Raut muka Lovely sudah mengerut. Belum apa-apa ia sudah bisa merasakan bagaimana pahitnya ramuan yang dibuat oleh tabib Sayuti. Keruhnya isi mangkuk yang disebut obat itu pasti terasa tidak enak.
“Kanjeng Putri, ayo diminum ramuan ini ...,” kata tabib Sayuti dengan bibir tersungging senyuman.
Lovely tersenyum pahit sembari menerima mangkuk yang disodorkan oleh tabib Sayuti itu. Sebelum menyesapnya, ia menoleh ke samping. Menatap Satria, yang berdiri bersedekap sembari menatapnya.
Lovely menggelengkan kepalanya pelan. Mengisyaratkan jika ia tidak mau menenggak obat aneh ini. Tapi saat ia menggelengkan kepalanya, kedua mata Satria mendelik melihatnya tajam.
Levely langsung tersentak saat Satria memelototinya begitu. “Kok jadi dia yang galak,” gumanya lirih. “Di sini yang berkuasa siapa sih, putri raja atau pengawalnya?”
Tabib Sayuti mengerutkan dahinya menatap Lovely yang terlihat ragu-ragu. “Kanjeng Putri Kartika, ayo lekas diminum. Nanti keburu dingin jadi enggak enak.”
Lovely terpaksa menganggukkan kepalanya pelan. Rasanya ingin menangis menenggak air keruh yang diklaim obat herbal ini.
Glek!
Obat herbal tersebut mengaliri tenggorokan Lovely. Indera pengecapnya pun merasakan rasa nikmat dan kerongkongannya terasa lega. “Hm ... Enak!”
Sekali tenggak langsung habis tidak tersisa. Dengan gaya preman, Lovely menaruh mangkuk yang dipegangnya dan sedikit bersuara keras dan lantang, “Aku mau lagi!”
Tabib Sayuti langsung terkejut mendengar suara Kartika yang biasanya tidak pernah berbicara bernada tinggi apa lagi dengan gayanya yang seperti pendekar begini. “Anda tidak apa-apa Kanjeng Putri Kartika?” tanyanya memastikan.
Lovely menggelengkan kepalanya cepat. “Aku engga apa-apa! Bisa minta minuman yang tadi. Astaga rasanya enak sekali! Isinya apa?”
“Obat herbal,” jawab Tabib Sayuti singkat.
“Iya, aku mau lagi!”
Satria menatap Lovely gamang. “Yakin kamu mau lagi?”
“Iya, aku mau. Rasanya enak kaya wedang jahe yang suka aku minum di rumah. Ya ... walau yang barusan tadi, kaya agak ada bau-bau aneh gitu. Tapi lumayan sih ... Aku takut masuk angin ini dari tadi pake kemben gini.”
“Biasanya Kanjeng putri hanya minum satu mangkuk,” kata Tabit Sayuti memberitahu.
“Untuk kali ini aku lagi pengan minum yang banyak,” sahut Lovely sembari tersenyum simpul dan ujung matanya membentuk sudut.
“Padahal biasanya kamu mengeluh setelah meminumnya karena tidak suka dengan bahan yang terkadung di dalam obat tersebut,” timpal Satria yang masih berdiri tegap sejak tadi. Sama sekali tidak terlihat jika ia kelelahan.
“Memang apa kandungan obat herbal tadi?” tanya Lovely menjadi ingin tahu. “Rasanya ada sepet-sepetnya gitu ....”
“Jahe merah, kunyit, gula merah dan cacing tanah,” jawab Tabib Sayuti.
“Oh ....” Lovely tidak terlalu menyimak. Namun kata-kata terakhir yang dikatakan oleh tabib Sayuti membuatnya terkejut bukan main. “Astaga! Yang benar tadi aku minum rebusan cacing tanah?”
Tabib Sayuti dan Satria menganggukkan kepalanya.
Wajah Lovely langsung berubah datar. Untung saja ia tidak merasa mual dan memuntahkan isi perutnya. “Kenapa engga bilang jika tadi obat herbal yang berasal dari rebusan cacing tanah? Memangnya aku sakit tipes,” sahut Lovely sembari mengacak-ngacak rambutnya yang panjang terkepang.
“Tipes?” tanya Tabib Sayuti tidak mengerti. “Memang penyakit apa itu Kanjeng Putri? Saya baru mendengarnya.”
Lovely menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sudah lah lupakan! Ya Tuhan ... ada apa dengan hari ini. Aku di mana? Aku bersama siapa saja dan kenapa bisa tiba-tiba di sini belum juga jelas,” gerutunya kesal.
Hening untuk beberapa saat. Tabib Sayuti dan Satria mengamati Lovely yang dikira mereka Kanjeng Putri Kartika Sariningtias itu dengan tatapan aneh dan penuh tanya.
Hingga tiba-tiba ada seekor nyamuk yang menggigit pipi Lovely dan kemudian ia pun langsung menampar wajahnya sendiri. Seekor nyamuk itu pun mati ditempat dengan tragis.
Tabib Sayuti langsung termangu melihat gelagat putri Kartika yang tidak biasa. Biasanya putri Kartika tidak begini. Putri Kartika, gadis lemah lembut. Dia tidak pernah bergerak kasar memukuli hewan apa pun termasuk nyamuk sekali pun. Dan saat rumor yang beredar selalu mengarah kepadanya, Kartika selalu diam. Tapi sejak tadi hingga saat ini Putri Kartika sangat banyak bicara. Membuat kepala tabib Sayuti menjadi pening.
Putri Kanjeng Kartika Sariningtias yang ada di depannya ini sama sekali tidak sama, batin tabib Sayuti sembari mengamati lekat.
“Kakek Tabib, maaf nih ya kalau aku engga sopan nyuruh-nyuruh orang yang lebih tua. Tolong dong, bawakan aku ramuan yang tadi. Aku ingin lagi! Walau ramuan tersebut terbuat dari bahan yang menjijikan tapi enak juga. Lambungku terasa nyaman,” kata Lovely sembari memegangi perutnya.
Tabib Sayuti menganggukkan kepalanya. Tanda mengerti dengan keinginan putri Raja. Dan dengan cepat ia bergegas untuk mengambilkan wedangan serupa dan kembali lagi ke kamar Lovely yang sangat luas.
“Ini Kanjeng Putri ...,” ujar tabib Sayuti dan Lovely kembali menghabiskannya. Kerongkongan dan lambungnya terasa hangat dan nyaman. Tubuhnya terasa segar kembali.
Setelah menghabiskan tiga mangkuk ramuan hangat, Lovely merentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan. Mulutnya menguap lebar bahkan jika ada pasukan lalat bisa masuk ke dalam. “Astaga aku ngantuk sekali,” gumannya sembari mengusap air mata yang tanpa sadar menetes dari matanya karena tadi baru saja menguap.
“Satria,” panggil tabib Sayuti sembari menggerakkan kedua tangannya ke samping.
“Ada apa Tabib?” tanyanya sembari menganggukkan kepala. Bergegas berjalan mendekat.
Tabib Sayuti mendekatkan bibirnya ke telinga Satria, ia berbisik, “Sepertinya Kanjeng Putri Kartika ini sedang kesambet. Dari mana tadi dia seharian ini?” tanyanya dengan wajah serius.
“Tuan Kanjeng Putri tadi?” Satria berbalik bertanya sembari mengingat. “Tadi kami ikut upacara adat ritual mengenang nenek moyang di candi. Lalu setelah itu, putri ingin diajarkan berkuda. Aku mengajarinya berkuda. Tapi dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.”
“Kanjeng Putri minta diajari berkuda?” tanya tabib Sayuti dengan wajah terkejut.
“Iya, betul tabib.”
Tabib Sayuti menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak mungkin ... bahaya ini.”
“Bahaya kenapa Tabib?” tanya Satria pada Sayuti, tabib dan peramal yang disegani di Kerajaan Maldapati ini.
Tabib Sayuti yang tadi tertunduk dan memikirkan sesuatu langsung mengandahkan mukanya. Ia menatap Satria dengan sorot mata serius. “Kemungkinan besar, jiwa yang ada di dalam tubuh Putri Kartika ini bukanlah rohnya. Tapi jiwa dari Nenek moyang kita! Atau yang lebih parahnya roh yang merasukinya sebangsa dedemit!”
“Apa?!” Satria langsung terkejut. Ia terdiam sebentar dan mengingat bagaimana melanturnya omongan Putri Kartika sejak tersadar dari siuman. “Astaga, lalu bagaimana selanjutnya tabib? Aku adukan saja ke Raja tentang keadaan Putri?”
Tabib Sayuti menggelengkan kepalanya cepat. “Jangan! Jangan beritahu Raja dahulu. Mungkin saja roh yang merasuki Kanjeng Putri Kartika akan pergi dengan sendirinya.”
“Hei, kalian!” seru Lovely sembari menunjuk Satria dan Tabib Sayuti yang berdiri berduaan di ujung ruangan. “Bisik-bisik dipojokan begitu? Ngapain? Lagi ngomongin aku kan? Kalau ada yang diomongin di depan aja sini! Engga usah di belakang!”
Satria dan Tabib langsung diam. Mereka bertatapan dan kemudian kembali memandangi Lovely. “Kami tidak membicarakan apa-apa Kanjeng Putri,” kata tabib Suyitno. “Saya pamit dulu.”
Tabib Suyitno berpamitan dan kemudian keluar kamar.
“Aku juga pamit pergi dulu. Selamat beristirahat,” kata Satria pada Lovely.
Lovely langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak! Kalau kamu jangan pergi. Tinggal di sini saja. Temenin aku bobo ....”
“Maksudnya bagaimana Kartika?” tanya Satria terkejut dengan permintaan Lovely barusan.
Lovely beranjak berdiri. Ia kembali berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di lengan Satria.
Tapi Satria merasa risih. Beberapa kali ia berusaha melepaskan tangan Lovely yang melingkar. Karena di jaman ini jarak antara gender dan hubungan persahabatan pria dan wanita itu terbatas. “Kartika, jangan dekat-dekat nanti ada yang melihat ... Bisa jadi masalah baru nantinya.”
Bukannya melepaskan tangannya di lengan Satria, Lovely malah semakin merapatkan tangannya. “Satria ... dengerin aku nih ya. Dari matamu ... dari namamu, aku udah sangat percaya. Hanya kamu harapan aku untuk keluar dari kerajaan ini.” Ia berbicara dengan tatapan berkaca-kaca.
Satria kembali mengerutkan dahinya. Kedua alisnya beradu. “Maksudnya?” tanyanya lirih.
“Tolong aku. Keluarkan aku dari tempat ini ...,” jawab Lovely dengan suara lirih.
Hening.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Kedua alis Satria yang lebat, panjang dan tebal itu beradu, semakin mengerenyit. “Kamu memang mau keluar dari kerajaan ini ... Mau ke mana?”
Lovely melepaskan tangannya dan menghentakkan kakinya kesal. “Aku ingin pulang ke rumahku!” jawabnya berteriak.
Satria memandangi Lovely yang tampak gelisah. “Istirahatlah dahulu Putri Kartika ... Mungkin kamu kelelahan. Kamu tidak usah ke mana-mana. Karena di sini adalah rumahmu. Istana besar ini adalah tempat kamu dilahirkan dan dibesarkan.”
“Aku engga kelelahan. Aku cuma pengan pulang ... dan di istana ini bukan rumahku,” sahut Lovely sembari mulai menangis.
Satria menggaruk keningnya yang tidak gatal. Melihat Kartika menangis, membuatnya ikut bingung. “Kartika, jangan menangis. Nanti suara tangisanmu terdengar ke luar.”
Bukannya berhenti menangis, suara tangisan Lovely semakin lebih nyaring dari pada sebelumnya.
“Sttt ....” Satria menaruh telunjuknya di depan mulutnya. “Sudah kubilang jangan berisik. Malah semakin keras menangis!”
“Aku takut dan engga mau sendiri di kamar ini! Aku mau pulang. Kalo tidak bisa pulang setidaknya kamu temani aku di kamar ini ...,” pinta Lovely dengan mimik muka meratap.
Satria tidak bisa mengiyakan permintaan Lovely padanya. Karena tidak mungkin ia terlalu lama di kamar ini. Apa lagi saat Putri Raja sedang berisitirahat. “Tidak bisa Kartika! Kenapa kamu jadi begini? Celaka jika memang benar kamu dirasuki dedemit.”
“Aku ingin pulang! Aku ingin pulang! Aku ingin pulang!” teriak Lovely yang semakin menjadi-jadi.
Satria langsung bergegas menutup mulut Lovely dengan cepat. “Kartika diam!” serunya tegas. “Apa kamu ingin keluar dari sini?”
Lovely menganggukkan kepalanya cepat. “Iya ... Bawa aku keluar dari sini.”
“Baiklah, aku akan ajak kamu keluar istana. Biar kamu bisa lihat ada apa di luar sana. Dan di mana rumahmu selain kembali ke istana ini ....”
***
Sejak tadi Diah Gayatri, menguping dari balik jendela kamar kakak tirinya itu. “Astaga, mereka mau kabur? Aku harus memberitahu Romo soal ini ...,” gumannya dengan wajah berbinar senang karena mendapatkan bahan baru untuk membuat Kartika kesulitan. “Romo harus membuka mata jika mbak yu Kartika itu bukanlah penerus tahta yang baik. Dia tidak pantas menjadi Putri Mahkota kerajaan ini!”
Bersambung