Sesampai di rumah, Dee segera meletakkan tasnya dan bergegas menjemput kedua adiknya dari rumah mBah Darmo, tetangga yang dipercaya orang tuanya untuk menjaga adik-adiknya. Sementara Tony bergegas pulang untuk mandi dan berganti pakaian sebelum balik lagi ke rumah Dee untuk menemaninya.
"Mau ke rumah Diane ya Ton?" tanya bu Afi, ibu Tony.
"Iya bu, boleh?" sahut Tony
"Boleh, tapi langsung pulang kalau bu Tuti sudah balik ya" jawab bu Afi.
"Iya bu, assalamu'alaikum" pamit Tony
"Wa'alaikumsalam" balas ibunya.
Tony pun bergegas mengendarai motornya, tapi sebelum menuju rumah Dee, dia mampir ke mini market buat beli jajan untuk adik-adik Dee.
Di rumah Dee setelah menjemput adik-adiknya, Dee meminta mereka bermain berdua di ruang keluarga sementara dirinya mau memasak.
Dikeluarkannya cumi-cumi, tempe, wortel, bunga kol, sawi, kacang polong, sosis, bakso, dan lain-lain.
Diambilnya beras dari tempat penyimpanan dan mulai mencucinya, lalu memasaknya menggunakan rice cooker.
Setelah itu tangannya mulai sibuk memotong semua bahan yang akan dia masak. Rencananya Dee akan membuat callamary fritty, tempe crispy, capcay sayur, dan sambal terasi.
Dengan cekatan Dee bergerak lincah, memotong, membumbui, dan lainnya. Tepat saat Dee selesai mempersiapkan semua bahan dan akan mulai menggoreng tempe, terdengar ketukan dan salam dari pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum.... Dee" suara salam yang merdu membuat jantung Dee berdebar kencang.
"Astaga Ya Allah... mas Tony belum sampai sini tapi kenapa Hendrick sudah sampai... Bikin gugup saja" gumam Dee. Buru-buru dia mencuci tangannya dan bergegas membukakan pintu untuk Hendrick.
"Wa'alaikumsalam, Hend... Masuk" Dee membalas salam Hendrick dan mempersilakannya masuk.
Hendrick tidak segera masuk rumah, dia tertegun melihat penampilan Dee yang belum pernah dia lihat sebelumnya, rambut panjangnya dicepol di atas kepala memperlihatkan lehernya yang jenjang, Dee memakai daster bunga-bunga kecil lengan setali yang sangat manis dia pakai, ditambah dengan celemek biru polos yang sangat cocok dengan kulitnya. Cantik... Batin Hendrick. Jantungnya berdegup kencang.
"Ehm... Hend... Masuk" ucap Dee membuyarkan lamunan Hendrick.
"Oh... Ehem... Iya Dee, makasih" sahut Hendrick sambil melangkahkan kaki memasuki rumah Dee.
"Eh ada mas Hendrick, ayo sini main sama Tama dan Destri, mas" sorak Tama kegirangan lalu menarik tangan Hendrick untuk mengikutinya menuju ruang keluarga.
"Iya, sabar... mas main sama kalian" ucap Hendrick lembut.
Dee tersenyum melihatnya, "Kalian main ya, aku lanjut masak dulu" ucap Dee, lantas dia bergegas kembali ke dapur dan menyalakan kompor dan memanaskan minyak untuk menggoreng tempe dan cumi.
Hendrick menatap Dee secara intens, "Calon istri idaman..." batin Hendrick sambil tersenyum senang. Tama yang melihat itu langsung bertanya, "Mas Hendrick kok senyum-senyum lihatin mba Dee? Mas Hendrick suka sama mba Dee ya?" tanya Tama penasaran.
"Ssstttt.... Rahasia" jawab Hendrick sambil mengusap kepala Tama,"Nah, kita main apa sekarang?" sambungnya.
Tama pun reflek menutup mulutnya menggunakan tangan mungilnya sambil mengangguk cepat.
Di dapur Dee mulai menggoreng tempe dan menumis bumbu untuk capcay sayurnya. Kedua tangannya dengan lincah memainkan spatula dan menggoyang wajan besar. Hendrick menatap takjub dari ruang keluarga, sampai dia tidak sadar kalau Tony datang dan sudah duduk di sampingnya.
"Terpesona?" tanya Tony mengejutkan Hendrick.
"Sialan kau Ton!!" umpat Hendrick sambil melempar tentara mainan ke arah Tony namun Tony berhasil mengelak dan tertawa terbahak-bahak.
"Tama, Destri... sini, mas Tony bawain kalian coklat dan es krim kesukaan kalian, tapi simpan dulu di kulkas ya, dimakannya setelah makan malam nanti." ucap Tony seraya mengulurkan coklat dan es krim yang dibawanya kepada Tama dan Destri.
"Terima kasih mas Tony" sorak Tama kegirangan sambil memeluk Tony disusul Destri yang dengan bahasa cadelnya berterima kasih pada Tony sambil memeluk erat, "Mamaci ma Nyonyi" ucapnya lucu.
"Hehehehe... sama-sama, yuk simpan dulu di kulkas" ucap Tony seraya menggendong Destri lalu melangkah ke arah dapur. Hendrick mendengus kesal, "Sialan si Tony, ga bilang-bilang kalau adik-adik suka coklat dan es krim, tau gitu kan aku beliin juga tadi" gerutunya dalam hati.
Buru-buru Hendrick berdiri dan menyusul mereka bertiga ke dapur.
"Mba Dee, ma Nyonyi tasi etlim adik!" seru Destri dari gendongan Tony.
"Lho, mas Tony sudah datang? Adik bilang apa ke mas Tony?" sahut Dee.
"Tudah biang mamaci kok mba" jawab Destri.
"Iya, anak pinter" Tony mengusap kepala Destri, "Kasih mba Dee dulu coklat sama es krimnya, biar disimpan, makan nanti setelah makan malam ya" sambung Tony sambil menyerahkan coklat dan es krim Destri disusul Tama yang juga menyerahkan coklat dan es krimnya untuk disimpan.
Dee menerimanya lalu meletakkannya di dalam kulkas.
"Mas Ton, Hend... sebentar lagi maghrib, mau sholat di rumah atau di masjid?" tanya Dee
"Kami sholat di masjid saja Dee", jawab Hendrick, "Tama dan Destri ikut?" tanya Hendrick lembut.
"IKUUUUT!!" jawab Tama dan Destri kompak.
"Kalau gitu mba siapin sarung dan baju koko kalian dulu ya" ucap Dee, buru-buru mematikan kompor, mencuci tangan dan bergegas ke kamar kedua adiknya untuk menyiapkan perlengkapan sholat adik-adiknya.
"Ambil air wudlu dulu dik!" seru Dee, dan kedua adiknya pun berlari kecil menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
"Masaknya sudah selesai?" tanya Hendrick.
"Sedikit lagi" jawab Dee sambil tersenyum.
"Perutmu sudah ga sakit lagi?" tanya Hendrick lagi.
"Alhamdulillah sudah mendingan kok" jawab Dee sambil menunduk.
"Istarahat saja dulu, lanjut masak lepas maghrib" ucap Hendrick seraya mengulurkan tissue melihat banyak keringat di dahi Dee.
"Oh... makasih.... tinggal sedikit lagi kok, lepas kalian berangkat ke masjid aku lanjut lagi, cuma tinggal 1 kali goreng dan uleg sambal saja kok" sahut Dee sambil mengusap keringatnya, "perutku sudah ga sakit kok" sambungnya lirih.
"OI!!" seru Tony mengagetkan mereka berdua, "kalian ga cuma berdua dodol, masih ada aku di sini" sambungnya sambil nyengir kuda.
"Dee tau kok, dasar paknya dodol" dengus Dee dibalas juluran lidah oleh Tony.
"Mbaaa, adik sudah wudlu" seru Tama tiba-tiba.
"Nah sekarang ganti baju trus langsung berangkat sama mas Tony dan mas Hendrick ya" ucap Dee yang dibalas anggukan oleh adik-adiknya.
Setelah Tama dan Destri berganti baju, mereka berempat pun berjalan ke masjid yang hanya berjarak 200 meter dari rumah Dee, sedangkan Dee buru-buru menyelesaikan masakannya karena ingin segera mandi, dia merasa tidak nyaman kalau dia mandi tetapi ada Hendrick di rumah ini.
Setelah semua masakannya siap, Dee menatanya di meja makan lalu menutupnya dengan tudung saji. Lalu Dee pun bergegas mandi dan segera mengganti baju.
Setelah Tony, Hendrick dan adik-adiknya pulang, Dee segera mengajak mereka untuk makan malam.
"Makan yuk, semua sudah siap" ajak Dee sembari menggandeng tangan Destri.
"Mam papa mba?" tanya Destri
"Capcay sama cumi, mau?" jawab Dee.
"MAUUUUUU!!!" seru Tama dan Destri yang langsung berlari menuju meja makan dan duduk di kursi kebesaran mereka.
"Duduk baik-baik dan yang rapi ya, mba ambilkan nasi dan lauknya dulu" ucap Dee lembut, lalu dia menoleh ke arah Tony dan Hendrick, "Makan malam dulu yuk!" ajaknya
"Okay Dee" sahut Tony sambil berjalan menuju meja makan dan segera duduk di antara Tama dan Destri.
"Hend?" panggil Dee.
"Hm?" sahut Hendrick.
"Makan dulu yuk" ajak Dee seraya meraih tangan Hendrick, maksudnya mau menggandeng Hendrick ke meja makan tapi sesaat ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Hendrick, jantungnya berdetak kencang tak terkontrol, sehingga Dee buru-buru melepas tangan Hendrick dan bergegas menuju dapur untuk mengambil rice cooker dan meletakkannya di meja makan.
Hendrick memandangi telapak tangannya yang tadi sempat dipegang Dee, ada sedikit rasa kecewa tapi dia hanya bisa melengos saja, lalu dengan langkah perlahan dia menuju meja makan dan duduk di samping Dee.
Dengan cekatan Dee mengambilkan nasi dan lauk untuk kedua adiknya, lalu meraih piring Tony dan mengambilkan 2 centong nasi untuk Tony. Hendrick melirik Dee, berharap dia pun diperlakukan sama dengan Tony.
"Hend, nasinya banyak atau sedikit?" tanya Dee membuyarkan lamunan Hendrick.
"Biasa saja Dee, kalau kurang nanti aku nambah." jawab Hendrick sambil tersenyum.
"Oke", sahut Dee mengambilkan 1,5 centong nasi dan meletakkannya di piring Hendrick. Sementara itu Tony sudah mulai makan dengan lahapnya.
"Mau lauk apa Hend?" tanya Dee lagi.
"Aku ambil sendiri saja, kamu makanlah" jawab Hendrick seraya meraih mangkuk capcay dan mengambil 2 sendok sayur dan diletakkan di piringnya, kemudian dia menyendok lagi capcay itu lalu meletakkannya di piring Dee. "Makan!" ucap Hendrick lembut, Dee hanya melongo diperlakukan seperti itu.
"Ehem... Oi oi... dah kaya misua sitri kalian ini, jadian aja deh!" seloroh Tony yang dibalas pelototan tajam Hendrick. Sedangkan Dee buru-buru menunduk dan menyantap makanan yang ada di depannya sembari bergumam, " Apaan sih mas, Hendrick kan tamu, wajarlah kalau Dee ngladeni dia, kalau mas Tony kan ini rumah kedua mas Tony, jadi ga perlu diladeni" gumam Dee sewot.
"Yo wes yo... Guyon aja tah Dee, ga perlu sewot, wkwkwkwkwkwk...." gelak Tony.
"Diam kalau makan, ntar keselek" seru Hendrick menatap tajam ke arah Tony.
"Syaps bos!" jawab Tony.
Dan mereka berlima pun makan dengan tenang dan nikmat.
"Dik, habis Isya langsung bobo lho ya, ga usah nunggu bapak sama ibu, mereka pulang larut nanti" ucap Dre seraya membersihkan meja makan setelah mereka semua selesai
makan.
"Iya mba, Tama sudah ngantuk" jawab Tama sembari menguap, sementara Destri sudah terkantuk-kantuk di pangkuan Tony.
"Dee, Destri aku taruh kamar ya, biar tidur" ucao Tony, "Tama ambil air wudlu sana, sebentar lagi adzan, kita sholat jamaah di rumah aja" sambung Tony.
"Iya mas" Tama pun segera turun dari kursi dan berjalan ke tempat wudlu.
"Hend, tinggalin aja, biar aku cuci, kamu siap-siap sholat aja" ucap Dee saay melihat Hendrick membawa tumpukan piring kotor ke tempat cuci piring.
"Hmmm" sahut Hendrick sambil meletakkan piring kotor di tempat cuci.
Dee berjalan, menghampiri tempat cuci piring, lalu memakai celemek tahan air utuk mencuci piring. Tetapi sesaat tangannya akan menyalakan keran air, Hendrick menahannya.
"Duduk, istirahat, kalau cuma cuci piring aku juga bisa. Jangan kecapaian, ingat kamu baru PMS!" ucap Hendrick lembut.
Hal ini sukses bikin Dee berdebar dan gemetar, Ya Allah.... jangan sampai Hendrick tau kalau aku berbunga-bunga.... batin Dee bersorak kegirangan.
"Aku sudah ga apa-apa kok Hend, biar aku saja yang cuci, sebentar lagi adzan, nan..." balas Dee tapi terputus oleh ucapan Hendrick, "Berdua?"
"Hah??? Oh... ok, aku yang sabun kamu yang bilas?" tanya Dee.
"Yes!" jawab Hendrick singkat.
Mereka berdua pun mulai mencuci piring dengan sigap, Tony yang sudah sedari tadi di pintu dapur hanya memandangi mereka dari belakang, "Hmmmm... Tinggal nyatakan kalau sama-sama suka aja kok ya ga kesampaian... Tapi kasihan Freddy juga kalau sampain curut 2 ini jadian" batin Tony sambil memijat pelipisnya. Seandainya kejadian Hendrick dan Dee pacaran pasti akan ada perpecahan dalam hubungan persahabatan mereka, karena itulah dia memahami mengapa Dee dan Hendrick memilih diam dan menjaga perasaan masing-masing agar tidak merusak hubungan persahabatan mereka.
Haduuuuh.... Pasrah aja lah, mending wudlu trus sholat Isya, ngadem pikiran, batin Tony.
Sementara itu di dapur, Hendrick dan Dee masih sibuk mencuci piring. Lalu sayup-sayup terdengar suata adzan Isya.
"Hend, sudah adzan, tinggal saja, aku yang lanjutin, toh cuma tinggal bilas saja" ucap Dee.
"Iya, maaf ya, aku tinggal" Hendrick lalu mencuci tangannya yang ada sedikit busa.
"Ga apa, sudah biasa juga kok kerjaan gini, memang tugasku tiap selesai makan" sahut Dee seraya tersenyum manis. Hendrick melap kering tangannya, lalu "Hmmmmm.... memang calon istri idaman" ucapnya sambil mengusap kepala Dee dengan lembut.
"HAH?" seru Dee kaget setengah hidup.... eh, setengah mati....
"Aku sholat dulu, nanti kalau sudah selesai kita kerjain tugas Fisika sama-sama" sahut Hendrick sambil berlalu meninggalkan Dee yang masih terbengong-bengong di dapur sendirian.
"He... Hendrick kenapa sih?" gumam Dee heran, "Ya Allah.... jangan biarkan Hendrick bersikap lembut padaku, aku takut semakin dalam perasaanku padanya, aku ga mau hubungan kami berlima rusak hanya karena perasaanku yang tak berbalas" batin Dee. Dia memang tidak tahu kalau Hendrick juga menyukainya, karena Dee adalah tipe cewek tomboy yang ga peka.
Buru-buru Dee menyelesaikan tugas cuci piringnya. Lalu dengan cekatan dia menyiapkan 3 cangkir teh panas untuk teman mereka mengerjakan tugas fisika yang lumayan banyak. Tak lupa dia mengeluarkan brownies dan stick singkong yang sempat dia buat tadi.
Setelah semua siap, Dee membawa nampan berisi teh dan kudapan tersebut ke ruang tamu, karena di sana lah mereka akan mengerjakan tugas mereka.
Di ruang tamu Tony dan Hendrick sudah duduk lesehan, di hadapan mereka berdua sudah bertebaran buku tulis dan textbook fisika.
Dee meletakkan nampan berisi teh dan kudapan di meja kecil di samping sofa.
"Whuih.... Brownies..." seru Tony yang langsung mengambil 1 potong brownis dan dalam hitungan detik brownies itu sudah ada di dalam perutnya.
"Mas, mbok ya pelan-pelan makannya, banyak ini lho, di kulkas juga masih ada dua loyang belum kupotong, keselek nanti kalau buru-buru!" seru Dee.
"Wah, bawa balik ntar ya Dee?" pinta Tony seraya mengambil lagi 1 potong brownies, tapi sekarang dia memakannya dengan perlahan, menikmati.
"Iya, emang bikin lebih buat nanti mas Tony dan Hendrick bawa balik" sahut Dee sambil mengulurkan piring brownies ke Hendrick, "Dicoba Hend, walau rasanya ga seenak buatan bakery, tapi masih edible kok, hehehe" gurau Dee.
"Apanya... Brownies Dee itu paling enak se Jogja, se Indonesia, percaya deh, coba en makan, nanti pasti ketagihan" lebay Tony dengan mulut masih sibuk mengunyah.
"Cih, penjilat" decih Dee sambil menjulurkan lidahnya ke Tony.
"Biarin" balas Tony yang juga menjulurkan lidahnya yang penuh remahan brownies.
"Yaiks... Njijiki mas!!!" pekik Dee geli.
"Sini!" seru Hendrick tiba-tiba menyambar piring brownies yang ada di tangan Dee, karena kesal melihat Dee bercanda dengan Tony tanpa melibatkan dia, dan WHAT??? Tony tau kalau Dee bisa baking, bikin brownies dan Tony sepertinya sudah sering memakannya, tapi kenapa dia baru tau kalau Dee bisa baking? Bisa masak pula dan masakannya enak pol. Sialan nih Tony... gerutu ya dalam hati.
Dee kaget karena tiba-tiba Hendrick merebut piring brownies buatannya, dan meletakkannya di pangkuannya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong.
Dee hanya bisa ternganga, kenapa nih orang, bisanya cool kok tiba-tiba mood banget rebutan brownies???
Tony pun tak kalah heran, dia ternganga sampai potongan brownies yang ada di dalam mulutnya terjatuh, buru-buru dia masukkan lagi ke dalam mulutnya, belum lima menit, batinnya.
Dalam hitungan menit, Hendrick sudah menghabiskan 4 potong brownies, "Beneran enak dan bikin nagih, mana lembut ga seret dan ga terlalu manis, ada rasa pahit coklatnya juga yang bikin nagih." batin Hendrick.
Ketika akan mengambil potongan kelima, Tony juga menjulurkan tangannya untuk mengambil potongan ketiganya, tapi segera ditepis oleh Hendrick.
"Aw, apaan sih Rick? Barbar amat!!" seru Tony.
"Ga boleh, kamu kan sudah sering makan, aku baru sekali ini makan brownies buatan Dee!" ketus Hendrick sambil mengunyah brownies kelimanya.
"Oh mai gwat... Lu jealous cuma perkara aku sering makan brownies bikinan Dee? Duh ni anak Srimulat amat sih, wkwkwkwkwkwkk...." gelak Tony.
"Apaan sih mas, ketawa kenceng banget" omel Dee tidak suka, "Besok aku buatin lagi deh Hend kalau memang suka, ini jangan makan banyak-banyak nanti sakit perutmu, belum ada 1 jam kita makan malam kan" sambung Dee, sambil mengambil piring brownies dari pangkuan Hendrick.
"Bilang aja ingin kue apa, nanti aku buatin kalau aku bisa bikinnya, ya" bujuk Dee sambil tersenyum.
"Hmm...." jawab Hendrick, "Aku suka chiffon cake", gumamnya.
"Eh, ngelunjak nih anak" goda Tony, "Aku suka brownies sama cheese cake, Dee" tambahnya.
"Ga nanya" sahut Dee ketus disambut dengan juluran lidah dari Hendrick yang sukses membuat bulu kuduk Tony berdiri, "yakin kesambet ni anak" batinnya.
"Iya deh, Senin aku bawain Chiffon ya" ucap Dee sambil meletakkan piring brownies di meja, "Yuk cepetan kerjain tugasnya, keburu larut" ajak Dee dan mereka pun langsung saja serius mengerjakan tugas Fisika yang terbilang banyak.
Setelah 3 jam mengerjakan tugas Fisika yang diselingi drama dan sedikit canda tawa di tengah serius berpikir pun akhirnya selesai.
Dee menatap jam dindin yang sudah menunjukkan pukul 10:38 malam.
"Kok ibu sama bapak belum pulang ya, sudah jam segini?" gumam Dee.
"Ditunggu aja, kita temani kok, coba w******p bulik apa om gitu sampai mana" sahut Tony.
"Hmmm..." Dee meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk dikirim ke bu Tuti.
TING!!
Suara notif pesan masuk, Dee segera membuka dan membacanya.
"Yah.... ibu sama bapak kemungkinan sampai rumah dini hari, soalnya ini baru mau jalan pulang" ucap Dee lesu.
Beberapa menit kemudian ponsel Dee berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dilihatnya ID pemanggil, ternyata ibunya, segera Dee mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum ibu, baru mau jalan pulang ya bu?" tanya Dee.
"Wa'alaikumsalam, iya ini nduk, ibu tak ngomong sama mas Tony dulu sebentar" jawab bu Tuti.
"Oh iya bu, nih mas.... Ibu mau ngomong katanya" sahut Dee sambil menyerahkan ponselnya ke Tony.
"Assalamu'alaikum, gimana bulik?" tanya Tony.
"Gini Ton, bulik sama om Edi kemungkinan sampai rumah jam 2-3 pagi, kalau kamu tidur di rumah bulik dulu gimana? Bulik tadi sudah ijin sama ibumu katanya boleh, tolong temani Diane dulu ya" pinta bu Tuti.
"Oh ya ndak papa bulik, nanti Tony sama Hendrick bisa tidur di ruang tamu, bulik sama om hati-hati, ndak usah buru-buru, Dee aman sama Tony sama Hendrick" balas Tony.
"Yo wes, makasih ya Ton" sahut bu Tuti, "wes gek pada tidur aja sana, kamu sama Hendrick tidur di kamar Diane aja biar Diane tidur di kamar bulik" titah bu Tuti.
"Ya bulik, gampang nanti" jawab Tony.
"Ya wes tak tutup yo, Assalamu'alaikum"
"Ya bulik, wa'alaikumsalam" balas Tony.
Setelah mematikan panggilan Tony mengembalikan ponsel Dee.
"Bulik minta kita berdua tidur di sini nemani kamu Dee" ungkap Tony.
"Walah ibu ki, kaya aku masih bocah aja" gerutu Dee.
"Emang masih bocah, bocah bau kencur" ledek Tony.
"Enak aja, bau wangi ya... Nih cium... cium..." seru Dee sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi mengisyaratkan agar Tony mencium keteknya ( candaan mereka receh banget kan, wkwkwkwkw.... namanya juga teman sejak orok ).
Hendrick yang sedari tadi diam saja, dengan cepat meraih tangan Dee dan menurunkannya, "Apaan kamu itu Dee, Tony itu laki-laki, masa kamu suruh cium ketiak kamu?" geram Hendrick.
"Ish, apaan sih Hend, sudah biasa kali kami berdua kaya gitu." sahut Dee kesal.
"Ya tapi kan Tony bukan saudaramu?" balas Hendrick dengan suara meninggi.
