Suara dentuman keras menggema di setiap sudut ruangan. Arka tersenyum gila mengangguk-anggukan kepala seraya menggerakkan tubuhnya. Seperti terbiasa dan sudah sangat handal dalam hal tersebut.
Dengan langkah gontai, Arka menuju meja bar dan memesan wine kesukaannya satu gelas kecil. Ia sudah sedikit mabuk.
Acara bakar-bakar bersama teman-temannya batal dilaksanakan, mereka semua memilih datang ke bar seperti biasa. Seakan lupa pulang, Arka kembali memesan wine pada bartender. Ia meminum dengan cepat minuman itu hingga sedikit menyakitkan di tenggorokan.
"Bro, you are dumb!" ujar Arka pada seorang bartender. Sedangkan sang bartender hanya terkekeh singkat.
Arka mulai meracau tidak jelas. "Hai cantik," sapanya pada seorang wanita yang baru saja duduk di sampingnya.
"Hai," sapa balik wanita itu. Ia tersenyum miring menatap pria mabuk tersebut, dari penampilannya sangat menjanjikan sesuatu yang ia cari.
"One night stand? Can you?" ujarnya berbisik. Arka langsung mengangguk dan tersenyum cerah. Oh my God, tidak ada lagi kesempatan indah yang akan ia dapat selain diajak terlebih dahulu oleh seorang perempuan, apalagi wanita itu sangat cantik dan memiliki perawakan yang sangat bagus. Tipe Arka sekali.
Sementara di rumah, Rosa mencoba beberapa kali menghubungi Arka namun tak kunjung mendapat balasan, karena sudah masuk pukul satu malam. Ia tak terlalu banyak menelpon karena takut mengganggu atau bahkan membuat Arka marah. Jadi ia memilih untuk dia sejenak. Menunggu di kamarnya.
Tapi bahkan, hingga pagi menjelang, dan sudah melewati jam kantor, Arka belum kunjung pulang, Rosa bahkan ijin tidak masuk dengan alasan sakit dan menitipkan pesan pada Gara jika ada tugas tolong beritahu dia.
Sekarang sudah pukul 10 siang, dan Arka masih belum menjawab teleponnya. Ia menyesal tidak ikut suaminya ke acara itu. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Dibuat bingung sendiri karena pada kenyataannya ia tak mempunyai satupun nomor teman Arka.
Pikirannya melayang, apa benar pria itu bersama temannya? Apa benar Arka pergi bersama teman-temannya? Atau ponsel Arka hilang? Tertinggal? Ponselnya dalam mode diam? Karena sampai saat ini sambungan telpon masih bisa masuk ke nomor pria itu, menandakan jika ponselnya masih aktif.
Mengingat ponsel Arka aktif. Ia buru-buru menelusuri GPS ponsel Arka. Hatinya bergemuruh melihat posisi dan nama tempat yang ditunjukkan di ponselnya adalah sebuah klub malam. Yang ia tahu adalah klub elit kaum menengah ke atas untuk menghamburkan uang.
"Arka, cuma laga aja," gumamnya.
Buru-buru ia berganti pakaian, sedikit berdandan dan mengambil tas. Di rasa penampilannya sudah cukup pantas. Rosa buru-buru pergi mengenakan taksi, di jalan ia menelpon supirnya di rumah untuk menyiapkan mobil.
Perjalanan singkat dari rumahnya bersama Arka ke rumah mamahnya terasa benar-benar panjang. Karena sepanjang jalan pikiran Rosa berkecamuk memikirkan tingkah Arka.
"Morning, Mom! Aku ambil mobil ini ya? Hehehe, kali ini ke kampus mau bawa mobil ini ah!" katanya saat melihat Mamanya tengah berdiri di depan pintu, mungkin supirnya memberitahu kenapa mobil Rosa yang sudah lama disimpan itu tiba-tiba dikeluarkan.
"Tumben? Kamu lagi ada masalah di kampus?" tanya Listya mengusap rambut anaknya.
"Nggak, kok, Ma. Aku udah siap, orang-orang tau siapa aku. Ada Gara kok siap ngebela aku kalo di kampus," jawab Rosa dengan senyum manisnya, memastikan mamanya tidak curiga sedikitpun.
"Oh oke, Mama gak mau larang, tetep jaga diri baik-baik ya? Kalo ada apa-apa, telpon Mama atau Kak Surya." Rosa mengangguk, ia memeluk mamanya sekilas, untuk sedikit mencari kehangatan.
Listya tersenyum. Anaknya ini masih sangat manja. "Kamu gak bareng Arka karena kelas siang?" tanyanya.
"Iya. Dia jam tujuh udah berangkat. Aku masuk jam satu, berangkat sekarang karena mau nyelesain tugas dulu, buku aku di loker kampus." Gadis itu mencium tangan mamanya kemudian melambaikan tangan, ia harus segera pergi sebelum Arka pulang ke rumah, dan sebelum mamanya memberinya lebih banyak pertanyaan.
"Hati-hati ya sayang!" teriak Listya saat mobil Rosa melaju meninggalkan rumah.
Dalam perjalanan Rosa mencengkeram kuat-kuat stir mobilnya. Ia tidak ingin meluapkan emosi, banyak cara cantik yang harus ia susun untuk menegur Arka.
Sungguh, Rosa bukan wanita yang hanya diam saja jika disakiti, ia akan pergi menyelesaikan masalahnya.
"Rrrr, nambah kerjaan gue aja," gumamnya setelah turun dari mobil, mengenakan kacamata hitam miliknya.
Bar itu terlihat tutup dari luar, sementara Rosa memberikan kartu namanya pada seseorang yang berdiri di depan pintu bar. "Silahkan, Nona." Orang itu membuka pintu bar dan tersenyum ramah.
Sedangkan Rosa tersenyum miring, berjalan memasuki bar yang menyisakan orang-orang yang terlelap sembarangan dan juga masih berantakan, biasanya mereka akan pulang pukul 2 atau 3 sore menjelang bar ini buka kembali untuk umum.
Tangannya mengetuk-ngetuk meja bar, dan tersenyum sumringah menatap Gara yang tengah membersihkan meja-meja di sana. "Ngapain lo ke sini? Kaga masuk kelas?" tanya Gara heran, karena sangat aneh Rosa berkunjung ke bar apalagi di waktu yang tidak lazim.
"Lo pikir kalo gue kuliah, gue ada di sini?" tanyanya.
Gara menyimpan lap di tangannya kemudian menghampiri Rosa. "Nyari apaan ke sini? Biasanya yang boleh masuk yang lagi nyari sesuatu 'kan?"
Rosa menunjukkan ponselnya yang menampilkan penunjuk tempat dari nomor Arka. Ia tersenyum miring. "Bantu gue dong buka kamar nomor sembilan."
"Suami lo?" tanya Gara ragu. Ia menatap Rosa sedikit heran.
Dengan gerakan ringan Rosa mengangguk seakan itu bukan beban berarti. "Serius lo?!" Kini Gara tersentak. Ia sedikit terkejut melihat ekspresi Rosa yang terlihat sangat santai.
"Lo gak abis nangis, kan?" Lagi-lagi Gara bertanya. Jelas ia sangat khawatir tentang gadis yang sudah ia kenal tiga tahun belakangan ini.
"Nggak, kan bukan gue yang salah, ngapain gue nangis?" Rosa tersenyum, ia menepuk bahu Gara dan tersenyum singkat. "Ayo bantuin gue, biar dia malu," lanjutnya.
Gara mengangguk, kemudian berbalik melepas rompi yang ia gunakan. Ia menghampiri Rosa. "Gue heran sebenernya, lo kerja di bar gede, jadi kepala bar, tapi kenapa gaji lo sering ketunda, bahkan kenapa hari ini gak masuk kelas?! Padahal gue chat lo nitip kalo ada tugas?!"
Tawa kecil Gara terdengar menyebalkan. "Gue udah ke kampus tadi, Pak Kimam gak masuk, karena gue ga ada UKM, jadi gue minggat aja, abis beresin tempat itu, gue mau pulang, pengen tidur," jawabnya.
"Bilang dong!" gumam Rosa pelan karena ia dan Arka sudah masuk lorong-lorong kamar.
"Ini?" Rosa menunjuk pintu yang di ujung kanan atas tertera nomor 9 yang cukup kecil. Gara mengangguk, ia memberikan kartu aksesnya pada Rosa kemudian mundur, membiarkan sahabatnya yang melihat sendiri.
Saat pintu terbuka, Rosa menyilangkan kedua tangannya di atas d**a, sialan adegan itu tengah berlangsung di balik selimut. Arka yang melihatnya sangat terkejut, bahkan amat sangat terkejut. "Rosa?" gumamnya.
"Hm?" jawab Rosa seadanya. Ia tetap pada posisinya. "Turun," kata Rosa pada wanita yang masih bersama Arka itu. Mengerti tatapan wanita itu, Gara yang berdiri di belakang Rosa langsung berbalik.
"Masih punya malu ternyata." Rosa tersenyum miring. Ia membuka tasnya, menunjukkan satu tumpuk uang. "Kalo mau ambil, pergi, Anda setuju gak akan datang dan gak balik lagi."
Rosa melempar uang itu, kemudian pergi menarik Gara dari ruangan laknat itu.
*Continue
Heuheu kemarin ga update keabisan kuota
Besok up lebih panjang part-nya.