Pesona seorang pengawal

1446 Kata
Dipeluk dari belakang oleh Satria membuat jarak tempuh yang jauh menuju istana terasa sangat cepat. Ketika benteng istana sudah terlihat, derap kaki kuda, mulai melambat. Satria memang sengaja membuat langkah kaki kudanya itu bergerak perlahan. “Kita harus berjalan dari sini,” ujar Satria memberitahu. “Loh kenapa?” tanya Lovely sembari menoleh ke belakang. Ketika ia menengok, ujung hidungnya tepat berada di depan dadaa Satria. Mau tidak mau, Lovely menghirup aroma khas tubuh Satria yang menenangkan. Membuat isi kepalanya mendadak kosong. “Lovely, ayo turun,” kata Satria sembari mengulurkan tangannya. Lovely tergagap. Ia menatap Satria dengan tatapan menerawang. Hanya karena aroma tubuh Satria yang maskulin dan menenangkan itu membuatnya tidak sadar. “Hm ... Apa?” “Turun dari kuda,” jawab Satria sembari mengulurkan tangannya. “Dari sini kita harus berjalan lewat pintu belakang istana. Karena kalau malam begini, para pengawal pasti sudah berjaga berkeliling. Bisa bahaya jika kamu ketahuan kabur. Pasti Paduka yang mulia raja akan menghukum mu lebih berat dari ini ....” Lovely menganggukkan kepalanya mengerti. Perlahan tapi pasti ia mulai turun dari kuda dan mulai melompat. Namun saat melompat, gerakannya terlalu bersemangat. Membuatnya tanpa sengaja terjatuh keras di atas Satria. Lovely menindih Satria. Tanpa sadar mereka saling berpandangan. Hening. Tidak ada yang bersuara. Bahkan rumput liar dan panjang yang mengenai kulit mereka tidak terasa gatal dan mengganggu. Debaran di jantung Satria berdegup kencang. Bahkan Lovely mampu mendengarnya. “Satria, jangan cari kesempatan. Awas!” seru Lovely lirih. Satria berdeham. “Apa kamu tidak sadar siapa ini yang menindih?” tanyanya tak kalah lirih. Lovely langsung menunduk. Ia baru sadar jika dirinya lah yang menindih tubuh Satria. “Oh, aku ya yang ada di atas ...,” ucapnya sembari beranjak berdiri. Satria menghembuskan nafas lega saat Lovely beranjak dari atas tubuhnya itu. Ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya ketika Lovely berada di atasnya. “Lalu kita ke mana ini? Langsung ke pintu belakang istana?” tanya Lovely dengan muka polosnya. Satria menganggukkan kepalanya. “Iya, kita lewat pintu belakang. Ikuti aku! Jangan berisik! Jika ternyata kepulanganmu ini ketahuan para pengawal, maka mau tidak mau kamu harus mengaku saja.” Lovely langsung menoleh menatap ke arah Satria. “Aku mengaku jika kabur dari istana? Dan nanti aku mendapatkan hukuman apa ya?” tanyanya takut. Satria mengendikkan bahunya ke atas. “Entahlah ... Aku tidak tahu. Mungkin saja kamu akan dihukum di kurung di dalam sel penjara istana. Tempat untuk para manusia yang sulit di atur.” Bulu kuduk Lovely langsung meremang mendengarnya. Tangannya melingkari lengan Satria erat. “Aku engga mau ... Kenapa istana ini jadi seram ....” “Kalau kamu tidak mau. Maka jangan sampai ketahuan!” seru Satria. “Jangan sampai ketahuan kamu habis kabur dari istana! Aku yakin jika paduka mengetahui ini semua, maka dia akan sangat marah!” Lovely menelan ludahnya. “Kenapa sekarang aku merasa horor ya ....” “Horor? Apa itu?” tanya Satria yang tidak mengerti bahasa Lovely. “Horor ... seram!” “Kamu takut dengan romo mu sendiri?” “Semua yang ada di sini membuatku takut! Percaya atau tidak, aku bukanlah manusia dari jaman ini! Aku harus pulang ke masaku, apa pun caranya!” Satria menarik lengan Lovely. “Baiklah ... semisal aku percaya apa yang kamu katakan ini. Maka di mana Putri Kartika yang asli? Apa kamu bisa menjelaskannya?” tanyanya dengan manik mata bersorot tajam. Lovely menelan ludah. Ia menjadi takut. “Maksudnya ...?” “Aku bilang, untuk tidak pernah mengungkit dan mengatakan lagi kamu bukan putri Kartika. Jika benar terbukti kamu bukanlah Putri Mahkota di kerajaan ini. Maka masalah yang lebih berat akan menerpamu! Bisa jadi kamu akan dihukum pancung karena telah menipu Raja dan melenyapkan Putri Mahkota yang asli!” Kerongkongan Lovely langsung terasa kering. Ia menatap Satria dengan tatapan nanar. “Aku ... akan dihukum pancung?” tanyanya sembari memegangi lehernya. Satria menganggukkan kepalanya. “Ya, sepertinya itu adalah hukuman bagi seseorang yang telah menipu Raja dan juga melenyapkan putri Mahkota.” Lovely menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak ... aku tidak mau!” “Makanya kamu harus menurut dan mendengarkan aku!” Lovely langsung mengangguk mengerti. “Baik, baik! Aku akan menuruti apa yang kamu katakan!” Setelah memberikan pengertian. Satria menggenggam tangan Lovely untuk mengajaknya segera menuju ke halaman belakang istana. “Semoga tidak ada orang yang melihat kita!” *** “Laras!” Suara Diah Gayatri sontak membuat Laras terkejut. Punggungnya langsung menegang. “Aduh ... mati aku ...,” guman Laras lirih dan kemudian membalikkan badan, menghadap ke arah Diah. “Sedang apa kamu di sini sendirian?” tanya Diah sembari melihat ke arah yang dilihat oleh Laras. “Tidak apa-apa Kanjeng Putri Diah ... Saya hanya ingin mencari udara segar. Malam ini udara sangat panas.” Diah menatap Laras curiga. “Tapi aneh sekali kamu sendirian di sini?” Laras tidak menjawab. Ia hanya menundukkan muka. “Oia, Mbak yu Kartika apa dia sudah tidur?” tanya Diah sembari menunjuk ke arah pintu kamar. Kedua mata Laras membulat. Ia takut Diah meminta bertemu dengan Kartika. “Su-sudah Kanjeng Putri ....” Diah memanyunkan bibirnya ke depan. “Tumben sekali Mbak yu Kartika sejak sore tadi dia enggak keluar kamar? Mandi di pemandian? Padahal mandi di pemandian adalah kesukaannya,” katanya lirih. “Apa dia sehat?” “Yang mulia mengkhawatirkan tuan Putri Kartika?” Laras terkejut karena ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama, Putri Diah Gayatri mencemaskan kakak perempuannya itu. Dahulu mereka sangat dekat. Walau terlahir satu ayah beda ibu, Diah sangat menyayangi Laras. Hingga kematian Candrakumara, suami Diah yang meninggal karena menyelamatkan Kartika. Semenjak itu Diah merasa Kartika selalu merenggut semua kasih sayang yang harusnya dimiliknya. Kasih sayang ayahnya, paduka Raja. Kasih sayang kakak pertamanya, si putra Mahkota Pangeran Sandi Wijaya. Hingga kebahagian pernikahannya yang seumur jagung lenyap karena Diah harus menjada muda. “Kanjeng Putri Diah, mencemaskan Putri Kartika?” tanya Laras ingin tahu. Diah langsung menoleh dan menatap Laras tajam. Laras menundukkan wajahnya. “Maafkan aku Kanjeng Putri Diah. Maafkan aku jika aku lancang bertanya demikian ....” Diah berdeham dan kembali memalingkan mukanya dari menatap tajam Laras. “Aku tidak mencemaskan mbak yu Kartika. Aku hanya merasa aneh dengan sikapnya hari ini. Dan setelah dimarahi Romo, dia sama sekali tidak keluar kamarnya. Atau jangan-jangan mbak yu Kartika kabur?” tanyanya asal. Laras langsung terkesiap. Ia takut putri Diah akan terus ingin tahu dan menyelidiki. “Aku ingin memastikan ...,” kata Diah sembari bejalan mendekat ke arah pintu kamar Kartika. “Aku ingin menemui Putri Kartika,” katanya pada dua orang pengawal yang menjaga kamar. “Kanjeng Putri Diah Gayatri meminta masuk!” seru dua orang pengawal kamar itu. Laras menjadi panik. “Kanjeng putri Diah Gayatri! Pasti Putri Kartika sudah beristirahat! Lebih baik anda menunggu besok pagi untuk menemuinya.” Diah kembali menoleh. Menatap Laras. “Memang kenapa? Aku ingin sekarang menemui Mbakku. Aku merasa ada yang janggal,” katanya jujur. “Laras, kamu bukan hanya dayang kami. Tapi kamu sudah seperti sahabat aku dan Mbak yu ... jangan sampai kamu menutupi sesuatu ... karena aku belum melihat mbak yu Kartika sejak tadi siang.” Laras menelan ludahnya. “A-apa ... yang bisa aku tutupi Kanjeng Putri ...,” jawabnya lirih dan terbata. “Semua itu hanya perasaan Kanjeng Putri saja. Tidak mungkin Putri Kartika kabur. Sedangkan kamarnya saja dijaga pengawal.” Diah tersenyum tipis. “Mbak yu itu orang yang pintar. Aku merasa sudah sangat lama dia ingin pergi meninggalkan istana ini. Dari sorot matanya ... dari tatapannya ketika berdoa di candi. Ia seraya berharap ingin meninggalkan istana yang mengungkungnya ini.” “Te-tenang saja. Putri Kartika tidak kabur. Dia ada di kamarnya,” jawab Laras tergugu. “Yasudah kalau begitu. Aku ingin tetap bertemu Mbak yu Kartika!" *** Saat pengawal yang menjaga istana mengelilingi bagian sebelah utara dan meninggalkan bagian belakang istana, itu adalah kesempatan Satria dan Lovely langsung menyelinap ke dalam. Dengan langkah cepat dan mengendap-ngendap mereka berdua berhasil masuk ke dalam lewat pintu belakang istana. “Wah keren benget kamu Satria bisa buka pintu seberat itu,” puji Lovely penuh kagum saat melihat betapa kuatnya Satria ketika mengangkat balok kayu yang menghalangi pintu belakang. Balok besar dan berat yang berfungsi sebagai kunci pintu tersebut. Kedua alis Satria terangkat ke atas. “Sudah jangan banyak bicara. Sekarang pikirkan saja bagaimana kamu bisa masuk ke kamarmu lagi tanpa ketahuan,” jawabnya ketus. “Tenang saja. Pasti berhasil. Lihat, kita sudah hampir sukses tanpa ketahuan kan,” jawab Lovely dengan suara lirih. Tapi baru saja Lovely merasa senang dan lega bisa menyelinap masuk tanpa ketahuan. Suara bariton seorang pria dengan lantang dan keras berteriak. “Hei, siapa di sana?!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN