'Seekor ratu lebah tidak keluar dari sarangnya, bukan karena dia tidak bisa. Namun, karena dia paham betul tugas dan kewajibannya.'
………………….
Hari pun sudah berganti. Minggu pun kian berlalu. Apapun yang terjadi, mau tidak mau Raya tetap harus melakukan tugasnya sebagai istri. Meskipun dengan setengah hati, tapi Raya harus menuruti kemauan suaminya untuk mengisikan piring dan gelasnya setiap saat ia makan. Padahal, puluhan ART siap melayani Dean dua puluh empat jam. Namun, untuk urusan yang satu ini. Dean memang sengaja bermanja-manja ria dengan istrinya.
Pagi ini, Raya mengisi piring bundar itu dengan nasi putih yang masih hangat, tumis kangkung, tongkol balado dan perkedel kentang. Sambil menata satu per satu menu makanan itu di atas piring. Tanpa sadar Raya mengagumi makanan kesukaan Dean yang ternyata tak sesangar image-nya. Dia pikir lelaki yang selalu tampil sempurna dengan gaya angkuhnya yang sok berkuasa itu. Hanya menyukai menu masakan bintang lima. 'Paling tidak restoran mewah lah, tapi siapa sangka jika makanan kesukaannya tak beda jauh dengan masakan yang biasa Bunda Aisyah buat,' batin Raya sambil meletakkan piring itu di depan Dean.
"Terima kasih, Sayang," ujar Dean dengan senyum sumringah.
Raya tak membalasnya sama sekali. Ekspresi wajahnya, masih datar seperti biasa. Kini ia malah sibuk dengan teko bening berisi air putih yang tengah ia tuang ke dalam gelas yang ada di samping Dean. Wanita itu pun kemudian hendak berjalan masuk ke dalam dapur. Untung saja tangannya masih bisa Dean tangkap untuk menahan.
"Kamu mau kemana?" tanya Dean dengan nada bingung.
"Di belakang masih ada yang baru matang. Biar aku angkat dulu," jawab Raya berbohong. Sesungguhnya, ia memilih untuk segera pergi. 'Sarapan di belakang bersama para ART jauh lebih nikmat ketimbang sarapan dengan menatap wajah Dean yang menyebalkan,' pikir Raya cepat.
"Tidak usah banyak alasan. Di belakang itu sudah banyak orang. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Sini duduk saja. Temani aku makan," titah Dean yang tidak boleh dibantah.
Mau tidak mau, Raya akhirnya duduk di salah satu kursi yang berada di dekat Dean. Ia segera membalik piring yang sama dengan yang tadi diberikan pada Dean. Karena cacing-cacing di perutnya sudah mulai berteriak meminta jatah makanan. Baru saja Raya hendak meraih sendok nasi. Dean sudah mengambilnya duluan.
"Biar aku saja yang mengambilkannya untukmu, Sayang." Lagi-lagi dia berkata manis. Dean meletakkan tiga sendok nasi ke atas piring itu. "Segini cukup?" tanya Dean lembut.
"Makanku nggak serakus itu? Kamu pikir seberapa besar lambung yang kumiliki?" Raya membalasnya dengan ketus. Ia segera meraih piring yang ada di tangan Dean. Lalu mengembalikan setengah isinya.
Tangan Dean yang masih menggantung pun terkepal. Sesungguhnya, ia bisa saja marah. Namun, segera ia tahan sebab ia tidak mau kehilangan wanita ini. Dean menarik kedua ujung bibirnya. Sambil menatap Raya yang tengah mengisi piringnya dengan berbagai hidangan yang tersedia.
"Aku tidak mau kamu terlihat kurus disini. Jadi, makanlah yang banyak," kata Dean lalu menyendok nasi yang ada di piringnya. Raya melirik Dean sekilas.
"Tak perlu khawatir. Meskipun aku sangat membencimu. Tapi, aku tidak akan pernah membenci semua makanan ini. Karena apa? Karena aku tau persis cara memasak dan bahan-bahannya." Raya berucap dengan penuh penekanan.
"Hahaha." Dean malah tertawa lepas. "Jadi, maksud kamu. Kalau kamu tidak tau cara masak dan bahan-bahan yang digunakan. Kamu mau berpikir aku akan memberi serbuk yang akan bikin kamu tergila-gila sama aku. Ck. Ck. Ck. Tak perlu repot-repot berpikir seperti itu. Aku bisa membuatmu jatuh cinta dengan caraku sendiri. Meskipun aku tidak menggunakan cara kotor seperti itu." Dean berkata dengan mantap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
Raya menatapnya dengan kesal. Ingin rasanya ia mengutuk lelaki itu menjadi batu. Andai lidahnya memiliki mantra ajaib seperti si pahit lidah. Namun, belum sempat ia membalas ucapan Dean. Mata Raya terpaku pada layar televisi yang sedang menayangkan acara berita.
"Sebuah bangunan tujuh lantai ambruk saat gelar pesta diskon di Palaza Mall, Jakarta Selatan. Kejadian naas itu berawal dari dibukanya Mall baru di daerah Jakarta Selatan pada pukul tujuh dini hari tadi. Setelah acara launching dengan pemotongan pita. Semua pintu Mall dibuka lebar dan ribuan pengunjung berdesakan masuk. Dugaan sementara, kasus ini terjadi karena bagunan yang belum cukup siap digunakan serta kelebihan kapasitas," ujar seorang wanita cantik dengan tegas dan lugas.
Mendadak Raya beranjak dari duduknya. Matanya pun terus menatap layar kaca yang memperlihatkan bagaimana kondisi bangunan yang sudah amburadul itu. Terdengar ribuan teriakan bergema dari dalam bangunan dengan sangat miris. Dan ratusan warga berdatangan untuk membantu dan menonton.
"Aku harus pergi," ujar Raya sambil bergegas meninggalkan meja makan. Dengan sigap Dean mencegat langkah Raya yang terlihat terburu.
"Aku tidak mengijinkan kamu pergi!" balas Dean tegas.
"Kamu nggak liat itu. Ribuan orang butuh bantuan untuk segera ditangani tenaga medis. Aku nggak bisa diem aja." Raya berusaha melewati Dean, tapi tangannya kembali ditarik dengan sedikit kasar.
"Aku tidak mau kamu pergi selangkah pun dari rumah ini. Mengerti!" Nada bicara Dean semakin meninggi. Jari telunjuknya pun menuding ke arah wajah Raya yang memandangnya dengan penuh amarah.
"Kamu ini jangan egois! Aku ini seorang Dokter. Tugasku menyembuhkan orang sakit. Dan sekarang ribuan orang kesakitan menunggu bantuan ku. Jadi, tolong!! Jangan halangi aku," balas Raya dengan nada yang tak kalah tinggi. Ia pun berhasil mengibaskan tangan Dean.
"Aku suamimu! Dan aku tidak mengijinkan kamu pergi kemana pun sekarang!!!"
"Aku ini hanya menikah. Bukan masuk penjara!! Jadi, jangan kekang aku seperti ini!!" Nada bicara Raya bisa lebih tinggi dari Dean. Bahkan, dengan berani ia melotot ke arah lelaki yang sudah sah menjadi pemimpin rumah tangganya itu.
Kedua tangan Dean mengepal erat. Rahangnya mengeras dan giginya saling bergesekan. Lalu tangan kirinya meraih sendok yang ada di atas piringnya. Kemudian ia lempar benda itu sekuat tenaga ke arah televisi yang masih menyala.
Brakkk!!!! Suara benda pecah dengan terdengar cukup keras. Padahal, jarak Dean dan layar datar berukuran empat puluh satu inchi itu cukup jauh.
Raya pun bungkam. Mulutnya hanya mampu menganga lebar melihat nasib lcd tv itu sama memprihatinkannya dengan bangunan yang ambruk tadi. Para ART yang berada di dapur pun tak berani bergerak sedikitpun. Takut menjadi sasaran kemarahan Dean selanjutnya.
Hosh. Hosh. Hosh. Nafas Dean tersengal-sengal. Sampai-sampai dadanya yang berotot naik turun tak beraturan. Matanya pun masih memancarkan kemarahan yang sangat besar pada Raya. Hingga sesaat kemudian tanpa siapapun duga. Dean meraih dagu wanita itu dengan kanan kanannya yang kekar. Lalu menariknya ke atas. Agar menatapnya.
"Kalau gara-gara televisi membuatmu membangkang keinginanku. Akan kuhancurkan semua televisi yang ada di rumah ini!" ucap Dean mantap. Mata elangnya yang sedang tersulut emosi pun menatap tajam sorot mata Raya yang ketakutan. Sedetik kemudian Dean pun sadar apa yang sedang dilakukannya sudah melewati batas. Makanya, segera ia melepaskan cengkraman tangannya di dagu Raya. Warna merah bekas cengkraman yang terlalu kuat pun membekas di kulit rahang Raya yang putih dan mulus.
Raya terlihat sangat syok dan takut akan bentakan Dean tadi. Dadanya terlihat naik-turun tak berirama, manahan gejolak dalam hatinya. Takut, marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Kelopak matanya pun terasa panas serta air bening tak dapat ia bendung lagi.
"Raya. Raya. Ma… maaf. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk_" Dean berkata dengan nada penuh penyesalan. Namun, Raya yang sudah terlanjur terpukul dengan kejadian ini. Lebih memilih segera berlari menuju kamarnya di lantai atas sebelum Dean menyelesaikan kalimatnya. "Raya!!! Raya!!! Sayang maafkan aku!!!" teriak Dean yang tidak digubris Raya sama sekali.
Blak!!! Raya membanting pintu kamarnya. Krek! Krek! Krek! Ia segera mengunci pintu kayu itu sebelum melompat ke atas tempat tidur dan membenamkan wajahnya di antara bantal-bantal yang tertata rapi di sudut atas spring bed ukuran besar ini.
"Hiks…. Aku benci Dean…. Aku benci!! Sangat benci!!!! Hiks…. Hiks…. Hiks…."
Tok. Tok. Tok. Kembali sebuah suara ketukan di pintu jendela terdengar menggema di telinga Raya. Wanita itu pun langsung mengangkat kepalanya. Ia tak bergerak, tapi matanya menatap lurus ke arah jendela. Terlihat sebuah kertas masuk dari lubang jendela lalu terjatuh ke lantai. Kening Raya pun berkerut. Ia segera menyeka kedua kelopak mata nya yang penuh air. Kemudian dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin. Raya mengendap-endap mendekati pintu jendela. Sungguh, rasa penasarannya sudah naik ke ubun-ubun. Mengingat ia selalu mendapat sepucuk surat ketika tengah menangis dari balik jendela ini. Raya langsung menempel ke dinding yang ada di sebelah jendela. Dan pada hitungan ketiga. Ia membuka tirai jendela itu dengan sekali hentakan. Hanya saja Raya tidak menemukan apa-apa disana. Kecuali jeruji yang menghalangi jendela kaca.
"Ck. Niat banget si Dean mengurung aku disini. Sampai pintu jendela aja dia kasih jeruji begini," gumam Raya. Sambil memegang besi yang memagari jendela kamarnya itu. Pandangannya tak sengaja mengarah pada selembar kertas tadi. Lalu wanita itu pun segera meraihnya.