“Amira!” Amira mengabaikan panggilan Elang yang dia yakini sedang mengejarnya itu. Dipercepatnya langkah ketika dia sudah melihat pintu toilet di hadapannya. Saat Amira sudah ingin meraih gagang pintu dan mendorongnya agar dia bisa masuk ke dalam, lengannya dicekal dan cewek itu terpaksa berhenti melangkah. Menahan diri untuk tidak mendengus, Amira membiarkan Elang memutar tubuhnya dengan pelan. “Amira,” panggil Elang lembut. Cowok itu tersenyum tipis. “Lo kenapa? Hm?” “Mau pipis!” Mendengar itu, Elang terkekeh. “Lo pikir, gue akan semudah itu percaya sama ucapan lo barusan? Lo marah, Amira. Lo jengkel sama Icha. Ada apa?” Merasa percuma menyembunyikan kemarahannya dari Elang, Amira menghela napas. Cewek itu menunduk dan memb

