LIMA BELAS Sejak pagi, langit hitam menggantung di awan sana. Beberapa kali, petir saling menyahut, membuat para peserta cewek bergidik ngeri. Angin berhembus kencang namun Amira tidak merasa takut sama sekali. Dia senang dengan angin, dengan hujan, walau dia benci setengah mati dengan gemuruh petirnya. Karenanya, Amira tersenyum manis dan merentangkan kedua tangan. Menikmati angin menerpa tubuh, wajah dan rambutnya. “Nanti masuk angin.” Suara datar itu diikuti dengan jaket hitam yang melingkupi tubuhnya. Amira tersentak lantas menoleh. Elang sudah berdiri tepat di sampingnya. Cowok itu memasukkan kedua tangan di dalam saku celana kemudian menatap langit mendung di atas sana. “Gue suka angin dan hujan.” “Oh ya? Kita punya kesamaan k

