"Bener, Bos. Ada baiknya loe pindahin dia ke markas aja. Itu lebih aman. Karena kita banyak personel di sana," usul Samuel. "Nggak. Dia itu bukan bagian dari target kita. Tapi, dia target gue. Jadi, gue akan bersikap profesional. Gue nggak akan mencampuradukkan urusan gue dan urusan Golden Eagle," jelas Dean yang membuat anak buahnya manggut-manggut. Tanda mengerti. Di ujung tangga yang dilalui Raya, ia menemukan sebuah pintu lagi. Jujur, Raya merasa aneh dengan tempat ini. Rasanya ini bukan tempat sembarangan yang bisa dimasuki setiap orang. Raya menoleh ke kiri dan kanan beberapa kali. Tidak ada jalan lain selain pintu di depan Raya. Huft. Raya menghembuskan nafas beratnya. "Kayaknya ini tempat rahasia. Ada baiknya aku kembali ke atas. Sebelum Dean tau aku sudah sampai di tempat ini,"

