Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sangat jauh dari perkiraannya tadi pagi. Raga sudah ingin pulang, tapi pekerjaannya tidak bisa di tunda lagi. Hal yang ingin membuat Raga cepat pulang adalah karena Jiwa tadi sore mengirimkan foto seorang laki-laki, bukan itu yang membuat Raga gelisah. Selain mengirimkan sebuah foto, Jiwa juga memuji laki laki yang Raga perkirakan seumuran dengan Jiwa. Sepertinya Jiwa tahu jika Raga akan menghubunginya, saat Raga mencoba menelvon ponselnya sudah tidak aktif. "Permisi pak." Raga menatap datar Irfan, ada perlu apa laki laki itu ke ruangannya. "Kenapa? Mau nambahin kerjaan saya lagi! Kamu tau enggak, kerjaan saya seharian ini udah banyak. Seharusnya kamu bantu saya, ini malah kamu sibuk sendiri!" Raga tidak mungkin akan meluapkan emosinya pada Ji

