“Kak!” Seruan Alfar itu dibiarkan oleh Altair. Cowok itu sibuk bersiul dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana jeans. Mereka memutuskan untuk pulang saja ke rumah, setelah perseteruan dan perdebatan yang terjadi di mini market. “Kakak!” “Apa, Al?” tanya Altair dengan nada santai. Cowok itu duduk di sofa dan menaruh kedua kakinya di atas meja di hadapannya. Alfar sendiri hanya berdiri di depan sang kakak. Wajahnya sarat akan kebingungan dan keingintahuan, tetapi memutuskan untuk tidak bertanya terlebih dahulu ketika mereka berdua berada di jalan menuju rumah. “Kakak kenal sama Amira di mana?” tanya Alfar dengan nada curiga. Bayangan Amirayang memucat dan ketakutan hingga harus bersembunyi di balik punggung Elang membuat Alfar m

