Yongki menghentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan markas besar Black Hole. Tangan dan kakinya gemetaran. Keringat dingin pun mengalir di tengkuk dan keningnya yang cukup lebar. Beberapa kali ia mengelap keningnya sendiri menggunakan sapu tangan pemberian sang istri. Ia pun menatap benda itu sesaat.
"Doain Papa ya Ma," gumam Yongki. Kemudian ia pun membunyikan klakson sebagai pertanda dia sudah sampai. Walau sebenarnya, salah satu diantara anak buah Black Hole sudah memantau setiap gerakan Yongki di dalam mobil dari lantai dua. Namun, tetap saja mereka tidak mau bertindak gegabah.
Tin…. Tin…. Tin…. Bunyi klakson mobil Yongki yang membuat seorang berbadan lebih kekar darinya membukakan pintu. Gluk! Saliva Yongki pun sangat sulit ia telan. 'Penjaga gerbangnya saja sudah sebesar ini. Gimana sama yang lain,' batin Yongki pesimis. Nyalinya pun menciut seketika.
Tok. Tok. Tok. Lelaki itu mengetuk pintu mobil Yongki. Sehingga membuat Yongki tidak punya pilihan lain selain membuka kaca jendela mobilnya.
Melihat tampang Yongki, lelaki itu pun tersenyum meremehkan.
"Heh. Punya nyali juga loe dateng kemari," ucap lelaki itu. Sejujurnya, Yongki sudah merasa sangat gugup. Namun, ia tidak boleh memperlihatkan hal itu pada lawannya.
"Kenapa gue harus takut?" balasnya dengan nada congkak. Padahal, dalam dadanya terdengar sangat bergemuruh. Menahan debaran jantung yang berpacu kencang, saking ketakutannya.
"Heh. Sombong juga loe. Kalau bukan Bos Besar yang ingin memenggal kepala elo dengan tangannya sendiri. Gue siap menghajar elo melebihi apa yang elo lakukan pada Yoga."
Yongki pun tertawa garing.
"Hahaha. Makanya, jangan buang-buang waktu gue juga dengan percakapan nggak penting seperti ini. Sekarang mau loe apa? Cek mobil gue? Silahkan?" Yongki membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. Lalu ia pun segera turun dari dalam mobilnya.
Lelaki berbadan kekar itu menatap Yongki dengan curiga. Namun, seperti apa yang sudah Bos Besarnya perintahkan, ia segera memasukkan kepalanya ke dalam mobil Yongki. Memeriksa. Baru saja menatap jok kabin kemudi mobil mewah yang memiliki dashboard full lcd ala-ala mobil keluaran terbaru dari brand ternama Italia. Membuat lelaki itu berdecak kagum. Ia tak percaya jika anak bawahan seperti Yongki saja mendapatkan mobil seharga belasan miliar di kelompok musuhnya itu. Apalagi sang Bos Besar. 'Mungkin Bosnya memakai Jet pribadi kalau mau kemana-mana,' pikirnya sesaat. Saking terpananya mengamati interior mobil mewah dengan harga fantastis itu, membuat lelaki itu sampai lupa dengan tujuan awalnya.
"Bagaimana? Suka dengan mobil yang gue pakai?" ujar Yongki yang membuat lelaki itu tersadar. Segera ia mengeluarkan badannya dari dalam mobil.
"Tak perlu banyak gaya. Masuk saja dan nikmati hidupnya hanya tersisa kurang dari tiga puluh menit ini," balasnya tak kalah sengit.
Yongki bungkam. Selain malas berdebat dengan lelaki tadi. Ia juga tidak mau membuat keributan di pintu gerbang seperti ini. Karena, itu benar-benar tindakan seorang pengecut.
"Oke." Yongki segera masuk ke dalam mobilnya lagi. Lalu ia pun melajukan mobilnya memasuki area markas besar musuh besarnya. Baru saja melewati pintu gerbang. Matanya sudah disambut dengan puluhan orang yang siap menghajarnya sampai mati. Yongki menghentikan mobilnya di parkiran yang sudah disediakan. Debaran jantungnya pun terpacu lebih kencang melihat puluhan orang itu menatapnya penuh amarah. Gluk! Lagi-lagi salivanya sangat sulit ia telan. 'Tenang. Tenang Yongki. Loe pasti bisa,' ujarnya dalam hati. Yongki pun menarik nafas panjang lalu ia keluarkan perlahan-lahan.
"Mia dan Alexa. Doain Papa berhasil ya," gumamnya sebelum membuka pintu mobil dengan model frameless itu. Yongki menurunkan kakinya satu per satu ke atas lantai parkiran yang terlihat sangat licin.
"Ini dia. Santapan yang kita tunggu sudah datang," sambut salah satu diantara para anak buah Black Hole yang sedang mengetuk-ngetukkan balok kayu di tangannya ke atas telapak tangan kiri mereka masing-masing.
