Imelda menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa ruang tengah apartemen Airin. Setelah menerima panggilan dari sahabatnya itu, gadis berwajah oriental itu segera datang karena merasa khawatir dengan keadaan Airin. “Bukankah sudah aku katakan dari dulu, kenapa kamu tidak meninggalkan Raldo? Pria egois seperti dirinya itu tidak pantas untuk di pertahankan. Kamu berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada dirinya!” katanya sambil menggenggam kedua telapak tangan Airin dengan lembut. Berusaha menenangkan sahabat baiknya yang saat ini sedang merasa sedih dan juga terpukul dengan kedatangan Maura. Airin tertunduk, air mata tak pernah surut mengalir keluar dari sudut matanya yang kini sayu. Ia merasa sedih dan juga putus asa. Tidak tahu lagi harus berbuat a
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


