Chapter 22

3248 Kata
Bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, Hendrick dan Dee sudah duduk di bangku mereka masing-masing. Hendrick merasakan ponselnya bergetar, lalu dia mengambil ponselnya dari saku celana, dilihatnya ada pesan dari Yetnu. 'Bro, bilang ke Dee, Freddy discharge habis maghrib, jadi kita jemput habis maghrib dari kostmu ya,' Hendrick langsung membalasnya dengan 'Oke!' "Honey," panggil Hendrick setengah berbisik, Dee menoleh ke belakang. "Ya mas?" tanya Dee. "Nanti jemput Freddy habis maghrib," jawab Hendrick. "Hmmm... jadi masih bisa masak makan malam ya," sahut Dee. "Makan di luar aja sama yang lain, sore kita jalan-jalan aja," balas Hendrick lirih. "Iya deh, nurut," sahut Dee yang segera berbalik menghadap depan lagi, karena guru mereka sudah masuk ke dalam kelas. Pelajaran pertama sampai ketiga berjalan dengan lancar, saat istirahat pertama, Tony masuk ke dalam kelas dan menghempaskan pantatnya di atas bangkunya. "Kenapa Ton? Kaya orang puasa aja, lemes gitu?" tanya Hendrick saar melihat Tony yang lemas dan lesu. "Meeting sedari pagi di sekolah orang tapi hasinya blm fix, pada ribut ga bisa diajak diskusi, rugi bolos," gerutu Tony, diambilnya botol ai mineral dari dalam tasnya lalu menegaknya hingga tandas. "La ngebahas apa mas kok nggak ada keputusannya?" tanya Dee sambil menyodorkan risoles sayur yang tadi sempat dibawanya untuk bekal. Dia dan Hendrick sudah makan beberapa potong. Tony menatap risoles sayur dengan mata berbinar, karena tau ini buatan Dee, dengan cepat dia melahapnya. "Bahas giliran tempat sama waktunya, ngeselin, masalah simple jadi ribet gara-gara kebanyakan orang yang ngurusin," jawab Tony sambil mulutnya sibuk mengunyah risoles, "Enak Dee, tumben nggak pake ayam," puji Tony yang kembali melahap satu buah risoles lagi. "Bosan, sekali-sekali isi sayur kan enak juga," jawab Dee, diambilnya satu buah risoles dan menyuapkannya pada Hendrick. Tony mendengus kesal melihat kemesraan yang ditunjukkan Dee pada Hendrick. "Nggak usah nunjukin PDA di sini, geli tau!" gerutu Tony. Dee hanya memutar kedua bola matanya sedangkan Hendrick hanya melirik sekilas ke arah Tony. "Kalian berdua menyebalkan, aku jadi kangen Vina.... Oh Vinaaa.... I miss you my baby," erang Tony frustasi. "Lebay mas, kaya yang nggak bisa ketemu blas, wong ya dua minggu sekali mesti ketemuan kok," ledek Dee. "Pengen cepat lulus biar bisa sekampus sama Vina, lama amat setahunnya," gerutu Tony kesal. "Nikahin aja langsung biar nggak cuma sekampus tapi bisa serumah juga," usul Hendrick membuat Tony terdiam. "Heh, maaf ya, aku masih bisa jaga selangkanganku, lain sama kamu yang kesenggol betina dikit langsung ngaceng," ejek Tony yang membuat Hendrick meradang. "Sembarangan, kalau bukan Dee aku nggak bisa nga-hhhmmppp," sembur Hendrick yang terputus karena mulutnya ditutup tangan Dee. "Nggak usah vulgar ngomong aneh-aneh," omel Dee kesal, lelaki mulutnya memang rombeng semua, bisa-bisanya ngomong begituan didepan perempuan. "Honey, dia dulu yang mulai nuduh aku, mana bisa aku sama cewek lain?" gerutu Hendrick membela diri. "Mana ada yang tau, orang ketutup celana, coba aja keluarin di kolam renang sambil lihat cewek-cewek berbikini, pasti ngaceng juga," tuduh Tony semakin menjadi, membuat suasana hati Dee berubah kelam, wajahnya seketika muram dan memandang sinis ke arah Hendrick. Tanpa ba bi bu, Dee bangkit dari bangkunya dan melangkah keluar kelas dengan cepat. Hendrick yang kaget dengan perubahan mood Dee langsung berdiri dan mengejarnya setelah sebelumnya mengumpat pada Tony. "Sialan kau Ton, mana ada aku ngaceng sama cewek lain!!!" umpatnya