Blak! Yongki menutup pintu mobilnya dengan sekali hentakan.
"Nggak usah banyak omong. Dimana Bos besar kalian semua." Lagi-lagi Yongki berkata dengan nada angkuh. Padahal, kakinya gemetaran ketakutan.
"Sudah siap mati emang loe ya. Cepet ikut gue!" titahnya sambil memanggul balok itu ke pundaknya. Yongki pun segera berjalan mengikuti cowok tadi. Sesekali ia menoleh ke arah puluhan anak buah lain yang masih berdiri di tempat tadi. Lalu ia menunjukkan senyuman meremehkan kepada mereka semua.
Tanpa mereka semua sadari. Telapak sepatu Yongki sengaja dibenamkan di dalam lumpur sehingga saat menempel di permukaan lantai yang licin. Tercetak bekas pijakan Yongki. Tak berapa lama mereka sampai di tempat tujuan.
Sambil terus berjalan Yongki menyadari gedung beberapa lantai ini tak jauh berbeda dengan markas besar Golden Eagle yang selama ini menaunginya. Hanya saja, tempat ini lebih bersih dan seakan lebih terorganisir. Dapat terlihat dari beberapa anak buah baik cewek atau cowok yang berpakaian formal. Maklum, sebagian dari kelompok ini memang berasal dari orang-orang besar seperti aparat, pejabat sampai pebisnis handal. Bahkan, bisnis yang dijalankan Black Hole lebih luas dari sekedar tukang pukul biasa. Mereka merambah ke berbagai jenis bisnis mulai dari ritel, perbankan sampai ekspor-impor.
Tak terasa mereka pun sampai di depan pintu yang terlihat lebih menonjol ketimbang pintu-pintu yang lain. Tok. Tok. Tok. Lelaki yang mengantar Yongki mengetuk pintu ruangan bosnya.
"Masuk!" titah seseorang dari dalam. Lelaki itu pun segera membuka pintu itu lalu masuk ke dalam sambil menarik kerah Yongki agar segera ikut masuk ke dalam.
"Selamat siang, Bos," sapa lelaki itu pada sosok Bos pria yang kini tengah duduk membelakangi mereka berdua. Di samping meja kerjanya sudah berdiri dua ajudan berpakaian jas formal ala-ala bodyguard kelas atas. "Orang yang Bos Besar minta sudah sudah datang," tambahnya.
"Heh." Lelaki yang berwajah keriput itu pun menarik sebelah ujung bibirnya. "Bagus. Sekarang kamu boleh keluar," ucapnya tanpa merubah posisi tubuhnya sama sekali.
"Baik, Bos," balasnya sambil membungkukkan badan.
Yongki menatap kepergian lelaki itu. Kakinya terasa gemetaran. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menutupinya lagi. Sampai-sampai kedua ajudan tadi pun tersenyum melihatnya.
"Yongki. Apa kabar?" ujar lelaki tua yang ia ketahui bernama Gerrald itu sambil memutar kursi kantornya.
"Ba… baik," balas Yongki gelagapan.
"Heh. Kamu terlihat lebih gugup? Bukannya tadi kamu begitu bersemangat untuk menemuiku," sindirnya. Tepat di belakang Gerrald terpampang puluhan video cctv yang merekam setiap ruangan yang ada di gedung ini. Tak terkecuali tempat yang dilalui Yongki tadi. Yongki pun langsung menunduk kepalanya dalam-dalam. Sungguh, ia tidak bisa menyangkal jika saat ini ia benar-benar merasa ketakutan. "Heh." Lagi-lagi Gerrald tersenyum geli melihat sikap Yongki. Kemudian ia pun mengeluarkan sebuah samurai dari bawah meja kerjanya. Lelaki yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu pun membuka wadah pedang panjang itu perlahan. Membuat Yongki semakin tidak berkutik lagi. "Kamu tau kenapa kamu dipanggil kesini?" tanyanya sambil mengelap mata pedang itu dengan sebuah kain khusus.
Gluk! Yongki pun semakin kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Sa… saya tau," balas Yongki terbata. Lelaki tua itu pun beranjak. Kemudian sambil berjalan ke arah Yongki, ia pun memamerkan keahliannya menggunakan senjata yang sangat tajam itu. Ia mengibaskan pedang itu ke kiri dan kanan dengan dibarengi dengan langkah kaki yang mirip dengan adegan perang film laga dari Jepang. "Sakit hati. Harus dibalas dengan sakit hati. Dan kematian harus dibalas dengan kematian. Jadi, apa kamu sudah siap?!" kata lelaki itu sambil mengayunkan pedangnya ke leher Yongki.
Yongki tak menjawab. Ia malah meneteskan air mata dengan cukup deras. 'Maafkan Papa, Ma. Maafkan Papa, anak-anak.'
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.