Mutiara memejamkan matanya menunggu sang MUA memoles wajahnya dengan beraneka macam make up sekaligus menyanggul rambut tebalnya supaya sedikit rapi dan menyisakan sedikit anakan rambut disekitar telinganya.
“ Nona, Sekarang pakailah ini!” sebuah kebaya modern berwarna pastel diberikan oleh Assistant MUA, tak lama kemudian Mutiara keluar dari bilik ganti dan berdiri kaku didepan kaca besar.
“ Coba mendekat sebentar!” wanita itu memutar tubuh Mutiara dan merapikan bagian samping agar mencetak tubuh gadis itu dengan pas.
“ Sudah!” wanita itu senang, melihat hasil kerjanya pada sang client kali ini. “ Cantik sekali kan, Nyonya?” tanyanya pada wanita dewasa yang bersendekap dibelakang mereka.
“ Kerja bagus!” jempolnya terulur, memuji kinerja sang MUA andalan para artis dan pejabat itu.
Setelah urusan wardrobe selesai, kedua wanita itu menuju sekolah tempat diadakannya acara wisuda. Untuk Narendra pria itu akan menyusul mereka nanti.
Mutiara masuk kedalam ruangan khusus para wisudawan sedangkan Andira menuju kursi yang telah disediakan.
“ Mutiara!” senyum lebar dari Andra menyambut kedatangan gadis itu sekaligus membawanya duduk disalah satu bangku yang ada. “ Lega akhirnya bisa melihatmu! Kenapa kamu tidak bisa dihubungi beberapa hari ini? Bahkan nomormu sama sekali tidak bisa dihubungi!”
“ Ah itu..” Mutiara menggigit bibirnya, lupa akan tas kecil yang menyimpan ponsel serta kartu identitasnya yang mungkin tertinggal di The Velvet. “ Ponselku error!” ujarnya dengan meringis.
‘ Mutiara, setelah ini kamu harus mencari barang milikmu sebelum semuanya makin kacau!’
“ Pantas saja!” pemuda itu mengangguk.
Acara wisuda itu dilaksanakan pukul 10.00 WITA, para hadirin yang terdiri dari pemilik Yayasan, donator serta tamu undangan sudah memenuhi area itu. Sambutan demi sambutan berkumandang, memuji kesuksesan Yayasan dan pihak sekolah yang telah berhasil mencapai prestasi akademik tertinggi tahun ini.
“ Kami sebagai salah satu Yayasan yang perduli dengan Pendidikan dan Kesejahteraan anak dengan bangga mengumumkan nilai tertinggi 4,00 jatuh kepada Siswi kami yang bernama Mutiara Annisa Soetopo. Kepada yang bersangkutan silahkan untuk naik keatas podium!” bangga sang kepala sekolah, meminta gadis itu untuk naik.
“ Naiklah! Beri wejangan yang panjang penuh petuah untuk mereka semua!” canda Andra, menepuk punggung halus gadis itu sebelum naik ke podium.
Mutiara berdiri disana, memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam, “ Selamat siang Bapak/ Ibu Donatur yang terhormat, Bapak Kepala sekolah serta bapak Ibu guru yang sangat saya hormati, para tamu undangan sekalian, serta teman- teman yang saya kasihi. Pertama- tama saya ucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kehadiratnya pada kita semua. Dan dikesempatan saat ini saya ucapkan terima kasih banyak pada guru yang telah mendidik saya dengan baik dan ucapan terima kasih untuk satu- satunya teman selama tiga tahun ini, Andrasena Gunawan.” Senyumnya tipis. “ Dikesempatan ini, saya mungkin akan berbicara hal yang sangat sensitive untuk teman- teman semua tentang apa yang saya rasakan atau minoritas dari teman yang juga mengalami hal ini.” Wanita muda itu memejamkan matanya, menahan air mata yang berebut ingin keluar saat itu juga. “ Bullying!”
