“Tenang saja. Pasti berhasil. Lihat, kita sudah hampir sukses tanpa ketahuan kan,” jawab Lovely dengan suara lirih.
Tapi baru saja Lovely merasa senang dan lega bisa menyelinap masuk tanpa ketahuan. Suara bariton seorang pria dengan lantang dan keras berteriak. “Hei, siapa di sana?!”
Lovely menutup mukanya. “Astaga, apa kita ketahuan!”
Dengan geraka cepat Satria menarik Lovely ke belakang semak-semak dan menundukkan kepalanya. “Diam di sini! Jangan keluar! Biar aku saja yang mengurusnya!” ujarnya lirih nyaris berbisik.
Penerangan yang minim, membuat pandangan di malam hari memang tidak terlalu jelas. Hingga si pengawal yang tadi sekelebat melihat gelagat aneh dan Satria menjadi ragu.
“Siapa di sana?!”
“Ini aku!” jawab Satria dan berjalan mendekat.
Si pengawal tersebut juga berjalan mendekat. Mereka saling berhadapan. “Mas Satria?” tanyanya memastikan.
“Iya, ini aku. Ada apa?”
Pengawal tadi menengok ke belakang Satria. Mencari seseorang. “Tadi aku melihat dua orang ... Siapa tadi mas?”
“Yang mana?” tanya Satria dengan air muka tanpa dosa. Pura-pura tidak tahu apa-apa. “Dari tadi sendiri kok ....”
“Tapi tadi aku benar melihat bayangan seseorang Mas Satria ....”
Satria tersenyum simpul. “Tidak ada siapa-siapa kecuali aku.”
“Iya kah mas?”
“Iya, kamu hanya salah lihat. Sekarang lebih baik kamu kembali ke depan. Berjaga di sana. Biar aku yang melihat ke sekeliling di bagian sini.”
“Baik Mas!” Pengawal tersebut pun kembali ke tugasnya.
Satria yang sebetulnya tegang, kini sedikit lega. Setelah memastikan tidak ada pengawal lain yang berjaga dan melintas, Satria kembali menghampiri Lovely yang disembunyikan di balik semak-semak.
“Sudah aman, ayo keluar,” kata Satria dengan suara pelan.
Lovely keluar dari semak-semak. Tangannya di genggam Satria yang menggandengnya. Ia menatap tangan Satria yang begitu melindunginya. Hatinya tersentuh. “Beruntung sekali aku punya pengawal baik dan ganteng banget kaya dia ...,” gumannya lirih.
“Apa?” tanya Satria yang mendengar gumanan Lovely. Ia mendengar samar-samar, makanya ia bertanya.
“Engga ada apa-apa, kamu salah dengar. Aku kembali ke kamarku bagaimana?”
“Ikuti aku saja ...! Kamu kembali lewat jalan saat kamu kabur dari kamarmu,” jawab Satria lugas.
***
“Kanjeng Putri Diah Gayatri mengunjungi Putri Mahkota Kartika ....” Suara dua pengawal yang berjaga di depan kamar terdengar jelas.
“Astaga! Apa Diah akan mengunjungiku?” tanya Lovely. “Jika dia tahu aku kabur dari istana. Bisa jadi bahan untuk diadukan pada Raja!”
“Makanya cepat, naik ke pundakku dan masuk lah ke dalam kamar!” seru Satria yang juga ikut panik.
“Ta-tapi ... aku nginjek bahu kamu, gitu?” Sepasang mata Lovely terbelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Satria.
“Iya, injak bahu aku, lalu kamu lompat masuk ke dalam kamar! Cepat!”
“Oke! Maaf loh ini,” kata Lovely sembari menginjak bahu Satria. Lalu ia pun melompat masuk ke dalam kamar. “Brak!”
Tepat saat Lovely masuk ke dalam kamar lewat jendela, tepat pula pintu kamar terbuka lebar. Diah terkejut melihat kamar kakak tirinya itu sangat gelap. “Mbak ...?” panggilnya sembari memicingkan mata. “Laras, ambilkan aku lentera, obor di luar untuk menyalakan penerangan di kamar mbak Kartika!”
