Semenjak Dean sakit, dia semakin memanfaatkan kondisinya untuk bermanja-manja ria dengan Raya. Mulai dari makan yang minta disuapin, minum obat dihancurkan dulu pakai sendok dan air. Sekarang, dia minta dipotong kuku tangan oleh Raya di gazebo tamannya. Sementara dia malah enak-enakan tiduran di pangkuan wanita berhidung mancung itu sambil menatap wajahnya yang cantik.
"Kamu itu dilihat dari manapun tetap cantik ya. Dilihat dari atas cantik, dari bawah gini cantik, dari jauh cantik, dekat tambah cantik. Bahkan, mataku merem juga kamu masih keliatan cantik," rayu Dean.
"Udah nggak usah merayu aku. Bilang saja setelah ini kamu mau aku ngapain lagi?" balas Raya ketus.
"Hehe. Jangan galak-galak dong, Sayang. Bikin aku tambah gemes deh." Dean berkata sambil mencubit pipi Raya dengan gemas.
"Aw. Sakit tau," protes Raya. "Aku heran deh. Kamu kan yang sakit punggung bukan tangan. Kenapa jadi manja gini sih?" tambahnya.
"Memangnya kenapa sih kalau aku manja-manja sama istri sendiri. Kamu mau aku manja sama cewek lain?" canda Dean seraya memainkan ujung jilbab Raya. Raya pun hanya mendengus dan memalingkan wajahnya bersamaan. Hingga kemudian ia teringat sesuatu.
"Oh, iya. Sekarang aku tau kalau kamu sudah menyiapkan perayaan pernikahan ini sebelum kejadian hari itu," ujar Raya yang membuat Dean menghentikan gerakan jarinya.
"Oh, masalah itu ya?" kata Dean sambil mengganjal kepalanya dengan tangan kanannya yang sudah selesai dibersihkan.
"Bener kan apa yang aku duga. Kalau kamu sudah merencanakan ini semua. Lalu dimana Alex berada sekarang?"
"Alex?" Beo Dean dengan nada tanpa dosa.
"Iya, Alex. Sekarang aku kan udah jadi istri kamu. Jadi, nggak usah sembunyiin dia deh. Itu sama aja kamu nyiksa dia tau. Kamu pisahin aku sama dia aja itu sama aja kamu nyiksa kita berdua." Raya memelankan kalimat terakhirnya.
"Aku takut kamu akan kecewa kalau tau dimana Alex berada sekarang," balas Dean yang langsung membuat kerutan di kening Raya. Karena kesal Raya pun menekan gunting kukunya yang ada di tangannya sembarangan.
"Aw. Aw. Aw. Sakit tau," protes Dean sambil mengangkat badannya hingga terduduk.
"Rasain. Siapa suruh kamu ngomong sembarangan. Asal kamu tau ya. Satu-satunya yang bikin aku kecewa di dunia ini tuh cuma kamu. Bisa-bisanya kamu rusak hari terindah yang sudah aku susun matang-matang."
"Apa kamu akan ninggalin aku kalau nanti kamu ketemu Alex lagi?" tanya Dean dengan nada serius.
Deg! Jantung Raya pun seakan berhenti berdetak. Rasanya sulit sekali ia menggerakkan bibir mungilnya untuk menjawab.
"A… aku_"
"Sudahlah. Aku sudah tau jawabannya." Dean pun beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Raya sendirian.
"Dia marah?" gumam Raya dengan kening yang berkerut sempurna. Lalu Raya baru sadar kalau ring jilbabnya yang berbentuk Flamingo tidak lagi berada di tempatnya. Padahal, bros itu hadiah dari Alex saat awal kenal dulu dan secara kebetulan hanya dengan kepala burung berleher panjang yang melengkung itu. Ia bisa membuka kopernya yang sudah kehilangan kunci. Raya memang sengaja tidak memindah pakaiannya ke lemari Dean yang besar itu. Sebab, ia masih berharap bisa segera pergi dari rumah ini. Kembali pada Raya yang tengah berlari mengejar Dean. "Eh, tunggu! Tunggu aku!" teriak Raya.
Tepat di depan pintu Dean mendadak menghentikan langkahnya lalu memutar badannya tanpa aba-aba. Tentu saja hal itu membuat Raya yang tidak bisa mengerem kakinya langsung menabrak tubuh Dean dan hampir terjatuh. Andai saja lelaki berparas maskulin itu tidak segera menangkapnya.
Deg! Deg! Deg! Jantung Raya terasa berdetak kencang. Selalu saja begini tiap kali badan mereka berdua saling berhimpitan. Padahal, dulu saat bersama Alex. Getaran di hati Raya tidak sehebat ini. Apa karena dulu Raya dan Alex memang belum pernah saling menyentuh apalagi berpelukan seperti ini? Entahlah.
"Kamu kenapa sih lari-larian kayak anak kecil? Emang kalau jatuh nggak sakit?" sindir Dean. Raya pun segera sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Sehingga, wanita itu langsung menegakkan tubuhnya dengan segera.
"Ish. Kamu tuh yang kayak anak kecil. Kenapa ring jilbab aku kamu ambil?" timpal Raya sewot.
"Maksud kamu ini?" Dean membuka genggaman tangannya dan menunjukkan Bros berbentuk Flamingo dengan hiasan permata yang memenuhi badannya.
"Iya." Raya segera meraih benda itu dengan cepat. "Syukurlah kamu ketemu," gumamnya sambil memandangi benda kecil itu. Melihat sikap Raya yang nampak sangat bahagia menemukan benda itu, Dean malah mendengus.
"Kayaknya benda itu berharga banget buat kamu. Pemberian siapa? Alex?" tanya Dean ketus. Namun, berhasil melunturkan senyum di bibir Raya.
"Kalau iya kenapa?" balas Raya dengan nada menantang.
"Kalau kamu mau. Aku bisa beliin benda kayak gitu yang bahannya asli dari berlian. Nggak benda murahan kayak pemberian si Alex itu." Dean pun tersenyum meremehkan.
"Sombong. Kamu pikir benda ini cuma buat hiasan doang. Ini lebih penting daripada itu ta_" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dean malah membekap mulut Raya dari belakang. "Mmppb…. Mmbpp…. Mmbpp…." Raya terus berusaha berontak meskipun tenaganya tak sebanding dengan tenaga Dean. Dean segera menyeret Raya masuk ke dalam rumahnya.
Sampai di ruang tamu, Dean membuka sebuah pintu yang berada di salah satu dinding ruang itu. Lalu ia memaksa Raya untuk masuk ke dalamnya.
"Kamu apaan sih? Sakit tau ditarik-tarik gini."
"Hust…. Kamu diem dulu disini ya, Sayang. Di luar ada temen-temen aku."
"Emangnya kenapa kalau aku keluar? Kan aku juga mau ketemu sama teman-teman kamu."
"Jangan-jangan," balas Dean cepat.
"Kenapa?"
"Mereka itu semua laki-laki. Kalau mereka liat kamu terus suka. Aku juga yang repot," jawab Dean jujur. Mendengar jawaban sang suami Raya malah tersenyum geli.
"Tapi, aku kan belum tentu suka mereka juga. Emang aku cewek gampangan apa?" Raya berjalan melewati Dean. Namun, belum sempat keluar dari tempat itu Dean kembali menarik tangannya.
"Kalau sama kamu aku percaya. Tapi, sama mereka tidak. Makanya, tetaplah disini. Sampai nanti aku suruh kamu keluar. Oke?" titah Dean yang tidak bisa dibantah.
"Iya," balas Raya tidak bersemangat.
"Bagus. Itu baru istriku sayang." Dean pun mencium kening Raya sebelum pergi. Meninggalkan Raya yang hanya bisa mendengus dengan kesal.
Blak! Dean menutup pintu ruangan itu lalu mengunci dari luar. Tepat di saat itu anak buahnya sampai di pintu masuk rumahnya.
"Wah ada yang disembunyiin nih dari kita," kata Dirga di ambang pintu. Dean segera membalik badan lalu melambaikan tangannya dengan canggung.
"Kalian? Ngapain sampai rumah gue? Gangguin aja deh," balas Dean bercanda sambil berjalan ke arah anak buahnya. Tentunya sebelum mereka sampai di pintu ruangan tadi dan memaksanya untuk dibuka.
"Iya deh. Tau kalau loe pengantin baru. Mana nih istri loe yang kayak bidadari itu. Pasti yang baru loe sembunyiin ya," balas Marchel sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Dirga.
"Iya nih, Bos. Selain, ngejenguk keadaan elo sekarang. Kita kesini juga pengen liat kemolekan istri loe kayak apa? Secara elo kan yang paling anti sama cewek diantara kita semua?" canda Yongki.
"Eh, dengerin ya. Kalau kemaren gue sempet selametin elo yang mau dibunuh sama si Gerrald. Sekarang giliran gue yang akan bunuh elo kalau sampai berani liat istri gue," sahut Dean dengan nada serius.
"Hahaha. Sabar, Bro. Kita cuma bercanda kok. Lagian dia itu seperti apa sih menurut elo? Legit nggak?" tanya Dirga sambil merangkul pundak Dean. Alisnya pun ia naik-naikkan sebelah. Penuh makna.
"Jelas dong. Dia itu sempurna banget. Cantik, punya lesung pipi, hidungnya mancung, badannya oke dan…." Ketika Dean hampir menyebutkan ranah pribadi Raya, ia baru sadar jika pertanyaan Dirga tadi hanyalah jebakan belaka. "Eh, tunggu dulu. Apa maksud pertanyaan elo?" tanya Dean curiga. "Elo nggak ada maksud untuk membayangkan sosok istri gue kan?" berondong Dean.
"Oh, enggak… enggak. Kita cuma pengen tau aja. Hehe," balas Dirga yang memang terkenal suka main cewek. Dan kalau dia sudah suka sama cewek, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan benda keramat cewek itu. Itulah sebabnya Dean sangat menjaga Raya dari lelaki lain. Tentunya, selain ia tidak bisa menahan rasa cemburu, ia juga tidak mau Raya menjadi korban lelaki b***t seperti Dirga.
Dean menatap tajam Dirga dan anak buahnya yang lain satu per satu.
"Kalau sampai kalian ada yang berani menyentuh mutiara gue. Gue bunuh kalian satu per satu," ujar Dean penuh penekanan.
Tanpa Dean sadari, Raya ternyata menguping dari balik pintu yang ia kunci tadi. Kedua sudut bibir Raya pun terangkat mendengar ucapan Dean tadi. 'Dasar, over protective,' batin Raya mencibir. Ia pun menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil menahan senyum gelinya. Lalu tanpa sengaja Raya melihat ada sebuah pintu lain di ruangan yang cukup sempit itu.
"Ruangan apa itu?" gumam Raya sambil terus memandangi pintu misterius tadi. "Selama disini kan aku belum pernah jalan-jalan," tambahnya.
Karena rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun. Raya pun akhirnya berjalan mendekat. Ia meraih gagang pintu yang menempel. Lalu memutarnya sembilan puluh derajat. Tiba-tiba pintu pun terbuka dan menunjukkan sebuah tangga menuju ruang bawah tanah. Raya pun mengikuti setiap anak tangga yang tak terhitung jumlahnya.
Di ruang tamu Dean dan anak buahnya mulai berbicara serius. Wajah mereka pun tak lagi menunjukkan senyum sedikitpun.
"Jadi sampai kapan loe bakal jadiin dia tawanan kayak gini? Bukannya apa yang elo mau sudah elo dapatkan?" tanya Marchel. Dean pun menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Dia masih terlalu rawan buat gue. Gue nggak akan lepasin dia sampai semuanya aman dan berjalan seperti apa yang gue mau," jawab Dean mantap. Matanya juga menerawang entah kemana.
"Tapi, sampai kapan? Loe yakin rumah loe ini aman buat ngurung dia? Kalau sampai ada yang curiga gimana?" sahut Dirga.
"Bener, Bos. Ada baiknya loe pindahin dia ke markas aja. Itu lebih aman. Karena kita banyak personel di sana," usul Samuel.
"Nggak. Dia itu bukan bagian dari target kita. Tapi, dia target gue. Jadi, gue akan bersikap profesional. Gue nggak akan mencampuradukkan urusan gue dan urusan Golden Eagle," jelas Dean yang membuat anak buahnya manggut-manggut. Tanda mengerti.
Di ujung tangga yang dilalui Raya, ia menemukan sebuah pintu lagi. Jujur, Raya merasa aneh dengan tempat ini. Rasanya ini bukan tempat sembarangan yang bisa dimasuki setiap orang. Raya menoleh ke kiri dan kanan beberapa kali. Tidak ada jalan lain selain pintu di depan Raya. Huft. Raya menghembuskan nafas beratnya.
"Kayaknya ini tempat rahasia. Ada baiknya aku kembali ke atas. Sebelum Dean tau aku sudah sampai di tempat ini," gumam Raya lagi. Tatkala Raya hendak berjalan menaiki tangga. Tiba-tiba….
Gubrak!!! Terdengar suara cukup keras dari balik pintu itu. Langkah Raya pun seketika terhenti. Kemudian ia kembali berbalik menghadap ke arah pintu. Pelan-pelan kakinya bergerak mendekati pintu misterius itu. Hingga saat ia berhasil memegang gagang pintu mendadak….
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.