Lovely masih tersungkur dengan posisi membungkuk. Kedua kaki hingga pahanya terlihat, karena kain yang dikenakannya itu sengaja ia sobek saat melompat dari jendela kamar.
Sepasang mata bajingaan pria gempal itu mendelik melihat kaki dan paha mulus Lovely. Ia sampai menelan ludah dan tiba-tiba saja benda berharga miliknya yang ada di pangkal pahanya itu mengeras. Hasratnya mendadak muncul, hanya melihat paha Lovely yang mulus. “Hm ... sebelum aku jual pada mbak Darmi, lebih baik aku nikmati saja kamu dulu ...,” gumannya sembari tersenyum tipis.
Niat si pria pemilik kereta kuda itu kini sudah berganti. Ia langsung menarik kedua kaki Lovely dan merentangkan kedua kakinya itu dengan kasar.
Lagi-lagi Lovely berteriak karena takut. “Aaaaa ...!” Ia langsung menendang sekenanya. Namun gerakannya itu tidak berarti. Kini hanya satu-satunya cara untuk kabur dari sini. Yaitu berteriak keras meminta tolong.
“Toloooong!”
Tepat saat Lovely meminta tolong, suara derap langkah kuda berhenti di dekat kereta kuda tersebut. “Hei, kisanak! Apa yang kamu lakukan!”Suara Satria terdengar nyaring dan lantang. Membawa angin segar untuk Lovely.
Tubuh pria berkulit gelap dan memiliki gelambir di perutnya itu kini tidak jadi menindih Lovely. Ia berdiri tegap dan melihat ke arah suara yang berteriak padanya. Menatap Satria yang sudah turun dari kudanya dan mengarahkan pedangnya.
“Hei, kisanak! Menjauh! Atau tajamnya pedangku ini akan menghunus perut atau menebas lehermu!” ancam Satria.
Si pria gempal itu langsung mengangkat kedua tangannya. Dan berjalan miring bak kepiting. Menjauh dari kereta kuda dan tidak jadi melakukan hal yang tidak senonoh pada Lovely.
“Kartika! Ayo pulang!” ajak Satria berteriak.
Tidak usah disuruh untuk kedua kali, Lovely langsung berdiri, ia turun dari kereta kuda dengan tertatih. Karena tadi tubuhnya didorong ke atas kereta kuda secara kasar, membuat kening dan lututnya terbentur alas kayu kereta kuda tersebut.
“Dia adalah tawananku! Jangan dibawa kabur!” teriak si pria tadi, masih berusaha mempertahankan Lovely yang dia pikir adalah barang berharga yang bisa dia jual dan mendapatkan uang banyak.
Satria menoleh dan mendelik. Tangan kanannya yang masih memegangi pedang panjang masih diarahkan pada pria tersebut. Sedangkan tangan kirinya terulur ke arah Lovely.
Lovely langsung memegangi tangan Satria. Sepasang matanya sudah sembab air mata. Apa yang baru saja dialaminya telah membuatnya syok. Kedatangan Satria saat ini sangat tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi, pikirnya cemas dan sudah lemas.
“Kamu tidak apa-apa Kartika?” tanya Satria khawatir. Tangannya menggenggam erat telapak tangan Lovely.
Lovely mengatupkan bibirnya dan kemudian menganggukkan kepalanya. Ingin menjawab, tapi suaranya tiba-tiba tercekat.
Melihat Satria mulai lengah, si pria itu dengan sok jagonya mulai menarik pedang yang sejak tadi sudah tergantung di pinggangnya. Ia menarik pedang tersebut dan mengarahkannya pada Satria.
Memukul ke arah pedang yang dipegang Satria dan hendak melawan.
Hampir saja pedang yang dipegang Satria tersebut terlepas karena hantaman pedang lawan.
“Kembalikan tawanananku! Jangan sok jago ya sampeyan!”
Satria mendelikkan matanya. “Hei! Tawanan katamu?! Dia adalah putri mahkota kerajaan! Kanjeng Putri Kartika Sariningtias, dan kamu malah ingin menjual dan memperkosanya! Kamu mau dihukum mati ya!”
Sayangnya si pria itu tidak percaya. Karena memang ia tidak pernah bertemu sama sekali dengan putri Kartika. Ia juga tidak pernah bertemu dengan Satria yang bertugas untuk menjaga keamanan Lovely. “Sempeyan mau bohongi saya?!”
Pria tersebut malah murka dan mengajak ribut. Ia mulai mengayunkan pedang yang ada di tangannya. Mengarahkan pada Satria dan sekali melawan untuk mempertahankan diri, pria tadi malah jatuh ke atas tanah yang keras.
Satria mengarahkan pedangnya ke muka pria berkulit gelap itu. Dia tersungkur, pedang yang dipegang di tangan kanannya juga terlepas, terjatuh sedikit jauh dari tempatnya terkapar.
“Pergi dari sini atau aku akan membunuhmu!” teriak Satria.
Sadar akan tandingannya yang lebih mahir bertarung, pria tersebut langsung beranjak dari jatuh dan kemudian kembali mengambil kereta kudanya. Ia menoleh dan menatap tajam ke arah Satria dan Lovely sembari memicingkan matanya.
Kereta kuda kini perlahan pergi. Suara derap kuda berlari terdengar riuh di kegelapan malam. Mungkin sekarang masih pukul tujuh malam, namun karena tidak ada lampu penerangan membuat suasana terasa sudah masuk tengah malam. Hening, sunyi dan menakutkan.
Satria menatap Lovely. Pakaiannya compang camping. Apa lagi kain yang melilit bagian tubuh ke bawah, sobek hingga ke pahanya.
Memang paha mulus itu terpampang sangat nyata. Bagi Lovely biasa. Karena di jamannya mengenakan hot pants saja bukanlah hal aneh.
“Kartika apa pria tadi yang membuat kainmu sobek?” tanya Satria dengan wajah penuh amarah.
Lovely menggelengkan kepalanya. “Kalau bajunya sih iya, dia hampir merobeknya. Tapi kain yang aku kenakanan ini, aku yang merobeknya dengan pisau saat ingin melompat dari jendela kamar,” jawabnya jujur.
“Astaga ....” Satria menggelengkan kepalanya. “Yang benar saja ... Kamu melompat dari jendela kamar dengan kain yang sengaja disobek?!” serunya, tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Lovely.
Lovely mengangguk. “Mau bagaimana lagi, tadinya aku ingin kabur dari istana karena ingin pulang.Aku tidak ingin menikah dengan Pangeran Bima itu!”
Satria menarik nafas panjang. Ia memegangi kedua bahu Lovely dan menatapnya tajam.
Lovely membalas tatapan Satria. Sepasang mata Satria sangat maskulin. Di padu dengan kedua alis yang berjajar rapi dan juga hidung mancungnya, membuat Lovely seperti terhipnotis tidak sadar. Sehingga apa yang dikatakan oleh Satria barusan sama sekali tidak terdengar.
“Kartika ...,” panggil Satria lirih.
Lovely masih belum sadar. Ia tenggelam di dalam manik mata Satria. Pria yang menjabat sebagai pengawalnya itu membuatnya mabuk kepayang. Ditambah dengan sikap ksatria barusan yang menolongnya dari tindak kejahatan, membuat Lovely tidak bisa berucap banyak.
“Kartika ...,” panggil Satria sekali lagi. “Kartika!” Kini ia berteriak dengan lantang.
Lovely mulai tersadar. “Hah ... apa?”
“Apa kamu dengar apa yang aku katakan tadi?”
Lovely terdiam. Ia mengusap sisa-sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya. “Maaf, tadi aku tidak mendengar apa yang kamu katakan, Satria ... Tapi terima kasih kamu sudah menolongku. Tidak bisa aku bayangkan jika tadi tidak ada kamu yang menolong, entah bagaimana jadinya aku ....”
