"Toh, kita adalah orang asing sebelum ada kata saling dan kembali masing-masing." --- "Ayu, Mas boleh ngomong?" tanya Sandi pelan. Ayu mengangguk tanpa tahu harus menyahut apa lagi karena perasaannya tengaj dilema saat ini. Ia memang menunggu penjelasan Sandi. Namun, di sisi lain ia juga takut kalau kenyataan akan begitu menyakitkan. Tetapi, bukankah menerka-nerka jauh lebih sakit? Maka, ia membiarkan Sandi mengatakan semuanya. "Perempuan itu, bukan siapa-siapa. Dia cuma editor Mas. Mas tau kalau Ayu lihat Mas waktu itu, kan? Mas Juna bilang sama Mas. Maaf sudah bikin Ayu berpikir macam-macam." "Tapi, kenapa Mas gak ngabarin Ayu? Mas seakan-akan menyembunyikan sesuatu yang gak boleh Ayu tau." Sandi menutup matanya sebelum menggenggam telapak tangan Ayu. "Mas lagi bahas buku baru. Mas

