Chapter 5

3633 Kata
Di kamar utama, kamar orang tua Dee, terlihat Dee tengkurap membenamkan kepalanya di bantal, terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya. "Ya Allah... Walau aku ga berharap Hendrick suka padaku tapi mengapa sesakit ini saat tahu ada seseorang yang dia sukai" isak Dee pilu. Dee menekan dadanya yang terasa sakit dan sesak. "Aku harus menghindarinya dan melupakan perasaanku, aku ga mau lebih tersakiti" gumam Dee di tengah isakannya. Entah berapa lama Dee menangis sampai akhirnya dia terlelap. Dee terbangun saat mendengar pintu kamar terbuka. "Dee, kok bangun, tidur lagi saja, ini masih jam 3, ibu cuma mau ambil baju buat bapak saja, biar ibu sama bapak tidur di kamar adikmu." ucap bu Tuti. "Ibu sama bapak sampai rumah jam berapa? Biar Dee aja yang tidur sama adik-adik, ibu sama bapak tidur di sini, biar enak istirahatnya." sahut Dee, dia pun bangkit dari tidurnya, meraih bantal kesayangannya yang lembab karena air mata lalu beranjak keluar dari kamar orang tuanya. Dee kemudian berjalan menuju kamar adik-adiknya, saat itu dia berpapasan dengan Hendrick yang kebetulan terbangun dan berniat melakukan sholat tahajud. "Ibu sama bapak barusan sampai Dee" ucap Hendrick. "Hmm..." sahut Dee singkat sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang penuh bekas air mata. "Kamu kenapa?" tanya Hendrick, tangannya terulur ingin menyibak rambut Dee yang menutupi wajahnya. Plak! Dee menepis tangan Hendrick, "Aku ga apa-apa, maaf aku mau lanjut tidur lagi, ngantuk!" jawab Dee ketus, buru-buru masuk kamar adiknya dan menutup pintu dengan kasar. Hendrick berdiri keheranan, ada apa dengan Dee??? Hendrick buru-buru mengambil air wudlu dan bergegas ke mushola yang ada di sudut rumah untuk melaksanakan sholat tahajud, sementara disisihkannya pikiran mengapa Dee bersikap seperti itu padanya. Alarm berbunyi tepat pukul 4:30, Dee bergegas bangun dan membasuh mukanya. Dee menatap cermin, dilihatnya pantulan wajahnya, matanya bengkak kan merah, Dee menyesal menangis semalaman, merasa konyol menangisi patah hati akibat lelaki yang belum tentu menyukainya. Buru-buru Dee ke dapur dan mengambil kentang untuk mengompres matanya. Untunglah belum ada yang keluar kamar walau dia tahu pasti ibu, bapak, Tony dan juga Hendrick sudah bangun karena sudah lewat waktu subuh. Setelah 5 menit mengompres matanya, Dee mengambil sapu dan kemoceng, lalu dengan sigap Dee mulai menyapu dan membersihkan rumah. Selesai menyapu Dee mengambil alat pel dan mulai mengepel lantai dari dalam rumah sampai ke teras. Tepat pukul 5:00 pagi tugas membersihkan rumah sudah selesai dia kerjakan. Waktunya membuat sarapan, Dee menyadari kalau ibu dan bapaknya masih lelah, jadi dia tidak akan mengganggu mereka dari istirahatnya, dan membiarkan mereka tidur 1 jam lagi. Dee mangambil sisa nasi semalam yang dia simpan di dalam kulkas, beberapa butir telur, buncis, jagung wortel, ayam rebus, bakso dan sosis. "Bikin Hong Kong style fried rice sama ceplok telur aja wes." gumamnya, lalu dicucinya buncis, jagung dan wortel, setelah itu mulailah kegiatan potong memotong dan tumis menumis. Hendrick yang keluar kamar segera mencium aroma sedap masakan, sebetulnya dia bersiap untuk pulang dulu karena dia tidak membawa seragam untuk hari ini. Tapi sepertinya dia harus menunda kepulangannya, sayang lalau ga makan masakan Dee buat sarapan pagi ini. Hendrick pun berjalan menuju dapur, tapi baru selangkah, Tony memanggilnya, "Ga balik ambil seragam Rick?" tanya Tony. "Nanti" jawab Hendrick pendek. "Hmmm... Dee masak ya?" tanya Tony sambil bergegas ke dapur. "Huh, pengacau!" rungut Hendrick kesal. "Dee.... Bikin nasgor Hong Kong kah?" tanya Tony yang dengan santainya nyelonong masuk dapur, mengambil sendok dan mencicipi nasi goreng sambil merangkul pundak Dee. "Iya, sarapan dulu baru balik ambil seragam mas, nanti ga usah jemput ga apa, aku pengen jalan kaki" sahut Dee. Tony menatapnya heran, "Kenapa?" tanyanya. "Ga kenapa-kenapa, lagi ingin jalan kaki" jawab Dee tanpa mau melihat ke arah Tony. "Dee, kamu nangis?" bisik Tony. "Engga, kurang tidur semalam, nungguin bapak ibu balik" bohong Dee. "Kamu ga mau cerita ada masalah apa ke aku?" tanya Tony mempererat rangkulannya di bahu Dee. Hendrick yang melihat pemandangan itu geram bukan kepalang. Dengan nafas memburu dia bergegas masuk dapur dan melepas paksa tangan Tony dari bahu Dee, alhasil Dee mengaduh kesakitan, "Apa-apaan sih Hend, sakit tau!!" bentak Dee matanya merah menahan tangis dan amarah. Hendrick kaget, baru kali ini dia melihat Dee marah dan baru kali ini pula Dee membentaknya, "Maaf Dee, aku ga sengaja" ucap Hendrick menyesal. Dee diam saja, hanya memalingkan wajahnya kemudian meraih wajan dadar dan memanaskannya. "Tunggu di meja makan, sebentar lagi sarapan siap, sarapan dulu baru balik ambil seragam" sahut Dee datar. "Dee..." panggil Hendrick Tony menahannya, "Nanti!" ucap Tony lalu membawa Hendrick ke meja makan. "Biarkan dulu, nanti aku yang bicara, sepertinya dia kesal karena perkataanku semalam" bisik Tony. "Perkataan apa? Kalau kesal padamu kenapa dia dinginnya ke aku?" tanya Hendrick. Tony hanya menggelengkan kepalanya, walau dia sebenarnya tau apa alasan Dee seperti itu. Tony merasa bersalah karena sudah kelewatan menggodanya, dia tidak menyangka kalau rasa suka Dee ke Hendrick sudah benar-benar mendalam. "Haish... kenapa mulutku iseng banget sih" batin Tony. Pukul 6:00 sarapan sudah siap di meja, ibu dan bapak Dee pun sudah bangun dan tengah mempersiapkan adik-adik Dee untuk sekolah. "Kalian bertiga sarapan saja dulu, nasi goreng buatan Dee enak kok, kalau sudah sarapan kalian bisa pulang ambil seragam" ucap bu Tuti. "Ya bulik, Tony makan dulu ya sama Hendrick bulik." sahut Tony. "Saya sarapan dulu bu" sambung Hendrick. "Iya iya, yang banyak sarapannya ya" balas bu Tuti. "Nih mas!" Dee menyerahkan piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi ke Tony. "Makasih kesayanganku" ucap Tony seraya mengedipkan sebelah matanya. "Ih, jijik" ledek Dee seraya menjulurkan lidahnya dan disambut kekehan Tony. "Hend, ini..." Dee meletakkan piring nasi goreng dan telur ceplok di hadapan Hendrick tanpa sedikitpun menatap mata Hendrick. "Dee... makasih" kata Hendrick sambil menatap gusar ke arah Dee. "Hmm..." sahut Dee pendek. "Dee... Kamu kenapa?" tanya Hendrick gusar. "Aku ga apa-apa." jawab Dee memaksakan diri tersenyum. "Makan cepetan, keburu siang ga sempat ambil seragam nanti. Itu brownies sudah aku potong-potong dan aku kemas di kotak, kalau balik dibawa ya" sambung Dee dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. "Hmmm..." sahut Hendrick sedikit lega melihat senyuman Dee. Tony hanya diam memperhatikan mereka berdua, sedih dan merasa bersalah. Dia harus secepatnya menjelaskan kepada Dee, dia ga mau sahabatnya itu murung. Setelah selesai sarapan mereka berdua berpamitan kepada kedua orang tua Dee untuk pulang dan bersiap ke sekolah. Sementara Dee sibuk