lalu berlari menyusul Dee. Saat tiba di luar kelas, Dee sudah tidak terlihat, lalu dia bertanya pada Lusi yang kebetulan juga berada di luar kelas. "Lus, lihat Dee ngga?" tanya Hendrick. "Tadi katanya mau ke kantin gitu cari air, mukanya kesel gitu kamu apain, Rick?" jawab Lusi yang kemudian balik bertanya pada Hendrick. "Nggak kenapa-kenapa, digodain Tony, biasalah," jawab Hendrick , "Thanks, Lus," Hendrick segera melesat ke arah kantin setelah berterima kasih pada Lusi, namun di tengah perjalanannya menuju kantin, dia melihat sesosok wanita yang sedang dia cari berjalan ke arah taman belakang, Hendrick segera mengikuti dari belakang. Dan benar saja, sosok itu adalah Dee, wajahnya muram. Dee melangkah gontai menuju gazebo tempatnya bertengkar dengan Hendrick tadi pagi. Dengan lesu dia duduk di sana. Dia kesal, ternyata lelaki sama saja, asal melihat perempuan setengah telanjang pasri bernafsu, Hendrick pun sama. Dee menatap ke arah dadanya, kemudian dia meraba pinggang ramping dan pinggulnya, lalu dia mendesah kesal. Penampilannya memang nggak menarik, kalau bukan karena Yetnu merubah penampilannya kemarin, mungkin dia sampai saat ini akan selalu memakai kau kedodoran dan celana jeans belel atau celana training kebesaran yang selalu menjadi style nya, mungkin dia harus merubah penampilannya juga saat di sekolah. Dee menggelung rambut panjangnya ke atas, dia bertekad merubah total penampilannya agar tak terlalu tomboy. Tiba-tiba sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang. Dee memekik kaget, dan berusaha berontak, tapi setelah mencium aroma yang familiar Dee sedikit tenang. Namun mengingat kekesalannya tadi, Dee buru-buru melepaskan diri dari pelukan tangan itu. "Honey, jangan kemakan omongan Tony," pinta Hendrick. Dee diam saja, malas berkata apapun. "Honey, aku nggak seperti apa yang Tony bilang, kamu tau sendiri kan aku gimana ke cewek selain kamu?" bujuk Hendrick. Dee hanya melirik sekilas lalu, mendengus pelan, masih diam tak menjawab. "Honey, coba lihat ini, cuma berlutut di depanmu aja aku sudah tegang, karena cuma sama kamu aku bisanya gini," ucap Hendrick seraya menunjuk benjolan yang menggembung di antara pahanya. Dee masih tetap diam saja, tak meresponse apapun, membuat Hendrick frustasi. "Honey, aku nggak tau gimana caranya membuktikan ke kamu apa yang dikatakan Tony benar atau salah, tapi kamu tau kan sayang, aku tak pernah dekan dengan cewek lain selain kamu, dan aku selalu merasa jijik kalau ada cewek yang dekat-dekat aku selain kamu," jelas Handrick, berharap kali ini Dee meresponnya. "Jijik kalau tetap terangsang, sama juga bohong," sahut Dee datar. "Honey, kamu pikir aku sebejat itu?" Hendrick menatap Dee tak percaya. "Cowok dimana-mana kan gitu," sahut Dee sengit. "Ok, this evening we will go to the public swimming pool, see if I able to get hard with other woman," ucap Hendrick geram, membuat Dee kaget namun dia tetap diam saja. "Honey, is that ok?" Hendrick meminta persetujuan Dee. "As your wish!" sahut Dee cuek. "But first, kita harus beli baju renang baru buatmu," seru Hendrick saat mengingat bagaimana para lelaki menatap lapar ke arah Dee yang memakai baju renang warna nude dengan belahan d**a rendah miliknya. "Nggak usah, kan yang mau buktiin kamu, bukan aku," sahut Dee. "Kau kira aku akan membiarkan cowok lain melihat tubuhmu dengan balutan pakaian renang yang seolah bikin kamu terlihat telanjang? Absolutely a big NO!" tegas Hendrick menahan cemburu. "Aku bahkan bukan cewek cantik dan seksi, apa yang perlu ditakutkan?" tanya Dee. "Siapa bilang? This part, this part and also this part are perfect, any guy will