“Apa kamu bilang?” seru Bima murka.
Lovely menggelengkan kepalanya cepat. “Seraya tidak mau tunangan yang berlebel pengeran itu mendekatinya.
Pandangan mata Bima melihat Lovely sangat aneh. Ia merasa Putri Kartika yang biasanya bersikap lembut dan terlihat malu-malu kucing padanya kini berubah menjadi segalak anjiing. “Dia kenapa Satria?” tanyanya sembari menatap lekat tangan Lovely yang melingkari lengan kekar Satria.
Satria merasa tidak nyaman dengan sikap Lovely padanya. “Hei ... Hei ... Jangan dekat-dekat,” gumannya lirih nyaris berbisik pada Lovely.
Namun Lovely tidak mendengarkan teguran Satria. Ia tetap menggandeng tangan Satria.
Satria sungguh merasa tidak enak hati pada Bima. Kartika adalah calon istrinya, tapi malah menggandeng pria lain. “Maafkan Tuan Kanjeng Putri Kartika Sari, Tuan Bima Sandiaga ... Dia tadi mabuk ... jadinya bersikap begini.”
“Kartika mabuk tuak?” tanya Bima dengan wajah terkejut. “Jadi apa yang dibicarakan orang-orang tentang Putri Kartika yang gemar mabuk itu benar adanya?!”
Satria langsung menggelengkan kepalanya. “Bukan, Pangeran Bima. Putri Kartika berhalusinasi karena terlalu banyak memakan bunga kecumbung. Awalnya dia hanya ingin makan bunga kecubung itu untuk berkomunikasi dengan roh leluhur di upacara adat tadi pagi. Tapi karena terlalu banyak memakannya, Putri menjadi begini ...,” jawabnya penuh dusta. Kebohongan yang dirangkai untuk menyelamatkan Kartika.
Mendengar penjelasan Satria yang masuk akal. Bima percaya saja dengan kebohongan yang baru saja didengarnya ini.
“Hm ... Jadi begitu rupanya ... Putri Kartika mabuk bunga kecubung? Bukannya mabuk tuak.”
Satria langsung tertawa lepas. Padahal tawanya itu dibuat-buat. “Bukan Tuan. Putri Kartika mabuk Bunga kecubung ... Jika anda mendengar putri Kartika suka mabuk, hal itu hanya berita miring di luar sana ....”
Bima mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengerutkan dahinya. “Hm ... begitu rupanya. Aku akan memanggil tabib ke mari untuk mengobati Kartika agar ia cepat siuman dari mabuknya itu.”
‘Hah Tabib?!’ seru Lovely di dalam hatinya. “Tidak! Tidak! Jangan panggil tabib!”
Semua mata yang ada di dalam kamar langsung memandangi Lovely. Mereka menatap aneh Lovely yang terlihat histeris karena mendengar tabib.
“Kenapa tidak boleh memanggil tabib? Biasanya kamu akan segera sehat kembali jika tabib sudah mengobatimu.”
“Iya, karena aku merasa tidak sakit. Please ... Tolong jangan panggilkan tabib,” kata Lovely dengan wajah kebingungannya. ‘Tabib itu pasti akan mencekokiku minuman herbal yang terbuat dari daun-daunan ...,’ lanjutnya di dalam hati.
Manik mata Bima yang semula tertuju pada Lovely kini beralih ke arah Satria. “Bisa, kamu urus dia?” tanyanya dengan suara yang tegas. “Kartika memang sudah kelewat mabuk. Banyak kata-kata yang disebutkannya tidak aku mengerti. Apa tadi dia bilang, ‘Please?’ Apa itu adalah bahasa dari dunia lain saat Kartika berkomunikasi dengan roh leluhur?”
“Astaga, kamu engga ngerti bahasa Inggris segampang itu?!” seru Lovely dengan nada suara yang sedikit tinggi.
Lagi-lagi sikap Lovely barusan mengundang tatapan mata Bima dan Satria tertuju padanya. “Satria, urus Kartika! Dia sudah semakin parah! Aku akan bertemu Romo mumpung aku ada di sini.”
“Baik Tuan Raden Pengeran Bima, aku akan mengurusnya! Anda tidak perlu khawatir.”
“Aku tetap akan memanggil tabib ke mari dan memeriksa Kartika. Semoga saja dia baik-baik saja ...,” kata Bima sembari memandang lekat Lovely yang berdiri di belakang Satria dengan takut. “Aku sedang banyak urusan. Jadi sebagai pengawal Tuan Putri Kartika aku berharap banyak, kamu membantunya ....”
Tanpa pikir panjang. Satria langsung membungkukkan punggungnya. “Baik Raden pangeran ku! Aku akan menjalankan perintah anda ini.”
Bima menganggukkan kepalanya dan kemudian membalikkan badan, keluar dari kamar Lovely yang dijaga ketat oleh dua pengawal yang memegangi tombak runcing dan panjang.
Saat Raden Bima keluar kamar. Dua pengawal tersebut kembali menyapa dengan suara yang lantang, “Tuan Raden Pangeran Bima selamat jalan!”
Lovely langsung melepaskan lengan Satria yang sejak tadi ia gelayuti. “Dengar kah kamu tadi apa yang dia bilang?” tanyanya terbata-bata sembari menunjuk ke arah pintu.
“Mendengar apa?” tanya Satria mengerenyitkan dahinya. Ia tidak mengerti dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Lovely ini.
“Pria tadi yang kamu sebut Pangeran Raden Bima Sandiaga itu ... Dia mengatakan calon suamiku ...? Ya Tuhan tidak ...,” gumannya lirih sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
“Iya, memang benar. Lalu kenapa? Bukankah kamu juga menyukainya? Saat Pangeran Bima mengundurkan waktu pernikahan, kamu menangis sesegukan,” jawab Satria mengingatkan. Ia pun duduk di kursi kayu di dalam kamar.
“Hahahahaha ....” Tanpa disangka Satria, justru Lovey malah tertawa lepas. “Aku engga mungkin menangisinya.”
“Kartika!” tegur Satria lirih. “Jangan memperburuk keadaaan. Jika kamu terus begini, Diah Gayatri akan membuat gosip lagi yang akan beredar di seluruh istana kalau tabiatmu sangat buruk.
Lovely menghela nafas panjang dan menghembuskan nafasnya kasar. “Kenapa aku ada di sini dan menghadapi semua orang-orang ini ...,” kata Lovely lirih.
Sepertinya Satria sudah muak dengan tingkah Lovely. Memang betul jika terkadang Kartika tidak bisa menahan hasratnya untuk meminum tuak untuk mengusir rasa galaunya. Diumur yang sudah dianggap matang, tapi ia belum juga menikah. Pangeran Bima Sandiaga sudah tiga kali memundurkan pernikahan mereka dengan alasan yang sama, ‘Kami belum terlalu mengenal satu sama lain’.
“Kartika, aku tidak suka jika kamu mengatakan hal begitu,” tegur Satria sembari beranjak dari duduknya.
Lovely mengandahkan mukanya. Ia menatap lekat wajah Satria. Menatap sedikit lama sekitar tiga menit. “Kamu mau ke mana?”
“Aku ada tugas lainnya. Seperti Tuan Bima katakan tadi, tabib akan ke mari dan memberikanmu obat-obatan herbal agar tubuhmu kembali sehat dan mulutmu tidak meracau begitu.”
“Astaga, sudah aku katakan aku tidak mau tabib datang dan mengobatiku! Kamu mengerti!” seru Lovely dengan muka galaknya. Tapi sayangnya, Satria tidak peduli dengan ketakutan yang dirasakan Lovely. Ia tetap berjalan menuju pintu meninggalkan Lovely sendirian.
Lovely menjadi panik, ketika Satria tidak mendengarkannya. Ia akan ditiinggalkan di ruangan kamar asing ini dan tidak tahu siapa lagi yang akan datang.
“Jangan tinggalkan aku sendiri, Satria!” seru Lovely yang langsung berhambur mendekat ke arah Satria.
