Tony dan Hendrick kembali duduk di bangku mereka masing-masing. Tony melihat ada paper bag kecil di mejanya, lalu dibukanya paper bag itu. Matanya berbinar, "Kamu bikin Dee?" tanyanya sumringah.
"Iya mas, buat makan siang nanti, biar ga jajan. Aku bikin kulitnya sudah lama, tapi ga mood makan burrito, berhubung ada kak Kiki ya wes atk bikin hari ini, itu kan makanan kesukaan kak Kiki" jawab Dee sambil mengeluarkan buku Fisika untuk pelajaran jam pertama.
"Hehehehe... emang deh temanku satu ini paling the best" ucap Tony sambil mengusap kepala Dee.
"Hmmm.... Baru tau?" rungut Dee disambut gelak tawa Tony.
"Kamu bisa masak segala jenis masakan ya Dee?" tanya Hendrick sambil membuka paper bagnya.
"Enggak kok, masih belajar, mau ikut kelas masak tapi ga boleh sama ibu soalnya semester 2 ini mulai penjurusan, takut ganggu belajar" jawab Dee.
"Oh... Tapi masakanmu enak lho, tanpa ikut kelas masak aja sudah enak gitu, gimana kalau ikut kelas masak?" puji Hendrick
"Lebay Hend, aku belajar masak karena pengen lebih dibilang perempuan, secara aku kan ga suka ini itu normalnya cewek seumuran kita." ucap Dee lirih.
"Malah keren cewek seperti kamu Dee, cantik tanpa harus neko-neko" tambah Hendrick yang sukses membuat pipi Dee memanas, Tony yang melihat Dee gugup terkekeh pelan.
"Sudah... Sudah... Jangan gombalin Dee lagi, mulutmu kaya tukang kain Rick.... wkwkwkwkwk" gelak Tony.
"Sialan kau Ton!" gerutu Hendrick, sedangkan Dee hanya menunduk malu.
KRIIIIIINGGG!!!!
Bel dimulainya kegiatan belajar mengajar berbunyi. Siswa kelas 2.4 sudah duduk rapi menunggu guru mata pelajaran pertama Fisika masuk ke kelas. Tak berselang lama guru Fisika pun masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya dengan mengumpulkan dan mengoreksi bersama tugas yang diberikan kemarin.
Pukul 9:45 bel tanda istirahat pertama berbunyi, setelah guru Fisika keluar meninggalkan kelas, beberapa siswa pun bergegas keluar kelas menuju kantin atau hanya sekedar duduk santai di teras kelas.
"Aku mau ke kantin beli air mineral, ada yang mau nitip?" tanya Dee pada Tony dan Hendrick.
"Aku temani" ujar Hendrick.
"Ah... Ga usah Hend" tolak Dee panik, dia masih merasa tidak nyaman karena peristiwa tadi pagi.
"Aku mau sekalian ke koperasi, mau beli buku tulis, kebetulan buku catatan Biologiku hanya tinggal beberapa lembar" jelas Hendrick.
"Oh gitu..." gumam Dee pasrah.
"Ga usah gugup gitu, aku ikut kok" bisik Tony sambil menepuk bahu Dee.
"Hah... Siapa gugup?" gerutu Dee sambil mengambil dompet dari dalam tasnya kemudian bergegas melangkah keluar kelas menuju kantin sekolah.
Hendrick dan Tony buri-buru mengikuti Dee.
"Oi... Oi... Buru-buru amat sih mBul?" panggil Tony. Mendengar nama panggilan masa kecilnya yang tabu disebut, Dee langsung membalikkan badannya, menatap tajam ke arah Tony. DEG!!! Jantung Tony mendadak berhenti berdetak, "Duh sialan nih mulut, bakal ngamuk nih" batin Tony panik. Hendrick yang melihat mata Dee berkilat marah buru-buru menghampiri Dee, bermaksud menenangkannya. Dee memang pantang mendengar panggilan mBul atau Gembul, itu kata terlarang, kalau sampai ada yang memanggilnya seperti itu bisa terjadi bencana buat yang mengucap kata itu.
"Dee.... Udah yuk, buruan ke kantin, keburu bel masuk!" ajak Hendrick, diraihnya tangan Dee lalu menariknya dengan lembut, tapi Dee malah mengibaskan tangan Hendrick dan berjalan menghampiri Tony.
"Habislah kau Ton..." batin Hendrick.
"Dee... Dee.. Sabar Dee... Aku bercanda doang, ga sengaja panggil kamu itu.... Ya Dee... Maaf... Maaf Dee" panik Tony, tapi Dee terus mendekat dan dengan sekuat tenaga dia mendorong Tony sampai Tony mundur beberapa langkah.
"Dee... Seriusan mas minta maaf" ucap Tony memelas.
Mata Dee terlihat berkaca-kaca menahan marah.
Hendrick berjalan menghampiri mereka, lalu dirangkulnya bahu Dee.
"Dee... Sudah, jangan marah ya, Tony ga sengaja panggil kamu seperti itu, dia juga sudah minta maaf. Sudah ya, jangan marah ya... Yuk buruan ke kantin, sebentar lagi bel tanda masuk bunyi" bujuk Hendrick sambil mempererat rangkulannya di bahu Dee. Perlahan Hendrick menarik Dee untuk segera beranjak dari tempatnya. Beruntung Dee menurut, dia membalikkan badan mengikuti pergerakan Hendrick yang menuntunnya melangkah menuju kantin. Tony masih tertegun di tempatnya. "Aaaargh.... Bakal panjang nih ngambeknya" gerutunya. Lalu Tony bergegas berlari kecil menyusul mereka berdua.
Sementara Dee masih berjalan dan berada dalam rengkuhan Hendrick, rahangnya mengeras tanda dia masih marah.
"Dee... Sudah marahnya ya... Nanti imutnya hilang" bujuk Hendrick, tapi Dee tak bergeming.
Mereka sudah sampai kantin, Dee melepaskan tangan Hendrick dari bahunya dan bergegas menuju etalase tempat air mineral diletakkan.
Setelah mengambil 2 botol air mineral Dee berjalan melangkah menuju kasir, dan Hendrick sudah menunggu di sana bersiap membayar.
"Bu, air mineralnya 2 ya," ucap Hendrick pada ibu penjaga kasir.
"Lima ribu nak" jawab ibu kasir, lalu Hendrick menyerahkan 1 lembar uang lima ribu rupiah kepada ibu kasir, "Terima kasih ya bu" ucap Hendrick.
"Sama-sama nak" balas ibu kasir.
"Yuk Dee... Kita balik ke kelas" ajak Hendrick.
Dee tidak menjawab, dia sibuk berkutat ingin membuka botol air mineralnya, tapi kesulitan karena emosi masih menguasai hatinya. Hendrick lalu mengambil air mineral dari tangan Dee dan segera membukakannya, "Nih, minum" ucapnya lembut seraya mendekatkan botol air mineral itu ke mulut Dee lalu membantunya minum.
Ibu kantin yang melihat aksi mereka berdua tersenyum dan berkata, "Sayang banget ya mas sama pacarnya" ucap bu kantin mengagetkan Dee sampai membuatnya tersedak.
Dee terbatuk-batuk sampai wajahnya merah, Hendric dengan sabar menepuk-nepuk punggung Dee.
"Pelan-pelan minumnya" ucap Hendrick.
"Uhuk... Uhuk... " Dee masih terus terbatuk.
"Minumnya jangan buru-buru, nak!" ucap ibu kantin.
"I-iya bu, terima kasih" sahut Dee, "Aku udah ga papa kok Hend" sambung Dee sambil menatap Hendrick.
"Beneran?" tanya Hendrick, masih mengusap punggung Dee.
"I-iya bener..." jawab Dew sambil menghindar dari usapan Hendrick, dia merasa ada getaran aneh saat Hendrick mengusap-usap punggungnya, wajah Dee semakin merah karenanya.