merapikan dan membereskan meja. Lalu dia membuka kulkas mengeluarkan beberapa lembar kulit tortila buatannya beberapa waktu lalu, mengisinya dengan selada, tomat, guacamole, salsa, suwiran daging ayam dan parutan keju, lalu memanggangnya sebentar di atas teflon. Dee membuat 6 gulung burrito dan membungkusnya menggunakan paper wrap, kemudian memasukkannya ke dalam 6 paper bag. Dee bergegas mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. "Bu, pak... Dee berangkat dulu" pamit Dee. "Ndak sama mas mu nduk?" tanya ibu. "Endak bu, lagi pengen jalan, assalamu'alaikum" "Wa'alaikumsalam, ya wes hati-hati ya" sahut ibu dan bapak bersamaan. Setelah mencium tangan kedua orang tuanya Dee pun berjalan berangkat menuju sekolah, tidak lupa dia membawa 6 buah paper bag berisi burrito tadi. Selama di perjalanan menuju sekolah, Dee memasang headset di telinganya dan mendengarkan musik dari ponselnya. Dee tidak menyadari kalau ada seseorang yang berjalan di belakangnya sambil menuntun sepeda motornya. Hendrick sengaja mengikuti Dee dari belakang dan sengaja dia menuntun motornya karena dia yakin Dee tidak akan mau jika diajak berangkat bersama, entak kenapa Hendrick merasa Dee mengindarinya dari semalam. Hatinya sakit, kacau, gelisah dan takut. Dia tak ingin dijauhi Dee, itu sebabnya Hendrick tidak mau menyatakan perasaannya, dia hanya tak ingin Dee menjauhinya. Tak berapa lama mereka tiba di gerbang sekolah, Hendrick berhenti sejenak membiarkan Dee masuk dulu, dia tidak mau Dee tahu kalau dia berjalan dibelakang Dee sejak dari rumah Dee tadi. Dilihatnya Dee berhenti di depan pintu aula, menarik nafas kemudian mengepalkan kedua tangannya sambil berteriak "YOSH!!! BE STRONG!!" Lalu dengan senyuman manisnya dia bergegas masuk ke dalam sekolah. Hendrick tersenyum melihat tingkah Dee. Syukurlah dia kembali ceria lagi, batin Hendrick yang segera menyalakan motornya dan menaikinya menuju tempat parkir. Sementara itu Dee melangkahkan kakinya menuju kelas 2.3 kelas di mana Lucky belajar. "Halo, bisa ketemu kak Kiki?" tanya Dee sambil melongokkan kepalanya ke dalam kelas. "Eh, Diane... kak Kiki siapa?" tanya Dani sang ketua kelas. "Ah... Kak Lucky maksudku Dan, dia sepupuku, baru pindah katanya masuk kelas ini?" jawab Dee. "Woalah... Lucky itu sepupumu toh? Sek, dia tadi lagi dipanggil ke ruang guru... Nah itu dia!" sahut Dani. "Luck, dicari Diane... kamu sepupunya toh? Kok ndak bilang? Bisa nih bantuin aku pedekate ke Diane, selama ini si Tony selalu jadi penghalang kalau aku mau dekatin Diane, hahahaha.... " gurau Dani. "Ogah punya sepupu ipar model kaya kamu Dan" gerutu Lucky sambil menghampiri Dee lalu merangkulnya dan mencium kening Dee, hal ini sontak membuat beberapa siswi histeris dan Dee malu bukan kepalang, "Kak Kiki, ini di Jogja, biarpun kita sepupuan cium-cium di depan umum itu ga sopan" gerutu Dee. "Iya Luck, Dee kan jadi ternoda!" timpal Dani berkaca-kaca... "Ternoda gundulmu Dan" kekeh Lucky, "Sana minggir, gangguin aja lu" sambung Lucky seraya mendorong Dani pelan. "Halah, iyo iyo... Diane, besok malam kencan ya, malam minggu ntar aku jemput." seru Dani sambil mengedipkan sebelah matanya. "Cari mati ni anak!" geram Luky sambil melempar penghapus papan tulis ke arah Dani, tapi meleset dan disambut gelak tawa seisi kelas. "Udah kak, ga usah digagas tuh si Dani, dia memang gitu dari dulu, Dee mah udah kebal sama dia." ucap Dee sambil menyerahkan 1 buah paper bag ke tangan Lucky. "Apa ini?" tanya Lucky. "Burrito, pakai guacamole, salsa dan ayam suwir kesukaan kak Kiki" jawab Dee tersenyum lebar. "Aih ya ampuuuun... kesayanganku ini masih ingat aja apa kesukaanku!" seru Lucky seraya memeluk gemas Dee, sontak kelas 2.3 dan tetangga kelas 2.2 pun heboh. "Kaaaak, nanti ibu ngamuk kalau tau, aku ogah denger pidato kenegaraan." omel Dee sambil mendorong Lucky. "Biar aja, sudah lama nih ga dengar pidato kenegaraannya Tante Tuti" gelak Lucky. "Uwis ah, kak Kiki nyebelin, aku ke kelas dulu" ucap Dee. "Hmmm... itu 5 lagi apa? Sama? Buat siapa?" tanya Lucky penuh selidik. "Whuidih.... KEPO!" jawab Dee sambil tertawa dan berlalu meninggalkan Lucky yang hanya bisa geleng-geleng kepala... Dasar mbul imut, gumammya... walau Dee ga gembul lagi sih, hehehehehe... Dari kelas 2.3 Dee berjalan menuju kelas 2.5 tempat Yetnu dan Freddy berada. Kebetulan mereka berdua ada di teras kelas, buru-buru Dee memanggil mereka, "Nunu... Fred..." "Eh, ada apa Dee? Kok tumben?" tanya Freddy. "Ga apa-apa kok... Nih, seorang satu" jawab Dee sambil menyerahkan paper bag seorang satu ke mereka. "Burrito?" tanya Yetnu yang hafal aroma burrito buatan Dee. "He.eh! Dimakan ya" jawab Dee sumringah. "Beli di mana? Kok ada yang jual burrito pagi-pagi?" tanya Freddy. "Dee bikin sendiri, dodol" jawab Yetnu. "He.eh" sahut Dee tersenyum lebar. "HAH??? YAKIN??? Edible ga nih?" tanya Freddy kaget. "Ga mau ya udah sini!!" seru Dee kesal, tangannya hendak merebut kembali paper bag di tangan Freddy tapi Freddy buru-buru menghindar. "Eits, siapa bilang ga mau, jelas mau dong, walau rasanya ga enak kalau princess ku yang bikin pasti rasanya bakal enak banget karena dibuat pakai bumbu cinta" sahut Freddy sambil melempar flying kiss ke arah Dee. "Bleergh.... Jijay Fred" seru Dee sambil bergidik geli, sedangkan Yetnu memasang muka eneg dan berpura-pura muntah. "Dah ah, aku ke kelas dulu, kita ketemu nanti di kantin setelah jumatan ya" pamit Dee. "Iya, Tony udah nungguin tuh di kelas, katanya kamu ga bareng tadi, kalau ada apa-apa cerita Dee, jangan dipendam, ada aku, Tony dan Lucky juga sudah balik kan?" ucap Yetnu. "Aku ga apa-apa kok, Nunu ga usah khawatir" sahut Dee. "Emang kamu kenapa Dee?" tanya Freddy khawatir. "PMS Fred, hehehehe... dah ya, ketemu nanti" pamit Dee buru-buru meninggalkan mereka, dia ga mau ditanya-tanya. Sesampainya di kelas Dee menarik nafas dalam-dalam, dengan berat dia melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, dia enggan bertemu Hendrick, semakin dia bertemu Hendrick hatinya semakin sakit karena tertolak sebelum menyatakan perasaan. DEG! Baru satu langkah Dee memasuki kelas dia sudah disambut oleh tatapan Hendrick, buru-buru dia memalingkan muka dan mencari keberadaan Tony yang sama sekali tidak dia lihat di dalam kelas. Dee melangkah gontai ke arah bangkunya. "Tony dipanggil pak Danang" ucap Hendrick seolah tahu apa yang ada di pikiran Dee. "Oh..." jawab Dee. Dia meletakkan 1 paper bag di atas meja Tony, kemudian mengambil 1 paper bag lagi dan diserahkan ke Hendrick. "Buat makan siang nanti" ucap Dee sambil menunduk. "Terima kasih" sahut Hendrick. "Dee..." panggil Hendrick sambil meraih tangan Dee dan menggenggamnya erat. "Hend... Lepas..." panik Dee. "Jangan menghindariku, jangan acuh tak acuh ke aku... please" pinta Hendrick. "A-aku enggak menghindari kamu kok" sahut Dee tanpa berani menatap Hendrick, jantungnya terasa melorot ke perut, kakinya bergetar dan wajahnya memucat. "Tatap aku seperti biasa Dee, jangan memalingkan muka jika bertemu denganku" pinta Hendrick lagi. "Maaf, mas Tony bilang ada seseorang yang kau suka, jadi aku ga mau menimbulkan kesalahpahaman antara aku, kamu dan cewek yang kamu suka Hend... Tolong lepasin tanganku" Dee menarik kasar tangannya, lalu buru-buru pergi meninggalkan Hendrick. Setelah tangan Dee terlepas dari genggamannya, Hendrick merasa kosong dan hampa, perlahan rahangnya mengeras, "Sialan kau Ton..." gumamnya. Dee buru-buru berlari menuju toilet sekolah, dia berpapasan dengan Tony, "Dee... kenapa?" tanya Tony menghentikan langkah Dee. "Ga kenapa-kenapa kok mas" jawab Dee, tapi Tony melihat mata Dee berkaca-kaca. "Hendrick?" tanya Tony lembut yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Dee. "Maaf, aku semalam bercanda saja, cuma mau goda kamu aja kok. Ga usah sedih, Hendrick masih free kok" jelas Tony. "Free atau enggak, antara kami ngga akan mungkin mas, lebih baik aku mengubur perasaanku daripada merusak hubungan persahabatan kita." sahut Dee, "Aku ga apa-apa kok, nanti juga biasa lagi" sambung Dee sambil tersenyum. "Dee... sebetulnya Hendrick itu..." Belum lagi Tony menyelesaikan kalimatnya Dee menginterupsi, "Sudahlah mas, aku mau cuci muka dulu" ucap Dee. "Aku tunggu di sini" sahut Tony dibalas anggukan oleh Dee. Dee menghilang di balik pintu toilet, dibasuhnya wajahnya lalu dikeringkannya menggunakan sapu tangan biru muda buatannya. Setelah itu Dee bergegas keluar toilet dan meraih tangan Tony lalu menggandengnya berjalan menuju kelas. "Jangan gandeng-gandeng aku Dee, aku nanti bisa dibunuh cowok cemburuan yang suka sama kamu lho" gurau Tony. "Mana ada cowok yang naksir cewek kaya aku mas, ahahahaha... ojok ngece lah mas" balas Dee sambil tergelak. "Makanya kamu tuh penampilan kaya cewek dikit bisa ga sih, biarpun bisa masak tapi kan yang tau cuma orang-orang terdekatmu aja. Bedakan dikit kek, pake lip gloss kek, seragam juga yang agak perempuan gitu. Kamu tuh sudah ga pernah dandan, pakai baju kedodoran terus, cuma kalau di rumah aja kamu kelihatan cewek sampai Hendrick ga berkedip lihat kamu." ucap Tony serius. "Halah... Kabul kamu tuh mas" gerutu Dee. "Kabul dari mana?" tanya Tony bingung. "Kabul alias kang kibul, wakakakakak!" gelak Dee. "Sialan nih bocah!" seru Tony sambil mendorong lembut bahu Dee. "Hehehehe... sialan tapi baik to?" kekeh Dee. "Iya, paling baik, paling imut dan paling gemesin" sahut Tony sambil mencubit pipi Dee sesaat ketika mereka memasuki kelas. Hendrick melihatnya dengan tajam, hatinya panas, cemburu. Dee menghindarinya tapi malah semakin akrab dengan Tony, ditambah adanya Lucky yang over possessive terhadap Dee. HAH.... tapi dia juga ga bisa terang-terangan menyatakan perasaannya, ada sesuatu yang besar yang dia pertaruhkan. Persahabatan. Kalau perasaannya Dee terima, pasti hubungannya dan Freddy akan renggang, dan kalau Dee ga menerima perasaannya bukan tidak mungkin kalau Dee bakal menghindar. Dilema. Tony melihat kegalauan di wajah Hendrick, lalu ditatapnya Dee yang cemberut sambil mengusap pipinya bekas dicubit Tony. "Dee... minta maaf ke Hendrick!" pinta Tony. Dee menatap Tony lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hendrick. "Hmmm" gumam Dee. Dee pun menghampiri Hendrick dan mengulurkan tangannya. "Hend... Maaf... Sudah salah paham" ucap Dee lirih sambil menatap mata Hendrick. Hendrick menatap Dee tak percaya. "Dee..." gumam Hendrick seraya meraih tangan Dee menggengganya erat, beberapa saat kemudian, Hendrick yang tak dapat mengendalikan diri, menarik tangan Dee sehingga tubuh Dee pun jatuh ke pelukannya. Hendrick mendekap erat tubuh Dee menghirup aromanya dalam-dalam. Dee yang terkejut tubuhnya menegang, gugup dan takut kalau-kalau jantungnya meledak. Teman-teman sekelas mereka gaduh dan bersiap mengambil ponsel untuk diam-diam mengambil foto momen ini tetapi begitu melihat Tony yang menatap mereka dengan tatapan membunuh mereka pun buru-buru menyimpan kembali ponsel mereka. Tony memijat keningnya, kesal dengan perbuatan Hendrick. "H-Hend..." ucap Dee "Dee... jangan menghindariku... please..." ucap Hendrick memohon pada Dee. "I-iya... Lepas Hend..." sahut Dee. "Berjanjilah Dee..." bisik Hendrick. "Ja-janji Hend... Aku janji Hend" jawab Dee. "Terima kasih Dee" sahut Hendrick sambil mengangkat wajahnya dari bahu Dee dan tepat saat Hendrick akan lebih kehilangan kendali ingin mencium pipi Dee, Tony buru-buru menarik kerah baju Hendrick. "WHOOPS.... jangan nglunjak Hend, bulik bisa ngamuk nanti!" seru Tony menarik lepas pelukan Hendrick. Seperti disengat listrik, Hendrick tersadar, "Maaf Dee, aku... aku... ma-maaf...." Hendrick panik, takut kalau Dee bakal marah lagi. "Ngga apa-apa... kita kan kawan" ucap Dee lirih, beruntung wajahnya tertutup rambutnya yang tergerai, sehingga Hendrick tak akan melihat kalau wajahnya merah seperti kepiting rebus, jantungnya berdebar kencang, kakinya gemetar. Tony yang melihat kondisi Dee , tersenyum geli, segitu kacaunya perasaanmu setelah dipeluk pujaan hati Dee... imut juga kamu, hehehehehe.... "Duduk!" Tony meraih bahu Dee dan membantunya duduk di bangkunya. Hendrick yang panik buru-buru mengambil botol airnya dan memberikannya kepada Dee, "Minum Dee... maaf sudah ngagetin kamu, jangan marah ya Dee!" bujuk Hendrick. "I-iya Hend..." jawab Dee. "Minggir, biarin Dee tenang dulu. Tumben kamu jadi ga tau adat gitu Rick?" sindir Tony. "Aku cuma takut Dee menjauhiku" jawab Hendrick gusar. "Ga akan kok Hend" sahut Dee sambil tersenyum. "Dee.... Terima kasih" ucap Hendrick. Perasaannya lega sekarang. "Rick ikut aku... Dee, kamu di sini dulu ya" pinta Tony. "Iya mas" sahut Dee menurut. Hendrick berjalan mengikuti Tony keluar kelas. "Ada apa Ton?" tanya Hendrick. "Bro, aku ga melarang kamu buat suka sama Dee, tapi tolong kendalikan diri. Dee itu sudah seperti adikku, bulik Tuti dan om Edi juga sudah percaya 100% kalau aku bisa jaga Dee baik-baik dari cowok-cowok ga jelas macam Dani, Edwin dan lainnya. Bulik dan om juga percaya 100% ke kamu dan Freddy, kalau kalian juga bisa jaga Dee baik-baik. Tetapi tadi apaan kamu itu, berbuat ga senonoh, di dalam kelas di hadapan teman-teman, kalau bulik dan om tahu bukan ga mungkin mereka melarang Dee berteman lagi denganmu. So bro.... please... kamu tahukan maksudku?" Tony menepuk bahu Hendrick. "Sorry Ton... aku terlalu takut tadi, sejak semalam Dee menghindariku, aku takut dia menjauh, aku takut..." gumam Hendrick terpotong oleh Tony. "Aku tahu Rick, tapi Dee belum tahu gimana perasaanmu ke dia, gimana perasaan Freddy ke dia. Kalian berdua pun ga tahu gimana perasaan Dee kan? Sebetulnya aku tahu gimana perasaan Dee, tapi karena Dee ga bilang apa-apa jadi aku ga ada hak buat mengungkapnya." potong Tony. "Jadi... Dee suka sama seseorang?" tanya Hendrick lemas. "Hmmm" jawab Tony. "Siapa Ton?" tanya Hendrick lagi. "Haish, tanya Dee lah... Ga mungkin to aku yang bilang, privasi dia itu." jawab Tony, "Sabar, nanti juga tahu." sambungnya. "Dah tu, ga usah dipikir, masuk... 5 menit lagi bel" ajak Tony. Sementara itu di dalam kelas Dee yang jantungnya masih berdebar hanya duduk sambil memeluk botol minum Hendrick. Masih terasa di tubuhnya pelukan Hendrick dan hembusan nafas Hendrick di lehernya. Ya Allah... kuat iman kuat iman... BRAAKK!!! Dee tersentak kaget oleh suara gebrakan di mejanya. "Heh, Diane... Anak guru ga tau norma, dari Tony sekarang Hendrick. Pakai apa kamu sampai 2 cowok bintang kelas kita kepincut sama kamu? Untung banyak kamu hari ini dipeluk Hendrick! Herannya kenapa Tony ga marah? Dia rela kamu duain dia sama sahabatnya?" terocos Intan... Yah, siapa lagi yang ga bosen cari gara-gara sama Dee. "Kamu ngomong apa sih Tan?" tanya Dee bingung. "Pura-pura bego lagi, dasar perempuan penggoda!" bentak Intan yang tiba-tiba melayangkan tangannya ke pipi Dee. Tapi belum sempat tangan itu menyentuh pipi Dee, dengan cepat Dee menangkap tangan Intan dan mencengkeramnya kuat-kuat sampai Intan meringis kesakitan. "Aah... Sialan... Sakit tau, lepasin!!!" pekik Intan kesakitan. "Sakit??? Segini aja sakit mau coba pukul aku? Hah, jangan mimpi!" sahut Dee dingin. "Dengar ya Tan, selama ini aku cukup sabar sama kamu, mau kamu katain aku gimana-gimana aku tetap diam, tapi sekarang aku sudah bosan, eneg sama kamu. So what kalau aku akrab sama mas Tony, toh kami saling kenal sejak kami masih balita, ibuku dan ibu mas Tony juga sudah saling kenal semasa kuliah dulu, jadi apa salahnya kalau kami sangat dekat dan bisa dibilang hubungan kami lebih seperti hubungan saudara? Lalu Hendrick, why can't I get close to him? Hendrick itu my bestie seperti halnya Freddy. Jangan bilang kamu juga mempertanyakan hubunganku sama Yetnu yang jelas-jelas dia adalah sepupu kandung ku.Atau kamu juga bakal nanyain apa hubunganku dengan kak Lucky yang baru pindah beberapa hari lalu? For your information aja ya, kak Lucky itu sepupuku juga, anak dari kakaknya bapak. Kamu hanya iri kan, kalau semua sahabatku adalah cowok-cowok good looking?" sambung Dee panjang lebar. "Yes, cewek buruk kaya kamu, ga pernah dandan, sense of fashionnya jelek, tetapi bisa-bisanya cowok-cowok suka sama kamu! Apa alasan mereka suka denganmu tapi sedikitpun mereka ga mau melihatku yang lebih segalanya daripada kamu?" bentak Intan histeris. "You are so fake" sahut seseorang bersuara dingin dari arah pintu kelas, Intan segera menoleh ke sumber suara itu "T-Tony... gimana bisa kamu bilang gitu ke aku Ton?" tanya Intan dengan suara bergetar "Get the mirror and look at yourself on it, you'll know exactly what I mean" jawab Tony sambil melangkah ke mejanya laly segera duduk di bangkunya. "Teganya kamu Ton..." ucap Intan sambil terisak. "So?" Tony memutar bola matanya. Hendrick menghapiri Dee, lalu diraihnya tangan Dee yang mencengkeram pergelangan tangan Intan. "Lepasin Dee, kotor!" ucap Hendrick seraya mengulurkan tissue untuk melap tangan Dee. "Hendrick, aku bukan kotoran!!!" bentak Intan. "I know, but you are dirty" balas Hendrick kalem. Intan semakin terisak, dadanya naik turun menahan malu dan marah, kemudian dia berbalik berjalan menuju bangkunya. Teman-teman sekelas yang memang tidak pernah suka dengan Intan tapi takut dengannya karena Intan adalah anak konglomerat di kota ini, mulai berbisik-bisik dan tersenyum mengejek, membuat Intan semakin geram dan dipermalukan. "Awas kau Diane, tunggu pembalasanku" batin Intan. Chapter 5 ~end~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN