Wijaya's Family

1453 Kata
Ruangan besar berdekorasi mewah itu tampak dingin, ada tiga orang disana menikmati dalam diam segelas Wine yang berada ditangan masing- masing. “ Bagaimana hasil kerjamu selama memantau cabang kita yang ada di Bali sana, Xavier?” pria paruh baya itu menyesap cerutunya kemudian menghembuskan nafasnya diudara. “ Cukup baik.” Xavier, pria itu terpaksa kembali terlebih dahulu ke ibu kota, meninggalkan sang Personal Assitant yang mengurus masalah yang timbul di The Velvet kala itu sekaligus meninggalkan sosok gadis itu disana. “ Baguslah!” senyum pria itu lebar, menatap bangga pada sang putra yang selalu bisa diandalkan. “ Bagaimana dengan The Velvet?” suara anggun itu datang dari satu- satunya anggota perempuan di keluarga itu, menatap manic sang Kakak dengan seringainya. “ Kudengar salah satu jalang yang menemanimu berhasil membuatmu mengeluarkan cukup banyak darah.” Tunjuknya pada pelipis sang Kakak, ada bekas jahitan disana. “ Itu bukan urusanmu, Serena!” Xavier menatap adik wanitanya itu tajam merasa kesal karena musibah yang menimpanya sampai ketelinga wanita satu itu. “ Kau ceroboh Xavier!” Mitch menatap sang putra tajam, “ Bagaimana dengan media jika mereka mengetahui hal ini?  Bagaimana saham kita di Bursa Saham kita?!” Tentu saja yang dicemaskan pria tua itu adalah saham serta hartanya, apalagi?! Tanpa uang dan kekuasaan mereka tidak ada apa- apanya, bukan?! “ Ya, Ayah benar sekali! Saham Wijaya bisa merosot tajam hanya karena seorang Xavier Alexander Wijaya tidak bisa menjaga hormonenya yang menjijikkan!” senyum Serena palsu. “ Bahar sedang mengatasi semua, kalian jangan khawatir masalah itu!” Xavier menatap Serena tajam. “ Bagus! Setidaknya, pria tua ini sedikit lega!” Mitch meneguk gelasnya sebelum berucap, “ Sebenarnya tujuan pria tua ini mengumpulkan kalian  adalah keluarga Danudirja, mereka meminta kita untuk datang keacara makan malam dikediamannya, apakah kalian ada waktu?” “ Apakah ini adalah niat terselubung mereka untuk menarik salah satu pewaris keluarga kita?” Alis Serena naik, menatap sang Ayah lama, “ Kalau memang itu niat dibaliknya, maaf putrimu ini tidak tertarik.” “ Benar sekali! "Itu benar! Apa yang membuat Serena Mikaila Wijaya tertarik selain membelanjakan uang yang mengendap di rekeningnya?" “ Bukankah kita sama. Aku dengan hobbyku menghabiskan uang dan kamu dengan nafsu binatangmu yang tidak pernah ada habisnya!” wanita muda itu tidak mau kalah. “ Serena, jaga kata- katamu!” Suara berat itu menatap sang adik tidak suka. “ Memang benar bukan, untuk apa ditutupi lagi? Aku akan berhenti menghamburkan uang asal kamu juga berhenti bermain dengan para jalang diluaran sana! Bagaimana? Sayang sekali, pasti kakak tidak mau karena kamu akan berhenti saat liang lahat sudah tergali untuk kamu tinggali!” “ Kalian berdua mengerikan!” suara pria tua itu mengintrupsi kedua saudara yang sedang berdebat itu. “ Bukankah sifat kami menurun langsung dari Ayah?” celetuk Serena sembari memainkan gelas yang ada ditangannya. “ Jaga bicaramu Serena!” Prang! Gelas yang berada dalam genggaman pria itu menghantam dinding, menimbulkan bercak kemerahan yang menyebar disana.  “Memang begitu nyatanya!” ucap Serena masa bodoh.  “Sudahlah!” Mitch mengeram tertahan mendengar jawaban anak perempuannya itu, “ Tapi yang jelas Saya tidak mau tahu, kalian berdua harus datang sesuai perintahku! Terutama kau, Xavier karena ini adalah tanggung jawabmu!” pria tua itu bangkit dari duduknya dan membanting pintu ruangan.  “ Benar apa kata Ayah tadi, kamu anak tertua jadi itu adalah tanggung jawabmu!” Serena tersenyum manis, menepuk pipi sang kakak sebelum ikut pergi meninggalkan ruangan itu. “ B*ngsat!” makinya pelan, melepaskan kerah kemeja yang mencekik lehernya itu sebelum mengambil cairan pekatnya dan menghabiskannya dalam satu kali tegukan. Xavier kesal sekali, makan malam terselubung yang akhirnya berujung pada perjodohan! Xavier tidak ingin punya keturunan dan hidup terkekang! Tapi jika perkataan pria itu tidak dipenuhi bisa jadi dia akan ditendang sebagai salah satu ahli waris Wijaya! Dan hal itu sama sekali tidak boleh terjadi! “ Kenapa Ayah tidak cepat mati saja!” umpatnya kesal. Ditempat yang berbeda dengan waktu yang sama, seorang gadis cantik nampak duduk didepan sebuah caffe, meneguk secara perlahan MoccaLatte-nya sambil sesekali melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Cring! Bel yang tergantung diatas pintu berbunyi dan akhirnya pria paruh baya yang ditunggunya itu datang. “ Maafkan saya karena terlambat Nona!” “ Saya yang harusnya mengucapkan hal demikian karena saya telah merepotkan anda!” Mutiara tersenyum pada Bahar, Personal Assistant Xavier itu. “ Jadi bagaimana, apakah bapak menemukan barang yang saya pinta?” “ Saya berhasil menemukannya!” sebuah paper bag terulur dengan cepat Mutiara meraihnya dan mengambil isinya. “ Terima kasih!” “ Mohon maaf nona, mungkin saya lancang!  Saya telah menyelidiki data diri anda secara menyeluruh.” Gadis itu membeku, meremas kedua telapak tangannya dengan keras di bawah meja dan menggigit bibirnya keras, “ Untuk apa? Apakah Bapak akan menemui kakak saya dan menceritakan semua yang terjadi pada saya malam itu?” Seulas senyum menenangkan terbit di wajah Bahar, “ Tenanglah, saya tidak akan membongkar apapun tanpa persetujuan anda.” Pria paruh baya itu sangat mengerti apa yang ditakutkan oleh Mutiara. “ Sebenarnya ada beberapa pertanyaan, mungkin apa yang saya tanyakan ini sangat tabu.” Pria itu mengerutkan alisnya, seolah memilah- milah kata untuk bicara. “ Apa?” “ Saat kejadian itu, Apakah Tuan menggunakan pengaman saat melakukannya?” wajah Mutiara memerah, memalingkan wajahnya secepat mungkin. “ Saya tidak tahu!” gadis itu menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apapun. “ Dan masa subur?” “ Saya tidak mengerti hal seperti itu.” Jawaban yang membuat Bahar memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut.  “ Saya hanya takut ada sesuatu yang tumbuh disana.” “ Saya tidak mungkin langsung hamil,kan?” gadis itu memucat, terlebih lagi mengingat pria menjijikkan itu hampir melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. “ Masalah itu adalah kehendak Tuhan! Keluarga Wijaya itu mengerikan nona, kita tidak akan pernah bisa menebak seperti apa rencana yang tersusun diotak mereka.”  “ Semengerikan itu? Jadi apa yang harus saya lakukan?” “ Untuk sementara waktu, anda tidak perlu khawatir, Kami  berhasil menghilangkan beberapa bukti dan saksi. Dan apapun yang terjadi kedepannya, jangan sungkan untuk menghubungi saya.” “ Terima kasih, anda telah membantu saya sejauh ini.” “ Anda tidak perlu sungkan,Ini adalah kewajiban saya karena anda terjebak dalam masalah ini karena saya. Dosa Bahar sama besarnya dengan Xavier, karena pria itulah gadis malang seperti Mutiara mengalami hal mengerikan itu. ” Pria itu kemudian menatap pergelangan tangannya. “ Nona saya harus pergi sekarang!” “ Ya, sampai jumpa!” pria paruh baya itu pergi, meninggalkan Mutiara yang terpekur dibalik mejanya. Gadis itu berpikir dengan keras, selama dia berada satu langit dengan pria menjijikkan itu, mungkin dia akan terus mendapatkan perlakuan menjijikkan lagi dan lagi. “ Apa yang sedang kamu lamunkan?” telapak tangan itu bergerak didepannya, menyentak lamunan panjang gadis itu. “ Apakah aku terlambat?” Andra, pemuda itu duduk didepannya. “ Tidak!” Mutiara menggeleng dengan cepat. Ya bisa dibilang Mutiara membuat janji dengan orang berbeda ditempat yang sama. “ Andra, kamu sudah memikirkan akan kuliah dimana?” “ Entahlah, mungkin aku akan meneruskan usaha ayahku. Kamu tahu sendiri ayahku sudah Tua dan sakit- sakitan, usaha ternak sapinya tidak ada yang mengurus.” “ Oh, sayang sekali!” “ kalau kamu sendiri kemana?” Pergi yang jauh dari tempat ini, dari jangkauan pria mengerikan itu. Tempa diujung bumi yang mungkin tidak bisa dijangkau oleh siapapun. “ Jerman.” Negara itu terbesit dalam pikiran Mutiara, “Aku ingin belajar disana!” Dan apa yang dia harapkan nyatanya tidak mudah. Pria yang sudah dianggapnya kakak tertua itu nyatanya tidak setuju. “ Kenapa harus sejauh itu?” Narendra mendekat, menyentuh pipi bulat itu dengan jemarinya yang besar, “ Mutiara dengarkan kakak! Bukan masalah uang yang kakak ributkan disini tapi kamu akan sendirian disana. Kakak takut terjadi sesuatu denganmu!” Pria itu cemas, selain itu Mutiara juga masih dalam perawatan Dr. Roschel. “ Pikirkanlah dengan baik Mutiara! Banyak sekali universitas di negara kita, kamu bisa memilihnya. Atau mungkin kamu bisa pergi ke Singapura, itu lebih memungkinkan.” Sahut Andira, wanita itu duduk disamping Mutiara menggenggam jemari kecil itu dan tersenyum dengan lembut, “ Kamu ingin berkuliah dimanapun, silahkan!” Dan sewaktu- waktu bisa bertemu dengan Xavier, b*jingan menjijikkan itu?! “ Atau kamu bisa berkuliah di Universitas yang sama dengan Nathan. Dia akan lebih bisa menjagamu!” usul Andira.  “ Bagaimana?”  alis tebal Narendra menanti kata yang terucap dari bibir kecil itu. ‘Bersama kak Nathan, tapi apakah disana aman?’ Masalahnya perusahaan Wijaya mempunyai cabang terbesar di ibu kota sana, tidak menutup kemungkinan pria itu juga berada disana saat ini. “ Mutiara?” ‘ Jakarta luas, Mutiara!’ otak gadis itu bekerja, bibirnya saling mengigit karena bingung, ‘ Atau kamu bisa menetap disana, hidup dengan bersembunyi seperti dulu dan tidak mencolok? Lagipula ada kak Nathan yang menjagamu!’ ‘Tapi, bisakah aku?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN