Di meja makan, Raga terus saja tersenyum dan Jiwa tau apa yang membuat suaminya tidak berhenti tersenyum. Gadis itu malu sekali, tapi kenapa Raga malah terlihat biasa saja? Tadi malam, Jiwa sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Jiwa sudah sepenuhnya menjadi milik Raga begitu juga sebaliknya. Pagi ini, bi Minah sudah kembali bekerja seperti biasa. Jadi Jiwa tidak perlu memasak, karena memang gadis itu tidak bersemangat untuk melakukan apapun. "Kenapa?" Suara Raga menyadarkan Jiwa dari lamunannya, gadis itu menggeleng pelan tidak ada masalah apapun hanya saja Jiwa masih tidak menyangka jika sudah menjadi milik Raga seutuhnya. "Enggak apa apa kok, mas mau makan?" tidak ada yang perlu di pikirkan, dan Jiwa tidak merasa menyesal sama sekali. "Enggak mungkin kalau enggak

