Entah sudah keberapa kali Satria menghela nafasnya karena menahan kesabaran pada Lovely.
“Raden Bima Sandiaga, Kanjeng putri ...,” sahut Satria membenarkan.
Wajah Lovely langsung datar. Ia sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Pikirannya terasa buntu kenapa ia terjebak dalam situasi begini. “Di mana sutradaranya?”
“Hm ... Apa?” Satria tidak mengerti.
“Sutradaranya di mana?! Aku ingin berbicara dengannya kenapa aku bisa dijadikan peran utama tanpa pemberitahuan? Jika ini adalah sebuah reality show, aku akan menuntut bayaran tinggi!” ucap Lovely sambil melihat ke arah sekeliling mengamati ujung-ujung atap. Mencari di mana kamera disembunyikan. “Aku yakin ini adalah reality show untuk ngerjain aku ...!” Lovely berjalan dan ingin naik ke atas meja untuk memastikan di mana kamera tersembunyinya.
Satria sangat terkejut melihat tingkah Lovely. “Kanjeng Kartika, kamu sedang apa?” tanyanya dengan wajah panik.
“Kanjeng, kanjeng ...! Sudah aku muak dengarnya. Namaku Lovely!” serunya sambil tetap nekat menaiki meja dengan kain sempit yang melilit kedua kakinya.
Satria langsung melihat ke arah pintu yang tidak tertutup rapat. Ia takut ada orang lain yang melihat tingkah Lovely yang samakin aneh. ‘Ini karena Kartika terlalu banyak minum tuak!’ gerutunya di dalam hati.
“Kartika turun cepat!” seru Satria.
Tapi Lovely tetap keras kepala. Ia masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi padanya. Dan tetap menganggap jika ini adalah sebuah acara reality show untuk menjahili seseorang. Dengan wajah ditekut dan dahi berkerut Lovey terus meraba dinding bagian atas dengan telapak tangannya, berharap menemukan kamera yang tersembunyi.
Suara Diah Gayatri sedang berbincang bersama dayang-dayangnya terdengar semakin jelas, tanda jika dia semakin mendekat melewati kamar Lovely.
Medengar suara Diah, membuat Satria menjadi panik. Ia bergegas mendekati Lovely. “Kartika, cepat turun dari sana!” serunya dengan suara lirih agar tidak di dengar dari luar.
“Namaku bukan Kartika! Namaku Lovely!” Ingat Lovely!”
“Ya, ya ... baiklah Lovely, cepat turun! Jangan berdiam di sana! Jika Kanjeng Diah Gayatri melihatmu seperti ini pasti dia akan mencari-cari kesalahanmu lagi. Dan kamu akan dihukum oleh ayahmu!” kata Satria memberitahu namun tetap tidak di dengar oleh Lovely.
Suara Diah semakin dekat, membuat Satria harus segera melakukan seuatu agar Lovely tidak mendapatkan masalah karena sikapnya yang bar-bar sebagai putri kerajaan.
Dengan cepat Satria menarik tangan Lovely agar turun dari atas meja.
Tangan Satria yang menarik lengannya membuat Lovely tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. “Aaa ....” Lovely terjatuh.
Tapi jatuh dalam dekapan Satria.
Jantung Lovely berdegup kencang. Ia pikir dirinya akan jatuh dan membentur lantai. Tapi ternyata dekapan hangat dengan tangan kekar yang menangkap punggungnya.
Kedua mata Lovely tanpa sadar menatap Satria lekat. Mereka bertatapan sejenak. Satria begitu gagah dan tampan. Wajahnya yang tampan dan manis khas ketampanan nusantara yang macho dengan rambut berwarna hitam legam di ikat cepol. Alis lebat berjajar rapi, hidung mancung dan otot kekarnya itu tidak akan didapatkannya di dalam dunia nyata. ‘Dan jika ini bukan syuting film atau reality show, aku pasti masih berada di dunia mimpi. Beruntung sekali jomblowati kek aku gini punya pengawal tampan yang selalu siap siaga,’ batin Lovely sambil tersenyum.
“Kanjeng Kartika, dengar ...!” seru Satria sambil menurunkan tubuh Lovely dengan perlahan. “Dengar aku.”
“Hm, ya aku dengar. Ada apa?” tanya Lovely sambil tersenyam senyum dan mengibaskan rambutnya ke belakang.
Satria mengerutkan dahinya melihat tingkah centil Lovely. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya. “Kartika ...! Sudah mabuknya sudah! Dengar, kamu harus sadar!” serunya dengan wajah panik.
“Ya, aku sadar sejak tadi,” jawab Lovely jujur.
“Entah sudah berapa tuak yang kamu minum hingga kamu menjadi melantur seperti ini!” gerutu Satria kesal. “Dengar, jika Diah ke mari, pasti dia akan mencari masalah denganmu. Dan jika dia menekanmu. Aku harap kamu jangan diam saja. Kamu harus melawannya. Jangan hanya berani di belakang dengan mabuk tuak seperti ini. Kamu harus menyahut kata-katanya walau sesekali. Jadi dia tidak akan semena-mena menekanmu dengan kata-katanya.”
“Hm ....” Lovely mengerutkan dahinya. “Diah ... Diah siapa ya?” tanyanya sambil tersenyum paksa. “Aku tidak mengenalnya.”
Satria memukul keningnya sendiri. “Ya ampun Kartika ....”
“Selamat datang Kanjeng Diah Gayatri,” kata para pengawal penjaga kamar Lovely di depan pintu.
Tidak lama kemudian terdengar pintu yang sedikit menutup terbuka lebar. Langsung terlihat seorang putri yang cantik dan terlihat anggun dengan pakaian adat juga bunga Kamboja terhias di rambutnya tersenyum ke arah Lovely.
Lovely dan Satria yang berdiri sejajar langsung melihat ke arah Diah yang baru saja masuk.
Diah menatap ke arah Satria sejenak. Seakan ada kekaguman tersembunyi di balik sorot matanya sebelum sepasang matanya itu menatap ke arah Lovely. “Mbak Kartika, tadi aku dengar mbak sakit? Sekarang sudah pulih?” tanyanya dengan wajah yang manis.
Lovely menjadi heran dengan apa yang dikatakan Satria barusan. Apa gadis ini bernama Diah yang dimaksud oleh Satria? Tapi gadis ini tampak baik dan tidak menyebalkan. Kenapa aku harus hati-hati padanya?, pikir Lovely.
“Mbak Kartika, jangan sering mabuk tuak. Kasian Romo mikirin mbak yang sering mabuk dan belum menikah juga di usia seperti ini. Bagaimana jika mas Bima mengundurkan kembali tanggal pernikahan?” sindir Diah sambil tersenyum. “Tidak lucu mbak jika seorang putri kerajaan menjadi perawan tua. Apa lagi putri kesayangan Raja. Sungguh memalukan.”
Lovely terkejut dengan kata-kata menohok yang dikatakan dari mulut gadis berparas manis ini. “Hei, hei, aku masih sembilan belas tahun lebih sembilan bulan. Bagaimana bisa aku dibilang sudah menjadi perawan tua?” sahut Lovely.
“Tidak ada yang menikah di atas umur tujuh belas tahun mbak. Hanya mbak yang berumur hampir dua puluh tahun tapi masih melajang,” sahut Diah sambil tersenyum sinis.
“Dan kamu? Apa kamu sudah menikah? Kok pake ngatain orang perawan tua segala?” timpal Lovely.
Diah langsung terdiam. Ia memandangi Lovely dan Satria bergantian. “Mbak keterlaluan! Lihat mbak, saat Bima datang aku pastikan mbak akan gagal nikah dan menjadi perawan tua selamanya!” seru Diah sembari membalikkan badan dan keluar kamar. Lalu di dampingi dua dayang-dayang yang sejak tadi menunggunya di balik pintu kamar Lovely.
“Hei kenapa dia? Kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah,” gerutu Lovely.
“Dia marah karena, Putri Diah Gayatri tidak bisa menikah dengan mudah Kartika. Apa kamu lupa jika Putri Dian sudah menjanda di usianya yang masih enam belas tahun?” tanya Satria mengingatkan.
Lovely menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia tidak ingat dengan apa yang terjadi. “Kenapa dia bisa menjanda di usia semuda itu?” tanyanya lirih dan menjadi simpati pada Diah.
Belum juga Satria menjawab, tiba-tiba dua pengawal di depan kamar Lovely berteriak tegas, “Selamat datang Raden Bima Sandiaga!”
Lovely langsung terkejut mendengar nama pria yang katanya akan menjadi suaminya itu. Ia langsung menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka sejak tadi. “Suamiku ...?” desisnya lirih. “Jika seorang pangeran, pasti suamiku lebih tampan dan gagah dari pada Satria. Jika pengawalku saja tampan apa lagi pangerannya? Namanya saja Bima ....” Lovely sudah membayangkan bagaimana tampan rupawannya calon suaminya itu. Jika ini mimpi, ia ingin tidur lebih lama.
Langkah kaki perlahan masuk ke dalam kamar Lovely. Dan seperti ada angin yang berhembus pelan ke wajahnya, Lovely mengibaskan rambutnya secara natural perlahan ke belakang. Jantung Lovely harap-harap cemas ingin melihat wajah calon suaminya itu.
“Putri Kartika,” panggilnya dengan suara bariton yang gagah.
'Astaga, suaranya aja gagah banget!' seru Lovely di dalam hatinya dengan perasaan suka cita.
Setelah langkah kaki Bima masuk ke dalam kamar Lovely dan seluruh tubuhnya berdiri tepat di hadapannya. Wajah Lovely yang semula berekspresi muka bahagia, langsung berubah menjadi datar.
“Pa-pangeran Bima?” tanyanya lirih.
Pria yang mengaku bernama Bima itu menganggukkan kepalanya.
Lovely menoleh dan memandang ke arah Satria. Seakan meminta penjelasan dengan apa yang terjadi di sini. Tidak mungkin pengawal lebih tampan dari pada pangerannya!, pekiknya di dalam hati.
“Iya, ini aku Bima. Apa kamu lupa? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sudah sadar? Aku dengar kamu tidak sadarkan diri,” tanya Bima degan wajah cemas.
Mulut Lovely sedikit ternganga menatap Bima. Lelaki berstatus pangeran ini tidaklah tampan. Hidungnya sedikit pesek, bibirnya tebal dan terlihat dua gigi besarnya yang sedikit ke depan. Tubuhnya pun tidak gagah seperti yang dibayangkan. Tidak sesuai namanya, Bima.
Pangeran tampan rupawan, tinggi perkasa itu tidak ada!
Bima yang tinggi tubuhnya sama tingginya dengan Lovely berjalan mendekat. Ia menarik tangan Lovely dan menggenggamnya erat. “Maafkan aku Kartika. Selama ini aku sudah membuatmu menungguku. Kini aku pastikan jika kita akan menikah secepatnya,” katanya sambil tersenyum.
“Tidak!” teriak Lovely menggelegar. Membuat Bima dan Satria terkejut.
Lovely melepaskan genggaman tangan Bima. Ia berjalan mundur dan justru menggandeng lengan Satria. “Aku tidak mau menikah jika pangerannya seperti itu!” teriaknya yang membuat kedua mata Bima membulat dan rahangnya mengeras.
“Apa kamu bilang?!” seru Bima murka.