Melihat wajah Dee yang semakin memerah, Hendrick panik, "Dee, wajahmu merah banget, yakin ga apa-apa? Kita ke klinik dulu ya" Hendrick menyentuh pipi Dee dan sukses membuat Dee kaget.
"Ng-ngga usah" gugup Dee, dia pun mundur selangkah menghindari tangan Hendrick.
"Ya udah, kita balik kelas" ajak Hendrick seraya menarik tangan Dee dan menggandengnya, mereka berjalan beriringan.
Dari kejauhan, Lucky yang sejak tadi ada di kantin, menatap tajam ke arah mereka berdua. "Ternyata sepupu kesayanganku suka sama dia" gumamnya, "Hah... adikku sudah besar rupanya, sudah tau apa itu cinta" sambil menghela nafas panjang Lucky berbalik meninggalkan kantin.
Sementara Itu Dee dan Hendrick bertemu Tony di depan pintu kantin.
"Dee... Maafin aku ya, ga akan ngulang gitu lagi" bujuk Tony.
Dee hendak melepaskan genggaman tangan Hendrick dan berniat berjalan pergi, tapi Hendrick menahannya.
"Dee, maafin Tony ya, dia ga sengaja tadi, kalian kan sudah seperti saudara, ga baik kalau hanya gara-gara itu marahan kan? Lagian kita semua tau kok kalau Diane Putri itu ga gembul, Diane Putri itu teman kami yang paling imut, cantik dan badannya tinggi semampai, ya Dee... Kalau marah imutmu nanti berkurang" bujuk Hendrick sambil meremas perlahan tangan Dee.
Mendapat perlakuan dan bujukan halus dari Hendrick, langsung membuat jantung Dee berdebar kencang, wajahnya memerah malu.
"Hmmmm" gumam Dee lirih.
"Kamu maafin aku Dee?" tanya Tony ga prcaya.
"Hmmm" gumam Dee lagi.
"Aaaah... Terima kasih kesayangankuu" pekik Tony kegirangan, merekapun jadi pusat perhatian gara-gara kelakuan Tony.
Tony bermaksud memeluk bahu Dee tapi Dee langsung menghindar dan bersembunyi di balik Hendrick.
"Ga mau!" seru Dee pendek.
"Kenapa Dee?" tanya Tony bingung, "Kan Dee sudah maafin aku?" sambungnya.
"Masih kesal" sahut Dee lalu dia menarik tangan Hendrick dan melangkahkan kaki menuju kelas mereka. Tony menatap Hendrick yang hanya membalas tatapannya dengan menggendikkan bahunya.
"Aduuuuh.... bakal tetep dicuekin nih!" gerutu Tony lalu diapun cepat-cepat menyusul kedua sahabatnya itu.
Dee melangkah buru-buru, tangannya masih menggandeng Hendrick.
"Dee... pelan-pelan saja jalannya ya" ucap Hendrick seraya meremas genggaman tangan Dee. Jujur dia ga ingin cepat-cepat sampai kelas yang mengharuskan Dee melepas pegangan tangannya kalau sudah sampai kelas.
"Hmmmm...." sahut Dee memperlambat jalannya.
"Senyum dikit Dee" ucap Hendrick.
"Apaan sih Hend?" omel Dee.
"Ya biar cantik gitu, kalau cemberut cantiknya berkurang malah jadi gemesin, kalau ga kuat iman cowok yang lihat kamu cemberut pasti langsung pengen cubitin pipi kamu" goda Hendrick.
"Idih... Apaan sih, gombal amat." omel Dee tersipu malu, segaris senyum nampak di bibirnya.
"Nah gitu dong" ucap Hendrick, tak sengaja dia menatap bibir Dee, "GLEK!" Hendrick menelan ludahnya, buru-buru dia memalingkan wajahnya, "Bahaya.... Bahaya..." batinnya, bibir Dee terihat begitu manis, walau tanpa pemoles bibir, tapi bibir Dee tampak berwana pink segar, Hendrick jadi membayangkan sesuatu yang ga seharusnya dibayangkan.
