“Amira.” Panggilan itu membuat Amira mendongak dari puding cokelat yang sedang dimakannya. Dia menatap Brian dan Elang yang nampak serius di tempat masing-masing. Riska sendiri masih tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter Juno. “What?” Elang saling tatap dengan Brian. Cowok itu kemudian berdeham dan bertanya, “Kalau gue dan Brian nyamperin Altair dan langsung nyergap dia, gimana?” Kening Amira mengerut. “Maksudnya menyergap dia itu kayak gimana?” “Well,” Elang berdeham lagi dan mengusap tengkuknya. “Menyerang dia duluan, mungkin? Terus bawa dia ke kantor polisi?” Amira diam. Cewek itu menaruh sendoknya di atas piring dan memutuskan untuk tidak memakan lagi puding cokelat kesukaannya itu. Dia ber