get hard when they see you, not to mention when you are wearing sexy swimsuit," jelas Hendrick sambil menunjuk p******a, perut dan p****t Dee yang benar-benar proporsional sesuai dengan tinggi dan berat badannya. Bagaimana bisa nggak ada cowok yang tergiur sama tubuh dan wajah Dee? Bahkan sepupunya sendiri mengakui kalau tubuh Dee memang jenis tubuh yang menggiurkan buat para lelaki. Dee hanya diam, dan akhirnya mengangguk setuju. "Jadi.... Udah nggak ngambek kan?" tanya Hendrick sambil menatap intens mata coklat Dee. "Mau apa?" tanya Dee curiga. "Ada yang bangun, butuh ditidurin sama pawangnya," goda Hendrick, dia hanya bercanda, walau benar juniornya tengah berdiri tegak sekarang ini. Bersentuhan dengan Dee saja bisa langsung tegang, ditambah tadi dia membayangkan Dee dengan baju renang nude nya, jadi semakin tegang dan keras. "Jangan aneh-aneh, ini di sekolah, lagian nanti dhuhur kamu nggak sholat?" Dee menatap Hendrick dengan tatapan horor, bisa-bisanya bahas 'keluar mengeluarkan' di sekolah, gila aja. "Tanggung jawab dong sayang, yang bikin aku begini kan kamu," jawab Hendrick santai. "Kok bisa? Aku bahkan nggak nyentuh kamu sama sekali mas," helah Dee. "Kan aku dah bilang, ada di dekatmu aja bisa bikin keras, jadi ya ini hasinya," sahut Hendrick sambil menunjuk benjolan di celananya yang semakin membesar. Dee menatapnya dan menelan ludahnya susah payah. Wajahnya memerah, dia dilema antara membantu mengeluarkan atau tidak karena ini di sekolah. Hendrick menyeringai nakal melihat wajah Dee yang penuh dilema. Namun tiba-tiba Dee memeluknya dan memagut bibir Hendrick, memainkan lidahnya di bibir Hendrick dengan gerakan clumsy, tapi berhasil membuat Hendrick mengerang tertahan. Tak tahan mendapatkan serangan tiba-tiba, Hendrik meraih tengkuk Dee dan mulai memperdalam ciuman mereka, lidah Hendrick menyeruak masuk ke dalam mulut Dee dan mulai menjelajah di sana. Tangan Dee bergerak turun dan mengusap kemaluan Hendrick dari luar celana seragamnya, dan dengan cepat Dee berhasil membuka gesper ikat pinggang Hendrick dan menarik resleting celana Hendrick. Tapi belum sempat Dee mengeluarkan junior Hendrick, tangannya dihentikan oleh si pemilik junior. "Don't, I still can handle it, honey," ucap Hendrick dengan nafas memburu. "Tapi pasti sakit kan, Hend?" tanya Dee sambil menatap mata Hendrick yang berkabut tertutup gairah. "It's alright, don't bother. Sudah hampir bel masuk, kita masuk kelas saja ya, sayang," ajak Hendrick, ditariknya lagi resleting celananya lalu memasang kembali ikat pinggang yang terlepas. "Tapi, Hend...." Dee menatap Hendrick dengan tatapan cemas. "We can do it later at home, ok? Kalau di rumah I'm all yours, mau honey apain juga aku pasrah," sahut Hendrick sambil mengedip nakal pada Dee. "Ngawur!" seru Dee sambil tersipu malu. Hendrick meraih tangan Dee dan menggandengnya berjalan kembali ke kelas. Pelajaran keempat, kelima dan keenam berlangsung lancar, sampai bel istirahat makan siang berbunyi. Setelah guru keluar, Dee mengajak Hendrick dan Tony ke kantin, tak lupa mereka menjemput Yetnu dan Lucky dari kelas mereka. Lucky melihat lunchbox di tangan Dee, disambarnya lunchbox itu lalu dibukanya, matanya langsung berbinar. "Aih, tau aja nih kakak lagi pengen sambal cumi asin," seru Lucky yang langsung merangkul bahu Dee dan mengecup kepala Dee. "Lucky!!!" panggil seseorang yang sangat Lucky kenal suaranya. "Gawat!!!" gumam Lucky lirih, wajahnya pucat dan siap-siap kabur. Namun sialnya Tony dan Yetnu menahannya, dan Bu Tuti menghampiri mereka dengan wajah marahnya. "Kamu itu ya, tante bilang jaga kelakuanmu di sekolah, biarpun sepupuan tapi ini sekolah!!!" marah bu Tuti sambil menjewer telinga Lucky sampai memerah. "Aw aw aw.... Tante, kan Lucky udah biasa gitu sama ade, apa salahnya?" protes Lucky. "Tapi ini sekolah Ky, kalau ngeyel besok tante bilang sama mama papa buat mindahin kamu dari sini!!!" omel Bu Tuti yang semakin menarik telinga Lucky. "Wadaw, tanteee.... Putus telinga Lucky," pekik Lucky yang merasakan telinganya hampir putus. Dee, Yetnu, Tony dan Hendrick tertawa terbahak melihat penderitaan Lucky. "Rasain, dibilangi ngeyel!" ejek Yetnu. Lucky melotot kesal ke arah Yetnu. Bu Tuti melepaskan telinga Lucky, lalu menatap Dee. "Kamu jangan mau digituin sama Lucky kalau di sekolah, ndak banyak yang tau dia sepupumu. Lagian kamu sudah jalan sama Hendrick, jaga sedikit perasaan Hendrick," ucap Bu Tuti pada Dee. " Kok jadi Diane yang salah bu? Diane udah bilang kak Kiki tapi dia mggak mau dengar," protes Dee, tak terima disalahkan. "Hendrick nggak apa-apa kok bu," sambung Hendrick menenangkan bu Tuti. "Ya wes, nanti ibu sama bapak ke rumah uti, kamu mau nyusul apa ndak?" tanya Bu Tuti. "Nginep lagi bu?" Dee balik tanya. "Iya to, adikmu ndak mau pulang, paling sampai minggu ibu sama bapak disana, kalau mau nyusul bareng Yetnu, kalau ndak ya ndak papa, jaga rumah baik-baik," jawab Bu Tuti. "Gampang bu, nanti juga mau jemput Freddy dari rumah sakit kok, kalau Diane mau ke rumah uti Diane kabarin," sahut Dee. "Yo wes, makan dulu sana, awas kamu ya Lucky!" seru Bu Tuti memberi peringatan terakhir pada Lucky. "Iya iya tante," sahut Lucky nggak ikhlas. Setelah Bu Tuti berlalu, mereka berlima kembali berjalan menuju kantin. Sesampainya di kantin, Yetnu dan Hendrick memesan lima porsi nasi tahu tempe dan lima botol air mineral, lalu mereka membawanya ke meja favorit mereka, di mana Dee, Tony dan Lucky menunggu. Mereka mulai makan diselingi dengan obrolan dan candaan. Lalu mereka juga membahas acara penjemputan Freddy dan memutuskan akan makan malam di rumah Freddy dengan memesan take away di rumah makan favorit mereka. Selesai makan dan sholat dhuhur, mereka kembali ke kelas masing-masing, sementara Tony harus pergi ke ruang club basket karena dipanggil pembimbing. Hendrick dan Dee juga tidak segera ke kelas, mereka ke taman belakan lagi dan duduk di gazebo yang sama seperti pagi tadi. "Mas, nanti jadi berenang?" tanya Dee galau. "Terserah kamu, honey, kan yang butuh pembuktian kamu, bukan aku?" sahut Hendrick sambil membelai rambut Dee. "Nggak usah deh, aku nggak rela badanmu dilihatin cewek-cewek," balas Dee bete. "Ya sama, honey, aku juga nggak ikhlas kalau tubuhmu jadi santapan mata cowok-cowok," Gerutu Hendrick kesal. "Padahal aku ada rencana rubah penampilan, kayanya kamu nggak bakal ijinin ya mas?" gumam Dee. "Rubah penampilan gimana?" tanya Hendrick agak was-was. "Ya biar lebih kelihatan cewek, pakai seragam yang pas badan kaya teman-teman," jawab Dee. "Nggak boleh.... Nggak boleh .... Nggak boleh...." seru Hendrick panik. Penampilan gini aja Dee banyak yang suka, banyak yang ngiler, gimana nanti kalau penampilan sekolahnya berubah, pakai baju seragam pas badan, pasti p******a, pinggul dan pantatnya jadi terlihat jelas, bisa-bisa Dee jadi objek fantasi cowok-cowok satu sekolah. Yang penampilan gini aja dia sering mendengar cowok-cowok sekolahnya ngobrolin tentang Dee yang dijadikan fantasi s*x mereka, entah kakak kelas, sesama tingkat, bahkan adik kelas juga banyak yang berfantasi tentang Dee. Hendrick nggak rela Dee dijadikan objek fantasi cowok lain, bikin mati cemburu, kalau nggak ingat sekolah itu penting, lebih baik dia mengurung Dee di kamar ketimbang dijadikan santapan mata lapar cowok-cowok nggak jelas. "Aku juga kan pengen kelihatan cantik kalau pas jalan di sampingmu, mas," pinta Dee. "Honey, kamu itu udah cantik banget, tanpa perlu aneh-aneh," sahut Hendrick. "Nggak mungkin, buktinya di sekolah ini cewek yang seragamnya kedodoran cuma aku, besok aku mau coba seragam asliku, biar pantes jalan di sampingmu. Masa yang laki ganteng, necis, tegap, ceweknya nggak bentuk kaya gini," bujuk Dee sambil menunjuk penampilannya. Sebetulnya penampilan Dee nggak ada yang salah, mungkin dia hanya ingin mengikut gaya teman-temannya agar terlihat lebih girly. "Honey...." rengek Hendrick. "Sehari aja mas, kalau aku nggak nyaman, ya balik gini lagi," bujuk De keukeuh. Akhirnya Hendrick mengalah. "Ya udah deh, aku nggak mau kamu ngambek lagi, honey," ucap Hendrick, direngkuhnya tengkuk Dee lalu dilumatnya bibir Dee dengan gemas. Cecapan dan desahan terdengar seiring dengan suara gemerisik daun pohon akasia yang tertiup angin. Suara bel tanda dua pelajaran terakhir berbunyi dan menghentikan kegiatan ciuman mereka. Sambil mengatur nafas, Hendrick membantu merapikan rambut Dee yang sedikit berantakan, lalu mereka tergesa melangkah kembali ke kelas. Sampai di kelas, Tony menatap curiga ke arah mereka. "Kemana aja?" tanya Tony penuh selidik. "Ngadem di taman belakang," jawab Hendrick. "Ngapain aja?" tanya Tony lagi. "Ngobrol," jawab Hendrick pendek, sedangkan Dee sedikit tersipu karena ditatap Tony dengan tatapan curiga. "Ngobrol sampai bibir Dee bengkak?" sindir Toni tak kira-kira dan sukses membuat wajah Dee memanas dan merah menahan malu. "Kalian nggak dengar tadi bulik bilang apa? Ini di sekolah, tahan diri dikit," omel Tony. "Iya aku tau, aku yang salah. Nggak usah marahin Dee," sahut Hendrick. "Aku jaga Dee mati-matian dari cowok-cowok m***m, eh malah diembat temanku sendiri yang ternyata lebih m***m!" gertak Tony membuat Hendrick merasa bersalah pada Dee. "Seharusnya kau bisa ikut menjaganya, menahan diri agar tak merusaknya, tapi apa yang kau lalukan?" sambung Tony, dia benar-benar marah dan ingin menghajar Hendrick habis-habisan. "Ya aku tau aku salah, tapi aku juga masih tau batas Ton," sahut Hendrick kesal karena dipojokkan, "Aku juga bisa tahan diri untuk tidak berhubungan s*x sebelum menikah, jadi kamu tenang saja, aku juga bukan tipe lelaki yang suka birahi lihat perempuan manapun seperti yang kau tuduhkan tadi," sambing Hendrick dengan suara yang lumayan keras sehingga menarik perhatian teman-teman sekelasnya. "Rick, kamu beneran pacaran sama Diane?" tanya Nugi kepo. "Sumpah Rick, beneran kamu jadian sama Diane? Demi apa Rick, cewek idaman sejuta cowok jadi pacarmu, gilaaa, pekik Widi tak percaya, matanya menatap sengit ke arah Hendrick. Wajah Dee memerah karena malu, niat hati menutupi hubungan mereka tapi malah terbongkar gara-gara Hendrick kelewat emosi menanggapi kata-kata Tony. Hendrick menata Dee, meminta persetujuan apakah bisa diungkapkan atau tidak, Dee menggeleng pasrah, yang artinya terserah Hendrick, tapi dia pun belum mengatakan apa-apa ke Freddy, dia tak mau Freddy mendengarnya dari orang lain. "Nggak ada, baru planning nembak, apa-apaan sih kalian?" sanggaj Hendrick, tapi teman-temannya menatap tak percaya. "Beneran Ton?" tanya Nugi pada Tony. "Yo i, aku cuma ingatin dia, kalau misal jadian sama ade nggak boleh melewati batas, karena aku tau dia kalau sama Dee gampang tegang, jadi takutnya Dee jebol sebelum nikah," jawab Tony setengah ngibul setengah bener membuat Hendrick menahan geram sedangkan Dee wajahnya sudah tak tau lagi harus taruh di mana. "Sialan kau Ton!!" umpat Hendrick. "Diane, kamu kalau ditembak Hendrick mau terima?" tanya Widi. "Nggak tau, jangan tanya," jawab Dee kesal, dia beranjak menuju bangkunya dan duduk cemberut di sana. Hendrick menatap sengit ke arah Tony yang acuh tak acuh memainkan pulpen di tangannya. Tak berapa lama, guru Sejarah masuk ke dalam kelas, dan dimulailah dua jam pelajaran sejarah di kelas Dee dengan masih menyisakan rasa penasaran di pikiran teman-temannya. Pukul 14:00, jam pelajaran sekolah usai, siswa berhamburan keluar kelas untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tony, Lucky, Dee, Hendrick dan Yetnu juga segera pulang setelah terlebih dahulu membahas rencana penjemputan Freddy. "Kost Hendrick habis maghrib, bawa mobil kak Dika, nanti motor taruh kost Hendrick aja," tegas Tony. "Dari rumah Freddy, nanti kami bertiga pesan taxi online soalnya kalau kamu antar kamu kejauhan balik, jadi kamu langsung balik sama Yetnu, ok?" usul Tony. "Ok," sahut keempat sahabatnya. Akhirnya merekapun pulang ke rumah masing-masing, kecuali Dee yang pulang ke kost Hendrick, namun sebelumnya mereka mampir ke sebuah bakery dan membeli beberapa potong raisins buns dan sausage buns untuk tea time mereka mengingat nanti makan malam mereka akan sedikit terlambat. Sesampainya di kost Hendrick, Dee segera membongkar tas yang berisi baju-bajunya dan menatanya di lemari Hendrick, lalu mengambil celana dan baju yang kemarin dicucinya dari jemuran lalu melipatnya, sementara Hendrick. Setelah Hendrick selesai mandi, Dee juga langsung mandi karena hampir masuk waktu ashar. Tepat setelah dia selesai mandi, adzan Ashar pun berkumandang. Mereka sholat berjamaah di dalam kamar Hendrick yang terlihat lebih luas karena Hendrick sengaja mengeluarkan meja nakas dan kursi kecil yang sebelumnya berada di kamar dan sekaran berpindah lerak di ruang tamu. Setelah sholat Ashar, Dee menyiapkan dua cup milk tea dan menata raisins buns dan sausage buns di atas piring dan membawanya ke ruang tamu. Terlihat Hendrick sudah duduk di sofa dengan laptop di atas meja lipat di hadapannya. Hendrick tampak sibuk mengerjakan sesuatu dan Dee tak mau mengganggunya. Dee hanya menyuapi Hendrick dengan raisins bun kesukaannya sedikit demi sedikit sambil duduk tenang di sampingnya. Tiga puluh menit kemudian Hendrick menutup laptopnya dan menyingkirkannya ke tepi. Lalu dengan mesra meraih bahu Dee dan memeluknya. "Maaf ya sayang, aku cuekin tadi, soalnya ada pesanan design yang harus segera dikirim, hasilnya lumayan, bisa buat kita jalan-jalan," ucap Hendrick meminta maaf sambil mengecup kening Dee. "Nggak apa-apa, maaf belum bisa bantu cari uang, mas," sahut Dee agak sedih. "Nggak masalah, mas masih bisa penuhi kebutuhan sederhana kita," balas Hendrick. "Mas, besok aku mau bilang ke Freddy tentang kita, tapi aku takut nanti Freddy hasil ujian akhir semesternya hancur karena kita," ungkap Dee. "Kenapa nggak nunggu selesai ujian aja?" tanya Hendrick. "Aku merasa Freddy sudah ada firasat, soalnya dari kemarin dia WA isinya seperti ketakutan gitu," jawab Dee yang merasa bersalah pada Freddy. "Gimana baiknya menurutmu aja, honey," sahut Hendrick. Dibelainya rambut Dee dengan penuh kasih sayang. "Ngantuk? Mau tidur sebentar?" tanya Hendrick. "Hmmm.... Mas juga tidur?" sahut Dee. "Iya, agak penat rasanya, tidur di kamar aja yuk," Hendrick mengangkat tubuh Dee dan menggendongnya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang, setelah menyalakan AC, Hendrickpun merebahkan tubuhnya di samping Dee dan memeluknya. Dee tertidur setelah mendapatkan kecupan ringan di keningnya, begitupun Hendrick yang juga terlelap setelah Dee tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN