Rosa menunduk menyembunyikan isak tangisnya, padahal sudah ia tahan sekuat mungkin, tapi rasa sesak itu tetap ada padanya. Laki-laki yang ia pikir mau berubah, nyatanya tetap sama.
Apa ia yang terlalu egois? Apa ia yang terlalu sibuk dengan dunianya hingga tidak sadar jika Arka bukanlah orang yang mudah berubah? Harusnya Rosa tau, kan? Jika sudah sepeti ini apa yang akan terjadi ke depan? Rosa tidak mungkin pergi. Pernikahannya baru menjadi serangga di antara luasnya hamparan padang pasir.
Sementara Gara yang mengendarai mobil Rosa hanya diam mendengar isakan sahabatnya. Entahlah, hatinya sangat linu mendengar suara tangis itu. "Keluarin aja kalo mau nangis jangan dipendem," katanya pelan.
"Gue egois banget ya, Gar?" tanya Rosa masih dalam tunduknya. Hanya tangannya yang bergerak cepat terus-menerus menyeka air mata yang lagi-lagi turun membasahi pipinya.
"Lo harus bicarain hal itu sama suami lo, jangan gegabah," jawab Gara. Ia tak ingin sahabatnya lebih hancur, jadi tidak ada salahnya mengetahui fakta yang sebenarnya dengan menanyakan pada Arka langsung. Karena Gara tahu, tempatnya bekerja, bukan hanya berisi orang-orang yang ingin refresh otak dengan mabuk saja, ada yang mencari teman tidur, atau bahkan lebih dari itu. Jadi Gara berharap Rosa memikirkan hal yang akan ia tindak pada Arka.
"Iya." Hanya itu jawaban yang Gara dengar setelah Rosa mengusap air matanya dengan tisu.
"Kalo dia macem-macem lagi, telpon gue, biar gue hajar. Jadi suami kok bajingan." Gara mengepalkan tangannya, sebenarnya ia tidak emosi melihat orang-orang di balik pintu kamar di bar, tapi tadi baru sekali ia membenci orang yang ada di dalamnya. Karena dua orang itu telah menyakiti sahabatnya.
Saat telah sampai di rumah. Gara langsung turun dari mobil dan menyerahkan kuncinya pada Rosa. "Lo jangan macem-macem, pulang bawa motor gue aja," kata Rosa mengeluarkan kunci cadangan dari dalam dompetnya yang ada di tas kemudian memberikannya pada Gara.
"Sini ambil," lanjutnya meminta Gara untuk mengikutinya ke garasi mobil.
"Heh, motor lo pink banget nih?" kata Gara menatap Rosa tajam.
Sedangkan Rosa hanya tertawa. "Mau ambil gamau ya udah." Wanita itu menunjuk gerbang dengan gerakan kepala menandakan jika Gara harus segera pergi.
"Udah dikasih motor pink, diusir lagi," gumam Gara seraya menaiki motor milik Rosa dan tersenyum evil. "Awas aja lo, gue pilok nih motor jadi warna kuning!" lanjutnya seraya mengenakan helm hitam yang sepertinya milik Arka.
"Kalo motor ini berubah warna, gue sumpahin yang jelek-jelek pokoknya, ini gue lagi terzolimi katanya orang yang dizolimi, dikabul doanya sama Tuhan." Gara hanya menatap malas Rosa. Ia melajukan motornya dan keluar dari halaman rumah Arka dan Rosa ini.
Setelah menutup gerbang, Rosa masuk ke dalam rumah, tatapannya sedikit mengabur ketika lagi-lagi airmata harus turun ke pipinya.
Tidak-tidak, Rosa buru-buru menghapus air matanya, ia menghampiri sofa dan duduk di sana dengan santai seraya mengotak-atik ponselnya, mencoba sesantai mungkin, mencoba untuk tidak terlihat menangis di hadapan Arka nanti.
Eh? Memangnya Arka pulang dan mengejarnya?
Rosa terkekeh sinis kemudian menyimpan ponselnya di meja, ia menyalakan televisi kemudian bersantai menikmati acara berita yang menampilkan polemik rumah tangga para artis.
Satu jam selanjutnya, pintu terbuka menunjukkan penampilan Arka yang sangat berantakan. Ia menghampiri Rosa dengan cepat dan memegang tangan istrinya itu. "Sorry, Sa," gumamnya lirih.
Rosa hanya diam menatap televisi. Mencoba mengabaikan karena ingin tahu sampai mana bujukan seorang Arka padanya.
"Sa, maafin aku, semalem emang ada temen-temen, kita gak jadi barbeque karena mereka ngajakin ke bar, aku pikir gak salah karena kita juga biasanya kalo ke bar cuma main billiard. Tapi semalem aku mabuk banget kebanyakan minum, gak sadar udah tipsy parah ada yang ajak ONS aku ga sadar," jelasnya.
"Dilanjut sampe pagi?" tanya Rosa tersenyum miring.
"Kalo itu mah nafsu asli, kamu bayangin aku abis mabuk ngeliat cewek naked di depan aku. Aku udah jujur, Sa." Arka menggenggam tangan Rosa.
Sementara wanita itu terkekeh, ia mendorong Arka dari sofa, melangkah menuju pintu dan menguncinya, seraya berbalik berjalan pada Arka dengan gerakan yang dibuat-buat. "Gini?" tanyanya saat ia berhasil membuka atasannya.
"Sa, aku tadi belum nyampe jangan digoda dulu, aku lagi minta maaf." Rosa terkekeh, ia mendorong Arka kembali hingga bersandar pada sofa, ia duduk membelakangi di atas lap suaminya dan bersandar.
"Rosa ...." geram Arka dari belakang.
"Hm?" Rosa menyahut dengan tenang. Ia memiringkan tubuhnya, menatap Arka dengan sendu.
"Sini," kata Rosa menarik suaminya hingga bibir mereka saling menyatu. Mumpung ada kesempatan menuntaskan hasratnya. Arka segera memeluk pinggang istrinya dan mengusapnya.
Rosa tersenyum. Ia terus memancing Arka, saat pria itu sudah di titik teratas, ia berdiri, membenarkan letak pakaiannya. "Enough!" bisiknya. Ia mengambil atasan yang ia buka tadi, dan tersenyum miring, kemudian pergi ke kamar.
Arka mengumpat dalam hatinya, jika saja tak ada kejadian itu dan kejadian ketika ia di jalan pulang tadi, tak mungkin sekarang ia di sini.
Namun, bukan Arka jika hanya menyerah begitu saja, ia menyusul Rosa masuk kamar dan tersenyum saat wanita itu belum memakai pakaiannya. "Hey." Suaranya sudah cukup memberat, Arka segera menarik Rosa masuk pada dekapannya dan membanting wanita itu ke kasur.
"Do your best!" Arka mencengkeram rambut Rosa.
Sungguh, Rosa pikir ia akan menang, namun nyatanya. Arka tetaplah Arka.
*Continue
Aduh, part nya kepotong-potong, jadi upload ini dulu ya