Bab. 4 Malam Kedua

2054 Kata
Pagi-pagi sekali Dean sudah berkutat di depan cermin. Setelah mandi dan memakai pakaian khasnya. Dean kini tengah menyisir rambut dan memberi sedikit pomade agar bisa diatur sesuka hatinya. Sambil terus menyisir rambutnya dengan kedua tangan secara acak. Matanya melirik pantulan sosok wanita yang tengah duduk dengan murung di atas tempat tidur. Selimut yang tebal pun menutupi seluruh tubuhnya yang tak berpakaian sedikit pun dan hanya memperlihatkan bagian kepalanya saja. Dean tersenyum sekilas. Betapa bahagianya ia saat ini. Waktu yang sudah lama ia tunggu-tunggu akhirnya berhasil ia lewati dengan sempurna. Kemudian Dean membalikkan badannya. Dengan langkah tegap ia mendatangi wanita pujaan hatinya itu. "Kenapa kamu diam saja, Sayang. Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada suamimu yang mau berangkat kerja?" ucapnya dengan lembut. Wajah Rayana yang berada tepat di depan Dean malah melengos sambil mendengus. "Hahaha. Kamu pasti malu-malu ya. Pasti dalam hati kamu masih terbayang-bayang apa yang kita lakukan barusan. Aku juga tidak akan melupakan malam pertama yang sudah kita lewati dengan sempurna." Rayana menggeser otot lehernya lagi hingga ia bisa membalas tatapan teduh Dean. "Sebenarnya aku berdosa mengatakan ini. Tapi, asal kamu tau ya. Aku melakukan itu karena terpaksa," ungkap Raya dengan nada membentak. "Hahaha." Dean kembali tertawa renyah. "Baiklah. Kita lihat seberapa tidak ikhlasnya kamu ini." Dean meraih tengkuk sang istri lalu mengecupnya tanpa membuang banyak waktu. Wangi tubuh Dean pun kembali menyeruak di kedua rongga hidung Raya. Ingin rasanya ia menikmati apa yang kata orang dimabuk asmara. Karena diperlakukan dengan lembut seperti itu. Sayangnya, tiap kali ia menatap wajah Dean. Hatinya seakan tertusuk puluhan kali dengan pisau dapur karatan. Begitu sakit, perih dan ngilu. Lihat saja sekarang! Kedua tangan Raya menahan tubuh Dean agar tidak menutup jarak diantara mereka berdua. Sungguh, Raya takut jika ia menolak terlalu keras pada Dean. Akan membuat lelaki yang sudah berstatus suaminya itu marah. Dan jika hal itu sudah terjadi. Maka yang akan Raya terima pada hari itu adalah laknat dari para malaikat sampai suaminya bisa memaafkan Raya kembali. Makanya, ia hanya diam saat Dean menyentuhnya semalam. Ia melayani Dean sebagai salah satu caranya beribadah kepada sang Pencipta. Bukan karena maksud lain. Tes. Air mata Raya tiba-tiba kembali mengalir saat tangan nakal Dean tengah meremas halus salah satu bukit kembarnya. Betapa hancur hatinya saat melewati malam pertama yang selalu ia impikan bersama laki-laki yang tidak dicintainya. Sementara Alex, sang kekasih hati belum diketahui dimana rimba dan keadaannya. Dean menghentikan aktivitasnya saat setetes air mata berhasil menyusup ke sela-sela ciumannya. Ia segera menjauhkan diri tatkala mengetahui jika istrinya itu tengah menangis. "Jangan bersedih, Sayang. Aku mohon." Nada bicara Dean terdengar memohon. "Aku berjanji akan membahagiakanmu jauh lebih baik dari pada siapapun," tambahnya. Tiba-tiba Dean mengecup kedua kelopak mata Raya bergantian. Lalu menyapu jejak air mata di wajah mulus wanita cantik itu dengan ciumannya juga. "Jangan menangis lagi ya, Sayang. Aku pergi dulu" tambahnya sebelum berlalu. Blak! Bunyi pintu kamar setelah ditutup kembali oleh sang pemiliknya. Melihat Dean sudah pergi. Raya segera beranjak dengan selimut yang membungkus kulit mulusnya. Ketika menatap noda merah di atas seprai putih itu. Hatinya kembali terasa perih. Bak luka kena silet yang ditaburi garam. "Hiks…. Hiks…. Hiks…." Air mata Raya pun kembali mengalir dengan derasnya. Segera gadis itu mengusap kedua matanya yang berair lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Raya menyalakan shower yang masih menggantung di tempatnya dengan pengaturan maksimal. Sehingga air mengalir dengan derasnya. "Maafkan aku, Lex…. Maafkan aku. Hiks…. Hiks…. Aku gagal menjaganya untukmu. Hiks. Hiks. Hiks." Raya terus menangis dibawah guyuran air shower. Ingatannya pun melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu saat ia baru selesai menunaikan shalat tahajud. Flashback. "Assalamu'alaikum