Bab. 9 Dimana Alex?

1538 Kata
Raya melirik piring sarapan yang tadi dibawakan oleh Dean. Nasi dan lauk pauk itu masih utuh. Asap yang semula mengepul tak nampak lagi. Hanya s**u coklat kesukaan Raya yang tinggal setengah gelas. Raya memang tak nafsu makan sejak kejadian tadi. Meskipun ia tidak berniat membuang-buang makanan, tapi ia masih enggan melahapnya saat ini. 'Tunggu beberapa saat lagi deh. Kali aja moodku balik setelah sholat dhuhur ini,' batin Raya sambil duduk kembali di salah satu sudut tempat tidurnya. Ia memang baru saja selesai melaksanakan sholat. Semenjak tinggal disini, Raya seakan hidup di dalam penjara. Hak dan kebebasannya terenggut secara paksa. Jangankan berkumpul dengan teman ataupun keluarga seperti dulu. Berbagi kabar lewat ponselnya saja tidak diizinkan Dean. Masih sangat jelas dalam ingatan Raya. Saat diperjalanan menuju rumah ini pada malam pernikahan mereka. Puluhan pesan masuk ke dalam ponsel pintar yang saat itu berada di genggaman tangan Raya. Tentu saja teman-teman Raya ingin mengucapkan selamat sembari menanyakan kebenaran tentang ketidakhadiran Alex pada saat itu. Mereka sangat kaget, mendengar berita pernikahan Raya yang mengabarkan jika sang pengantin pria diganti oleh seorang pemimpin preman karena Alex tidak datang. Sungguh, mereka sangat tau bagaimana besarnya cinta Alex pada Raya. Jadi, saat lelaki itu tidak datang di hari yang sudah lama ia impikan. Rasanya sangat janggal. Makanya mereka sibuk mengirim pesan pada Raya. Cuman, saat Raya hendak membalas pesan mereka satu per satu. Tiba-tiba saja Dean mengambil benda pipih itu dari tangan Raya lalu membuangnya keluar kaca jendela mobilnya. Puluhan kata berisi protes Raya akan kelakuan Dean pun tak digubris lelaki itu sama sekali. Ia malah meminta sang sopir untuk mempercepat laju mobilnya kala itu Selain masalah ponsel. Profesi Raya sebagai Dokter juga mendapat imbas yang sama. Tanpa meminta pendapat Raya duluan, Dean mengirim surat pengunduran diri ke Rumah Sakit tempat Raya bekerja. Kepala Rumah Sakit pun segera menyetujuinya. Meskipun awalnya ia sangat menyayangkan surat pengunduran diri itu. Dia tau betapa Raya sangat menikmati perannya sebagai Dokter dengan prestasi yang tidak diragukan lagi. Namun, Dean yang saat itu datang langsung menemui Kepala Rumah Sakit. Beralasan bila istrinya ingin fokus dengan statusnya yang baru. 'Aku benar-benar nggak habis pikir dengan isi kepalanya. Dia bilang ingin membuat aku bahagia, tapi begitu kelakuannya. Egois!' batin Raya kesal mengingat hal itu. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya. "Andai saja Alex ada disini_," gumam Raya kemudian. Bayangan saat-saat indah bersama Alex pun memenuhi benaknya. Berawal dari pertemuan tak sengajanya saat kecopetan di Magenta Mall satu tahun yang lalu…. Flashback. Setelah mendapat baju yang cocok untuk ia kenakan di hari pertamanya masuk kerja sebagai Dokter Umum. Raya berniat untuk mencari makan siang. Perutnya yang rata terlihat semakin rata karena belum terisi makanan sejak lima jam yang lalu. Sambil mengusap perutnya berdentang ria itu, Raya berjalan ke food court makanan Jepang. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya ia pergi ke Mall sendirian. Apalagi disaat semua teman-temannya sibuk. Namun, entah mengapa Raya merasa ada yang aneh. Saat ia melangkah seakan ada orang yang mengikutinya di belakang. Raya berusaha menghalau perasaan cemasnya sendiri. Hingga saat ia hendak masuk ke dalam. Seseorang menarik tas tangannya sambil berlari. "Eh, tas saya. Tolong jambret!! Jambret!!" Raya mengejar laki-laki berjaket hitam sambil berteriak sekencang-kencangnya. Lelaki itu pun menaiki eskalator yang bergerak turun ke lantai dua. Raya langsung mengikutinya dari belakang. Tak lama eskalator pun sampai di lantai yang dituju. Raya segera berlari mencari orang berjaket hitam yang membawa tasnya. "Nah, itu dia," gumam Raya menemukan sosok yang dicarinya. Raya segera mendekati lelaki itu lalu merebut tasnya lagi. "Ini tas saya! Kamu penjambret ya! Tolong! Tolong!" teriak Raya yang langsung menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar. "Bu… bukan, Mbak. Mbak salah paham. Tolong jangan berteriak," balas lelaki itu terlihat ketakutan. "Nggak usah ngeles ya. Saya itu inget banget. Tadi di atas kamu narik tas ini dari tangan saya." Raya tak mau kalah. "Tapi, Mbak_" "Ada apa ini?" tanya seorang security yang berjalan mendekat. "Tolong, Pak. Tolong amankan dia. Dia penjambret. Dia baru saja mengambil tas saya," jelas Raya dengan penuh semangat. Lelaki yang berkumis tebal itu malah memandang cowok berjaket hitam sesaat. "Sepertinya Anda sudah salah paham. Jadi, mending anda pulang saja," kata Pak security. "Apa?! Saya itu lihat sendiri, Pak. Dia penjambretnya. Lihat ini, lihat!! Dia memakai jaket hitam. Persis lelaki yang merebut tas saya tadi," sahut Raya kekeh. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah jaket lelaki itu. "Yang berjaket hitam kan banyak, Mbak," timpal security itu lagi. "Apa?! Jadi, Bapak lebih belain dia daripada saya?" tanya Raya tak percaya. Kemudian ia pun tersenyum geli. "Saya tidak menyangka masih saja orang kebal hukum di negara ini," tambah Raya seraya berlalu. Keesokan harinya Raya berangkat kerja dengan terburu-buru. Ini adalah hari pertama ia kerja. Seharusnya, ia datang lebih awal untuk acara penyambutan. Sayangnya, tadi tetangga sebelah rumahnya ada yang terkena musibah. Jadi, ia harus membantunya terlebih dahulu. "Aduh. Nggak boleh telat. Nggak boleh telat," gumam Raya sambil memasukkan kunci mobilnya dengan panik. Mesin pun hidup lalu segera Raya memundurkan kendaraan dengan terburu-buru. "Raya! Raya! Tunggu!" teriak Bu Aisyah sambil melambaikan tangannya ke udara. Mendengar suara sang ibu tengah memanggilnya. Raya langsung menginjak pedal remnya. Bu Aisyah pun bergegas mendekat. "Ada apa Ibu? Kan Raya lagi buru-buru," protes Raya setelah membuka kaca mobilnya. "Iya. Ibu tau. Tapi kamu lupa bawa ini. Ibu kan udah bikin sejak tadi pagi." Bu Aisyah memberikan sebuah rantang susun pada putri semata wayangnya. "Jangan lupa. Teman-teman kamu dibagi. Mengerti," pesan Bu Aisyah mengingatkan. "Siap, Ibuku yang cantik. Terima kasih ya. Assalamu'alaikum." Raya kembali melajukan mobilnya setelah menerima rantang susun itu. Sepuluh menit berlalu, mobil Raya pun sudah melaju bersama puluhan kendaraan lainnya. Sesekali Raya mengomel tiap kali mobilnya di halangi mobil lain. Ditambah lagi, di depan sana terlihat beberapa petugas kepolisian sedang melakukan razia. "Aduh. Pakai ada razia segala lagi. Aku bakal telat nih," omel Raya. Tak lama kemudian mobil Raya pun dihentikan salah satu petugas. Tok. Tok. Tok. Ia juga mengetuk kaca mobil Raya. Sehingga, mau tidak mau Raya harus segera membukanya. "Selamat siang," ujar lelaki berkumis tebal itu. "Selamat siang, Pak," balas Raya. "Bisa perlihatkan surat-surat kendaraan anda," pinta lelaki itu dengan tegas. "Baik, Pak." Raya yang selalu membawa kelengkapan surat-surat kendaraannya. Langsung mengeluarkan benda itu dari dalam dompetnya. "Ini, Pak." Raya segera memberikan benda itu. "Sebentar." Pak Polisi membawa surat-surat Raya ke arah rekan-rekannya. "Ih, apaan lagi sih? Kan mobil gue lengkap semua," gerutu Raya kesal. Tak lama kemudian si Pak Polisi pun kembali mendekat. "Udah belum, Pak. Saya buru-buru nih," protes Raya. "Sebentar, Mbak. Mbak Rayana Annarista kena tilang," jawab Pak Polisi yang membuat mata Raya seketika membulat. "Apa?! Kena tilang?! Tapi, semua surat-surat kendaraan saya kan lengkap. Kenapa saya tetap kena tilang?" "Anda belum menyerahkan SIM pada saya?" "Nah, itu! Itu kan SIM saya. Bapak udah lupa bentuk kartu SIM itu kayak apa?" "Bukan Surat Izin Mengemudi tapi Surat Izin Mencintaimu." Polisi itu menurunkan badannya hingga menunjukkan wajah tampannya tepat di depan Raya. "Kamu?" Wajah Raya pun seketika memerah. Senyum manisnya juga mengembang. Namun, matanya membulat menatap sosok lelaki yang dia kira penjambret di Mall kemarin. "Hai, masih ingat?" tanya lelaki itu yang membuat Raya semakin merasa tidak enak. Karena sudah menuduhnya sembarangan. . Tok. Tok. Tok. Mendadak bunyi ketukan di pintu kamar Raya membuyarkan lamunan gadis itu. Senyumnya yang tadi sempat mengembang, redup seketika. Dengan tidak bersemangat Raya berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Maaf mengganggu, Non," ujar salah satu ART yang ada di rumah ini. "Tidak apa-apa, Bik. Ada apa ya?" "Ada yang nungguin Non Raya di bawah." "Nungguin saya? Siapa, Bik?" ………………………… Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab. Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum. Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe. Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh. Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN