“She’s fine. Dia cuma kecapekan aja dan banyak pikiran. Sebisa mungkin, jangan sampai dia mikirin hal-hal yang nggak penting yang bikin dia stres.” Amira dan Brian sama-sama menghela napas lega dan mengucapkan terima kasih pada dokter Juno, sedangkan Elang hanya bersedekap dan mengangkat satu alisnya ke arah temannya itu. “Kenapa dari tadi lo selalu ngelirik Amira?” tanya Elang kemudian, ketika dia merasa kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Juno yang sedang membereskan peralatannya setelah sebelumnya menuliskan resep obat untuk Riska, menoleh dan mengerjap. “Hah?” “Lo dari tadi ngelirik Amira terus.” Elang mencoba bersabar, walau dari nada suaranya, terdengar sekali cowok yang dijuluki kulkas berjalan semasa kuliah itu sudah tidak bisa