warahmatullah," ujar Raya sambil menoleh ke arah kirinya. "Inni As Aluka Najatam Minannar Wal ‘Afwa ‘Indal Hisab," tambah Raya melengkapi doa salam kedua yang menandakan berakhirnya sholat tahajud yang tengah dilaksanakannya. Kemudian Raya mengambil tasbihnya lalu membaca istighfar sebanyak seratus kali. Air matanya pun terurai dan dadanya langsung terasa sesak. Mengingat cobaan terbesar yang sedang dialaminya saat ini, begitu berat untuk dilalui. Sebagai anak dari kalangan orang biasa. Tentu, ia biasa mendapatkan kerikil-kerikil masalah yang kadang membebani pikirannya. Namun sekarang, yang dihadapinya bukanlah kerikil lagi. Melainkan benteng batu raksasa yang ia tau akan sangat sulit memecahkannya. Setelah menyelesaikan zikirnya, tangan Raya lalu menengadah. Raut wajahnya yang sembab dan amburadul. Diangkat hingga menatap ke atas. 'Ya Allah. Sesungguhnya cobaan yang sedang hamba pikul sangat berat Ya Allah. Maka hamba memohon pertolonganMu untuk meringankannya. Dan hamba mohon pertemukanlah hamba dengan Alex. Hamba benar-benar khawatir dia kenapa-napa. Tolong lindungilah dia. Dimanapun dia berada. Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar. Amin,' ucap Raya dalam hati. Rayana mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Setelah sholat Raya selalu merasa lebih baik. Untuk beberapa saat wanita itu terdiam di atas sajadah. Ia teringat saat-saat berjamaah dengan Alex kala mereka sedang bertemu dulu. 'Sungguh. Betapa kini aku sangat merindukan saat-saat itu lagi,' batinnya. Tetapi, ia segera menepis sendiri ingatan yang mendadak muncul itu. Ia tidak mau semakin terpuruk dan akhirnya kembali menyalahkan keadaan. Rayana mengambil nafas dalam-dalam lalu ia keluarkan perlahan. Segera ia melepaskan mukena bordir itu, setelah hatinya merasa lebih tenang. Tak lupa Raya melipat mukena itu lalu menyimpannya di dalam lemari. Ketika berbalik badan untuk segera kembali tidur. Raya pun kaget melihat Dean sudah berada di atas tempat tidur sambil tersenyum menatapnya. Raya seketika panik. Sebab, kini ia tidak menggunakan jilbab dan malah meletakkannya di meja samping tempat tidur. Segera wanita itu berlari untuk mengambilnya. Namun, belum sempat meraih benda yang ia inginkan. Tubuhnya sudah berhasil diraih oleh Dean kemudian menjatuhkannya ke dalam pelukan. "Kita kan udah sah. Jadi, aku boleh dong liatin kamu nggak pakai jilbab," ucap Dean. "Nggak. Aku tetap nggak ngijinin." Raya menarik selimut untuk menutup rambutnya yang lurus sebahu. "Hahaha. Kamu lucu banget sih, Sayang," kata Dean. "Kamu? Ka... kapan kamu pulang?" tanya Raya gelagapan. Detak jantungnya tak bisa lagi dikondisikan, darahnya pun berdesir-desir aneh dan nafasnya terasa sesak. Saat menyadari kini tubuhnya berada sangat dekat dengan Dean. Bahkan, tak hanya wangi tubuh lelaki itu yang bisa dicium Raya, tapi detak jantung yang berdebar dalam d**a bidang Dean yang berotot juga sangat terasa di atas kedua bukitnya yang saling menempel. Raya ingat betul lelaki itu pergi entah kemana semalam. 'Lalu tiba-tiba saja ia pulang jam tiga pagi seperti ini. Dasar kelelawar. Entah ngelayap kemana dia semalaman,' ujar Raya dalam hati. "Tadi, saat kamu sedang sholat. Aku berjalan pelan agar tidak mengganggu sholatmu," jawab lelaki itu jujur. "Oh, iya. Doa mu khusyuk banget. Doain aku ya?" tambah Dean penuh harap. Sambil memajukan wajahnya ke arah wajah sang istri. "Hah? Untuk apa aku mendoakanmu." Raya memalingkan wajahnya. Tak mau lelaki itu tau rona merah yang berkumpul di kedua pipinya. Sayangnya, Dean sudah melihat rona itu terlebih dahulu. Dean hanya tersenyum. Hingga sedetik kemudian, lelaki itu sudah menenggelamkan wajahnya di leher Raya. Berusaha merayu wanitanya itu. Raya tak mau lagi ditertawakan oleh lelaki itu. Makanya ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Agar tidak keceplosan lagi seperti kemarin. Merasa perlakuannya tak lagi mendapat respon positif seperti yang dia inginkan. Dean menghentikan aksinya. Menjauhkan kepalanya, sehingga menunjukkan beberapa kissmark yang sudah terbentuk sempurna di leher Raya. "Kenapa? Nggak enak ya?" Raut wajah Dean terlihat kecewa. Raya hanya terdiam. Bingung harus merespon bagaimana. "Mau aku kasih tau yang lebih enak?" lanjutnya dengan wajah nakal. "Hah?!" Raya merasa bodoh dengan maksud ucapan Dean barusan. Hingga ia tak sadar jika tubuhnya sudah ditidurkan di atas kasur. Sementara Dean sudah menindih di atasnya. Mata Raya hanya mampu mengerjap. Saat melihat Dean membuka kaosnya. Sampai menunjukkan otot perutnya yang benar-benar aduhai. Gluk! Raya hanya mampu menelan salivanya saat menatap bulu halus yang menutupi tengah-tengah dadanya yang bidang. 