Bayi mungil yang masih dalam pelukan hangat sang ibu masih sesugukan dengan jemari mungilnya yang mencengkram erat ujung baju wanita itu, seolah takut kembali terjatuh. “Cup ya sayang! Aurora anak yang kuat!” berulang kali kalimat itu keluar dari bibir Mutiara dengan jemari mengelus bagian belakang kepala si kecil yang tadi membentur lantai. "Amamamama!" “Hiks! Hiks!Hiks!” “Ini semua salahmu!” suara penuh tuduhan itu berasal dari Xavier, pria angkuh itu menatap sosok Bahar yang kini berdiri didepan mereka dengan kepala menunduk seolah dihakimi. Ya setelah teriakan melengking dari Xavier tadi, Bahar langsung diseret oleh anak buah Xavier dan dibawa ke rumah besar itu untuk diadili. “Kalau kau tidak menelepon, Aurora tidak akan terjatuh!” suara itu semakin menggelegar dengan mata melo