"Kata siapa? Walau ga sedarah ga sebapak ga seibu kami udah kaya saudara tau, lagian kami tau batasan kok. Kamu kenapa sih akhir-akhir ini moody banget, bukannya yang lagi PMS itu aku?" terocos Dee non stop karena kesal.
"Sssstttt.... Sudah, sudah... Aku tadi sudah bilang to Rick, kalau aku sama Dee itu lebih ke hubungan kakak sama adik, aku ga ada rasa sama sekali ke Dee tau?!" ucap Tony sabar.
"Maaf!" sahut Hendrick pendek.
"Aku juga minta maaf" balas Dee.
"Kamu ga salah Dee" ucap Hendrick sambil mengusap kepala Dee.
"Ngg... Eh... aku rapihin kamarku dulu ya, kalian nanti tidur di kamarku aja, biar aku tidur di kamar bapak ibu" ucap Dee gugup.
"Ada sesuatu yang ga boleh dilihat?" goda Tony.
"Ngawur, dasar ngeres!" seru Dee sambil bergegas menuju kamarnya.
Hendrick menatap punggung Dee yang menghilang di balik pintu kamar.
"Bro!" panggil Tony sambil merangkul pundak Hendrick.
"Hmm?" gumam Hendrick.
"Sorry ya?" ucap Tony
"Untuk? tanya Hendrick
"Keakrabanku dengan Dee, aku tahu kamu suka Dee sejak awal semester 2 kelas 1 SMU. Kau tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan Dee dan keluarganya, tapi tenang saja, aku sedikitpun ga ada perasaan suka padanya, aku ga pernah melihat Dee sebagai perempuan, dia adikku, kau tahu kan aku anak tunggal. Jadi tenangkan hatimu. Oh iya, kalau ingin bersaing dengan Freddy bersainglah secara sehat, jangan sampai memecah belah hubungan persahabatan kita hanya karena seorang petempuan, ok?" jelas Tony sambil menepuk bahu Hendrick.
"Sorry juga Ton, aku tahu gimana dekatnya hubunganmu dan Dee, aku tahu kalau aku ga seharusnya cemburu. Tapi aku iri, karena walau kita sudah bersahabat sekian lama Dee hanya mau bergantung padamu, manja ke kamu, dan lebih memperhatikan kamu ketimbang kami, bahkan Yetnu yang sepupunya pun tidak seperti itu." sahut Hendrick galau.
"Hm... ga apa, wajar sih... aku sejak kecil sudah sama-sama Dee, sedangkan Yetnu baru pindah ke sini saat sudah kelas 1 SMP, jadi ga bisa dipungkiri kalau kami memang lebih dekat. Tapi kami tahu batasan kok Hend, kalau sudah waktunya, kalau Dee sudah ketemu laki-laki yang bisa gantiin aku menjaganya, jelas aku akan lepas dia, tapi selama belum ada, biarkan aku yang jaga dia. Ok?" balas Tony.
"Kenapa cuma kamu? Kenapa ga kita berdua yang jaga Dee?" gerutu Hendrick.
"Astaga Hendrick.... Iya deh iya, tapi jangan kau lupa si Lucky, dia itu super protective ke Dee, kaya induk ayam yang jagain anak-anaknya, kalau lihat perlakuan Lucky ke Dee, siap-siap aja kamu mati kebakar api cemburu, hahahahahaha..." gelak Tony, terbayang wajah Hendrick saat di klinik sekolah tadi.
"Huh... biar gimanapun dia ga akan bisa pacaran atau menikah sama sepupunya sendiri." gerutu Hendrick.
"Iya deh iya..." sahut Tony sambil geleng- geleng kepala.
"Bantuin Dee di kamar sana, aku mau beresin meja ini, tapi awas kau ya, jangan macam-macam!" seru Tony.
"Lha emang mau ngapain? Kita ini masih SMU dodol, pikiran jangan ngeres-ngeres nape Ton?" sahut Hendrick seraya menoyor kepala Tony.
