Satu bulan sudah terlewat, sejak kejadian itu Rosa benar-benar mengabaikan keberadaan Arka. Begitu pula sebaliknya.
Tidak ada yang mau memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi. Kadang Arka tidur di ruang kerjanya dan Rosa memilih diam di kamar tamu. Mengosongkan kamar secara tidak sengaja bersamaan. Tapi saat satu ingin tidur di kamar maka keduanya juga akan tidur di kamar karena memiliki keputusan yang sama.
Seperti pagi ini, Rosa tengah memakai sepatu, pagi ini ia tidak ingin menggunakan taksi online. Ia benar-benar ingin merealisasikan ucapannya pada mamanya tempo hari. Ia tidak ingin dipandang sebelah mata lagi.
"Nanti malem makan malam sama mama papa, ditunggu jam 7," kata Arka singkat seraya berlalu dari hadapan Rosa.
Wanita itu tidak menjawab ia hanya diam fokus pada tali sepatu yang sedang ia simpul. Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil kunci mobilnya yang ia simpan di atas meja.
"Huh?" gumam Rosa saat ia melihat Arka tersenyum cerah dan menyapa ruang kepada seorang perempuan yang melewati rumah mereka.
"Mbak Rosa, apa kabar?" tanya wanita itu.
Dosa tersenyum dan mengangguk, hanya tanggapan itu yang dia keluarkan. Arka tidak peduli, ia memilih masuk ke mobilnya tak minat menoleh pada Rosa. Merasa hawanya kurang baik, wanita yang tadi berdiri di depan gerbang segera izin pamit pergi.
Rosa memasuki mobilnya dan melakukannya mendahului Arka. Hal itu membuat Arka tersenyum miring. Ia segera melajukan mobilnya dan berhenti di depan sebuah rumah. Menekan klakson mobilnya. "Ayo," katanya ramah melihat sang pemilik rumah keluar dari gerbang.
"Rosa udah berangkat?" tanyanya setelah jendela mobil Arka terbuka di bagian kursi penumpang. Dan tanggapan dari pria itu mengangguk dengan senyum manis kemudian terkekeh membukakan pintu dari dalam.
Setelah duduk, wanita itu memakai sabuk pengaman dan tersenyum pada Arka. "Maaf, aku kira tadi Rosa udah berangkat," ujarnya.
"Gapapa, Dila. Rosa juga biasa aja, dia ngiranya kamu lewat." Wanita yang disebut Dila itu adalah wanita yang tadi berada di depan rumah Arka. Ia mengangguk menanggapi ucapan Arka barusan.
"Makasih ya mau anter aku dulu." Dila menatap Arka yang memang sesekali menoleh padanya dan jalanan bergantian.
Arka tersenyum. "Gapapa. Saya seneng," jawabnya singkat.
Dalam hatinya, Arka sangat senang dan bersorak gembira. Wanita ini adalah janda muda yang suaminya meninggal saat usia pernikahan baru dua minggu. Dan itu suda lewat satu tahun yang lalu katanya. Jadi Arka memanfaatkan kesempatan untuk dekat dengan Dila.
"Mas, Rosa gak marah, kan?" tanya Dila sedikit pelan.
"Nggak, Rosa gak berhak marah, karena harusnya yang marah, kan, saya. Dia nyuekin saya sebulanan." Arka tersenyum tipis.
"Harusnya kalo Rosa mulai gak negur, Mas Arka yang duluan. Harus bisa ngerti perasaan perempuan, Mas." Dila menampilkan senyum terbaiknya. Ia sedikit banyaknya bersyukur ada Arka yang datang saat ia sedih dan dilanda banyak pikiran. Pria itu yang menemuinya di depan cafe saat hujan tiga minggu yang lalu. Hingga setiap hari mereka bertemu karena ternyata mereka satu komplek hanya beda blok saja. Tidak peduli apa kata tetangga, Dila ingin dia sedikit lebih tenang dulu bersama Arka. Walaupun dia tau jika Arka adalah pria beristri.
"Iya. Nanti saya coba," kata Arka pelan. Sedikit tidak yakin dengan perkataannya sendiri.
Arka paham. Rosa sangat sakit hati dengan perilakunya. Tapi dengan memberinya kesempatan saat itu akan lebih baik, kan? Andai saja saat itu Rosa memilih diam, atau tidak memancing emosi Arka, pasti silent mode antar keduanya tidak akan terjadi selama 1 bulan ini.
"Saya udah nyoba basa-basi sih waktu itu. Tapi gak ada tanggapan." Benar, ucapannya memang bisa dipertanggungjawabkan. Arka pernah mengajak Rosa basa-basi, tapi tak mendapat jawaban dari Rosa.
Pikirnya, setidaknya ia berusaha.