Satria kembali menarik nafas panjang dan dalam. “Sudah, lupakan saja dengan terima kasihmu itu Kartika. Semua yang aku lakukan ini, memang kewajibanku. Jadi tidak usah dipikirkan. Sekarang kamu harus memikirkan ke depannya! Kamu tidak boleh bersikap begini! Sikap anehmu seharian ini saja, harus membuat dirimu disucikan di air laut pantai selatan besok!”
Dahi Lovely berkerut. “Pensucian diriku!”
“Iya! Paduka Raja Wijaya Kusuma menganggap tingkahmu sudah di luar lanar! Jika kamu telah dikutuk oleh nenek moyang, makanya setelah pulang dari upacara mengenang nenek moyang, sikap dan tingkahmu jadi begini!”
Lovely semakin tidak mengerti. Ia terdiam sebentar dan kemudian menggelengkan kepalanya cepat. Dari pada memikirkan hal yang berat-berat begitu, lebih baik ia memikirkan tentang kepulangannya ke jamannya.
Satria menarik tangan Lovely dan memintanya untuk naik ke atas kuda. “Naik!”
Lovely terdiam sejenak. Menatap Satria. “Kita mau ke mana?”
“Kembali ke istana,” jawab Satria lugas.
“Tidak! Aku tidak mau!”
“Memang kamu mau ke mana lagi! Istana rumahmu! Di luar tidak aman! Lihat apa yang terjadi padamu barusan! Kamu hampir saja diperkosa dan dijual kan!”
Lovely mengatupkan bibirnya. Menelan ludah. Serba salah.
“Ayo cepat kita kembali pulang sebelum ada orang yang menyadari jika kamu tidak ada di kamarmu!”
Satria memegangi pinggang Lovely, berniat membantunya untuk naik ke atas kuda.
“Tunggu! Tunggu!” teriak Lovely dan kemudian membalikkan badan. Karena ia bergerak secara cepat dan tiba-tiba, hal itu membuatnya berhadap-hadapan dengan Satria. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
Hening.
Tanpa sadar Satria pun menatap manik mata Lovely yang berwarna cokelat gelap tersebut.
“Satria, kamu harus percaya satu hal ...,” kata Lovely lirih.
“Apa?”
“Aku berkata jujur. Aku bukanlah manusia di jaman ini. Aku bukanlah Putri Kartika. Namaku Lovely. Aku datang dari masa depan, tahun 2021 abad 22. Ini bukan jamanku ....”
Terjadi keheningan kembali. Satria menatap Lovely lekat. “Tadinya aku juga ingin percaya padamu dengan semua ini. Tapi jika kamu adalah Lovely dari jaman yang akan datang. Lalu ke mana Putri Kartika yang asli? Bukankah ini tidak masuk akal?”
Lovely menelan ludahnya. Kerongkongannya menjadi kering karena kebingungan menjelaskan apa yang telah terjadi. “A-aku juga tidak tahu ... Tapi percayalah ... apa yang aku katakan ini semuanya benar! Jika aku menikah dengan Pangeran Bima, justru masalahnya akan semakin rumit karena aku bukanlah Putri Kartika! Aku bukan Putri Mahkota kerajaan ini!”
Tapi sayangnya Satria memang tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan Lovely itu. Ia membalikkan badan Lovely sedikit kasar dan kemudian mengangkatnya untuk duduk di atas kuda putih. Kemudian setelah itu gilirannya yang naik ke atas kuda. Kedua tangannya menjaga Lovely sembari memegangi tali pengontrol gerakan kuda.
Dadaa bidang Satria yang atletis itu menyentuh punggung Lovely. Membuatnya menoleh ke belakang sebentar. Memandangi wajah Satria yang sedang fokus mengontrol gerak kuda yang berlari melewati sunyinya malam.
Rembulan malam bersinar seraya menyinari dan mengikuti mereka menuju kembali ke istana.
“Semoga saja tidak ada yang tahu jika kamu tidak ada di istana,” ujar Satria berharap. “Dan setelah ini, jangan sekali lagi kamu berteriak pada orang-orang jika namamu Lovely, bukannya Putri Kartika! Ingat itu! Apa kamu lupa jika istana adalah tempat yang paling menakutkan?”
Bersambung