Chit…. Setelah mobil terasa berhenti bergerak. Dean berusaha keluar dari bagasi mobil yang dikendarainya Yongki. Inilah alasan kenapa dia membiarkan anak buahnya itu membawa mobil sport mewah yang sudah lama ia impikan ini. Dia tau betul bagasi itu tidak bisa dibuka dari dalam. Makanya, ia berusaha mendorong jok belakang mobil agar bisa memberinya ruang untuk masuk ke dalam mobil lalu keluar melalui pintu. Tentunya, mereka pun sudah sepakat agar pintu mobil tidak dikunci. Dan jangan sampai gagal fokus ya. Mobil ini memang berkapasitas empat orang. Jadi meskipun sport, tapi tetap memiliki jok belakang.
Kembali pada Dean yang menyusup ke jok depan. Dengan tubuhnya yang ramping serta pengalaman susup-menyusup yang handal. Sangat memudahkan lelaki tampan ini keluar dari tempat pengap yang minim oksigen tadi.
Segerombolan anak buah Gerrald yang masih berkumpul tak jauh dari mobil itu parkir. Seketika menghentikan obrolannya, saat menyadari mobil yang baru saja ditinggal pemiliknya itu bergerak-gerak sendiri. Mereka pun langsung menatap ke arah yang sama dengan raut wajah curiga.
"Mobil itu goyang-goyang," ucap salah seorang diantaranya.
"Bener. Beneran goyang-goyang," sahut yang lain dengan pandangan yang terus menatap ke arah mobil.
Salah satu diantara mereka, ada yang memberanikan diri untuk memeriksa. Ia berjalan mengendap-endap mendekati kaca mobil. Dan saat ia hampir sampai di pintu kanan mobil itu tiba-tiba mobil dibuka dari dalam dengan cukup kuat. Bruk! Mau tak mau badan lelaki itu pun terpelanting ke belakang. Karena dihantam oleh pintu mobil Dean dengan cukup keras. Semua teman-teman pun terkejut dan langsung pasang posisi kuda-kuda.
Sedangkan Dean menurunkan kakinya dengan mantap satu per satu. Blak!!! Dean membanting pintu mobilnya dengan cukup kuat. Yap! Beginilah rencananya dari awal. Meskipun sangat beresiko untuk dia dan Yongki. Namun, Dean tak punya pilihan lain selain membantu Yongki bertemu dengan Gerrald dan membebaskan klub-klub malam yang selama ini menjadi partner bisnisnya. Agar tetap aman dan nyaman beroperasi tanpa gangguan dari Black Hole. Ucapan khawatir dari anak buahnya pun masih terngiang-ngiang di telinga Dean.
"Jangan lakukan itu, De. Itu sangat berbahaya," ujar Dirga dengan raut wajah cemas beberapa saat yang lalu . Bukannya merasa takut. Dean malah tersenyum ke arah lelaki yang sudah ia anggap sebagai Abang kandungnya itu, sambil menepuk pundak Dirga.
"Loe nggak perlu khawatir, Ga. Gue yakin gue akan pulang dengan selamat," balas Dean kekeh.
"Sebaiknya, Bos jangan gegabah. Bagaimana kalau Bos bawa beberapa anak buah. Gue yakin, jumlah mereka sangat banyak. Karena mereka sudah siap untuk nyerang kita," celetuk Samuel.
"Justru hal itu yang akan membuat kita gegabah. Kita kesana hanya untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Kita bunuh Yoga bukan tanpa alasan. Tapi, karena dia sudah mengganggu kita duluan. Gue hanya ingin bertemu Gerrald untuk menjelaskan semua. Termasuk, menggertak mereka. Biar mereka tau seberapa bahayanya kalau mereka berani ngerecokin urusan kita," jelas Dean dengan tegas.
"Gue paham maksud loe, De. Tapi, apa loe yakin bisa menghadapi puluhan, bahkan ratusan anak-anak Black Hole sendirian. Kita nggak tau berapa jumlah mereka sekarang. Loe yakin nggak butuh pasukan?" Marchel ikutan bersuara.
"Kalian tak perlu khawatir. Sebelum memutuskan sesuatu. Gue udah memikirkannya matang-matang." Dean berkata dengan mantap. "Yongki. Ayo, kita berangkat," ajak Dean pada lelaki yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya dan tak berani buka suara.
"Ba… baik, Bos," balasnya terbata. Kemudian mereka berdua pun berjalan meninggalkan sekelompok orang tadi.
Sambil terus mengawasi kepergian kedua rekan segengnya. Darius tersenyum licik. Tangannya yang ia lipat di depan d**a. Menunjukkan bila ia tidak meresahkan keberangkatan kedua orang itu sama sekali. 'Haha. Pergilah sana sok jagoan. Kalau loe pulang tinggal nama doang. Gue yang akan menguasai Golden Eagle. Hahaha,' batinnya culas.
Begitu sekelebat kejadian sebelum Dean dan Yongki sampai di tempat ini. Sekarang di tempat Bos ganster itu berdiri, Dean memakai kacamata hitamnya tanpa ada perasaan gentar dengan puluhan musuh yang siap memukuli tubuhnya.
"Wah. Kedatangan tamu agung kita," kata salah satu diantara mereka semua. Dean hanya tersenyum sekilas. Lalu ia berlari ke sisi parkiran yang lain. Menjauh dari mobil sport yang baru saja dibelinya. Tentu saja ia tak mau benda itu lecet meski hanya satu senti.
Benar saja, semua anak buah Gerrald mengejar Dean. Kemudian mereka melayangkan balok kayu yang ada di tangannya ke arah tubuh Dean tanpa ampun. Untung saja Dean pandai fighting. Jadi, dengan mudah ia mengelak serangan dari berbagai penjuru itu. Sekali dua kali ia hanya menepis benda itu. Hingga akhirnya sebuah balok berhasil menghantam tubuhnya dari belakang.
Bug! Begitu suara benda tumpul itu mengenai punggung Dean. Merasa ada orang yang berani melukai badannya. amarah Dean meningkat. Segera ia berbalik badan dan mengincar orang tadi. Sambil terus menepis, menendang sampai menjotos orang-orang yang berusaha keras mengeroyoknya. Dean menarik salah satu tangan lawan dan menjadikannya tameng dari serangannya teman-temannya yang lain. Setelah bosan dengan lelaki itu. Dean membantingnya tanpa rasa bersalah. Ia kembali mengincar lelaki tadi. Hingga lelaki itu terus berjalan mundur dengan ekspresi ketakutan.
Ketika seseorang berusaha memukul Dean dari samping kiri. Dean malah menggenggam balok itu. Lalu menendang pemiliknya hingga tersungkur bersama beberapa orang yang berada di belakangnya. Dean yang sudah membawa balok yang sama dengan lelaki yang diincarnya. Terus berjalan tegap mengikuti orang yang terus menghindarinya itu.
Teman-temannya pun tak mau tinggal diam. Mereka terus menghajar tubuh Dean meski lelaki itu bisa menyerangnya balik dengan mudah. Dengan sigap Dean memutar badannya lalu menyapu semua anak buah Black Hole dengan ujung kakinya. Bug! Bug! Bug! Tak hanya satu. Hampir semua orang yang mengeroyok Dean berhasil mendapatkan pukulan keras dari kaki Dean. Mereka kembali tersungkur ke lantai.
Sementara lelaki yang sedang Dean kejar. Tanpa Dean sadari ia mendapat pisau lipat dari salah satu temannya. Seakan mengerti dengan apa yang diinginkan temannya. Lelaki itu pun mengangguk mantap.
Lelaki yang memberi pisau lipat tadi pun segera bangkit setelah tersungkur beberapa saat. Ia pun memprovokasi rekan-rekannya untuk kembali menyerang Dean. Dalam sekejap orang-orang itu kembali bangkit dan melakukan apa yang sudah rekannya perintahkan. Mereka kembali menghantam tubuh Dean dari segala penjuru.