“Aduh ... ketahuan deh,” guman Laras yang ikut panik. Ia pun segera mengambil lentera dan memberikannya pada Diah.
“Mbak Kartika tidak ada di kamar rupanya,” kata Diah dengan mimik muka senang dan memiringkan lentera ke dekat penerangan lampu di kamar Kartika. Memberikan apinya agar kamar ini tidak galap.
Diah menghela nafas panjang. Sebuah senyuman tipis terhias di sudut bibirnya. “Mbak Kartika yang selalu ingin pergi dari istana, akhirnya dia pergi juga. Tapi bagaimana jika Romo tahu ....”
“Ada apa Diah? Aku di sini?” Suara Lovely benar-benar mengagetkan Diah.
Diah tersentak dan nyaris menjatuhkan penerangan yang dipegangnya. Untung saja ia mampu menahannya.
“Kamu mencariku? Ada apa?” tanya Lovely yang duduk di tepi ranjang.
Sepasang mata Diah membulat. “Mbak Kartika?!”
“Hm ... iya, ada apa bep?” Lovely balik bertanya dengan wajah santainya.
Diah terdiam, mendengar bahasa dan logat Kartika yang aneh.
“Kamu mencariku, sampai masuk kamarku gini ada apa?”
“A-aku kira mbak engga ada di kamar. Kamarnya kok gelap?”
“Kepalaku pusing. Sengaja enggak dinyalahin obornya,” jawab Lovely sembari memegangi keningnya.
“Oh begitu ... aku kira, mbak engga ada di dalam kamar, makanya aku bilang sama Laras, dayang mbak itu kalau aku mau melihat mbak,” jawab Diah yang terus terang dengan keraguannya.
Lovely menoleh ke arah Laras. Ia mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sejak tadi siang ia tidak melihat dayang bernama Laras ini. Bahkan ia tidak tahu jika memiliki dayang.
“Maaf Kanjeng Putri Kartika, saya sudah mengatakan pada Kanjeng Putri Diah Gayatri jika anda sedang beristirahat. Tapi Putri Diah Gayatri memaksa,” kata Laras memberitahu.
Lovely sejenak terdiam kembali. Ia sadar jika Laras berada di pihaknya.
“Iya, aku memang ingin menemuimu Mbak ...,” sahut Diah sembari duduk di kursi kayu yang ada di dalam kamar.
Lovely menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. “Sekarang kamu sudah menemuiku. Lalu apa yang ingin kamu katakan?”
“Cepatlah menikah dengan Pangeran Bima agar mbak bisa keluar dari Istana ini. Bukannya mbak ingin pergi dari Istana ini kan? Romo sudah mengambil keputusan mau tidak mau Pangeran Bima harus menikahi mbak. Atau mbak akan dicap sebagai perawan tua. Mbak sudah dilangkahi oleh ku dan juga tiga adik mbak Kartika yang lainnya. Mereka sudah hidup bahagia bersama suami mereka di kerajaan lainnya. Hanya ....” Suara Diah menjadi serak. Ia seraya tidak mampu mengatakan kelanjutannya.
Lovely belum faham benar dengan apa yang terjadi di istana ini. Ia menunggu kelanjutan yang akan diucapkan oleh Diah padanya.
“... hanya aku yang tinggal di sini, karena suamiku sudah meninggal saat menolong mbak ketika diculik.” Diah kembali melanjutkan kata-katanya.
Lovely terkejut. ‘Oh, jadi Kartika pernah diculik? Dan suami Diah ini meninggal karena menolong Kartika? Jadi sikapnya yang ketus dan menyebalkan itu, apa karena dendam?’ tanyanya di dalam hati.
“Aku ... aku berubah pikiran. Aku tidak ingin menikah dengan Pangeran Bima,” kata Lovely blak-blakan.
Diah terkejut bukan main. “Kok segampang itu mbak Kartika mengubah keputusan dan pikiran? Mbak harus menikah, karena umur mbak udah 19 tahun! Mbak udah dihina perawan tua. Lagi pula mana ada putri Mahkota yang telat menikah kecuali Putri Mahkota kerajaan Maldapati ini!”
“Aku engga mau menikah dengan pangeran Bima,” sahut Lovely lugas.
“Kenapa?” tanya Diah dengan dahi yang berkerut. “Bukannya dari dulu mbak ingin keluar dari istana ini? Satu-satunya jalan ya menikah. Apa mbak berubah pikirkan begini karena kesal dengan pangeran Bima yang sudah tiga kali memundurkan tanggal pernikahan kalian?”
Lovely menghela nafas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dadaa. “Iya, aku berubah pikiran.”
Diah mengerutkan dahinya. “Alasannya apa?”
“Romo pasti bertanya kenapa mbak Kartika berubah pikiran. Lagi pula jika mbak dan pangeran Bima tidak menikah takutnya terjadi bencana di kerajaan ini.”
“Bencana itu sudah takdir. Engga ada hubungannya aku menikah atau tidak. Dan juga menikah dengan siapa! Kenapa jadi disangkut pautkan dengan bencana yang akan terjadi?”
“Karena ramalannya begitu ... Mbak harus menikah agar musim penceklik di tahun depan tidak akan terjadi.”
“Oh jadi intinya aku harus menikah?”
“Iya, mbak harus menikah.”
“Baik,” sahut Lovely sembari mengatupkan bibirnya. “Aku akan menikah. Tapi dengan pria pilihanku.”
“Apa? Bagaimana maksud mbak?” tanya Diah tidak faham.
Laras yang berdiri tidak jauh dari Diah dan Lovely pun ikut penasaran dengan apa jawabannya.
“Aku akan menikah tapi dengan Satria, pengawalku.”
Hening.
Kedua mata Diah dan Laras membulat. Mereka menatap Lovely dengan tatapan terkesiap. “A-apa ...? Menikah dengan Satria?!”
Satria yang ternyata belum pergi, ia bersandar di bawah jendela kamar Lovely langsung mengandahkan wajahnya. Menatap jendela yang letaknya tepat di atas kepalanya. “Astaga, apa yang diucapkan Kartika?!” serunya panik.
“Iya, aku ingin menikah dengan Satria. Jika aku harus menikah, maka pria itu harus Satria! Bukan pangeran Bima atau pria lain,” jawab Lovely dengan wajah polosnya.
Diah menggelengkan kepalanya pelan. “Mbak, mbak ... Mbak yu Kartika sudah gila. Bagaimana reaksi Romo jika mendengar ini?”
“Besok pagi aku akan mengatakan ini pada Romo,” timpal Lovely lagi.
“Jangan Kanjeng Putri Kartika! Jangan lakukan!” Dayang Laras melarang. “Hal itu bahaya. Paduka Raja pasti murka.”
“Loh, Paduka Raja kan ayahku? Raja harus mendengarkan pendapat anaknya. Jangan main jodoh-jodohin orang gitu!”
‘Aku yakin, pasti Putri Kartika tidak menyukai perjodohan ini dan juga ingin kabur dari istana, karena dia tidak menyetujui perjodohannya dengan pangeran Bima,’ kata Lovely di dalam hatinya. ‘Di mana keberadaan putri Kartika yang asli masih misteri. Dan kenapa aku yang menggantikan posisinya?’
“Mbak yu udah hilang akal ingin mengatakan hal seperti itu pada Romo,” kata Diah sembari menaikkan sebelah aliasnya ke atas.
“Akan aku tunjukkan namanya kebebasan ruang bicara, Diah Gayatri! Saat ada hal yang mengganjal di hatimu, maka kamu harus mengatakannya,” ujar Lovely sembari menunjuk ke bagian dadaa sebelah kirinya dan kemudian tersenyum simpul. “Kamu akan melihat bagaimana aku mengatakan pada Raja, jika aku tidak ingin menikah dengan Pangeran Bima. Tapi aku ingin menikah dengan Satria!”
Laras menggelengkan kepalanya pelan. “Jangan Putri ...,” gumannya takut.
Bersambung