Hari sudah dibilang cukup siang, namun sinarnya yang cukup cerah itu tidak mampu menembus korden tebal yang membungkus jendela besar diruangan itu hingga membuat sosok tinggi besar yang masih lelap dipeluk kantuk itu semakin mengeratkan lengannya pada sosok mungil yang hampir setahun belakangan menemani tidur malamnya. “Daddy, please! Aku sesak!” Mutiara yang mulai terbangun, melengguh kesal, berusaha menjauhkan lengan yang semakin erat menahan tubuh mungilnya. “Ehm…”hanya gumaman yang keluar dari bibir Xavier, pria itu seolah tuli dan malah mengrusukkan kepalanya pada leher jenjang sang istri. “Daddy please!” “Apa?”suara itu terdengar malas, masiih malas membuka mata. “Sesak!” Mutiara memukul d*da bidang pria yang berbaring disampingnya dan sedetik kemudian Xavier sedikit melonggarka

