"Ma… maaf_"
Bruk!! Tubuh Dean limbung ke arah badan Raya sebelum menyelesaikan kalimatnya. Untung saja jarak mereka dekat. Sehingga, tubuh Dean jatuh tepat di dalam pelukan sang istri.
"Dean. Dean kamu kenapa?" tanya Raya panik. Tangan kanannya yang tak sengaja memegang punggung Dean merasakan sesuatu. Raya segera memeriksanya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat darah segar memenuhi tangannya.
"Dean. Kamu?!! Tolong!!! Tolong!!!"
Raya terus berteriak sampai-sampai membuat semua penghuni rumah berdatangan. Raya yang sudah tidak kuat menahan bobot tubuh Dean yang yang lebih berat darinya. Memilih untuk membaringkan lelaki itu ke atas paving yang dingin.
Wajah Dean sudah tampak sangat pucat. Bahkan, bibirnya saja terlihat mulai memutih. Kedua tangannya juga terasa dingin.
"Ada apa, Non? Ada apa, Non?" tanya para ART, security dan beberapa penjaga rumah bersautan.
"Punggung Dean terluka. Tolong bawa dia ke rumah sakit sekarang!" jawab Raya dengan nada meninggi.
"Baik, Non," balas mereka dengan mantap. Kemudian kedua penjaga segera mengangkat tubuh Dean dengan kedua otot lengannya yang keras. Namun, baru saja berhasil diangkat. Tiba-tiba Dean tersadar.
"Jangan bawa gue ke rumah sakit," gumamnya sangat lemah. Matanya yang biasanya yang menatap dengan tajam pun, kini seakan begitu berat untuk dibuka lebar-lebar.
"Tapi, kamu harus segera mendapatkan pertolongan. Kamu harus dibawa ke rumah sakit," kata Raya panik. "Ayo, cepat bawa ke mobil. Biar saya bukakan pintunya." Raya hendak berlari menjauh tatkala tangan Dean berhasil memegangnya. Mau tidak mau Raya mengurungkan niatnya. Lalu menoleh ke arah sang suami.
"Aku cuma mau dirawat sama kamu, Sayang. Bukan yang lain," kata Dean semakin lemah. Raya menatap laki-laki itu dengan tatapan tak tega.
"Ya, sudah. Ayo, kita masuk segera!" perintah Raya kemudian.
"Baik," jawab mereka serentak. Mereka pun segera berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Raya segera mengikutinya sambil terus menggandeng tangan Dean yang menggenggam tangannya dengan erat. Sesekali Raya melirik wajah Dean yang semakin memprihatinkan. Jauh di dasar hatinya ia sangat menyesal sudah memarahi Dean tadi.
"Tolong tengkurap kan di sofa dulu ya. Biar saya obati," titah Raya.
"Baik, Non." Kedua orang lelaki yang membawa tubuh Dean segera melakukan apa yang diperintahkan Raya.
"Bik. Tolong ambilkan kotak P3K ya," titah Raya pada ARTnya.
"Siap, Non." Salah satu diantara sepuluh ART itu bergegas menjauhi kerumunan untuk mengambil benda yang dinginkan Raya.
"Untuk para Bibik. Silahkan kembali ke kamar masing-masing ya. Tolong jangan berkerumun. Dean membutuhkan udara segar untuk bernafas. Jadi, kalian bisa kembali istirahat."
"Baik, Non." Sesuai perintah Raya mereka pun segera meninggalkan tempat ini. Sedangkan seorang ART tadi malah berlarian menuju ke Raya yang sedang berusaha membuka jaket Dean.
"Ini kotak P3Knya, Non."
"Terima kasih, Bik," balas Raya tanpa mengalihkan perhatiannya. Lalu Raya segera membuka kotak itu dan mengambil gunting di dalamnya. Perlahan, tapi pasti Raya menggunting kaos ketat yang dipakai Dean. Lima menit kemudian kaos Dean mampu ditanggalkan. Punggung Dean yang tidak lagi tertutupi sehelai benang pun. Menampakkan luka yang menganga.
Sesekali Dean membuka matanya meski tak bisa selebar biasanya. Mendadak ia tersenyum lemah menatap wajah Raya yang terlihat sangat cemas dengan keadaannya. Lalu matanya pun kembali terpejam saat kapas bercampur cairan alkohol menyentuh permukaan kulitnya yang terluka. Tentu saja rasa perih seketika menyergapnya.
Dengan telaten Raya membersihkan luka Dean. Hingga memperlihatkan kedalaman luka itu. 'Lukanya cukup dalam dan memerlukan jahitan. Selain itu Dean juga butuh banyak transfusi darah,' pikir Raya cepat. Yang pertama kali terlintas dalam benaknya hanyalah Jakarta Hospital. Tempatnya bekerja. Makanya tanpa sadar Raya langsung beranjak dan berlari keluar rumah menuju gerbang.
"Non. Non Raya mau kemana?!" teriak seorang penjaga. Takut Raya akan memanfaatkan keadaan ini untuk kabur. Mereka pun segera mengejar Raya. Sementara Dean, dengan sisa-sisa kekuatan ia berusaha mengangkat kepalanya. Menatap larian Raya menuju gerbang. 'Raya. Sebegitu inginkan kamu pergi dari rumah ini. Sampai-sampai keadaanku yang tak berdaya ini kamu manfaatkan?' batin Dean sedih. Tak terasa air matanya mengalir di kedua matanya.
Sedangkan di depan sana Raya memperlambat lariannya saat sudah mendekati gerbang. Untung saja gembok belum terkunci kembali. Jadi, dia bisa membuka pintu besi itu dan melewatinya. Hanya saja, ketika kakinya hendak melangkah keluar. Tiba-tiba ia teringat ucapan Dean beberapa hari yang lalu. "Aku tidak mau kamu pergi selangkah pun dari rumah ini. Mengerti!"
Ketika kalimat itu terus terngiang-ngiang di benak Raya. Keempat lelaki kekar yang mengejarnya sampai.
"Pak Security. Apa Bapak punya pulpen dan kertas di pos?" tanya Raya mengetahui keberadaan mereka sudah dekat. Lelaki berkumis tebal yang memakai baju seragam satpam pun mengangguk mantap.
"Punya, Non. Punya. Tapi, untuk apa ya?" tanyanya bingung.
"Ambilkan saja dulu, Pak. Nanti juga kalian mengerti," kata Raya.
"Baik, Non. Segera laksanakan." Tak lama kemudian Pak Security datang dengan membawa dua benda yang diinginkan Raya. "Ini, Non. Pulpen dan kertasnya."
"Terima kasih, Pak." Raya segera meraih kedua benda itu dari tangan Pak Security. Lalu ia menuliskan sesuatu di atas kertas itu.
"Pak, tolong kamu ke Jakarta Hospital lalu serahkan kertas ini pada Ibu Irawati ya." Raya menyerahkan kertas itu pada salah satu penjaga rumah ini. "Tolong cepat ya. Dean membutuhkan benda itu secepatnya," tambah Raya.
"Baik, Non. Saya akan kerjakan secepatnya." Lelaki itu masuk ke dalam untuk mengambil mobil yang sengaja disediakan Dean untuk keperluan anak buahnya.
"Ya, sudah. Saya masuk ya, Pak. Jaga pintu gerbangnya dengan benar. Tadi, Bapak lupa menguncinya, kan?"
"Baik, Non segera laksanakan."
Raya tersenyum pada lelaki setengah baya itu. Kemudian ia pun segera masuk ke dalam.
Di dalam Dean kembali beranjak dari sofa. Sambil menahan rasa sakit yang sudah biasa ia rasakan. Lelaki itu memakai jaketnya lagi. Dean sudah pernah kehilangan orang yang paling dicintainya di dunia ini. Dan dia tidak mau merasakan hal itu untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, Dean akan berusaha mengejar Raya dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
Dean menggelengkan kepalanya saat rasa pusing kembali menyerang. 'Nggak. Gue nggak boleh lemah. Gue harus kejar Raya. Kemanapun dia berada,' tekadnya dalam hati. Dean memegangi kepalanya yang semakin terasa berat. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Baru saja ia bisa menggerakkan kakinya beberapa kali. Badannya kembali goyah dan hampir saja terjatuh. Untung saja Raya sudah berada di sana dan menangkap tubuh Dean dengan cepat.
"Raya," gumam Dean dengan senyum yang mengembang.
"Kamu mau kemana sih? Dasar, bandel. Kamu kan lagi luka. Main pergi-pergi aja," omel Raya. "Ayo tiduran lagi." Raya memapah Dean kembali ke sofa.
Saat ia hendak mendudukkan badan Dean. Lelaki itu malah mendorong tubuh Raya hingga terjatuh ke sofa. Baru setelah itu ia menidurkan badannya di atas pangkuan Raya. Tak hanya itu, Dean juga melingkarkan tangan kanannya di pinggang Raya, sedangkan wajahnya ia tenggelamkan tepat di atas goa kenikmatan Raya. Seakan ingin menghirup wangi surga dunianya sebanyak-banyaknya.
"Kamu jangan pergi jauh-jauh ya. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu," gumam Dean sambil mempererat pelukannya. Raya tak menjawab, tapi semburat Rona merah di kedua pipinya mewakili semua perasaannya saat ini.
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.