Hal pertama yang dilihat oleh Riska begitu kedua matanya terbuka adalah langit-langit berwarna putih. Cewek itu mengerjap dan meringis. Kepalanya terasa sakit, membuatnya harus memijat pelan pelipisnya. Dia menelan ludah dan membasahi bibirnya, kemudian menoleh. Matanya lantas bertemu dengan mata Brian yang menatapnya dengan tatapan khawatir sekaligus lega. Senyuman cowok itu pun sedikit gemetar, Riska bisa melihatnya. “Brian?” “Hei, lo udah sadar?” Brian menggenggam tangan Riska dan mengusap rambutnya lembut. “Apa yang lo rasain? Apa ada yang sakit?” Riska menggeleng dan mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya. Sigap, Brian membantu cewek itu dan menyandarkannya ke sandaran ranjang. Wajah Riska masih pucat, tapi tidak sepucat sebe