'Tunggu-tunggu. Apa yang akan dia lakukan?' pikir Raya cepat. Tatkala Dean menjatuhkan badannya di atas tubuh Raya. Dengan sigap kedua tangan Raya menahan d**a bidang Dean. Namun, badannya semakin bergetar saat menyadari yang ada di kedua telapak tangannya adalah bongkahan d**a Dean yang berotot. Segera Raya melepaskan cengkraman tangannya. Pikirannya langsung terasa kosong. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya ke samping. Untuk mengambil nafas dan mendinginkan wajahnya yang terasa panas. Dean tersenyum kecil melihat sikap sang istri. "Jangan gugup ya, Sayang. Aku janji akan melakukannya dengan sangat lembut. Sehingga kamu akan merasakan kenikmatan maksimal," gumam Dean tepat di telinga Raya. Wanita itu hanya bisa menutup mata. Saat hembusan nafas berat Dean menyapa kulit telinganya. Raya semakin merapatkan kelopak matanya saat merasa Dean mulai melayangkan cumbuannya di sekitar telinga dan leher. Bosan dengan kedua tempat itu Dean merambah ke atas bibir mungil Raya yang terlihat sangat ranum. Dengan rakus Dean menghisap dan memainkan benda itu dengan gemasnya. Tangannya pun mulai aktif memijit kedua bukit Raya yang terasa masih sangat kenyal. Dean terus memainkan perasaan Raya hingga wanita itu semakin kehilangan arah. Bimbang. Sebab, pikirannya selalu meminta Raya untuk menolak, tapi badannya justru merespon dengan baik. Raya pun terjebak dalam perasaan sendiri. Mulutnya yang ingin mengerang dan menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Namun, otaknya memerintah untuk terus bertahan. Makanya Raya terus menggigit bibirnya kuat-kuat. Sambil menekan hasratnya yang menari-nari di atas awan. Tiba-tiba Dean menjauhkan wajahnya sesaat. Memandang wajah wanitanya yang juga menatapnya balik. Sesaat Dean pun tersenyum melihat pipi Raya yang terlihat semakin merona. Seakan tersiksa kenikmatan yang sengaja ia lawan. "Kali ini kamu pasti tidak bisa menahannya, Sayang. Haha." Dean tertawa renyah sambil menurunkan badannya. Menyusup ke dalam baju gamis Raya. Lalu setelah menurunkan celana legging dan dalaman pink berenda milik Raya. Dean menenggelamkan wajahnya tepat goa keramat yang selama ini dijaga ketat oleh Raya. Jangan berpikir Raya tidak menolaknya. Ia terus berusaha mendorong kelapa Dean agar menjauh. Namun, saat sebuah benda kental dan lembab mulai menyapu permukaan alat reproduksinya. Tubuh Raya seakan mengejang. Pikirannya benar-benar kosong, perasaannya terbang ke awang-awang. Sebuah dorongan cukup kuat seakan berkumpul di tempat itu. Dean paham betul apa yang harus dilakukan selanjutnya. Makanya ia keluar dari persembunyiannya. Membuka celana yang sudah mengurung tongkat keramatnya dengan sangat sesak. Kemudian kembali menindih tubuh istrinya. "Aku akan mengajakmu terbang tinggi sampai ke surga, Sayang," bisik Dean. Dengan cepat ia menancapkan tongkatnya beberapa kali. Hingga akhirnya benteng pertahanan Raya pun jebol. Raya merintih, air matanya mengalir deras. Dean tak mau Raya terlarut dalam rasa sakitnya. Sehingga, lelaki itu terus memompa tongkatnya dengan cepat. Dan membuat sensasi baru yang lebih nikmat. Dorongan yang sudah berkumpul di area pertandingan pun semakin memuncak… memuncak… dan akhirnya…. Duar!!! Bak gunung berapi tak kuat menahan lava pijar. Sensasi itu meletup tak tertahankan bersama lelehan lahar yang terasa hangat. "Gimana, Sayang. Enak?" tanya Dean di sela nafasnya yang tersengal-sengal. ………………………… Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab. Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum. Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe. Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh. Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN