Bab. 6  Markas Golden Eagle

1663 Kata
Tok. Tok. Tok. Bunyi pintu kamar Raya yang diketuk dari luar. Raya yang sedang menangis di pojokan tempat tidur pun langsung menyeka kedua kelopak mata yang penuh air. Kemudian Raya berjalan mendekati pintu kamar. Cekrek! Pintu dibuka dan seketika mata Raya membulat. "Boleh aku masuk?" tanya Dean sambil membawakan sarapan untuk Raya. Raya pun mengangguk. Dia tidak mungkin menolak permintaan lelaki itu sebab ia tau betul kamar ini milik mereka berdua. "Terima kasih," ujar Dean lembut dan tersenyum manis. Lalu ia berjalan masuk ke dalam saat Raya membukanya lebih lebar. 'Lihat dia! Sudah lupakah dengan kejadian tadi? Dia baru aja membentak aku lho!' batin Raya kesal. Melihat sikap Dean yang sudah bersikap lembut lagi padanya. "Tumben kamu masuk sini pakai ngetuk pintu segala. Bukannya kamu bisa masuk ke dalam kamar manapun yang kamu mau. Ini kan rumah kamu," kata Raya sengit. Dean pun tersenyum geli. "Tapi, khusus ruangan ini kan kamar kamu. Aku tau kamu sedang butuh waktu untuk sendiri. Makanya, aku nggak akan masuk kalau kamu nggak izinin aku tadi," balas Dean yang membuat Raya sedikit merasa bersalah. "Kamu sarapan yang banyak ya. Aku pengen liat kamu tambah gemuk bukan tambah kurus," ujar Dean sambil meletakkan nampan berisi sarapan untuk Raya. "Kalau cara kamu memperlakukan aku kayak tadi. Mana mungkin aku akan gemuk," sindir Raya sambil memutar badannya. Memunggungi Dean sambil mengusap kedua matanya yang kembali berair. Dean pun berjalan mendekat. Lalu ia memeluk wanitanya dari belakang. Tubuh Raya pun langsung bergetar. Lalu saat Dean juga menggapai bibir Raya dan mengecupnya sesaat. Detak jantung Raya seakan berhenti. Untung saja Dean segera melepasnya. "Iya. Aku tau. Aku tau sudah membuat kamu bersedih. Makanya aku juga ingin minta maaf ya sama kamu. Tolong maafin aku ya," bisik Dean dengan nada setengah mendesah di depan telinga Raya. Buluk kuduk Raya pun seketika berdiri. Bukan karena ia ketakutan, tapi karena hembusan nafas Dean yang menyapa kulit pipinya yang lembut. Kemudian Dean kembali mencium bibir Raya, melumatnya sesaat lalu merambat naik ke pipi dan kedua kelopak matanya. Berusaha merayu wanita itu. Tubuh Raya pun hampir saja termakan rayuan itu. Hanya saja, ia teringat sesuatu. "Aku akan maafin kamu. Kalau aku dibolehin pergi ke tempat bangunan ambruk itu," balas Raya mantap. Seketika ciuman Dean pun berhenti. Cengkraman kedua tangannya di pundak Raya yang semula terasa hangat, kini mencengkram erat-erat. Reflek Raya pun membuka matanya, ia pun terkejut menatap wajah Dean yang kembali keruh. "Jangan paksa aku menyakitimu, Ray. Aku sungguh tidak ingin melakukannya," timpalnya dengan nada penuh ancaman. Setelah mengatakan hal itu Dean pun pergi begitu saja. Dean berjalan tegap menuruni tangga. Hingga saat ia sudah berada di ruang tamu. Ia segera menjatuhkan badannya ke atas sofa yang empuk. Huft. Dean menghembuskan nafas beratnya. Ia tidak menyangka sampai sekarang Raya terus berniat meninggalkannya. Pikiran Dean pun terasa kacau. Hingga sedetik kemudian suara dering ponselnya, berhasil membuyarkan lamunannya. Kring…. Kring…. Kring…. Bunyi benda pipih itu. Dean segera mengeluarkan gawainya dari dalam saku celana. "Hallo," kata lelaki berwajah putih bersih tampan brewok apalagi jerawat itu. "Loe dimana sekarang?" tanya lawan bicara Dean dari seberang sana. "Kenapa?" Bukannya menjawab. Dean malah bertanya balik. Sambil menegakkan badannya. "Cepat ke markas. Kita butuh bantuan loe." Dean pun mencium keadaan darurat. Tidak biasanya anak buahnya meminta bantuan, kecuali mereka tak bisa mengatasi target mereka sendiri. "Oke. Gue sampai sepuluh menit lagi," balas Dean lalu memutuskan sambungan teleponnya. Segera Dean meraih jaket kulit dan kacamata hitam kesayangannya di atas sofa. Sambil berjalan keluar ia pun memakai jaket itu dengan sekali gerakan. Lalu meletakkan kacamata hitam itu di atas hidungnya yang mancung. Di teras rumahnya dua orang lelaki berbadan kekar berjaga di kanan-kiri pintu sedangkan seorang lagi sudah standby di samping mobil sport mewah berlogo kuda jingkrak miliknya. Ketika Dean berjalan mendekat, tanpa menunggu perintah si pengawal membuka pintu mobil itu. Sehingga Dean bisa masuk dengan mudahnya. Brumm…. Brumm…. Brummm…. Dean menyalakan mesin mobilnya lalu menekan pedal gas untuk memamerkan suara khas mesin mobil itu yang menderu-deru. Suara itulah bagian yang paling ia sukai dari kendaraan berkapasitas dua orang ini. Sebelum akhirnya whus…! Ia melesat secepat yang ia bisa. Dean terus menginjak pedal gasnya meski ia tau jalanan ramai. Seakan jalan miliknya sendiri. Ia pun membunyikan klakson setiap ada mobil lain yang menghalangi laju kendaraan. Tin…. Tin…. Tin…. Begitu bunyi klakson mobil Dean yang memekakkan telinga. Bagi seorang pemimpin gangster Golden Eagle seperti Dean. Peraturan apapun tidak pernah ia takuti selama ia tidak mencelakakan orang lain. Sebab, jika ada polisi yang berani membuatnya tidak nyaman. Maka dengan senang hati Golden Eagle akan mencari titik kebusukan dari polisi itu. Dan di keadaan akhir zaman seperti sekarang. Tidak sulit mencari kebusukan siapapun meski ia memegang peranan penting di negara ini. Dean menyunggingkan senyumannya sekilas. Saat menatap sosok salah satu oknum polisi lalu lintas yang hanya bisa menatap mobil Dean melintas sambil meminta mobil lain menyingkir. Dean ingat betul bagaimana gigihnya laki-laki berkumis tebal itu saat mengejar mobil Dean untuk memberikan kartu tilangnya beberapa hari yang lalu. Dan keesokan harinya, kantor kepolisian tempatnya bekerja dikejutkan dengan gambar-gambar tidak senonoh oleh oknum itu bersama dua wanita penghibur sekaligus. Tak hanya mendapat teguran keras dari sang atasan, bahkan hubungannya dengan sang istri pun terancam bubar karenanya. Tin. Tin. Dean membunyikan klakson pada lelaki itu sambil melambaikan tangannya ke udara. Senyuman manis Dean pun hanya dibalas cibiran oleh orang itu. "Hahahaha." Lalu Dean pun tertawa lepas mengingat kejadian konyol itu. Seraya menekan pedal gasnya lebih kencang. Seperti ucapannya, Dean sampai di markas besar Golden Eagle sepuluh menit kemudian. Seorang anak buah yang berjaga di gerbang segera membuka pintu gerbang yang terbuat dari lembaran aluminium dengan tebal satu sentian itu, ketika mendengar suara mesin mobil Dean yang sudah sangat ia hafal. Mobil Dean pun melenggang masuk ke dalam. Sementara, pintu gerbang yang hanya memiliki lubang sebesar telapak tangan orang dewasa itu kembali ditutup. Dean memasukkan mobilnya ke dalam parkiran yang berada di bawah gedung tua itu. Padahal, tembok yang mengelilingi bangunan itu cukup tebal dan tinggi. Sehingga, jika ia meninggal mobilnya di luar gedung pun tak akan ada yang bisa melihatnya. Blak! Dean membanting pintu mobil setelah keluar dari mobil kebanggaannya. Lalu ia pun membenarkan letak kacamatanya sebelum berjalan tegap menyusuri koridor bekas gedung perkantoran itu. Sampai di sebuah lift yang masih berfungsi dengan baik. Dua penjaga segera menundukkan kepalanya beberapa saat. "Selamat siang, Bos," sapa mereka bersamaan. "Siang," balas Dean singkat. Dengan sigap salah satu diantara kedua penjaga itu membukakan pintu lift untuk Dean. "Silahkan, Bos," ucapnya. "Terima kasih." Dean menepuk pundak lelaki itu sambil berjalan masuk. Pintu lift kembali tertutup. Dean memencet tombol lantai terakhir. Sedetik, dua detik berikutnya pintu pun terbuka dan menunjukkan suasana rooftop yang cukup ramai. Tak hanya dipenuhi oleh anak buah Dean yang semuanya cowok, tapi beberapa cewek cantik pun ikut meramaikan tempat itu. Mereka memang disediakan khusus sebagai hiburan anak-anak saat sedang tidak ada kerjaan. Hanya saja, semua orang di tempat itu terlihat murung. Tak seperti biasanya yang selalu bahagia bila sedang berada di tempat ini. Pastilah tidak akan ada yang menyangka. Jika atap dari gedung yang sudah terlihat usang ini, didesain modern tak kalah dengan hotel-hotel bintang lima. Mulai dari ada kolam renang yang dikelilingi oleh pohon palem dan bangku pantai di tengah-tengah rooftop, kemudian di sisi kiri terdapat minibar untuk memesan makanan dan minuman yang diinginkan sementara di bagian kanan terdapat sebuah tempat bermain biliar. Dean berjalan mantap menuju ujung rooftop yang biasa mereka gunakan untuk bersantai sambil menikmati panorama ibukota. Disini pula mereka sering membicarakan berbagai hal penting. Khusus untuk petinggi geng tentunya. Dean terus berjalan ke arah sekelompok orang yang berwajah serius di tempat itu. "Relakan saja dia," ujar Darius yang tertangkap di telinga Dean. Tangannya pun menunjuk ke arah Yongki yang sudah menundukkan kepalanya dengan badan gemetar. "Apanya yang harus direlakan?" tanya Dean sambil berjalan tegap ke arah mereka semua. Mereka pun langsung menoleh ke sumber suara. "Syukurlah loe cepet datang. Kita punya masalah cukup besar," kata Marcel sambil merangkul pundak Dean. "Apa?" tanya Dean tanpa basa-basi. "Yoga. Orang yang kita eksekusi kemarin ternyata bukanlah orang sembarangan. Dia anak Gerrald. Salah satu petinggi Black Hole," jelas Marcel. "Terus? Apa masalahnya? Dia berusaha main-main sama kita. Itu balasan paling setimpal." Dean membalas dengan mantap. "Tapi, sayangnya mereka tidak terima, Bos. Mereka dendam dengan kita." Samuel lelaki berumur belasan tahun yang sudah menjadi bagian penting dalam kelompok ini. Dean menoleh ke arah anak di bawah umur yang ia tolong dari preman recehan pinggir jalan tiga tahun yang lalu. Samuel pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Takut Bos besar dalam geng itu memakinya. "Jadi mereka tau?" tanya Dean sambil berjalan mantap ke arah anak itu. "Iy… iya, Bos. Mereka menemukan rekaman dari kamera parkir samping yang menunjukkan gambar kita sedang mengeroyok Yoga, Bos." Samuel berbicara dengan gemetaran. "Terus?" "Di… dia meminta Yongki datang ke markas mereka seorang diri, Bos. Jika tidak_" Ia melirik ke arah Yongki. Lelaki berbadan kekar yang saat itu begitu semangat memukuli Yoga. "Jika tidak?" pancing Dean. "Mereka akan mengacak-acak semua klub malam yang kita jaga, De," jawab Dirga. Diantara mereka semua hanya Darius, Dirga dan Marchel yang bisa memanggil nama Dean dengan akrab. Sebab, selain umur mereka yang lebih tua. Mereka juga satu angkatan dengan Dean di geng ini. Hanya saja, Dean lebih berpotensi mengatur dan memimpin kelompok preman kelas atas yang ketangguhannya sudah melanglang buana ke seluruh pelosok Jakarta. Menggantikan sang pelopor, Bang Zai yang harus pensiun karena penyakit jantungnya yang semakin parah. Namun, keputusan Bang Zai mematik kecemburuan di hati Darius. Ia yang merasa lebih pantas daripada Dean terus mengusik kepemimpinan Dean dengan sindirannya. Kembali pada Dean yang terlihat berpikir sejenak. "Bagaimana De?" tanya Dirga. "Sudah kubilang, kan? Kita relakan saja Yongki. Ingat! Kita sudah dibayar mahal oleh semua pemilik klub malam itu. Bagaimana kalau mereka minta ganti rugi?" sergah Darius. Yongki pun semakin gelagapan. Pikirannya melayang pada nasib anak dan istrinya di rumah jika ia harus mati saat ini. "Tidak! Aku punya cara lain," kata Dean mantap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN