Tubuh Lovely bergerak seakan mengikuti langkah kuda yang berlari. Punggungnya disanggah oleh sebuah tangan kekar dan kuat. Kepalanya terasa menempel di depan d**a seseorang. Detak jantung seseorang yang terdengar berdegup seirama dan aroma tubuh pria seperti wangi kekayuan dan pepohonan bercampur aroma kopi tubruk hangat tercium di ujung indera penciuman Lovely.
Lovely pasrah dibawa ke mana pun, karena tubuhnya tidak bisa bergerak.
Gerakan langkah kuda yang berlari sembari tubuhnya dipeluk oleh seorang pria yang tidak mengenakan baju membuat pipi Lovely menempel di permukaan kulit pria itu. Tapi entah mengapa Lovely merasa nyaman. Bahkan membuat Lovely tertidur kembali di atas kuda sambil dipeluk oleh pria asing ini.
*
Perlahan Lovely membuka kedua matanya, setelah tertidur kembali di atas kuda yang berlari. Samar-samar mulai terlihat dinding rumah yang nampak tidak biasa, seperti bukan berada di rumahnya. Langit-langit kamarnya pun berbeda, di rumahnya berwarna putih. Tapi langit-langit ini seperti terbuat dari tanah liat atau apa. Lovely kurang begitu faham.
Karena merasa janggal, ia membuka lebar kedua matanya untuk memastikan lebih jelas. Hingga ia terkejut terbangun bukan di tempat yang sama. “Ini di mana?!” serunya panik.
Wangi dupa tercium di dalam ruangan yang sepertinya sebuah kamar. Lalu terdapat buah-buahan lokal yang tersaji di atas piring yang terbuat dari tembaga berwarna kuning keemasan. Juga alat minum seperti teko dan cangkir yang ada sampingnya. Semuanya terbuat dari tembaga.
Lovely menelan air liurnya. Ia tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba berada di sini?
Kedua matanya melihat ke sekeliling, ruangan kamar yang ia tempati seperti kamar berfurnitur kuno klasik. Pasti si pemilik adalah pecinta seni, pikir Lovely.
Lovely berniat turun dari atas ranjangnya yang berdipan kayu jati dengan empat penyangga di setiap ujungnya. Kelambu berwarna putih terhias mengelilinginya.
Lovely mengibaskan kelambu putih itu dan kemudian turun dari ranjangnya. Lalu ia baru tersadar jika ia mengenakan pakaian adat. Pakaian adat jawa kuno tepatnya. Kemben dan kain panjang mengapit kakinya. Juga dengan perhiasan emas yang melingkari leher jenjangnya. Menghiasi daun telinga, pergelangan tangan dan jarinya. Nampak seperti toko emas berjalan.
“Ya ampun ... Gue di mana ...?” tanya Lovely pada dirinya sendiri dengan suara yang amat lirih.
Belum juga ia mengerti dengan apa yang terjadi, derap kaki terdengar memasuki kamarnya. “Kartika, kamu sudah siuman?”
Lovely langsung menoleh. Walau nama yang disebut bukan namanya, tapi ia menoleh karena terkejut dengan siapa yang datang.
Kedua mata Lovely semakin membulat melihat pria paruh baya berusia mungkin hampir kepala lima puluh tahunan. Terlihat lebih tua dari ayahnya. “Lagi-lagi kamu keluar tanpa ijin!” seru pria itu membentak.
Lovely langsung terkejut mendengar suara berat dan kerasnya menggelegar. Dilihatnya juga satu pria bertubuh tegap, berkulit cokelat muda khas nusantara dengan otot kekar dan perut rata berbentuk enam kotak. Tampan dan terlihat seperti seorang model s**u pria dewasa untuk pembentukan otot.
Mulut Lovely langsung ternganga melihatnya. Dibalik rasa kagumnya pada pria yang ketampanan dan gagahnya organik seperti itu, di dalam hati ia pun masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Para pria di depannya, baik yang muda dan tua terlihat tidak memakai baju, bertelanjang d**a, dengan celana seperti pemain ketoprak humor yang sering dilihatnya di televisi.
“Aku di mana sih?” Akhirnya Lovely bersuara dan bertanya.
Kedua pria di depannya langsung bertatapan mendengar logat bicara Lovely yang menjadi aneh.
“Aku sedang syuting film ya?” tanya Lovely lagi yang malah membuat pria tua paruh baya itu semakin murka.
“Dasar kamu, anak memalukan! Kamu mabuk tuak ya! Anak gadis macam apa ini?! Bagaimana Romo bisa mencari calon suami yang baik untukmu jika kamu berkelakuan seperti ini?!”