“Kamu kan hanya di dalam kamar. Kamu akan aman di sini! Sudahlah jangan membuat masalah semakin rumit. Untung saja tadi aku mengatakan pada Pangeran Bima kamu mabuk karena makan bunga kecubung. “Dengar, jika Pangeran Bima tahu kamu mabuk tuak. Aku tidak akan bisa memikirkan kelanjutannya. Bukan hanya Pangeran Bima akan memundurkan tanggal pernikahan kalian saja. Tapi Pangeran Bima pasti akan membatalkan pernikahan yang sudah direncanakan sejak kecil ini! Lalu Romomu akan murka!"
“Ya bagus dong, kalau aku engga jadi menikah dengan pria tadi! Lagian aku engga suka dengan dia ... Siapa itu pangeran Bima atau apa lah. Mukanya kaku kek kanebo kering. Apa kamu engga lihat jika dia terlihat angkuh begitu?”
Satria mengatupkan bibirnya. Ia mencoba menjelaskan sekali lagi jika pernikahannya dengan Pangeran Bima harus terjadi. Jika sampai tidak terjadi, maka seluruh masyarakat yang berada di dalam kerajaan Maldapati ini akan berakhir.
“Kartika, kamu harus menikahi pangeran Bima. Sesuai yang dikatakan Romo dan leluhur! Jika tidak, dua kerajaan yang akan menjadi korbannya!”
Dahi Lovely berkerut. “Maksudnya dengan dua kerajaan yang akan menjadi korbannya itu apa?” tanyanya lirih. “Kenapa aku dan Pangeran Bima yang enggak jadi menikah, dua kerajaan yang menjadi korban?” Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya kasar dan kemudian tertawa lepas. “Astaga, ini orang memang ngadi-ngadi ...,” gumannya sembari menggelengkan kepala pelan.
Melihat tingkah Lovely yang masih terlihat aneh di matanya, Satria sudah mulai kehilangan kesabaran. Ia menarik tangan Lovely dan mendekatkan mukanya tajam. “Apa kamu lupa apa yang sudah dikatakan sesepuh kerajaan jika kamu dan Pangeran Bima batal menikah?”
Lovely diam. Ia tidak menjawab. Manik mata Satria yang menatapnya ini menembus relung hatinya yang paling dalam. Bola mata hitam legam yang membuatnya merasa tenang dalam sekejap. “Hm ... memang apa yang akan terjadi?” Ia berbalik bertanya sembari tersenyum.
“Kalian akan dikutuk untuk− ....”
“Tabib Sayuti datang!” seru dua pengawal di depan kamar dengan suara tegas dan lugas.
Tangan Satria yang memegangi lengan Lovely langsung dilepaskannya.
Dua pengawal yang bertugas di depan pintu kamarnya itu ternyata sangat multifungsi, pikir Lovely. Selain menjaga keamanan dan keselamatannya. Dua pengawal tersebut juga sebagai bel pemberitahu jika ada orang yang akan masuk.
Seorang pria tua dengan rambut yang nyaris putih keseluruhannya. Diikat dengan tali rambut berwarna abu-abu. Lalu setelan pakaian yang berwarna putih keseluruhannya itu membuat tabib Sayuti terlihat seperti seorang resi.
“Wilujeng sonten (Selamat sore) Putri Raden Kartika Sariningtiyas,” sapa resi Sayuti sembari tersenyum ramah.
Lovely langsung menganggukkan kepalanya dan matanya tertuju pada sebuah mangkuk yang terbuat dari tanah liat yang sedang dipegang oleh tabib Sayuti.
Mata Lovely melirik ke arah isi mangkuk tersebut. Terlihat cairan berwarna cokelat kehitaman yang tampaknya tidak enak. Ia menelan ludah dengan bibir manyun ke depan. ‘Aku di suruh meminum air cucian begitu ...? Ya Tuhan, aku ingin segera pulang. Kenapa aku bisa nyasar ke mari?!’ serunya di dalam hati.
Bersambung