"Wkwkwkwkwk... kagak ngeres bro, cuma aku ga pengen Dee kamu apa-apain" balas Tony sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
"Ngapain tuh bibir?" tanya Dee yang tiba-tiba muncul.
"Ini si Hendrick, katanya pengen cepet punya pacar biar bisa cium-cium" jawab Tony yang disambut lemparan bantal oleh Hendrick.
"Oh... Ada cewek yang disukai Hendrick?" tanya Dee penasaran, tapi Tony tahu ada kesedihan di suaranya.
"Dee ja...." jawab Hendrick tapi terpotong oleh Tony, "Ada, cantik tuh cewek, Hendrick sudah naksir dia sejak kelas 1, katanya sih mau cepet-cepet nembak tuh cewek" sahut Tony yang sukses membuat Dee kehilangan senyumannya.
"Oh, semoga bisa cepat jadian ya Hend... Mas, Hend kalau mau tidur kamarku sudah siap, selamat malam" ucap Dee datar, dia bergegas merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, lalu dengan sigap mengambil gelas dan piring bekas teh dan kudapan lalu dibawanya ke dapur dan mencucinya dengan cepat. Kemudian dia pun melangkah cepat masuk ke kamar orang tuanya.
"Sialan kau Ton!!!" seru Hendrick memukul lengan Tony.
"Apaan? Aku ga salah, memang kau ada cewek yang kau suka kan sejak kelas 1 dan itu Dee" jawab Tony kesal.
"Ya ga perlu bilang juga ke Dee lah!" geram Hendrick.
"Oh?!" sahut Tony lalu ngeloyor masuk kamar Dee.
"Sialan tuh orang, natural banget masuk kamar Dee kaya kamarnya sendiri!" geram Hendrick, buru-buru dia merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dan bergegas menyusul Tony masuk ke kamar Dee.
DEG DEG DEG.... Setibanya Hendrick di dalam kamar Dee, jantungnya berdegup tak karuan, aroma bunga melati dan peach menyeruak indra penciumannya, wangi khas Dee, wangi yang dia suka. "Ah... Dee!!" gumamnya.
"Ngapain kamu kaku di depan pintu gitu?" tanya Tony yang sudah berbaring di atas kasur sorok yang sudah Dee siapkan, "Kebayang Dee ya?" sambungnya yang hanya dibalas pelototan mata oleh Hendrick.
"Kau tidur di atas, itu kasur yang sering Dee pakai, aku ga mau tidur di situ takut besok pagi aku cuma tinggal nama karena dihabisi teman yang kebakar api cemburu" ucap Tony, "Tapi jangan kau buat m***m tuh kasur, tidur normal aja ga usah bayangin atau mimpi yang aneh-aneh!" sambung Tony yang sukses membuat Hendrick geram lalu dengan sengaja menendang kaki Tony.
Tony hanya tertawa diperlakukan seperti itu, "Buruan tidur, aku tidur duluan" ucap Tony seraya memejamkan mata yang sudah sangat mengantuk.
Hendrick pun merebahkan diri di atas kasur Dee, memeluk gulingnya dan menghirup aromanya dalam-dalam, sungguh ini adalah wangi khas Dee, jantungnya berdebar tak karuan. Matanya memandang ke seluruh penjuru kamar sampai tatapannya berhenti tepat pada beberapa foto yang ada di atas meja nakas.
Foto-foto mereka berlima dengan seragam sekolah semasa hari pertama masuk SMU, lalu ada foto Dee yang dirangkul mesra oleh Tony, foto Dee berdua dengan Freddy dengan pose konyol, foto pose aneh Dee dengan Yetnu dan juga foto Dee dengannya yang terlihat canggung.
Dipandanginya foto Dee yang berpose dengan Tony, lalu ditangkupkannya di atas meja, geram kali lihat Tony akrab betul dengan Dee walau dia tahu seperti apa hubungan mereka berdua tapi tetap saja dia cemburu.
Sekali lagi ditatapnya fotonya dengan Dee, "Selamat malam Dee" gumamnya lembut seraya mengusap foto Dee. Perlahan Hendrick pun memejamkan matanya dan mulai terlelap.
Chapter 4 ~end~