Setibanya di depan kelas Hendrick berkata pada Dee, "Aku ke toilet dulu ya Dee" katanya dengan suara serak menahan sesuatu dalam dirinya.
"Iya, makasih ya Hend" jawab Dee sambil melepaskan pegangan tangannya dan tersenyum manis ke Hendrick.
"Sama-sama Dee" lalu Hendrick buru-buru berlalu dan bergegas menuju toilet, sementara Dee melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.
Sesaat setelah Dee duduk di bangkunya, mendadak kelasnya riuh karena siswa perempuan bergerombol dan bergumam riuh. Dee melongokkan kepalanya, terlihat para siswa perempuan mengerumuni sesosok pria tinggi dan tampan yang berdiri di depan pintu kelas.
"Maaf, bisa permisi saya mau ketemu seseorang" ucap siswa lelaki itu, suaranya merdu otomatis cewek-cewek yang mengerumuninya semakin meleleh.
"Hai... Cari siapa?" terdengar suara Intan menyapanya dengan nada menggoda.
Siswa itu memandang Intan dengan pandangan aneh, tapi Inta merasa kalau siswa itu tertarik padanya, dengan langkah yang dibuat-buat Intan mendekati siswa itu dan mengulurkan tangannya, "Hai, kenalin aku Intan" ucap Intan memperkenalkan diri.
Siswa itu hanya mendengus lalu berusaha menyeruak kerumunan "Permisi" ujarnya.
Dee yang duduk di bangkunya tau kalau itu adalah Lucky, tapi dia sengaja diam saja, suruh siapa datang ke kelasnya, cari mati aja tuh orang, kan jadinya dikeroyok cewek-cewek kelas 2.4. Dee terkekeh geli.
Tiba-tiba terdengar suara Tony, "Lho Ky, ngapain kamu di sini sampai dirubungi semut gini, kekekekke..." kekeh Tony.
"Whoi Ton... Ngapain lagi lah, nyari sepupuku tah" jawab Lucky sambil menepis tangan Intan yang mencoba memegang tangannya.
"Ngapain kamu grepe-grepe?" bentak Lucky seram.
Intan mundur selangkah, takut melihat wajah Lucky yang seperti dewa kematian.
"Gatel amat lu kalau lihat laki yang model ginian!" ejek Tony.
"Tuh Dee di sana, ngambek dia sama aku gara-gara kupanggil.... Tau lah kau" gerutu Tony.
"Kapok, wakakakaka..." gelak Lucky.
"Deeeee.... Kesayangankuuu.... " seru Lucky seraya menghambur masuk ke dalam kelas menghampiri Dee.
"Apaan sih kak, malu-maluin" gerutu Dee, dia paling ga suka dengan kelebayan Lucky.
"Kangen kamu tau, nanti pulang bareng ya, aku mau ke rumah," sahut Lucky sambil memeluk erat dan mencium pipi Dee. Sontak para siswa kelas 2.4 menjerit heboh.
"Iiiiih.... kak Kikiiiii.... Jijik... Udah dibilang kalau di sekolah ga boleh kaya gini, nanti diamuk ibu" bentak Dee sambil mendorong tubuh Lucky, tapi Lucky tak bergeming, malah menggosok-gosokkan dagunya ke kepala Dee.
"Mas Tony, bantuin kek!" seru Dee.
"Ogah, kan kamu lagi ngambek sama aku, tadi aja aku dicuekin." jawab Tony.
"Ya udah kalau ga mau nolongin ngambeknya tambah lama!" ancam Dee.
"Yeee, ga bisa gitu dong" jawab Tony.
"Kalian apa-apaan sih!" tiba-tiba sepasang tangan memisahkan pelukan Lucky dan Dee.
"Hend...." seru Dee kaget, ditatapnya Hendrick yang tengah mengatur nafasnya yang memburu. Hendrick kesal bukan main, baru balik dari toilet malah disuguhi pemandangan yang bikin panas hati, ya walaupun mereka saudara sepupu.
"Makasih Hend..." gumam Dee lirih.
"Hmmm" jawab Hendrick.
"Cemburu?" tanya Lucky sukses membuat wajah Hendrick memerah.
"E-enggak... cuma ga sopan aja, walau kalian sepupuan tapi ini kan sekolah" jawab Hendrick gugup."
"Tapi kamu tadi pagi juga kan peluk-peluk Dee di kelas to?" timpal Tony memanas-manasi.
"Mas Tony!" bentak Dee yang dibalas juluran lidah oleh Tony.
"Apa???" pekik Lucky.
"Eits... jangan marah Ky, peluk doang kok ga sampai macem-macem" sahut Tony sambil cengar cengir.
"Tetep aja ga boleh, dia bukan siapa-siapanya Diane!" Lucky mendelik tajam ke Hendrick, tapi Hendrick membalas tatapan Lucky dengan pandangan menantang.
"Jadi kalau aku siapa-siapanya Dee boleh?" tanya Hendrick terang terangan.
"Tetap ga boleh!!' bentak Lucky.
"Kak Kiki, udah deh kak... Aku sama Hendrick ga da apa-apa dan ga mungkin ada apa-apa, kami cuma kawan dekat kok, ga mungkin aneh-aneh, jadi kakak tenang aja" ucap Dee menenangkan Lucky.
"Dee!" seru Hendrick, dia kaget dengar pernyataan Dee yang bilang ga akan mungkin ada apa-apa antara mereka. Entah mengapa walau tahu akan seperti ini hatinya tetap sakit.
"Kenapa Hend?" tanya Dee heran.
"Ga apa-apa, benar kita cuma kawan baik" sahut Hendrick lirih lalu melangkah gontai menuju bangkunya.
"Hend?" panggil Dee tapi Hendrick tak menghiraukannya, dia langsung duduk dan membuka buku Biologinya.
"Yakin kamu sama omonganmu barusan Dee?" tanya Lucky menggoda sepupunya.
"Ga menyesal kamu ngomong gitu?" timpal Tony.
Dee hanya menunduk.
"Jangan bohongi perasaanmu Dee, ga apa-apa kalau memang suka, tapi kalau belum muhrim ya jangan sampai kejadian sesuatu yang ga boleh terjadi dulu ya" ucap Lucky sambil mengusap kepala Dee.
"Siapapun yang kamu suka kita dukung kok, ga usah mikir aneh-aneh, jalani aja seperti air mengalir" sambung Tony.
"Hmmmm..." gumam Dee.
"Eh, kakak mau apa ke sini?" tanya Dee.
"Ga ada, tadi aja lihat kamu di kantin mesra banget sama dia, kirain jadian" gurau Lucky disambut tabokan dari Dee.
"Mana ada???" seru Dee.
"Hehehehehe... adaaaa" jawab Lucky.
"Dah ah, aku balik kelas, hampir bel, nanti habis Jumatan aku jemput kita makan sama-sama ya" ucap Lucky.
"He.eh" jawab Dee.
"Ton, jagain sepupu kesayanganku ya" pesan Lucky.
"Selalu bro" jawab Tony.
Lucky pun keluar dan kembali ke kelasnya, sementara Tony bergegas menuju toilet, karena mendadak kebelet.
Dee duduk dan memutar badannya menghadap Hendrick, "Hend..." panggil Dee.
"Ya?" sahut Hendrick mengangkat kepalanya dan menatap Dee lembut.
"Maaf ya... " ucap Dee lirih.
"Maaf untuk apa?" tanya Hendrick.
"Yang aku bilang ke kak Lucky tadi." jawab Dee.
"Ga papa aku ngerti kok, kita cuma teman" sahut Hendrick menahan perih di dadanya.
"Maksudku bukan gitu Hend...." bisik Dee.
"Lalu?"
"Kita ga tahu gimana kita besok, lusa atau seterusnya, tapi kan untuk saat ini kita kawan baik, jadi ya kita ikuti saja arus air. Siapa yang tau besok kita gimana kan, mungkin aja Freddy punya pacar, mas Tony dan Yetnu juga punya pacar, lalu kamu dan aku mungkin juga punya pacar masing-masing atau..." jelas Dee tapi belum selesai dia ngomong Hendrick memotongnya.
"Aku ga akan punya pacar dan ga akan mengijinkan kamu pacaran" ucapnya dingin.
"Kok gitu? Jahat dong... Kalau misal aku jadian sama salah satu dari kalian ga boleh juga?" tanya Dee malu-malu.
"Kamu suka Freddy? Atau malah beneran kamu suka Tony?" tanya Hendrick berapi-api.
"Mana ada!" omel Dee kesal.
"Tau ah, Hendrick bego!" serunaya kesal, lalu buru-buru membalikkan badannya.
"Dee, maksud kamu apa sih?" Tanya Hendrick
"Ga ngapa-ngapain, diam, sudah bel itu" omel Dee. "Dasar cowok ga peka" batinnya tanpa menyadari kalau dirinya sendiri tidak peka.
Hendrick kebingungan, salah apa dia kok Dee tiba-tia ngambek, trus apa maksudnya kalau Dee mungkin jadian sama salah satu dari mereka. Kalau Yetnu jelas ga mungkin karena dia sepupu Dee, hanya 3 orang saja antara dia sendiri, Tony dan Freddy. Tapi kalau dilihat dari keakraban ga mungkin kalau Dee jadian dengannya atau Freddy, pasti dia memilih Tony yang notabene audah berteman sejak mereka balita.
"AAAARGH.... bingung bingung bingung.... aku harus tanya Tony nanti." gumamnya frustasi.
Tony yang baru tiba dari toilet melihat dua orang sahabatnya yang satu cemberut dan yang satu bingung, jadi terheran-heran, ngapain lagi nih dua orang ini? Pikirnya bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ketua kelas masuk dan menginformasikan kalau hari ini guru Biologi mereka tidak bisa mengajar karena sakit dan hanya memberikan tugas merangkum.
Buru-buru Hendrick mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Tony.
Hendrick :"Bro, Dee ngambek!"
Tony : " Tau, kamu apain dia?"
Hebdrick : "Ga ngerti, tiba-tiba aja habis ngomong sesuatu dia ngambek"
Tony : "Ngomong apaan?"
Hendrick : "Tadi dia bilang nantinya kita bakal punya pacar masing-masing, trus ku bilang kubilang kalau aku ga akan kasih ijin Dee buat pacaran. Trus Dee tanya kalau misal dia jadian sama salah satu dari kita apa tetep ga dikasih ijin, trus aku balik tanya, apa dlia suka Freddy atau kamu, dan mau jadian sama Freddy atau mungkin sama kamu, eh dia ngatain aku bego, apa artinya itu Dee suka sama slah satu dari kalian dan mau jadian sama kamu atau Freddy?"
Tony melotot dan tertawa jengkel membaca pesan Hendrick.
Tony : "Ya emang lu bego Bro, wkwkwkwkwkwk!"
Hendrick : "Maksud e piye?"
Tony : "Ga ada maksud apa-apa. Kalau kamu suka Dee ya perjuangkan, rebut hatinya, nyatakan suka. Ga usah nebak-nebak Dee suka siapa yang jelas aku dan Dee itu impossible, percaya atau engga, aku tuh udah ada yang punya, Dee sama Lucky aja yang tau. Jadi jangan mikir aku sama Dee yang gimana-gimana ya!"
Hendrick : "WHAT???"
Ditatapnya Tony dengan pandangan tak percaya, Tony sudah punya pacar??? Hell... NO!!!
Tony hanya nyengir kuda lalu dia ngengucap kata tanpa suara yang sukses bikin Hendrick speechless
"Kalau kau ga buru-buru, Freddy bakal maju duluan"
Hendrick melotot ke arah Tony lalu mendengus kesal.
"Dee...." panggil Hendrick
"Hmmm?" Dee menoleh, dia masih kesal kepada Hendrick.
"Maaf tadi aku salah paham, jangan marah ya" ucap Hendrick
"Ga marah, kesal aja Hend" sahut Dee cemberut.
"Jangan cemberut dong ya... Dee..." bujuk Hendrick.
"Iya iya, berisik ah, kerjain tuh tugas!" seru Dee.
"Janji ya ga ngambek lagi" rengek Hendrick.
Dee menghela nafas lalu membalikkan badannya menghadap Hendrick.
"Iya Hend, ga ngambek lagi kok" ucap Dee yang tanpa sadar tangannya terulur mengusap pipi Hendrick.
Tubuh Hendrick menegang merasakan sentuhan tangan Dee, sedangkan Tony yang melihat aksi Dee hanya melongo heran.
Perlahan Hendrick menangkupkan tangannya di atas tangan Dee yang menyentuh pipinya, lalu perlahan Hendrick memiringkan kepalanya dan mengecup tangan Dee. Sontak Dee tersentak kaget dan buru-buru menarik tangannya. Lalu ditatapnya Hendrick yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu imut ya kalau malu-malu?" goda Hendrick.
Buru-buru Dee membalikkan badannya, dia yakin sekarang pipinya semerah tomat.
Tony hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua orang sahabatnya.
"Bentar lagi ada kabar gembira dan huru hara nih" batin Tony memijat pelipisnya, kepalanya berdenyut membayangkan keributan seperti apa yang terjadi di antara Freddy dan Hendrick nanti jika Hendrick dan Dee jadian.
Selama pelajaran Biologi Dee tidak bis berkonsentrasi mengerjakan tugas membuat rangkuman. Pikirannya kemana-mana, detak jantungnya tak menentu. Bolak balik dipandangi tangan kanannya yang tadi dikecup Hendrick, masih terasa hangat dan lembutnya sentuhan bibir Hendrick yang entah kenapa membuat badannya terasa panas dan bulu kuduknya meremang. Alhasil bel istirahat kedua berbunyi, dan selama 90 menit Dee hanya menulis 2 baris kalimat rangkuman.
Tony melirik ke arah Dee, kemudian dia bangkit menghampirinya dan berbisik, "Segitu bahagianya sampai ga bisa ngerjain tugas, padahal baru tangan doang yang dicium, belum yang lain" godanya, langsung saja wajah Dee memerah karena malu ketahuan oleh Tony.
"Mas Tony cari mati????" pekik Dee seraya melempar kotak pensilnya.
"Hahahahaha.... ga kenaaaa...." gelak Tony sembari berlari menghindar.
"Lanjutin tuh melamunnya, habis Jumatan aku susul kesini" lanjut Tony. Dee terlihat sangat kesal digoda seperti itu, belum lagi wajahnya terasa panas.
"Bro, ku tunggu di tempat parkir" teriak Tony pada Hendrick yang hanya dibalas acungan jempol oleh Hendrick.
"Tunggu ya, aku sholat Jumat dulu ke masjid belakang sekolah. Mau nitip apa, nanti aku mau mampir mini market?" tanya Hendrik pada Dee.
"Racun tikus" jawab Dee asal.
"HAH?" tanya Hendrick kaget
"Iya racun tikus, mas Tony lama-lama ngeselin pol, kayanya pengen cepet-cepet diracun deh" gerutu Dee.
"Hush.... Hahahaahhahahah.... biarin aja Dee, Tony kan memang kaya gitu kalau ke kamu." sahut Hendrick sambil membetulkan poni Dee yang menutup setengah matanya.
Dee mengerjapkan matanya, "kenapa lagi ini... kok seharian ini mesra banget ke aku, bikin aku mengharap lebih" batin Dee.
"Matamu bagus, jangan ditutup rambut" ucap Hendrick.
"Ehem.... Iya... Thanks. Cepetan berangkat Jumatan, teman-teman pasti sudah nunggu di parkiran." seru Dee sambi mendorong punggung Hendrick.
"Ok, jalan dulu ya!" sahut Hendrick.
"Hmmmm... hati-hati" balas Dee seraya tersenyum manis.
DEG!!!
Jantung Hendrick serasa melompat keluar melihat senyuman Dee.
"Malam ini kelihatannya bakal mimpi aneh-aneh nih" batinnya kesal, buru-buru Hendrick berjalan keluar kelas, dia tidak mau pikirannya kemana-mana kalau terus memandang Dee.
Kacau kacau... makin hari Dee makin cantik, bikin hati ini morat marit, gumamnya.
Sesampainya di tempat parkir, Hendrick sudah ditunggu Tony, Yetnu, Freddy dan juga Lucky.
"Lama amat, Rick?" tanya Yetnu.
"Toilet dulu tadi" jawab Hendrick.
"Dah yuk buruan, keburu penuh masjidnya" ajak Freddy sambil menatap Hendrick penuh selidik. Dia merasa Hendrick lebih sumringah, pasti ada terjadi sesuatu yang dia ga tahu.
Segera Tony, Hendrick dan Lucky mengeluarkan motor mereka sedangkan Freddy dan Yetnu memilih membonceng saja.
Mereka berlima pun berangkat beriringan menuju masjid belakang sekolah mereka.
Setelah 30 menit mengikuti Khutbah Jumat dan sholat Jumat, mereka berlima bergegas kembali ke sekolah, tapi Hendrick minta mereka tinggL karena harus ke mini market membeli sesuatu untuk keperluan di kostnya. Ya, Hendrick memang tinggal di rumah kost karena dia pelajar yang merantau dari Aceh.
Hendrick menganbil beberapa perlengkapan mandi, kopi, teh dan beberapa bungkus mie instant, "Hah... nasib anak kos, hari-hari kalau ga mie kuah ya mie goreng... Coba aja bisa makan masakan Dee tiap hari.... Haaaaaah" keluhnya dalam hati, lalu ketika dia melewati lemari pendingin, dia melihat ada yogurt buah kesukaan Dee, diambilnya 1 botol rasa Aloevera dan mengambil 5 botol Ocha untuk yang lainnya. Segera Hendrick menuju kasir untuk membayar.
Lima menit kemudian Hendrick sudah sampai di sekolah dan buru-buru dia menuju kelasnya.
Dilihatnya Dee masih duduk di bangkunya, begitu dia melihat Hendrick, Dee langsung bangkit, "Yuk buruan ke taman belakang, kata kak Kiki kita makan di sana" ajak Dee.
"Sebentar, aku taruh ini dulu" Hendrick meletakkan belanjaannya di dalam tas, lalu meraih paper bag pemberian Dee dan juga kantung plastik berisi minuman yang dia beli tadi.
"Yuk Dee.... Teman-teman sudah di sana?" tanya Hendrick.
"Belum, baru kak Kiki dan mas Tony. Yetnu tadi dipanggil sama wali kelasnya, katanya mau lomba apa gitu, trus Freddy kudu ngasih laporan ke ketua Pramuka. Paling nanti juga papasan" jawab Dee.
"Oooh.... kita kesana sekarang?" tanya Hendrick.
"Iya, yuk!" jawab Dee.
Mereka berjalan bersebelahan, banyak mata memandang mereka berdua. Mereka terlihat serasi. Walau banyak yang tidak suka karena merasa cemburu, tapi mereka ga memungkiri kalau Dee dan Hendrick terlihat serasi. Tapi ga hanya dengan Hendrick, Dee terlihat serasi juga dengan Tony dan Freddy atau bahkan dengan Yetnu yang sepupunya sendiri. Teman-temannya merasa tidak adil mengapa cewek cantik harus dikelilingi para cowok ganteng.
Chapter 6 ~end~