Mendengar apa yang dikatakan gadis itu, suara lebah itu mulai terdengar. Mempertanyakan bagaimana bisa sekolah yang bagus seperti ini bisa terjadi hal demikian.
“ Adakah yang penasaran mengapa saya hanya menyebutkan satu nama diantara ratusan nama siswa lain? Itu karena tidak ada yang mau berteman dengan saya, bahkan tidak menganggap saya ada hanya karena satu atau dua hal. “ jemari itu bergetar, namun bibir cantiknya berusaha tersenyum.
“ Dan dikesempatan kali ini saya ingin menyadarkan bahayanya Bullying baik itu secara verbal maupun nonverbal yang saya alami atau mungkin yang minoritas alami juga. Mungkin bagi sebagian orang, apa yang mereka lakukan hanya iseng namun sadarkah kalian, apa yang terjadi pada si korban. Mental seseorang tidak ada yang tahu? Diam, tersenyum dan menganggap semuanya hanya angin adalah sebuah kamuflase untuk menutupi perasaan seseorang yang sesungguhnya.”
“ Bunuh diri dan Depresi mungkin bisa saja terjadi. Jadi saya berharap untuk teman- teman dan semua yang hadir dalam acara ini, jangan sampai hal ini terjadi lagi karena disetiap kalian melangkah, sangsi sosial dan mimpi buruk akan dosa- dosa kalian akan terus menghantui.”
“ Sekian atas pidato yang mungkin tidak berkaitan dengan tema acara ini. Maaf dan terima kasih!” gadis itu membungkukkan badannya hormat dan disambut tepukan hangat dari hadirin.
“ Keren!” Andra menyambut gadis itu, menggenggam jemarinya hangat dengan seulas senyum lebar.
“Terima kasih!” Senyum itu tertampang, namun palsu.
Dan prosesipun cepat berlalu, 50 siswa terbaik mulai memasuki podium dan menerima toga dari para orang penting di Yayasan kemudian berfoto bersama.
“ Apa yang kamu katakan tadi sangat hebat!” puji Narendra, mencubit pipi yang sudah mulai berisi itu sayang.
“ Terima kasih.” Tapi,‘ Apakah kakak akan tetap bangga padaku saat tahu bahwa aku sangat kotor?’
“ Jangan rusak riasannya, Mas!” Andira yang berdiri disamping suaminya itu memukul lengannya dengan kesal, “ Kamu tidak tahu berapa jam waktu yang dia butuhkan untuk bisa secantik itu!”
“ Mbak!” Mutiara cemberut, meraih lengan kakak iparnya itu dengan manja, “ Jangan jahat- jahat sama kak Narendra!”
“ Tuh lihat, adik kecilku membela kakak tersayangnya!” Narendra tersenyum lebar, mengabaikan sang istri yang memasang wajah masam.
“ Huh, lama- lama aku kehilangan sekutu di rumah!” Andira mengibas wajahnya dengan jemari, mengusir kekesalan yang sama sekali tidak penting itu.
“ Baiklah Mutiara, abaikan wanita yang sedang sensitive itu karena saatnya kamu harus berfoto!” Narendra mengeluarkan ponsel pipihnya, dan meminta sang istri untuk minggir sebentar, “ Senyum yang lebar dan angkat yang tinggi toga, Mutiara!” ujar Narendra, membidik sang adik disalah satu spot tercantik di taman sekolah itu.
“ Good!” senyum pria itu dengan mengangkat jempolnya tinggi. “ Permisi, bisakah anda membantu kami?” tangannya meraih tangan seorang pemuda yang kebetulan lewat kemudian dia bersama sang istri memposisikan diri di kanan kiri gadis itu, “ Ambil foto sebagus mungkin!” perintahnya dengan senyum lebar.
“ 1. 2. 3!” Camera itu berhasil menangkap ketiga orang itu dengan apik.
“ Terima kasih!”
“ Maaf, bisakah pemuda ini mengambil foto bersama gadis cantik kalian?”Andra membawa Camera Polaroidnya, tersenyum ramah pada sepasang suami istri itu.
"Tentu saja, jaga dia karena kita harus berkumpul dengan wali yang lain." Narendra tersenyum, membawa Andira yang menyuruh Andra untuk mengurus gadis mereka.
“ Mereka protektif sekali!” pujinya, kemudian memposisikan benda itu keatas serta menarik tangan Mutiara untuk mendekat.
“ Senyum yang lebar, ya! 1 2 3!” beberapa detik kemudian kertas foto itu keluar, dengan bangga melihat hasilnya. “ Kamu terlihat cantik sekali!” pemuda itu sama sekali tidak segan untuk memuji, “ karena Ini adalah kenangan terakhir kita di sekolah ini, kita harus ambil foto sebanyak- banyaknya! Pasang senyum yang cantik lagi!” lengan Andra terulur, mengambil foto kenangan sebanyak- banyaknya.
"Bisakah aku juga berfoto denganmu, Nona Mutiara?" Suara itu akrab, Mutiara dengan cepat berbalik dan menemukan senyum lebar seorang pemuda dengan rangkaian mawar merahnya.
“ Kak!” pekiknya senang, memeluk tubuh tegap itu, menyembunyikan wajahnya diceruk leher berbalut kemeja hitam.
“ Hiks!”
“ Hai, jangan menangis! Jangan membuat kakakmu merasa bersalah karena melihat air matamu lagi!”
“ Iya!” gadis itu menganggukkan kepalanya patuh dan dengan cepat menghapus air mata yang entah kenapa langsung turun itu.
“ Hai Andra, apa kabar?! Apakah kamu menjaga Mutiara dengan baik?”
“ Tentu saja, aku bahkan tidak pernah tidur hanya untuk membuatnya tidak menangis!” hiperbola sekali, memang dia pikir Mutiara punya stock air mata sebanyak air terjun?!
“ Andra!” Mutiara kesal, memukul lengan temannya itu dengan keras.
“ Aku bicara jujur, Mut!”
“ Sudahlah jangan bertengkar seperti anak kecil!” Nathan mendengus sebal, mengeluarkan ponsel miliknya dari balik saku celana dan memberikan benda itu pada Andra, “ Andra, foto kami berdua!” perintahnya sekaligus membawa Muti mendekat, merangkul tubuh kecil itu dan tersenyum kearah camera.
“ Ambil ini!” Nathan memberi buket besar yang dibawanya pada Mutiara dan membawa gadis itu berlalu.
“ Hei, kalian mau kemana?! Kampret!” kesal Andra, memaki secara tidak langsung pemuda yang lebih tua beberapa tahun darinya itu
“ Berkencan!” teriaknya keras.
Dan kini, mobil hitam yang dikemudikan Nathan membelah jalanan, membawa kedua orang itu menyusuri jalanan yang lenggang.
“ Jadi kita mau kemana?”
“ Kemanapun, yang penting bisa memanfaatkan waktu dengan baik karena kakakmu ini harus cepat kembali.”
“ O.” gadis itu mengangguk mengerti. Mobil masuk ke basement dan Muti langsung diseret menuju lantai 3 Mall besar itu, memasuki sebuah Dep. Store dan langsung disodori sepasang baju oleh Nathan.
“ Pakailah supaya lebih nyaman!”
“ Ok!” gadis itu masuk kesalah satu bilik, tangannya hendak merih handle pintu namun dengan cepat sosok lain masuk kedalam, menutup ruangan sempit itu dan menguncinya.
“ Hey!” teriakan itu tertahan di tenggorokan, manic bulatnya melebar melihat sosok yang kini berdiri didepannya.
“Anda...”
Bukankah pria itu harusnya masih di rumah sakit?!
“ Kenapa kaget? Apa kamu berpikir saya mungkin sudah mati?” bibir itu menyeringai, “ Tidak semudah itu, sayang!”
"Keluar!"
“Mengapa saya harus keluar jika ada yang lebih menarik disini!”langkah kaki itu mendekat, Mutiara panik, berjalan mundur dan menabrak kaca besar yang ada dibelakangnya.
“ Saya bisa teriak dan membuat anda malu dan diseret oleh keamanan!”
“ Kau akan melakukan hal itu?” Pria besar itu menyeringai, “ Bagaimana kalau saya berkata pada mereka semua kalau kamu punya tahi lalat persis diatas pusarmu, coba tebak apa yang akan mereka pikirkan?” wajah itu mendekat menjilat wajah Mutiara lembut.
“ Hentikan!” gadis itu mulai menangis, mendorong tubuh besar itu susah payah dari hadapannya. “ Pergi, kumohon pergi!”
“ Muti, apakah kamu masih lama?” suara itu terdengar dari luar, mengetuk pintu perlahan.
“ Namamu Muti?” Xavier menakup wajahnya perlahan, membawa manic hitam yang basah itu pada manic abu gelapnya, “ Kau datang dengan seorang pemuda? Apakah menghabiskan malam panjang bersama saya kurang, sampai kamu berniat bermalam dengannya?”
“ Anda pria menjijikkan!” dan gadis itu meludah tepat diwajah Xavier.
“ Sial! Apa kamu berniat bermain- main dengan saya?!” pria itu tertawa kecil, menghapus air liur itu dengan buku jarinya.“ Kalau kamu mau, mari segera kita lakukan, saya suka sekali bermain- main!”
“ Muti kalau kamu masih lama, kakak akan cari barang yang lain dan kamu tunggu saja disini!” dan suara Nathan menghilang membuat Xavier menyeringai.
“ Pria itu pergi! Sekarang tidak ada penghalang diantara kita!” jemari nakal itu mulai beraksi, merambat sekeliling tubuh cantik itu.
“ Jangan!” isakan itu semakin keras, jemari kecilnya semakin terpilin, saling berpegangan satu sama lain.
“ Hai Nona, Jangan menangis! Saya tidak sedang berbuat jahat padamu. Kita akan bersenang- senang seperti saat itu!” Jemari itu menghapus lelehan air matanya kemudian mengecup manic itu lembut.
“ Hentikan!”
“ Tenanglah sayang!” jemari itu semakin menjadi, merambat dengan halus disekitaran wajah halus Muti dan mengelus bibir cantik itu lama.
"Apakah ini masih terasa manis seperti saat itu?" Bibir Marron mendekat, mencium bagian itu tetapi Mutiara dengan cepat menggigit bibir pria yang menjijikkan itu.
“ Kamu berani!” marahnya, menghapus lelehan merah dari bibibnya kesal kemudian membuka dengan paksa kebaya yang masih melekat dalam tubuh kecil itu, mengabaikan rontaan serta jerit tertahan gadis itu.
“ Aromamu masih sama seperti saat itu!” Pria gila itu mendekat, mengecup dengan perlahan setiap jengkal kulit mulus Mutiara dan semakin memojokkan gadis itu kearah kaca dengan nafasnya yang mulai berat. “ Membuat saya ingin terus berada disampingmu, mencicipi setiap aroma dan rasa dari setiap jengkal kulit lembut ini!”
“ Kumohon jangan!” Mutiara terisak pelan, memejamkan matanya erat, berharap pria itu segera pergi, “ Saya takut!” rintihan kesakitan itu semakin menyayat membuat pria itu mengambil langkah mundur.
“ Pergi!” Mutiara jatuh terpuruk diatas lantai menyembunyikan wajahnya dibalik lutut. “ Aku mohon pergi dari hadapanku sekarang!”
Pria itu hanya berdiri terdiam, menatapnya tajam sebelum pergi membanting pintu ruangan itu, meninggalkan Mutiara menangis seorang diri disana.