“Mau kita bawa ke mana gadis itu?” tanya Roy sambil melirik Vanya yang terbaring di bangku belakang. “Rumah sakit!” jawab Alex singkat. Matanya masih fokus menyetir. “Lex—” Roy hendak bertanya namun langsung dipotong Alex. “Jangan sekarang Roy, kita harus segera sampai di rumah sakit sekarang! Nanti aku akan jelaskan semua padamu!” Alex menengok sebentar pada sahabatnya itu, mencoba mengatakan -‘sekali ini tolong percaya padaku’- lewat tatapan matanya. Roy mengerti apa yang dimaksud Alex. Mereka sudah bersahabat sangat lama, bahkan sejak mereka masih kecil. Ia mengangguk pelan, tanda setuju. Alex tersenyum melihat sikap teman baiknya itu, merasa lega karena mendapat dukungan atas tindakannya ini. “Sekarang aku butuh bantuanmu! Buatkan identitas baru untuk gadis itu! Aku tidak ingin Lu