Meskipun Dean ahli bertarung. Namun, ia tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan kelelahan. Apalagi harus menghadapi puluhan orang sekaligus seperti ini. Tenaganya pun kian terkuras. Meskipun tak mengurangi kekuatannya untuk menghadapi lawan. Banyak diantara orang-orang itu yang sudah berhasil ia lumpuhkan. Ada yang patah tulang leher, tulang kaki atau pun tulang-tulang yang lain. Dan kali ini serangannya sedang fokus pada lelaki yang tadi memberikan pisau. Mereka beradu dengan cukup handal. Seakan tak ada yang saling mengalah diantara keduanya.
Sambil bertarung lawan Dean itu melirik rekannya yang sudah ia berikan pisau tadi. Berharap temannya itu akan segera menghabisi Dan sebelum badannya remuk seperti teman-teman yang lain.
Bukan Dean namanya kalau gerakannya tak secepat kilat. Di saat lawannya itu lengah ia menangkap tangan musuhnya. Lalu memitingnya ke belakang. Tak hanya itu Dean juga menendang lutut bagian belakang orang itu hingga akhirnya ia berlutut membelakangi Dean. Saking asyiknya Dean dengan lelaki itu. Ia tidak sadar jika di belakangnya ada orang yang tadi dikejarnya sedang mengarahkan pisau ke arah tubuhnya. Tanpa menunggu aba-aba….
Jleb!!! Pisau itu menancap di punggung Dean. Dean yang sedang memiting tangan lawannya pun menahan rasa sakit di punggungnya sambil menarik tangan lawannya lebih kuat.
"Aaaarghhh…." Dean dan musuhnya itu berteriak kesakitan bersama. Tak lama Dean merintih dan menikmati rasa sakitnya. Ia tahu betul dimana ia sekarang. Jika sampai ia melemah sedikit saja. Tak hanya punggung. Seluruh tubuhnya pasti akan merasakan hal yang sama. Maka dengan segera Dean mencabut pisau yang masih tertancap di punggungnya itu. Dengan penuh amarah. Ia membalik badannya hingga menatap musuh yang sedari tadi ia incar. Lelaki itu terlihat gemetaran. Sepertinya ia anak baru di kelompok ini. Tapi, Dean tidak terlalu peduli dengan hal itu. Ia sudah dilukainya untuk kedua kali. Dan dalam hati Dean berjanji akan membalasnya dengan lebih kejam.
Lelaki itu langsung berlari menghindar. Hingga tak lama kemudian dua orang berbadan kekar yang tadi menjaga pintu gerbang datang. Ia pun kaget melihat semua temannya sudah terkapar di atas lantai.
"Joshua. Raimon. Tolongin gue," ujar musuh yang dikejar Dean sambil berlari ke arah kedua orang itu.
"Oh, pengen main-main dia," kata Joshua. Orang yang membukakan gerbang Yongki tadi. Lalu mereka berdua segera berlari ke arah Dean.
Sambil menahan sakit dan darah yang terus keluar dari balik kaos dan jaketnya. Dean menangkis semua serangan yang tertuju padanya. Karena tenaganya yang sudah semakin menipis dan rasa sakit yang kian mendera. Dean pun tak mau membuang-buang waktu lagi. Segera ia tangkap tangan Joshua dan dengan pisau yang ada di tangannya Dean menghujam tangan kekar itu puluhan kali. Saat satu tangan yang lain hendak membalas Dean. Segera Dean layangkan pisau lancip itu ke tangan yang lain.
"Aaargh." Lelaki itu pun menjerit menahan tancapan pisau di tangannya yang lebih dalam ketimbang yang lain. Di belakang Raimon berusaha menghantam Dean dengan menggunakan balok kayu.
Belum sempat balok kayu itu mendarat di tubuhnya. Dean lebih dulu memutar badan sambil menarik pisau yang ia tancapkan di tangan Joshua tadi. Sepersekian detik berikutnya, pisau itu sudah tertanam sebagian di perut Raimon.
Glutak! Balok kayu di tangan Raimon pun terjatuh. Tak lama kemudian disusul oleh badan tegap berisi itu.
Melihat semua temannya sudah berhasil Dean kalahkan. Lelaki yang dikejar Dean tadi segera kabur dari tempat persembunyiannya. Sayangnya, gerakan laki-laki itu diketahui oleh Dean. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya. Dean pun mencabut pisau di perut Raimon lalu melemparnya ke arah lelaki tadi.
Jleb!!! Pisau itu kini beralih di punggung musuh Dean itu. Menancap sempurna persis seperti apa yang dia lakukan pada Dean tadi.
"Hosh. Hosh. Hosh." Nafas Dean pun tersengal-sengal. Tenaganya benar-benar sudah terkuras sekarang. Namun, ia tidak boleh berbangga hati karena sudah berhasil melumpuhkan lawan. Ia harus segera menyelesaikan pertunjukan. Sebelum salah satu dari mereka mengundang bala bantuan dari luar.
Dengan Tertatih Dean beranjak dari duduknya. Sambil menahan perih dan badan yang semakin lemas karena kebanyakan mengeluarkan darah. Ia berjalan ke arah ruangan Gerrald. Untung saja ia sudah memasang alat thermal imaging atau video termal atau suatu jenis teknologi inframerah tingkat tinggi dan salah satu aplikasi termografi pada jam tangan digitalnya. Termografi sendiri adalah metode diagnosa yang mengacu pada perbedaan temperatur antar jaringan dari tubuh manusia.
Seperti yang sudah ia duga. Jejak sepatu Yongki yang ada di lantai sudah lenyap entah kemana. Tentunya sang OB sudah membersihkan tempat ini sebelum nyawanya melayang. Karena kelalaiannya.
Blak! Dean membuka paksa pintu ruangan itu yang tidak dikunci. Sampai di dalam ia pun menemukan Gerrald yang sudah diikat di atas kursinya dan kedua anak buahnya sudah terkapar di lantai. Sedangkan Yongki sudah menunggu Dean di sampingnya.
"Selamat datang, Bos," sambut Yongki. Dean hanya tersenyum sekilas.
"Gerrald. Apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu," ucap Dean basa-basi.
"Sialan kamu Dean. Kenapa kamu lakukan ini padaku. Setelah kamu bunuh anakku, sekarang kau ingin membunuhku juga?!"
"Hahaha. Seandainya tadi loe berhasil memenggal kepala anak buah gue. Gue pasti akan melakukannya dengan senang hati." Dean membalas sambil berjalan mendekat.
"Cih. Kamu tau kan kenapa aku ingin membunuh anak buahmu. Sampah itu sudah membunuh putra bungsuku secara tidak manusiawi."
"Hahaha." Dean tertawa garing. "Yang sampah itu anak loe!!! Bisa-bisanya dia ikut campur urusan sengketa One Night Club. Itu sudah berada di dalam kendali gue. Kenapa dia mau ikut campur!!"
"Apa?!" Gerrald pun terlihat terkejut. Dia memang tidak tau sama sekali masalah ini.
"Itu hanya pelajaran kecil dari gue. Siapapun yang berani main-main sama gue ataupun anak buah gue. Mereka nggak akan selamat. Mengerti!!!" bentak Dean kemudian ia pun pergi meninggalkan Gerald terikat di ruangan itu.
"Dean jangan pergi lepasin saya!!! Dean!!!" teriak Gerrald yang tidak lagi digubris Dean. Dean pun berjalan dengan bantuan Yongki yang memapahnya.
Dalam hati Yongki sangat bahagia jika apa yang tadi direncanakan oleh Dean telah berhasil ia laksanakan. Jadi, tadi saat si tua Gerrald tengah mengarahkan pedangnya di leher Yongki. Anak buah Dean itu perlahan mengambil semprotan bubuk cabai dari dalam sakunya. Lalu ia semprotkan tepat di kedua mata Gerrald. Tentu saja Gerrald langsung bisa dilumpuhkan oleh Yongki. Sementara kedua ajudan lelaki tua itu hanya butuh beberapa kali bogem mentahnya hingga ia bisa terkapar di atas lantai.