Throughout

3488 Kata
Bunyi gemericik air dari kolam ikan menemani Rosa dan lamunannya. Ia tengah menunggu Arka pulang dari kantor, sesuai yang sudah dikatakan oleh suaminya itu tadi pagi, malam ini mereka akan makan malam di rumah orang tua Arka. Dengan tatapan kosong ia menatap kolam ikan yang belum sempat diisi ikan, harusnya ia sudah memelihara beberapa koi sesuai niatnya ketika melihat ada sebuah kolam di depan rumah. Tapi ternyata ia belum sempat melakukan itu. Mobil milik Arka masuk ke pekarangan rumah dengan mudah karena gerbang benar-benar terbuka lebar. Rosa yang punya niat awal akan memulai berbicara lagi dengan suaminya langsung sirna begitu saja ketika melihat Dila juga turun dari mobil suaminya. "Mbak Rosa, maaf ya saya ikut Mas Arka, tadi ketemu di jalan ini udah malem soalnya saya takut sendirian." Dila langsung menunjukkan kata maaf pada Rosa. "Gapapa, Mbak. Besok-besok kalo mau diantar jemput Arka juga silahkan, biar gak sendirian terus. Tapi jangan lupa digaji ya." Dila tersenyum canggung mendengar jawaban Rosa. Lantas daripada ada di posisi canggung yang lama, Dila segera berpamitan. "Saya izin pulang. Mas Arka, saya duluan ya, terima kasih tumpangannya." Arka tersenyum kaku di tempatnya. Saat Dila keluar dari gerbang, Rosa memilih menutup gerbang dan mengunci slotnya. Ia hirau dengan tatapan Arka yang menatapnya aneh, wanita itu memilih untuk masuk ke rumah. "Rosa," panggil Arka seraya menyusul istrinya. Dengan helaan napas, ia berdiri di belakang Rosa yang berhenti namun tidak berbalik. "Kamu jangan ngomong gitu sama Mbak Dila, dia tadi di jalan sendirian, gak tega aku liatnya." Arka diam menunggu respon Rosa, tak disangka wanita itu malah melanjutkan langkahnya tanpa menjawab apapun. "Rosa, kamu denger aku gak?" Rosa berhenti kemudian berbalik dan tersenyum. "Aku denger, Mas. Mbak Dila kan janda, kasian dia sendirian terus, kan tadi aku udah bilang kamu antar jemput juga gak apa-apa, tapi jangan lupa minta gaji." Rosa menatap Arka yang mulai mengernyit kesal. "Oh. Udah hampir sebulan ini kan? Minggu depan kayaknya gajian, jangan lupa kasih ke aku uangnya." Kekesalan Arka runtuh seketika, berganti lagi dengan rasa bersalah. "Gak cukup ya, Mas? Aku kira kamu emang harus dikasih silent treatment, karena aku rasa percuma ngomong panjang lebar ke kamu tapi gak didenger. Tapi ternyata malah makin parah." Rosa menunduk sejenak kemudian menghela napas. "Mas, rasa sakit aku sebulan lalu aja belum hilang, ditambah kamu kayak gitu, kamu pikir aku gak tau setiap aku berangkat duluan pagi-pagi kamu antar Mbak Dila? Kamu pikir aku gak tau kalo kamu lembur kamu pergi kemana? Mas, aku mungkin di mata kamu masih kecil, gak tau apa-apa, tapi aku gak sebodoh itu." Arka semakin diam, tak ada niat membantah apapun. "Satu lagi, Mas. Tolong, kalau selingkuh yang rapih, jangan sampe ketauan tetangga yang lain, mereka gak peduli dari keliatannya aja. Tukang sayur keliling tiap pagi gosip kamu, dan kamu tau? Kamu disebut laki-laki gak bener, dan mereka ngasihanin aku, padahal aku gak butuh itu." "Kalau aku emang gak cukup buat kamu, kenapa dari awal kamu mau sama aku? Perihal perjodohan dan segala macamnya bisa kamu tolak. Kamu ada tujuan lain, Mas? Ambil, tapi tolong jangan sakitin perasaan aku, aku hidup di keluarga yang penuh kasih sayang, apalagi dari Papa sama Kak Surya. Standar laki-laki untuk aku itu sangat tinggi, kalo kayak gini caranya, aku kayak lower standar banget dapet kamu." Rosa mengepalkan tangannya. "Maaf, Mas. Aku harap omongan aku gak cuma jadi rasa sakit hati kamu, aku harap kamu sadar, aku bisa lebih sakit dari itu. Malam." Arka berjalan cepat meraih istrinya, memeluknya erat dan menggumamkan maaf berkali-kali. "Aku udah maafin kamu. Tapi tolong tau diri." Rosa tetap menyimpan tangannya di samping tubuhnya, enggan membalas pelukan erat Arka. Ia tahu, dari semua kalimatnya itu menyakiti harga diri dan ego seorang laki-laki, tapi ia tidak tahu cara bagaimana menghadapi suaminya. Semoga. Semoga saja ini jalan yang terbaik menurutnya. "Rosa, maaf. Ke depannya gak bakal ada lagi janji yang bakal aku bilang, tapi aku bakal kasih bukti, kalo kamu juga cukup buat aku. Maaf." Arka mengusap rambut istrinya lembut, ia mengangkat Rosa ke gendonganmya dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher sang istri. Mau tak mau Rosa memegang pundak Arka karena takut jatuh. "Mas, kamu udah ngapain aja sama Mbak Dila?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja. "Demi Tuhan aku gak ngapa-ngapain sama dia. Aku cuma antar jemput aja, gak lebih." Rosa tertawa sinis. "Jangan lupa minta gaji." Arka melangkahkan kakinya ke sofa yang ada di ruang keluarga. Membawa istrinya duduk tetap di atas lap nya. Masih dengan posisi memeluk. "Akal-akalan buaya gini ya, Mas?" Rosa mengusap rambut suaminya. Menatap datar pada Arka yang kini menatapnya lurus. "Aku gak bakal ngelakuin pembelaan apapun karena aku salah. Tapi liat ke depannya ya? Aku berusaha. Jadi tolong kerjasamanya ya." Tak ada lagi yang ia inginkan, perkataan Rosa tadi cukup melukai ego dan harga dirinya sebagai laki-laki, tapi jika ia mengungkapkan hal itu, tidak ada artinya, pasti lebih sakit menjadi Rosa, pasti lebih sesak menjadi Rosa, karena pada akhirnya Rosa yang akan tetap bersamanya, terlepas dari apapun itu alasannya. "Okey, kamu gak lupa kan malem ini kita makan malem di rumah Mama sama Papa?" Arka tersenyum simpul mendengar tutur lembut itu kembali. "Gak jadi, Mama bilang tadi ada urusan. Jadi kalo mau ayo kita dinner lagi di luar." Rosa langsung menggeleng. "Aku masak aja, kamu bisa nunggu?" tanyanya. Arka kembali melebarkan senyumnya. Mencium pipi istrinya sekilas. "Kamu mulai masak duluan, aku bersih-bersih badan dulu, nanti aku bantu." Lantas Arka berdiri dan menurunkan Rosa dari pangkuannya. Keduanya kini berbeda tujuan, Rosa ke dapur dan Arka ke kamar. Di dapur, Rosa mengeluarkan semua bahan-bahan yang akan ia masak. Air matanya menetes begitu saja setelah sadar apa yang ia ucapkan tadi pada Arka, tentang fakta-fakta yang selalu ia dengar dari orang lain tentang suaminya dengan tetangga, dan juga bukti yang ia lihat sendiri tadi pagi. Itu benar-benar membuat hatinya sesak, rasanya benar-benar sakit suaminya bersikap seperti itu. Semua yang ia ucapkan itu benar, tentang Ayah dan Kakaknya, ia sangat dijaga dan disayangi dengan penuh kasih sayang. Maka sebenarnya laki-laki yang ia pandang pun menjadi lebih tinggi tingkatnya. Setidaknya minimal seperti ayahnya atau seperti kakaknya. Tapi, Rosa tidak mau gagal dalam pernikahannya, Rosa