sudah ngepack beberapa baju buat ditaruh kost, jadi kalau mau kesana nggak usah bingung bawa ganti," jawab Dee.
"Iya, nanti taruh bagasi jog aja," sahut Hendrick sambil membereskan piring bekas sarapan mereka.
"Siap-siap sana, biar aku cuci piringnya," seru Hendrick.
"Nggak apa-apa mas?" tanya Dee ragu.
"Nggak apa-apa, kamu kan belum nyisir, belum pakai sepatu juga, kalau aku kan tinggal pakai sepatu aja," jawab Hendrick.
"Iya deh, thanks hubby," sambil sekilas mengecup bibir Hendrick.
"Honey, jangan nakal ya, waktu kita cuma tinggal setengah jam, nggak usah mancing," gerutu Hendrick yang membuat Dee cekikikan saat melihat celana Hendrick mulai menggembung.
"Hihihi.... Makanya jangan ngeres terus bawaannya," ledek Dee yang lalu menghilang ke dalam kamarnya.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah siap berangkat.
Saat menunggu Hendrick memakai sepatu, Dee ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu, setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Dee buka mulut, "Mas, nanti di sekolah, kita balik panggil nama ya, selama di sekolah aja," pinta Dee takut-takut.
"Iya sayang, aku tau kok, tanpa kamu bilang pun aku paham, jangan khawatir," sahut Hendrick sambil mengusap kepala Dee.
"Nggak ngambek?" tanya Dee.
"Ngapain coba? Nggak banget deh, kita sudah seperti ini masa mau pakai acara ngambek-ngambek cuma karena nggak go public aja?"sahut Hendrick sambil terkekeh geli.
"Makasih, mas," Dee berjinjit dan memagut bibir Hendrick dengan lembut, membuat Hendrick terpaku beberapa saat, lalu ketika Dee melepas ciumannya, Hendrick segera meraih leher Dee dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Suara cecapan bibir terdengar memenuhi ruang tamu rumah Dee, setelah sama-sama kehabisan nafas, Hendrick menghentikan ciumannya.
"Hauh... Untung kita belum nikah, kalau sudah nikah, aku jamin kita nggak akan sekolah hari ini," gerutu Hendrick merasakan sesak di celananya, "Jangan suka mancing dong sayang, kamu tau kan aku paling nggak tahan kamu godain gitu," sambung Hendrick sambil terus menggerutu.
"Mas terlalu m***m, digituin langsung keras, repot sendiri kan?" sahut Dwe nggak terima disalahkan.
"Iya, iya.... Udah ah, kita berangkat sekarang aja," ajak Hendrick, k*********a berdenyut membuat ngilu dan pening kepala, repot bener punya pacar yang tiap detik selalu bikin dia tegang kaya gini.
Mereka berdua segera berangkat menaiki motor Hendrick setelah mengunci pintu dan gerbang rumah.
Sesampai di sekolah, Dee turun di gerbang sekolah, sementara Hendrick memarkirkan motornya.
Dee menunggu Hendrick di pintu kaca aula sekolah mereka, tak lama Hendrick datang dan mereka berdua segera masuk dan berjalan menuju kelas mereka.
Sampai di kelas 2.3, mereka dihadang oleh Yetnu dan Lucky.
"Dee, sini bentar," panggil Yetnu.
"Ada apa Nu?" tanya Dee sambil berjalan menghampiri Yetnu, Hendrick mengikutinya dari belakang.
"Duduk situ dulu, aku ambil sesuatu sebentar," pinta Yetnu yang langsung masuk ke dalam kelasnya.
"Adeeeee..... Kangeeen," seru Lucky sambil memeluk dan mencium gemas pipi Dee, Hendrick dibuat geram karenanya.
"Kak Kiki apaan sih, geli tau!" pekik Dee kesal, "Dilihatin orang juga, dikira Dee cewek apaan," sambung Dee sambil memberontak melepaskan diri dari pelukan Lucky, namun gagal, hasilnya sekarang dia malah duduk di pangkuan Lucky.
"Ky, bisa nggak sih nggak gitu amat sama Dee, nggak pantes tau," pinta Hendrick.
"Apa yang nggak pantes? Dee kan sepupuku, mau aku nikahin juga boleh-boleh aja, pantes-pantes aja, kalau nggak ingat nikah sesama sepupu ada pengaruh buruk sama keturunan, udah kunikahin Dee dari dulu," sahut Lucky tak kalah kesal.
Dee yang mendengar penuturan Lucky merengut.
Sementara Hendrick menatap Lucky dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Kiki bercandanya nggak lucu!' omel Dee.
"Bilangin tuh pacarmu, sama calon sepupu ipar kok cemburu, apaan coba?" ledek Lucky.
Dee mendengus kesal, dua-duanya sama-sama nggak masuk akal dan menjengkelkan.
Tak lama Yetnu keluar dari kelas dan melihat Dee ada di pangkuan Lucky, sontak Yetnu menarik Dee berdiri dari pangkuan Lucky.
"Lo apaan sih, Ky?" omel Yetnu sambil merangkul bahu Dee.
"Apanya yang apaan? Kaya nggak biasa aja lihat ade aku pangku, kamu juga kan sering gitu," sahut Lucky.
"Lain bego, aku tau tempat, ini di sekolah, mikir nggak kamu itu?" bentak Yetnu.
"Ya trus kenapa emangnya kalau di sekolah?" protes Lucky.
"Ada aturannya d***o, kamu mau sepupu kita dilecehkan sama laki-laki di sekolah ini? Nggak semua di sekolah ini tau kalau kamu itu sepupu Dee, karena kamu baru beberapa hari sekolah di sini, mereka yang nggak tau akan mikir kalau Dee cewek gampangan yang mau aja dipangku-pangku cowok," jelas Yetnu panjang lebar yang diangguki Hendrick. Dee juga mengangguk setuju.
"Cih, banyak aturan banget sih, di sekolahku dulu nggak segininya," Lucky berdecih kesal.
"Sekolah luar sama sekolah lokal mana bisa kamu samain," jawab Yetnu, "Udah, jangan bikin masalah lagi, kalau tante tau, habis kamu," ucap Yetnu menakuti Lucky, karena Lucky paling takut dengan amukan tantenya, yaitu bu Tuti.
"Haish... Iya iya, berisik banget lu ah. Balik kelas lah, kakak balik kelas dulu ya Dee," ucap Lucky yang denga sengaja mendaratkan kecupan ringan di pipi Dee, membuat Hendrick ingin sekali memukul Lucky, begitu juga dengan Yetnu, baru sedetik mingkem, eh malah cium-cium.
"Kak Kiki gemblung!" pekik Dee kesal tapi hanya dibalas juliran lidah Lucky yang menyebalkan.
"Ayo, kita juga kudu cepat masuk kelas," ajak Hendrick.
"Eh, sek... Ini, janjiku kemarin, kurang Häagen-Dazs ya, kemarin yang Belgian Chocolate nggak ada," Yetnu menyerahkan paper bag berisi satu kotak besar Ferrero Rocher dan Harshey Kisses.
"Kyaaa.... Mamacih Nunu," pekik Dee sambil melompat memeluk Yetnu dan mencium kedua pipinya, Hendrick hanya bisa menahan emosi yang sudah siap meledak.
"Dimakannya habis makan nasi, sekali makan 1-2 biji aja, gendut nanti," goda Yetnu.
"Hehehehe, iya," jawab Dee cengengesan.
"Sore nanti Freddy discharge, mau ikut jemput?" tanya Yetnu.
"Iya, aku udah janji mau jemput soalnya," jawab Dee santai, dia lupa belum memberi tahu Hendrick kalau akan jemput Freddy saat discharge dari rumah sakit. Hendrick mengerutkan keningnya, kapan Dee janji jemput Freddy?
"Ya udah, nanti sore kumpul di kos Hendrick, kamu aku jemput," ucap Yetnu.
"Nggak usah, Dee sama aku, kebetulan pulang sekolah mau antar Dee beli barang, nanti langsung ke kos aja," sahut Hendrick kesal, Dee bertanya-tanya kenapa tiba-tiba mood Hendrick berubah.
"Ya udah kalau gitu, buruan ke kelas sana, Tony kelihatannya nggak masuk sampai jam istirahat pertama," seru Yetnu.
"Kenapa?" tanya Dee dan Hendrick serentak.
"Diutus pak Danang buat ke SMU sebelah, rapat buat pertandingan apa gitu, nggak paham, coba WA aja," jawab Yetnu sambil melangkah masuk kelas dan melambaikan tangannya pada Dee dan Hendrick.
Mereka berdua langsung melangkah meninggalkan kelas Yetnu. Hendrick terlihat kesal.
"Mas, kenapa?" tanya Dee hati-hati, tapi Hendrick diam saja, hanya menggandeng tangan Dee dan menariknya perlahan.
"Mas kenapa sih?" tanya Dee lagi, tapi Hendrick masih tetap membisu.
Setibanya di kelas, Hendrick segera meletakkan tasnya di kursi, begitupun dengan Dee.
Setelah iti, Hendrick menarik Dee keluar kelas. Dee yang bingung hanya pasrah mengikuti Hendrick sampai mereka tiba di halaman belakang sekolah.
Hendrick menarik Dee menuju sebuah gazebo kayu yang berada di sisi kakan halaman sekolah mereka.
Setibanya di gazebo, Hendrick melepaskan pegangan tangannya diari tangan Dee.
"Mas, ada apa sih? Kok tiba-tiba marah? Aku salah apa?" tanya Dee bingung.
Hendrick menatap lekat mata Dee.
"Nggak tau kesalahan sendiri? Unbelievable," jawab Hendrick.
"Kok bahasamu gitu mas?" ucap Dee tak senang.
"Then, how should I tell you then?" sahut Hendrick.
"Ya kalau aku ada salah, bilang langsung aja mas, nggak usah pakai nyindir nggak jelas gitu," balas Dee, dadanya terasa sakit diperlakukan seperti itu oleh Hendrick.
"Think!!! What did you do and what did you hide behind me?!" bentak Hendrick kesal dan sukses membuat Dee sakit hati, bibirnya bergeta, air matanya mulai menggenang di bola matanya.
Dee buru-buru beranjak ingin menuruni gazebo dan pergi meninggalkan Hendrick, namun Hendrick berhasil menangkap pergelangan tangannya dan menahannya pergi.
"Mau kemana?" tanya Hendrick sambil menarik kasar pergelangan tangan Dee.
Walau kesakitan Dee tidak mengeluh, matanya yang berkaca-kaca menatap Hendrick dengan tatapan sedih dan penuh rasa sakit.
Melihat Dee yang hampir menangis, Hendrick tersadar, kalau dia sudah bentak dan kasar pada Dee.
"Honey...." Hendrick menangkupkan tangannya di pipi Dee, tapi Dee menepisnya dengan kasar.
"I'm sorry honey, I didn't mean it, aku terlalu kesal tadi, maafkan aku ya sayang," Hendrick memohon sambil mengecupi kening dan pipi Dee, tapi Dee tak bergeming, air matanya sukses meleleh membasahi pipinya.
"Honey, jangan nangis, aku salah sudah bentak kamu, maafkan aku sayang," kembali Hendrick memohon, dihapusnya air mata dari pipi Dee, kemudian dia meraih tubuh Dee dan membawa Dee ke dalam pelukannya.
Dee masih diam, walau air matanya mengalor deras, dia sama sekali tak mengeluarkan suara.
Hendrick frustasi, dia merutuki diri sendiri karena sudah membentak dan kasar pada Dee.
"Honey, please...." Hendrick mengeratkan pelukannya, tapi Dee tetap diam seribu bahasa.
Hendrick menghela nafas panjang.
"Honey, maafkan aku, aku terlalu emosi saat tau kamu janji jemput Freddy kalau mau pulang dari rumah sakit tanpa memberitahuku," ucap Hendrick lirih, "Maaf sudah bentak dan kasar sama kamu, sayang.... Maafkan aku ya," sambung Hendrick, tapi Dee tetap diam saja, membuat Hendrick semakin diliput rasa bersalah.
"Honey, please..." rengek Hendrick, dia tak suka Dee melakukan sesuatu sembunyi-sembunyi, tetapi dia lebih tak suka kalau Dee mendiamkannya, rasanya seperti sekarat.
"Sayang...." bisik Hendrick sambil mengeratkan pelukannya
Dee masih tak bergeming, Hendrick merasa seragamnya mulai basah, Dee benar-benar menangis.
Hendrick melepaskan pelukannya, lalu mendudukkan Dee di bangku kayu yang ada di dalam gazebo itu. Kemudian Hendrick berlutut di hadapan Dee.
"Honey, don't cry, I'm really sorry sweetheart," bujuk Hendrick mulai panik, pasalnya kurang 15 menit lagi bel berbunyi, kalau tak berhasil menenangkan Dee, nggak mungkin Dee bisa ikut pelajaran.
"Mas, bisa nggak kalau aku ada salah tanya baik-baik dulu, jangan langsung kasar dan bentak-bentak? Seumur hidupku bapak sama ibu nggak pernah yang namanya kasar sama aku apa lagi bentak-bentak. Aku sekarang baru berstatus pacarmu saja kamu sudah kaya gini, kalau aku jadi istrimu apa ada jaminan kamu nggak main tangan ke aku mas?" ucap Dee panjang lebar mengeluarkan isi hatinya, "Bapak sama ibu pasrahin aku ke kamu, kasih restu agar kita bisa menikah sebulan lagi bukan untuk menerima perlakuan kasar dan bentakan, mas," sambung Dee lirih, air matanya terus mengalir.
Hendrick bemar-benar merasa bersalah.
"Maafkan aku sayang, aku mohon," pinta Hendrick, hatinya terasa diremas melihat Dee menangis pilu seperti ini.
"Aku kesal karena kamu menutupi janjimu ke Freddy yang mau jemput dia dari rumah sakit, maafkan aku," sesal Hendrick sambil memeluk pinggang Dee dan membenamkan wajahnya di perut Dee.
"Aku hanya lupa memberitahumu mas, semalam sebelum pulang ke rumah aku balas WA Freddy, tapi aku lupa bilang karena kita buru-buru pulang," sahut Dee,"Dan sampai rumahpun kita langsung tidur, kalau Yetnu nggak bilang tadi aku juga lupa kalau sudah janji jemput Freddy," sambung Dee sambil mengusap air matanya.
"Dalam pikiranku sekarang cuma berisi, how should I pleased you, nothing else," ungkap Dee jujur dan membuat Hendrick tertegun
"Honey, I'm sorry darling," gumam Hendrick masih memeluk pinggang Dee.
"Ini yang ketiga kalinya kamu bentak aku mas, kalau sampai keulang lagi, kita bisa lupakan rencana kita menikah bulan depan, dan mungkon selamanya, aku nggak mau punya suami yang kasar, secinta apapun aku ke kamu, kalau kamu kasar, hanya akan menyakitiku," ucap Dee tegas dan membuat Hendrick gemetar.
"No, I won't do that again honey, aku akan lebih berusaha mengontrol emosiku, aku tak sanggup kalau harus berpisah denganmu," sahut Hendrick, suaranya bergetar, tak sanggup dia membayangkan hidup tanpa Dee.
"I love you honey, please, don't leave me, honey," pinta Hendrick sambil mengangkat kepalanya dan menatap sendu mata Dee.
"I love you too mas, kumohon, rubahlah sedikit sifatmu yang lebih mendahuluka emosi daripda pikiran," sahut Dee yang membalas tatapan Hendrick.
"InsyaaAllah, honey... Anything I will do it for you," janji Hendrick tulus.
Hendrick meraih kedua pipi Dee dan menarik wajah Dee mendekati wajahnya, lalu dengan penuh kasih sayang, Hendrick mencium lembut bibir pink milik Dee.
"I love you, honey.... I love you...." bisik Hendrick berulang kali setelah melepaskan ciumannya.
"Aku antar ke toilet, cuci muka, sebentar lagi bel masuk berbunyi," ajak Hendrick yang bangkit dan meraih tangan Dee lalu menggandengnya berjalan menuju toilet untuk membasuh muka.
Setelah itu mereka berjalan beriringan sambil saling menautkan jari menuju kelas mereka.
Chapter 21 ~end~