Lovely semakin kebingungan. Ia menatap mahkota yang di pakai pria yang sejak baru datang selalu saja marah. Sepertinya bapak-bapak ini berperan sebagai raja, pikirnya.
“Terserah kamu lah! Jangan keluar kamar hingga besok!” seru pria paruh baya itu dan kemudian membalikkan badannya. Sebelum pergi dari kamar berpintu kayu jati, pria itu berbisik pada pria yang lebih muda. “Tolong jaga dia ....”
“Baik, Raden!”
Kulit di atas alis Lovely berkerut. Romo ... Raden ..., pikirnya bingung.
Setelah pria paruh baya yang sejak tadi selalu marah pada Lovely pergi. Lovely baru memberanikan diri bertanya pada pria yang masih tinggal di dalam ruangan kamarnya. “Hei, siapa kalian ...?” tanyanya dengan wajah ditekuk, takut.
“Aku Satria! Pengawal mu! Kamu boleh melupakan aku. Tapi kamu tidak boleh melupakan Romo mu. Raden Wijaya Kusuma! Yang benar saja kamu melupakan Romo mu sendiri. Anak durhaka. Pantas saja kalau beliau murka,” tutur Satria memberitahu.
“A-a-apa ... Romo ...?” tanya Lovely terbata. “Maksudnya ayahku?”
Satria menganggukkan kepalanya. “Romo ... orang tuamu. Aku tidak mengerti maksudmu dengan ayah?”
“Dan kamu?” tanya Lovely sambil menunjuk ke arah Satria dengan telunjuk yang gemetar.
“Aku, Satria, pengawal mu!”
Lovely langsung menutup mulutnya yang ternganga lebar. “Tidak ... Tidak ...! Ini kesalahan. Sepertinya aku berada di tempat syuting film kolosal ya?” tanyanya sambil menggelengkan kepalanya cepat.
Kini giliran Satria yang mengerutkan dahinya. “Syuting film kolosal? Apa itu ...?” tanyanya dengan nada bicara yang aneh menurut Lovely.
“Film dengan tema jadul ...,” jawab Lovely cepat.
“Jadul ...? Apa ...?” Satria semakin tidak mengerti.
Lovely menepuk keningnya sendiri. “Yang benar saja ...,” gumannya. “Dan menurutmu aku siapa?”
Satria menatap Lovely dengan lekat, lalu ia menjawab dengan lugas. “Kamu, Kanjeng Putri Kartika Sari ningtias.”
Mulut Lovely langsung kembali ternganga. Sejenak ia diam dan kemudian berlari ke arah cermin besar yang berbingkai kayu jati berukir. Ia bercermin. Tadinya Lovely pikir wajahnya telah berubah sehingga ia dikenal dengan orang yang salah. Tapi ternyata wajahnya tetap sama. Ya, dia Lovely Pramesti Angelina. Bukan orang lain.
Setelah bercermin Lovely kembali lagi berjalan ke arah Satria. Ia menatap wajah Satria, sedikit mendongakkan muka karena Satria lebih tinggi darinya. “Hei, kamu salah orang. Aku itu Lovely Pramesti Angelina. Bukan Kanjeng Putri Kartika− ... tapi siapa tadi, aku lupa.”
Satria menghela nafas panjang. Lalu ia menarik lengan Lovely menuju ke ujung ruangan, agar tidak dilihat oleh dua orang pengawal yang berjaga di depan kamarnya. Kedua matanya mendelik menatap Lovely dengan tajam. “Kartika ... Sepertinya kamu mabuk tuak sangat parah. Kalau sampai calon suamimu tahu tingkah laku mu yang seperti ini, dia pasti akan membatalkan pertunangan kalian yang sudah di jalin sejak kecil,” ucapnya dengan nada serius. “Kartika, sebagai temanmu sejak kecil, aku tidak ingin kamu menjadi perawan tua karena tidak ada yang menikahi mu ....”
Lovely menelan air liurnya. Ia semakin takut dengan keadaan yang semakin tidak dimengerti olehnya. “Si-siapa memangnya calon suami aku?” tanyanya lirih dan dengan suara yang serak.
“Kamu juga lupa dengannya?” tanya Satria tidak percaya.
Lovely menganggukkan kepalanya.
“Dia ... Pangeran Raden Bima Sandiaga. Pemuda yang dijodohkan denganmu sejak kalian masih kecil.”
“Apa Sandiaga? Sandiaga Uno?” seru Lovely yang juga tidak kalah membulatkan kedua matanya karena terkejut.