tidak mau harus menyandang status janda yang gagal dalam pernikahan, karena ia pikir ini baru permulaan, ia pikir Arka pasti akan berubah jika ia bisa memberikan apa yang Arka mau. Tanpa sadar, dia sudah mendaftarkan diri untuk merasakan yang lebih sakit. Tanpa menutup kemungkinan, keputusan Rosa ini adalah yang terbaik, mendengar jawaban Arka tadi sangat bisa dipercaya, terlepas dari bagaimana hasilnya nanti. Rosa mengusap air matanya, ia memilih mencuci sayuran dan juga daging ayam fillet yang masih terasa dingin karena baru keluar dari lemari pendingin. Setelahnya ia mulai memotong bumbu dan merebus ayam. Rencana ia akan membuat sup saja, karena lebih simple dan cepat. Selagi menunggu air mendidih, ia mengaduk nasi di dalam rice cooker. "Loh, kok cepet?" tanya Arka yang turun dengan piyamanya. "Aku cuma masak sup. Gak apa-apa, kan?" Arka mengangguk. Ia mengeluarkan piring dan alat makan lain kemudian menyusunnya di meja makan. Mengambil tisu dari laci dapur dan mengelap piringnya satu persatu. Melihat itu, Rosa tersenyum. Dalam hatinya ia berdoa, semoga saja yang dilakukan suaminya ini benar-benar akan berlanjut sampai nanti, sampai ia benar-benar percaya sepenuhnya pada suaminya. "Itu airnya udah mendidih, Sayang." Arka menegur Rosa yang tengah melamun menatap meja makan tempatnya sekarang berdiri. Rosa gelagapan, ia tersenyum kikuk lalu memasukan bahan-bahan yang sudah ia siapkan untuk dimasak. Setelah matang, Rosa mematikan kompor dan menuangkannya ke mangkok. Saat hendak membawanya ke meja makan, Arka menahan itu, ia mengambil alih pekerjaan simpel itu dan membiarkan Rosa sedikit membersihkan bekas masaknya tadi. "Sini makan dulu, ini wangi banget." Arka menghirup wangi sup yang masih mengeluarkan hawa panas. "Nasinya masih di rice cooker, Mas." Rosa tersenyum singkat, ia rasa suaminya benar-benar lapar. Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menunggu Rosa menyendok nasi dari rice cooker. "Nasinya gak banyak karena aku masak tadi sore aku laper jadi makan dikit duluan sebelum dinner di rumah Mama. Tapi ternyata gak jadi." "Yaudah, nanti kalo masih laper, kita delivery makanan aja ya? Ini sup nya bisa digadoin." Rosa mengangguk setuju. Itu bukan hal yang buruk menurutnya. ***** Pagi hari, rumah Arka dan Rosa sudah didatangi tamu dengan bentukan Gara. Laki-laki itu tersenyum canggung menatap Arka yang kini berdiri di depan pintu menyambutnya bingung. "Eum, Mas? Kak? Aduh, apa ya, YAILAH bro! Ini gue mau ketemu istri lo, mau ngasih berkas ini titipan Kak Surya." Arka mengambil plastik berisi map coklat kemudian hendak menutup pintu. "Eits, bentar dulu, Rosa mana?" Gara memicingkan matanya melihat Arka yang hanya menatapnya datar. "Mas, itu temen aku ya?" Suara dari belakang membuat Gara tersenyum jahil pada Arka. Lantas Rosa muncul dengan lucu dari pintu hanya terlihat kepalanya saja karena Arka menghalangi akses jalannya. "Heh, mau ngapain lo pagi-pagi?" Gara tersenyum lebar. "Setelah hampir sebulan gue kerja, ini pertama kalinya gue dipercaya Kak Surya buat anterin berkas." Mata itu benar-benar terlihat bahagia. "Pindah divisi jadi kurir?" Pertanyaan Arka membuat Gara langsung cemberut sedangkan Rosa tertawa. "Udah sarapan belum lu jam segini udah ke kantor terus udah ke rumah gue?" tanya Rosa. "Gue on the way dari kosan ke rumah Kak Surya, terus ke sini, belum ke kantor." Arka memutar bola matanya malas, ia membuka pintu lebar, melihat itu Rosa tersenyum, ternyata suaminya lebih peka. "Ayo masuk sarapan bareng." Gara langsung mengangguk tanpa menolak dengan basa-basi apapun, karena ia benar-benar lapar. Takut masuk angin juga karena harus melanjutkan perjalanan menuju kantor dengan motor. "Lain kali kalo di jalan tengok kanan kiri, tukang bubur banyak di pinggir jalan." Arka menyinggung. Tapi Gara tidak peduli, ia tersenyum sumringah melihat Mac and Cheese yang tersaji di mangkuk besar di meja makan. "Wah, beneran deh, kayaknya besok-besok numpang sarapan terus aja di sini, soalnya bubur di pinggir jalan gak keliatan." Mendengar jawaban itu Rosa tertawa sedangkan Arka hanya tersenyum singkat. "Makan aja," kata Arka menyodorkan piring pada Arka. "Sumpah gue beneran laper banget, ngambil banyak boleh?" Gara menatap Rosa dan Arka bergantian. "Lo hidup sendiri semiskin itu ya, Gar? Atau emang lo pemalesan aja ngeluarin duit buat makan?" tanya Rosa. "Oh, poin yang kedua bener, Sa!" "Yeuuu!" Rosa melempar tisu pada Gara. Sedangkan Arka hanya menggeleng heran, ia melanjutkan makannya dengan himkah, karena ia juga harus segera pergi ke kantor. "Wah, ini enak banget," ujar Gara benar-benar tersanjung dengan rasa macaroni yang sedang di makannya. Lelehan keju mozzarella membuatnya terhanyut. Mengabaikan Gara, Arka memilih meminum air dan siap-siap berangkat ke kantor. Rosa ikut berdiri mengikuti suaminya ke ruang keluarga. "Ini berkas yang dibawa dia tadi." Arka menunjuk plastik di atas meja. "Aku kayaknya abis beres cek berkas ini langsung ke restoran, Mas," jawab Rosa seraya membantu Arka merapihkan dasi dan kerahnya. "Cabang mana?" "Yang waktu itu kita ke sana." Arka mengangguk mengerti. "Hati-hati di jalan, kabarin ya. Itu macaroni kalo dia sisain wadahin aja suruh dia bawa ke kantor." "Hahahaha, iya. Kamu juga hati-hati di jalan ya? Nanti aku boleh bawa makan siang ke kantor kamu? Dari restoran aku bawanya." Rosa mengusap jas yang sudah selesai Arka pakai. "Boleh, sayang. Kamu kalo libur kuliah terus bosen atau mau ngerjain tugas di kantor juga gak apa-apa," kata Arka. Ia mencium kening Rosa cukup lama. "Aku berangkat ya, jangan lupa nanti kabarin kalo mau ke restorannya." "Okey." Keduanya berjalan ke depan rumah, Rosa menatap kepergian Arka menggunakan mobilnya dan tersenyum saat suaminya membunyikan klakson mobil tanda pamit. Setelah mobil sudah tidak ada lagi di pekarangan rumah. Rosa berbalik masuk ke rumah, melihat Gara sedang meneguk air. "Gar? Menurut lo suami gue berangkat sendiri apa sama orang lain?" tanya Rosa bertanya iseng, sekedar mengeluarkan pikiran negatif terhadap sang suami. "Kalo dia berangkat ke kantor nyambi jadi supir taksi sih ya sama orang." Rosa memukul lengan atas Gara cukup kencang. Gara hanya mengusap-usapnya. "Lagian lo aneh banget nanyanya. Kalo emang lo curiga sama laki lo, ya lo ikutin lah?" Rosa menatap tajam laki-laki di hadapannya ini. "Kan ada lo di sini?!" Sadar hal itu, Gara terkekeh ringan kemudian tersenyum malu. "Ya udah. Mending lo siap-siap aja, itu berkas harus lo tanda tangan sekarang, mau gue bawa lagi, lo mau ke restoran, kan? Nanti sekalian bareng aja." "Lo tau gue mau ke restoran?" tanya Rosa heran. "Laki lo ngechat gue tadi kayaknya pas masuk mobil dia buka hp." Gara menunjukkan ponselnya pada Rosa. Melihat itu Rosa mengangguk paham, berarti Arka mengenal Gara. Walau ada pertanyaan darimana kenalnya, Rosa memilih bertanya langsung pada suaminya ketimbang pada Gara yang kini ada di hadapannya. "Nomornya save aja, takutnya ada apa-apa gampang ngabarinnya," kata Rosa. "Lah? Urusannya sama gue apaan?" tanya Gara heran. "Hadeuh, terserah deh, gue mau cek berkas dulu." Rosa meninggalkan ruang makan dan diikuti Gara. ***** "Gar, Kak Surya baik gak sama lo?" tanya Rosa saat keduanya ada di atas motor perjalanan menuju resotoran Rosa. "Baik banget, tapi dia tetep profesional, kalo di depan pegawai lain dia kayak yang gak kenal gue, tapi pas ketemu di lift, ngajak makan siang bareng di luar." Gara bercerita antusias. Ia cukup tersanjung dengan Kakak dari sahabatnya itu. "Sumpah lo? Kak Surya kalo makan siang gak mau loh ditemenin siapa-siapa selain istrinya sama Mama." Rosa mengernyit heran. "Loh? Berarti gak mau sama lo dong?" "Nggak juga sih, tapi emang jarang makan siang sama gue, katanya gue makannya lama," jawab Rosa pelan. Gara tertawa, motornya berhenti saat lampu merah. "Sebenernya gue juga heran sih, seminggu awal gue kerja, makan paling sama temen satu divisi doang, gak pernah sama yang lain. Tiba-tiba diajak Kakak lo, no konteks lagi." "Ya mungkin karena gue bilang kalo lo anak jalanan kali ya, jadinya dia iba." "Hadeuh, bisa jadi sih." Keduanya tertawa mengabaikan orang-orang di sekitar mereka. Setelah sampai di restoran Rosa langsung menggeleng menatap para karyawan yang hanya baru tiga orang datang, padahal ia punya sebelas karyawan di restoran ini. "Setiap pagi cuma kalian sama satpam kayaknya yang keliatan rajin, sisanya kemana?" tanya Rosa heran. "Itu, Bu ... mereka ...." "Gak usah dibelain, yang telat tetep harus dapet konsekuensinya, dari awal saya sering bilang untuk disiplin. Ini udah hampir jam sembilan tapi cuma baru tiga yang datang," kata Rosa menatap ketiganya bergantian. "Mereka emang sering telat, Bu. Biasanya lima belas menit sebelum buka baru dateng." Akhirnya salah satunya berani menjawab. "Kalian saya naikin gaji bulan ini, tapi mereka tetep harus saya berikan penalti atau SP. Nanti jam buka jam sebelas aja. Saya mau evaluasi kalian semua. Kalau sudah datang semua, masuk ke ruangan saya. Saya tunggu." Rosa melangkahkan kakinya ke lantai tiga khusus ruangannya yang terdapat juga cctv dari berbagai sudut di restorannya. Tapi saat sadar, ia menepuk jidat, ia tadi meninggalkan Gara begitu saja di depan restoran setelah berpamitan, seperti naik ojek online. Rosa berjalan ke arah jendela dan melihat sudah tidak ada Gara di sana. Memilih untuk menghubungi Gara lewat pesan online, ia mengetik kalimat maaf dan terima kasih karena sudah merepotkannya pagi-pagi, kemungkinan Gara pasti telat, tapi Rosa sudah menyampaikan hal itu pada Surya, dan Kakaknya pun tidak masalah, ia akan melaporkan itu pada kepala divisi tempat Gara bekerja, karena secara pribadi Surya yang langsung meminta tolong pada laki-laki itu. Memeriksa cctv seminggu ke belakang memakan waktu hampir setengah jam, sampai pintu ruangannya diketuk. "Masuk," jawabnya ringan. Setelahnya masuk 12 orang dengan kepala menunduk. Termasuk satpam. "Pak Adi boleh silahkan berjaga lagi, bapak tidak melakukan kesalahan apapun, ada yang ingin nanti saya sampaikan tapi face to face." Satpam bernama Adi itu pun mengangguk dan membungkuk sopan sebagai rasa hormat kepada bos kemudian keluar dari ruangan bernuansa cerah itu. "Saya lihat dari absen kehadiran di kertas sama di finger print beda ini gimana ya? Pembukuan juga telat, laporan harian baru masuk setelah tiga hari ada masalah sampai harus ditegur customer, kira-kira mending saya pecat atau kalian mengundurkan diri?" Rosa menatap berkas-berkas yang tadi pagi dibawa Gara padanya, hasil rangkuman laporan dari Kakak iparnya yang membantu memonitor restorannya dari rumah. "Raisa, boleh saya tanya, alasan kamu sering telat selain jalanan macet dan bangun kesiangan?" tanya Rosa langsung bertuju pada satu orang. Gadis itu hanya diam, karena sepertinya memang itu alasannya. "Oke, kalau yang lain, ada alasan lain selain yang saya sebutkan tadi? Kamal? Gita? Putri? Denis? Juan? Kevin? Fahri?" tanya Rosa lagi. Masih diam tak ada yang bersuara. "Duduk." Rosa menunjuk beberapa kursi yang memang biasa dipakai untuk mereka melakukan evaluasi di ruangannya. "Temen-temen, maaf sebelumnya, saya harus berbicara hal seperti ini ke kalian. Semoga hal yang saya sampaikan ini benar-benar bisa kalian pahami ya. Saya tidak ingin ada lagi keterlambatan. Restoran ini buka jam sepuluh pagi. Jika alasan kalian itu macet dan kesiangan saya akan pindahkan mess kalian ke yang lebih dekat lagi, tapi untuk sementara waktu tolong jangan terlambat, saya butuh waktu untuk mencari tempat yang layak untuk kalian." Rosa menghela napas, ia sedikit pening. "Tapi, jika ada alasan lain, tolong profesional ya. Saya tidak cuma-cuma mempekerjakan kalian, saya menggaji kalian sesuai itungan waktu kalian yang keluar. Saya tidak mengambil banyak keuntungan dari restoran karena saya lebih banyak memberi gaji kepada kalian, agar kalian merasa tenaga dan waktu yang kalian keluarkan sesuai dengan hasil materi yang kalian dapat." "Saya yang langsung menyeleksi kalian untuk jadi karyawan di sini, artinya saya percaya kalian, artinya saya menaruh harap pada kalian, tidak hanya sekedar datang, masak, melayani pembeli, tapi tanggung jawab kalian. Pembukuan, laporan, bahkan ada masalah sekecil apapun laporkan ke saya." "Saya tidak mau mendengar lagi ada yang datang lima belas menit sebelum buka, bantu teman-teman kalian yang lain. Gaji kalian sama, kerja kalian sudah saya bagi rata, tapi untuk masalah kebersihan itu tanggung jawab bersama. Jika inventaris di restoran ada yang hilang tolong laporkan ke saya. Jika kalian merasa dengan gaji delapan juta lebih dalam sebulan tidak cukup untuk kalian laporkan, berikan saya alasan kenapa saya harus naikan gaji kalian, berikan juga bukti yang bisa memperkuat alasan kalian." Mata Rosa berkaca-kaca. "Saya mudah memecat kalian, bahkan saat ini pun. Tapi, saya tidak mau, saya sudah menaruh banyak harap pada kalian." "Dan satu lagi, tolong, jangan ada senioritas ya, saya sakit hati melihat rekaman cctv dapur dan ruangan kalian. Teman-teman yang sudah lebih dulu di sini, maupun yang baru, kalian semua sama di mata saya, yang membedakan bagaimana cara kalian bertanggung jawab dengan pekerjaan, kalian itu tim, harus kompak. Silahkan saling evaluasi pribadi masing-masing. Kalau ada yang salah, silahkan dibicarakan baik-baik, kalau fatal, tolong laporkan ke saya, saya yang urus." Terdengar isakan dari tengah, Raisa, gadis itu menangis. "Maaf, Bu. Saya akui saya memang tidak profesional, saya masih sering telat, bahkan kadang ada jiwa senioritas saya yang sering keluar, saya gak suka ada orang lain yang sering ibu puji padahal dulu ibu benar-benar percaya ke saya." Rosa menghela napas agar suaranya tidak bergetar. "Saya selalu mengirim pesan di grup, itu sangat universal dan ditunjukkan untuk bersama ke kalian semua. Saya gak ada rasa pilih kasih, seperti yang saya bilang tadi, semua sama di mata saya, yang membedakan itu tanggung jawab. Saat ada karyawan baru saat itu, tanggung jawab kamu berkurang Raisa, kamu berdalih mengajarkan pekerjaan pada mereka yang masih baru, tapi saya lihat kamu lebih sering leha-leha dan terkesan memerintahkan ke yang lain, padahal harusnya itu tanggung jawab kamu." Raisa kian menunduk. "Maaf, Bu. Temen-temen juga, aku minta maaf, harusnya aku jadi contoh yang baik buat kalian." "Ke depannya, tolong dibicarakan lagi ya? Kalo saya gak dateng ke restoran, dan ada laporan mendadak atau urgent, boleh langsung chat saya di w******p yang sudah saya kasih, itu khusus bisnis saya, dan isinya cuma kalian, saya bisa balas cepat chat nya, atau kalo saya slow respon, temen-temen bisa langsung telpon kalo itu bener-bener urgent parah." "Tidak ada telat lagi ya?" Mereka semua kompak mengangguk. "Tidak ada senioritas lagi ya?" Mereka kembali mengangguk. "Tolong liat ke saya semuanya." Rosa ingin melihat wajah-wajah orang yang sudah banyak membantunya mengurus restoran ini. "Inget ya, restoran ini bukan restoran kecil. Saya sudah punya rencana kok untuk menambah karyawan, karena saya takut kalian kewalahan. Tapi setelah melihat seperti ini saya undur sampai bulan depan ya sebagai konsekuensi untuk yang saya ucapkan tadi." "Is that okay?" tanya Rosa. "Gak apa-apa, Bu. Saya yang akan bertanggung jawab, saya janji dan akan saya buktikan." Raisa menatap yakin bos nya itu. "Bagus, tolong kerjasamanya ya teman-teman semua. Saya butuh buktinya, karena janjinya sudah saya pegang. Nanti siang saya akan membantu Kamal membuat konten untuk promosi di sosial media. Fahri tolong siapkan dua menu untuk saya promosikan hari ini." Dua orang yang namanya disebut mengangguk paham. Rosa berdiri dari kursinya, ia merentangkan tangannya, Raisa, Putri, Gita memulai memeluk bosnya kemudian disusul yang lain. "Terima kasih ya, Bu, sudah menegur kami dengan baik, maaf juga atas kesalahan dan kelalaian kami dalam bekerja." Kamal mewakili mereka yang kemudian mengangguk. "Siap-siap bekerja ya. Semangat untuk hari ini dan ke depannya, saya tunggu hasil baik dari kalian. Saya tadi sudah pesan sarapan untuk kalian, mungkin sudah diterima Pak Adi. Sarapan dulu, setelah sarapan langsung siap-siap ya." Setelahnya mereka semua pamit keluar dari ruangan Rosa. Dengan tangan gemetar Rosa mengusap kedua bahunya sendiri dengan tangan menyilang. "Gak apa-apa, Rosa. Kamu udah melakukan yang terbaik, kamu hebat." *** To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN