Chapter 3

2808 Kata
Pukul 2:00 bel tanda sekolah berakhir berbunyi, setelah mengucap salam kepada guru, siswa kelas 2.4 yang tidak ada kegiatan ekstra berhamburan keluar, sementara beberapa dari mereka termasuk Dee, Tony dan Hendrick masih dengan santai berada di dalam kelas. Tiba-tiba terdengar ketukan lembut di pintu kelas 2.4. "Dee..." suara lembut yang begitu dikenal Dee memanggil namanya. "Eh ibu, kok belum pulang bu?" tanya Dee... Ya, yang memanggil Dee adalah ibu Tuti, ibunya yang juga salah satu guru di SMU ini. "Iya, ini mau pulang, tapi mampir sini dulu sekalian bilang kalau nanti pulang rumah bakalan kosong, teman bapak yang di semarang ada yang meninggal, jadi bapak ngajak ibu melayat, adik-adik kamu sudah ibu titipkan ke rumah mbah Darmo, jadi kalau pulang nanti tolong dijemput ya, baik-baik di rumah, kalau takut kamu ke rumah mas Tony aja, Ibu sudah bilang ke bude tadi, soalnya ibu bakal pulang malam" jelas bu Tuti. "Oh ya bu, ndak papa, nanti Dee di rumah aja, berani kok kan sama dik Tama dan dik Destri, ibu sama bapak tenang aja", sahut Dee meyakinkan ibunya. "Tenang saja bulik, nanti Tony bisa temani Dee sampai bulik pulang... aduh..." Tony menimpali tetapi malah dapat jeweran dari bu Tuti. "Ini di sekolah Ton, jangan panggil bulik!" sungut bu Tuti. "Hehehe.... maaf bulik, eh... bu Tuti... Nanti tenang saja bu, Dee bakal saya temani sampai bu Tuti dan om Edi pulang." sahut Tony dan mendapat pelototan dari Hendrick. "Sialan nih curut Tony, mentang-mentang childhood sweetheartnya Dee" batin Hendrick emosi. Tony yang menyadari tatapan tajam Hendrick malah nyengir kuda, "Kalau mau ikut temani ayo aja Rick, boleh kok, ya kan bu?" tanya Tony. "Yo ndak popo nek ndak repot, Hendrick bisa ikut temani di rumah sama Tony juga, nanti makan malam kalau lauknya kurang masak aja apa yang ada di kulkas ya Dee... Yo wes ibu pamit sek ya, keburu sore" pamit bu Tuti, "Assalamu'alaikum", sambungnya. "Wa'alaikumsalam, hati-hati ya bu" seru mereka bertiga membalas salam bu Tuti "Ya, baik-baik di rumah, jaga adik-adik ya, suruh tidur awal." pesan bu Tuti pada Dee. " Siap ibuku yang cantiiiiik" jawab Dee sambil mencium pipi ibunya. Bu Tuti pun segera melangkah meninggalkan kelas 2.4. "Hmmm... Mas Ton, Hend... nanti ga usah ditemani ga apa kok, kalian pasti cape habis latihan basket kalau harus nemani aku pas.... wadaw" terocos Dee yang terputus oleh sentilan jari dari Tony dan Hendrick. "Berisik!" seru Tony dan Hendrick bersamaan. "Makhluk jahat" gerutu Dee. "Makanya ga usah bawel!" perintah Tony. "Rick, kita Ashar dulu ya baru makan, sudah adzan tu" ajak Tony yang dijawab anggukan kepala oleh Hendrick. "Dee mau makan di kantin?" tanya Tony. "Engga mas, tadi udah bontot bihun gorengnya ibu" jawab Dee sumringah. "Wah, bihun gorengnya bulik? mau dong Dee, kembulan ya?" sorak Tony kegirangan. "Boleh, nanti kita kembulan habis mas sholat" jawab Dee sambil terkekeh. "Ayo!" seru Hendrick sembari menarik kasar tangan Tony, dan itu membuat Tony tergelak, "wkwkwkkwkwkwk... manusia satu ini menang serem doang, tapi cemburunya kaya bayi yang emaknya dipegang orang lain" batin Tony geli. Selama menunggu Tony dan Hendrick sholat, Dee bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian basket dan melepas sepatu fantovelnya dan segera memakai sepatu basket warna abu favoritnya. Di saat Dee sedang mengikat tali sepatunya, tiba-tiba sepasang tangan meraih tali sepatunya dan mengikatkannya. Dee tertegun, "Hend?" "Hmmm?" sahut Hendrick. "Aku bukan balita lho, sudah bisa ikat tali sepatu sendiri" tegur Dee "Done" kata Hendrick sambil beranjak berdiri, "Aku ganti baju dulu, baru kita ke kantin, ok?" sambungnya, dan langsung meraih sport bag nya dan melenggang keluar kelas tanpa menunggu jawaban Dee. Tak berselang lama, Tony masuk dan langsung meraih sport bag nya, " Aku ganti dulu Dee, 5 menit, ok?" katanya. "Oke mas" jawab Dee sambil membuat lingkaran dengan jarinya. Saat menunggu ponsel Dee berbunyi menandakan ada pesan w******p yang masuk, buru-buru Dee membuka pesan itu yang ternyata dari sang ibu. Ibu : "nDuk, ibu tadi beli cumi sama beberapa sayuran, nanti dimasak buat makan malam ya, lauk tadi pagi tinggal sedikit. Baik-baik jaga Tama dan Destri, nanti kalau Tony dan Hendrick jadi ke rumah diajak makan malam di rumah sekalian ya, ibu sama bapak otewe" Dee tersenyum melihat WA sang ibu yang baru-baru ini mengenal istilah otw. Dee: "Siap kumendan, nanti Dee masak yang enak buat makan malam, ibu ndak usah khawatir, hati-hati ya bu, pak" balas Dee Ibu : "Iya nduk" Tersenyum Dee meletakkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya. Betapa terkejutnya dia ketika menoleh ke kiri ternyata ada Hendrick yang sudah duduk di sampingnya. "Duh Hend.... bikin jantungan aja, kapan kelar ganti bajunya?" tanya Dee gugup. "3 menit yang lalu, kamu ga sadar soalnya asyik WA sambil senyam senyum." jawab Hendrick datar. "Oh, tadi ibu WA katanya tadi ibu belanja, nanti aku disuruh masak buat makan malam" jelas Dee. "Kamu bisa masak??" heran Hendrick. "Ngece* kamu ya, bisa lah... Keturunan uti Supanti jago masak semua, makanya dari anak sampai cucu itu bakal jadi mantu idaman semua tau" omel Dee. "Iya iya, percaya... siapa tahu besok salah satunya nanti jadi menantu mama papaku" sahut Hendrick sambil tersenyum. "Hah?" tanya Dee bingung. "Ga papa, yuk ke kantin, Tony langsung kesana tadi, haus katanya" ajak Hendrick. "Oh? Ok..." Dee mengambil sport bag dan tas sekolahnya lalu melangkah mengikuti Hendrick menuju kantin. Melihat Dee kerepotan membawa 2 tas besar, tangan Hendrick tanpa sadar meraih sport bag Dee dan membawanya melenggang mendahului Dee. Dee terpaku karena kaget, tapi panggilan Hendrick menyadarkannya, "Buruan Dee.... Kutinggal nih" seru Hendrick. "Eh? Coming!" sahut Dee sambil berlari kecil menyusul Hendrick Mereka pun berjalan beriringan menuju kantin. Sesampainya di kantin terlihat kalau Tony dan Freddy sudah menunggu mereka disana. Yetnu tidak ikut ekskul basket karena kutu buku itu tidak suka olahraga, dia lebih suka ikut ekskul yang berbau-bau sastra atau sains. Tony melambaikan tangan ke mereka, di depannya sudah ada beberapa kudapan kecil pengganjal perut sebelum dimulainya ekskul. Dee bergegas menghampiri Tony, karena merasa canggung jika harus berduaan dengan Hendrick. "CK...." Hendrick berdecih kesal. "Mas... Hai Fred..." sapa Dee yang buru-buru mengeluarkan kotak bekalnya, "ini mas Ton, jadi mau kembulan?" tanya Dee "Jadi" jawab Tony pendek, tangannya meraih kotak bekal Dee lalu membukanya, "Yum..." liurnya nyaris menetes mencium aroma bihun goreng bu Tuti. "Wah, Dee... tega amat cuma bawain Tony, kita berdua mana?" tanya Freddy dengan muka cemberut. "Idih, siapa juga yang bawain mas Tony, itu bekalku dodol, mas Tony tadi minta" jawab Dee sewot. "Oh gitu...." gumam Freddy. Tony meraih garpu dan mulai mengambil bihun lalu membawanya ke mulut Dee, "Dee, sini... aaaaa....." ujar Tony dan Dee pun membuka mulutnya dengan patuh dan mulai mengunyah pelan bihun goreng yang Tony suapkan ke mulutnya. Freddy menggeram kesal, "Apaan sih Ton, Dee kan bisa makan sendiri" gerutunya kesal. "Nape Fred kok sewot? Biasa kali aku sama Dee kembulan kaya gini, bulik sama om lihat juga santai tuh" sahut Tony santai sembari melirik Hendrick yang gusar dan mengetatkan rahangnya karena geram. "Bukan sewot Ton, ga pantes aja dilihat, kan kamu sama Dee ga pacaran" balas Freddy asal. "Lha po kalau kembulan suap-suapan itu kudu pacaran?" Tony mulai membego walau dalam hati dia tertawa ngakak. "Yo ndak juga, cuma kalau orang ga tau hubungan kalian kan bisa salah paham" jawab Freddy mulai ketularan bego, mana ada di sekolah ini yang ga tau gimana hubungan Tony dan Dee. "Heleh... bilang aja kalau cemburu, pengen juga nyuapin Dee, ya to?" cecar Tony. "Uhuk... uhuk... uhuk... ngawur!!!" Freddy sewot karena malu ketahuan dan akhirnya malah keselek air mineral. "Kamu ga apa-apa, Fred?" tanya Dee cemas setelah melihat muka Freddy yang merah karena tersedak. "I'm ok, Dee... Keselek doang dengar Tony yang mulai ngelantur" sahut Freddy asal. "Pelan-pelan minumnya Fred, mas Tony juga mbok sudah to, bener kata Freddy, aku bisa makan sendiri" gerutu Dee. "Ngapain? Biasanya juga tak suapin kok kalau di rumah, kenapa banyak gaya kalau di sekolah?" ledek Tony. "Halah mbuh mas!" seru Dee jengkel, "Aku ke lapangan dulu!" pamit Dee buru-buru selain karena jengkel dengan Tony dia juga takut lihat wajah Hendrick yang gelap tertutup awan badai. "Moody amat sih Hendrick akhir-akhir ini, kadang baik kadang nyeremin" batin Dee seraya bergegas menuju lapangan. Dalam langkahnya menuju lapangan, Dee teringat kata-kata Tony tadi pagi kalau hari ini ada 1 anggota baru yang akan masuk klub basket, dia siswa pindahan yang baru masuk 2 hari lalu. Siapa ya kira-kira.... gumam Dee. Sesampainya di lapangan, terlihat beberapa siswa melakukan stretching dan pemanasan, tampak juga guru olahraga pak Danang sebagai pelatih ada di sana. Segera Dee meletakkan tasnya dan memulai pemanasan. Di seberang lapangan nampak seorang siswa yang dengan intens menatap Dee dengan pandangan bersemangat dan juga penuh rindu. Akhirnya kita bertemu lagi Dee, teman gembul imutku... batinnya. Tapi Dee berubah drastis, sudah tidak gembul, dia sekarang langsing dan tinggi semampai, cantik walau tetap imut. Rambutnya sekarang panjang tidak seperti dulu yang nyaris tak berambut. Dia terkekeh kecil mengingat betapa dulu Dee ga pernah tumbuh rambutnya, menambah kesan lucu dan imut Dee waktu batita dulu. Diliriknya jam tangannya, dan gerutuan keluar dari mulutnya, "halah masih 10 menit lagi sebelum dimulai, lama amat sih" gumamnya. Sementara itu masih di kantin Tony buru-buru menghabiskan bihun goreng yang masih tersisa dan bergegas ke pantry untuk mencuci kotak makan Dee. Tinggal Hendrick dan Freddy di meja kantin yang larut dalam diam. "You are too impulsive" gumam Hendrick. "What? Have you ever heard the jealous word?" gerutu Freddy. "Hhhmmm" sahut Hendrick. Freddy mendengus kesal. Lalu mereka pun kembali larut dalam kesunyian. Tak berapa lama Tony kembali dengan membawa kotak makan bersih dan segera memasukkannya ke dalam tasnya. Melihat ketegangan di wajah kedua sahabatnya dia tersenyum. "Kenapa kalian tegang begitu? Kita ini bersahabat sudah 5 tahun, hal kecil jangan jadi sebab hancurnya persahabatan kita ." kata Tony, "Aku tau kalian berdua menyukai Dee, tapi demi persahabatan kita kalaupun kalian berdua ingin bersaing, bersainglah secara sehat, jangan merusak hubungan kita selama ini. Dan aku jangan kalian cemburui, Diane sudah seperti adikku sendiri, kami berdua tumbuh bersama sejak Dee masih berusia 7 bulan dan aku 1,5 tahun, makan, tidur bahkan mandipun kami lakukan berdua sampai usia TK, jadi jangan ada pikiran aneh-aneh tentang kami berdua." sambung Tony panjang lebar. Freddy mengangguk sedangkan Hendrick hanya bergumam pendek. "Yuk cus ke lapangan, aku malas disuruh lari 100 putaran sama pak Danang" ajak Tony yang disetujui oleh Freddy dan Hendrick. Setiba di lapangan mereka melihat Dee baru saja selesai lari 2 kali putaran, keringat membasahi kaos basketnya, sesekali dia meringis memegang perutnya. Tony yang paham betul gimana menderitanya Dee dimasa PMS buru-buru menghampiri Dee dan memberikan handuk untuk melap keringatnya, lalu dia mengeluarkan termos air dan menuangkan air panas ke dalam cup yang tersedia di termos dan menuangka sedikit air mineral dingin lalu menyerahkannya ke Dee, "Minum!" perintahnya, Dee pun perlahan meneguk air hangat dari cup itu, "Sudah kubilang kalau lagi PMS hari pertama ga usah ikut kegiatan ekskul!" marah Tony, Dee hanya meringis menahan sakit. "Kenapa Dee?" tanya Hendrick cemas melihat wajah pucat Dee. "Kamu sakit Dee?" Freddy pun nimbrung karena khawatir. "Aku ga...." baru sepatah Dee menjawab sudah dipotong Tony, "Istirahat di bangku, hari ini ga usah latihan!!" bentaknya. "Ish, bossy... " gerutu Dee sambil melangkah gontai ke bangku yang ada di pinggir lapangan. "Dee kenapa sih Ton?" tanya Freddy cemas. "PMS" jawab Tony singkat. "HAH? Apaan itu?" tanya Freddy dengan polosnya. Tony menatap Freddy lalu dengan cepat memutar bola matanya dan bergegas meninggalkan Freddy dan Hendrick untuk menemui pelatih. "Apaan sih dia? Aku tanya malah ga dijawab." gerutu Freddy kesal, "Kamu tau apa itu PMS, Rick?" tanyanya ke Hendrick. Hendrick hanya menjawab dengan dengusan kasar lalu pergi meninggalkannya sendiri dalam kebingungannya. Akhirnya karena penasaran dia mencari ponselnya dan mulai melakukan pencarian di Google tentang PMS. Setelah menemukan jawabanya, wajah Freddy memerah karena malu, pantas saja Tony dan Hendrick ga mau jelasin. Freddy mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Dee yang tengah duduk di bangku tunggu di sisi lapangan. Wajahnya pucat dan sesekali meringis kesakitan, Freddy berniat menghampirinya untuk menanyakan kondisi Dee, tapi peluit pelatih sudah berbunyi menandakan semua anggota harus berkumpul untuk memulai latihan. Freddy menggerutu, sekali lagi dia memandang ke arah Dee, lalu melangkah gontai memasuki lapangan. Pak Danang selaku pelatih berdiri di tengah lapangan dikelilingi para anggota tim basket putra maupun putri, "Anak-anak sekalian, hari ini saya perkenalkan anggota baru tim putra kita yang baru saja pindah ke sekolah ini 2 hari yang lalu" ucap beliau, "Kau, kemarilah!" serunya. Lalu muncullah seorang siswa berperawakan tinggi tegap berwajah tampan memasuki lapangan dan berdiri di samping pak Danang. "Halo, perkenalkan saya Lucky Setiawan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik" siswa tersebut memperkenalkan diri. "Lucky? Kiki? Beneran ini kamu?" pekik Tony kegirangan sambil memeluk siswa yang bernama Lucky tersebut. "Yooo bro, apa kabar?" sahutnya menyambut pelukan Tony dengan erat. "Baik... baik... Gimana kabarmu? Dee pasti bahagia banget kalau tahu kamu balik ke sini." balas Tony sambil menepuk-nepuk bahu Lucky. "Oh iya, mana si mbulku? Kok ga ada?" tanya Lucky sembari celingukan mencari Dee. "Ada, nanti juga ketemu, hari ini dia ijin latihan, kondisinya lagi ga baik" sahut Tony. "Ehem.... kalian saling kenal rupanya?" tegur pak Danang. "Hehehehe... Betul pak, kami bertiga kawan baik sejak masih batita" jawab Tony sumringah dan pak Danang hanya ber oh ria. "Ya sudah, kita mulai latihan hari ini. Masalah Diane yang ijin sudah bapak perintahkan buat istirahat di ruang klinik. Ok, sekarang kita latihan dribble pass berpasangan!!" seru pak Danang. Para anggota tim pun serentak berpasang-pasangan untuk latihan dribble-pass. Setelah 1,5 jam latihan pun berakhir, setelah merapikan lapangan dan mengembalika bola ke gudang para anggota bergegas pulang ke rumah. Tony, Lucky, Hendrick dan Freddy bergegas ke klinik sekolah untuk menjemput Dee. Sementara itu Dee bosan setengah mati menunggu selesainya latihan, "HAH... tau gini mending tadi langsung pulang jemput Tama dan Destri, mending di rumah bisa ngapa-ngapain" gerutu Dee. TOK TOK... Suara ketukan pintu mengejutkan Dee, tapi setelah tahu siapa sang pengetuk Dee spontan langsung sumringah dan bangkit dari ranjang klinik. "Sudah selesai mas? Pulang yuk!" seru Dee sambil mengemasi tasnya. "Sudah, lihat nih siapa yang balik ke Jogja" sahut Tony seraya menarik lengan Lucky agar segera masuk ke ruang klinik. "KYAAAAAA.... Kak Kiki!!!!!" pekik Dee kaget campur girang lalu menghambur ke pelukan Lucky. Tony dan Lucky terkekeh dengan kelakuan Dee yang seperti anak-anak. Lucky pun mengangkat Dee tinggi-tinggi lalu balas memeluk Dee dan mencium pipi Dee dengan gemas. "HEY!!!" bentak Hendrick dan Freddy bersamaan yang sukses membuat Tony tertawa terbahak-bahak. "Kalian kenapa coba? Lucky itu sepupu Dee dari pihak om Edi, sama kaya Yetnu yang dari pihak bu Tuti, ga boleh to, sepupuan cium pipi?" gelak Tony menahan sakit perut karena tertawa. "WHAT???" kaget Hendrick dan Freddy serentak. Mereka ga nyangka kalau ternyata Lucky adalah sepupu Dee. Tapi tetap saja mereka panas hati melihat Dee dicium Lucky. "Kak Kiki kapan balik? Kok ga ngabarin? Bapak tau kalau kak Kiki balik Jogja? Pakde sama bude berarti di Jogja juga?" cecar Dee non stop. "Kakak baru sampai kemarin lusa, om Edi dan tante Tuti belum ada yang tau, soalnya begitu sampai kakak langsung ngurus pindah sekolah dan lainnya sama kak Dani. Rencananya baru besok main ke rumah. Ayah sama ibu baru bisa ke Jogja 2 bulan lagi, masih banyak yang harus dibereskan." jelas Lucky, panjang lebar. "Kak Dani juga di sini?" tanya Dee antusias. "Iya... sudah buruan pulang, istirahat... kan lagi ga enak to perutmu? Kamu juga harus jemput Tama dan Destri. Besok ketemu di sekolah pulangnya kakak langsung ke rumah, ok?" "Hmmm... ok kak Kiki, Dee balik dulu" pamit Dee sambil memeluk dan mencium pipi Lucky, "Ayo mas Ton, buruan kasihan Tama dan Destri." ajak Dee kepada Tony, dia sama sekali lupa kalau Hendrick dan Freddy juga di sana. "Iya... Iya... Duluan bro... Rick nanti kalau jadi langsung datang aja, oke? Bye Fred, Ky, Rick..." pamit Tony tergesa-gesa. Sepeninggal mereka berdua, Lucky, Hendrick dan Freddy berjalan beriringan menuju parkir barat. Lucky menatap tajam Hendrick dan Freddy, tatapannya penuh selidik. "Kalian berdua Hendrick dan Freddy?" tanya Lucky yang dijawab anggukan kepala oleh keduanya. "Kalian suka sama Diane?" tanya Lucky to the point yang sukses membuat Freddy dan Hendrick kaget. "Ga usah kaget gitu, kelihatan kok dari pandangan kalian ke Diane" sambung Lucky. "Boleh aja sih kalian suka sama sepupuku, tapi kalau buat pacaran kalian harus lolos seleksi dulu, aku, Yetnu dan Tony yang berhak menentukan pantas tidaknya kalian jadi pacar Diane!" tambah Lucky dengan nada datar. "WHAT?" seru Freddy tak percaya. "Kenapa harus kalian bertiga yang menentukan? Bukannya itu harus tergantung dengan perasaan masing-masing orang yang bersangkutan? Kalau kalian yang menentukan tapi ternyata Dee ga punya perasaan yang sama bukannya itu akan menyiksa Dee?" sahut Hendrick dingin. "I do really love her, and I'll try to win her heart." sambungnya sambil berlalu meninggalkan Lucky dan Freddy. "Hey bro... Rick, tunggu aku!!" seru Freddy seraya berlari menyusul Hendrick meninggalkan Lucky seorang diri. "HEH, boleh juga nih orang, ada nyali" gumam Lucky dengan segaris senyum di bibirnya. Well.... Ok, let's just see who's gonna win Dee's heart. Chapter 3 ~end~ *ngece = meledek
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN